Sang Pemulung Kisah

Yesus Gembala yang Baik.

Jumat, 28 Desember 2018

Menyerahkan Anak Sendiri





Suatu hari ada seorang tukang becak yang kerjanya ngayuh becak dan mengambil kardus di Glodok. Dari menjual kardus tersebut ia bisa mendapat nafkah. Suatu hari bapak ini melakukan tugas rutinnya. Pagi hari ia pergi ke toko dan mengambil kardus di sebuah toko elektronik. Kemudian ada sesuatu yang mengganggu penglihatannya. Tidak jauh dari toko itu, ia melihat ada seorang Bapak dengan pakaian keren turun dari mobil mewah. Bapak ini berjalan dan jejak kakinya semakin terdengar mendekat kepadanya. Ia berusaha menepiskan pikirannya dengan berpikir bahwa bapak itu mau berbelanja dan tidak mungkin ke tempat dia. Dia orang miskin sedangkan bapak itu orang kaya. Tapi betapa mengejutkan ketika ia dalam posisi sedang berjongkok , langkah kaki Bapak itu berhenti di depannya dan kemudian Sang Bapak menepuknya. Dia merasa kalang kabut dan menduga-duga apakah ia salah mengambil barang orang. Lalu ia berdiri. Tetapi ketika itu ia mendengar Bapak itu memanggil dia. Dengan semangat Bapak itu kemudian berkata, “Kamu tidak mengenal saya? Sudah lama kita tidak bertemu. Dulu kita suka manjat bersama-sama. Ingat tidak kamu adalah teman SMP saya dahulu!” Akhirnya tukang becak ini mulai mengenalinya.
Dalam kondisi kumuh dan lecek pakaiannya, Tukang Becak tersebut merasa sungkan dan bergetar. Ia berusaha melarikan diri dari keadaannya dan ingin segera pamit. Tetapi pria yang mapan ini tidak melepaskannya , langsung merangkulnya dan berkata,“Sudah lama kita tidak bertemu. Hayo kita minum kopi dulu bersama-sama.” Ia tidak melepaskan rangkulannya dan mengajaknya menyeberang jalan. Terpaksa Tukang Becak mengikuti, namun ia merasa tidak pantas masuk ke warung demikian walau dia temannya. Semua orang melihatnya minum kopi di tempat kotor seperti itu. Lalu kopi dipesan. Saat itu bulan Desember menjelang natal. Pembicaraan singkat pun berlangsung, mereka saling bertanya dan menjawab. Sampailah pada pertanyaan, “Eh anak kamu berapa?” Tukang beca menjawab, “Anak saya 3 orang”. Tiba-tiba temannya berkata,”Beruntung sekali kamu!” sambil menepuk bahu Tukang Beca hingga terkejut. Padahal tukang becak berpikir beruntung adalah kalau punya mobil mewah, pakai dasi dan pakai jas. Pikirannya bergetar dan di pikirannya timbul pertanyaan dan ingin melontarkannya, “Mengapa kamu berkata saya beruntung?” Tiba-tiba si pria itu berkata, “Saya tidak punya anak!” Maka seluruh pertanyaan dalam pikiran Tukang Beca mereda. Dahulu mereka duduk satu bangku di SMP. Sang teman berkata,”Kamu kan kenal saya. Kamu boleh datang ke rumah saya. Saya minta tolong kamu. Istri saya merindukan untuk angkat anak. Kami mau angkat satu anak, tapi saya mau angkat anakmu. Terserah kamu mau kasih anak yang ke berapa kan kamu punya 3 anak. Kamu boleh datang ke rumah saya, mengingat dia sebagai anakmu dan dia ingat bahwa kamu adalah ayahnya. Kita akan menyekolahkan, memberinya makan , memelihara dan dia boleh tahu kamu bapaknya. Kalau kamu merasa sudah cukup maka kamu boleh mengambilnya kembali. Silahkan! Tetapi kalau boleh kamu kasih dia jadi anak kita.”
Pulang ke rumahnya, Tukang Beca menggebu-gebu bercerita kepada istrinya. Ceritanya dahsyat bahwa ia bertemu teman lama yang kaya. Ia mau mengangkat anak mereka menjadi anaknya. Langsung mulut istrinya terkunci. Dia terdiam. Betapa membanggakannya berita itu. Di tengah kondisi ekonomi yang sulit , uang sekolah yang mahal, dan mereka tinggal di rumah kumuh lalu tiba-tiba ada orang yang mau mengangkat anaknya sebagai anak adopsi. Mereka berdua sepakat untuk memberikan satu anaknya. Mereka bergegas ke tempat tidur dan mengangkat kelambu yang ada karena mereka tinggal di daerah kumuh yang banyak nyamuknya dan melihat ketiga anaknya yang sedang tertidur. Suaminya berkata, “Ma anak yang pertama saja. Anak pertama sudah berumur 15 tahun. Kalau disiksa dan diberi makan hanya tempe dan tahu ia bisa melarikan diri.” Istrinya berkata,”Jangan!” “Mengapa?” tanya suaminya. Istrinya  menjawab,”Wajahnya mirip saya!” Sehingga tidak jadi.
 Istrinya berkata, “Anak kedua saja”. Suaminya langsung berkata, “Wajahnya memang tidak mirip saya. Tetapi dia anak perempuan dan sifatnya mirip saya. Saya tidak mau kasih” Akhirnya jatuh pilihan ke anak ketiga, tidak ada pilihan lain. Anak ini baru berusia 4 tahun, biaya susu dan pendidikan mahal. Tiba-tiba istrinya menangis. Suaminya kaget, dia salah bicara apa? Sang Istri berkata, “Kamu tidak mengerti anak ini adalah anak penghiburan. Waktu kamu pergi mengayuh becak, setiap kali bangun tidur dan ia tidak bertemu kamu ia pasti bertanya, papa di mana?” Maka ia berusaha bangun pagi karena ingin memeluk dan menciummu. Kalau hari itu, kamu berangkat dan tidak bertemu ia akan bad mood. Lalu saya mengajak dia cuci gosok. Suatu kali waktu saya batuk, ia kaget. Lalu ia  berlari dan ternyata ia masuk ke dapur dan meminta air hangat ke tuan rumah. Tuan rumah berkata, “Kalau saya batuk anak saya yang berumur 12 tahun tidak bergerak. Dia terus bermain handphone lalu melihat saya dan berkata, “Ma, kalau batuk minum dong ma!” Sedangkan anak ini baru 4 tahun dan bisa berlari untuk mengambil air minum untukmu. Kalau punya anak seperti anakmu saya mau.” Pa, waktu kamu pulang siapa yang tidur? Ia anak yang pertama dan kedua. Yang ketiga tidak tidur. Waktu saya suruh dia tidur, dia berkata,”Papa belum pulang. Kalau papa sudah pulang, setelah itu baru saya tidur” Sang Suami pun memeluk istrinya dan menangis. Suaminya berkata, “Ma mulai hari ini, saya berjanji apa pun yang terjadi pada keluarga kita sekali pun ia orang kaya, saya tidak akan kasih anak.  Anak kita boleh hidup susah bersama kita, tetapi tidak satu pun anak yang saya kasih orang. Saya berjanji kita akan berjuang membesarkan anak kita, apa pun yang terjadi mereka tetap anak kita! Kita tidak akan kasih!” 
Kalau keluarga yang miskin saja yang mempunyai 3 orang anak, tidak rela memberikan anaknya kepada orang yang lebih kaya  , lalu apa alasan Tuhan memberikan anakNya yang tunggal kepada dunia ini? Kalau yang punya 3 anak saja, tidak mau memberikan anaknya kepada orang yang dia kenal yang sudah berjanji untuk memelihara, mencintai dan mengasuh anaknya, lalu apa alasan Tuhan memberikan anakNya kepada dunia yang jelas menolak ,membunuh, menghina dan memperlakukan  anakNya dengan kejam?
              Di dunia yang miskin satu anak saja tidak rela diberikan, apa alasan Allah? Tidak ada jawaban, kecuali hanya kembali ke Yoh 3:16.  Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Inilah Natal bahwa Allah dalam kasihNya rela memberikan anakNya kepada orang yang jelas akan menelantarkan anakNya. Yang miskin saja tidak mau memberikan anaknya kepada orang yang dikenalnya dan telah berjanji memeliharanya, tetapi Ia Allah merelakanNya!


Selasa, 15 Mei 2018

Kesaksian Charles Bonar Sirait Bebas dari Hutang






       Saya sering keluar masuk TV sehingga saya sering melihat berbagai kehidupan orang mulai dari strata paling bawah, menengah sampai artis yang sangat glamor. Saya melihat berbagai macam kemewahan seperti mobil, pakaian, teman dan lingkungan yang mewah yang harus dipelajari. Agar dapat tampil ke permukaan anda harus gemerlap seperti bintang. Saya pernah masuk ke dalam lingkungan seperti itu. Saya mau kejar kemewahan dunia untuk menempel di badan saya. 

       Apa yang saya lakukan saat itu adalah mencoba mengambil beberapa uang dari tabungan saya . Setelah itu saya pinjam dengan pihak luar yang menyediakan dengan sangat mudah. Untuk punya mobil mewah seharga Rp 800 juta, Rp 1 miliar atau Rp 2 miliar anda tidak harus punya uang sebanyak itu, anda hanya perlu membayar 5%, 10% atau 20%nya. Tanpa terasa saya mulai masuk jeratan utang. Karena kelihatannya saja mobil mewah itu nongkrong setiap hari di rumah tapi tanpa disadari argonya jalan. Argo membayar pokok dan bunganya sementara pekerjaan belum tentu ada terus, tetapi uang dan pertumbuhan asst digrogoti untuk membayar pokok dan bunganya.

       Saya akhirnya mulai merasa terganggu. Karena mulai begitu telat bayar sedikit, harus melayani telepon. Dan teleponnya bukan hanya ke saya , yang pertama digangguin adalah keluarga. Dan itu membuat saya marah. Karena saya yang berhutang tetapi kenapa anda telepon ke keluarga saya. Tetapi saya juga lupa bahwa saya punya kewajiban untuk bayar. Agak gengsi pergi ke bank untuk minta di rescheduling hutang atau minta diperpanjang tenor pembayaran. Saya kan punya nama yang harus dijaga. Saya selalu berkata-kata seperti itu kepada semua uang, masa sekarang itu kena ke diri saya. malu dong. Rasanya ingin teriak saja ke Tuhan. Bagaimana nih, mengapa saya dikasih masalah seperti ini?

       Nah itu adalah kesalahan pertama yang saya lakukan dalam hidup saya. Saya terlalu berpikir pendek  mengejar kemewahan dunia bukan mendengarkan prinsip Tuhan. Tuhan pernah mengatakan kepada kita, kalau engkau mau membangun rumah, engkau jangan membangun di atas pasir. Engkau harus membangun rumahmu di atas batu karang yang teguh. Batu karang itu adalah penghasilan, batu karang itu adalah kemampuan dan kebijakan anda untuk mengatur apa yang Tuhan berikan hari ini, tidak anda habiskan. Saya ingat itu sampai kapan pun karena itu yang menguatkan dan membuat saya menjadi lebih paham akan maksud Tuhan membuat kita hidup di dunia.

       Terus saya pikir-pikir bahwa saya masih punya teman satu lagi setelah Tuhan yaitu istri saya. Saya panggil dan saya bilang, “Kita berdoa yuk”. Masalah tidak pergi setelah berdoa. Tetapi yang pertama jiwa anda tenang. Di dalam jiwa yang tenang hampir sebagian besar masalah bisa diselesaikan. Hutang itu adalah sebuah komitmen dan keberanian yang saya lakukan juga, itu akibat yang harus saya tanggung. Maka saya harus berani melunasi hutang itu.

       Langkah pertama yang harus saya lakukan adalah membayar semua hutang saya. Dan hal yang menyakitkan saat itu kami harus menjual salah satu aset kami yaitu rumah kami dijual. Setelah itu kami bayar hutang-hutang kami. Kami kencangkan ikat pinggang dan saya mulai lihat beberapa kegiatan saya di dunia ini yang tidak terlalu perlu saya hilangkan. Bila ada teman-teman saya yang bertanya,”Kok tidak pernah kumpul lagi dan lain sebagainya” saya sampaikan, bahwa saya punya cara dan kehidupan yang baru untuk bisa menghidupi keluarga saya. Dan so far, sampai hari ini, saya bersyukur Tuhan terus memperkuat saya . Saya mau jauh hidup dari hutang dan saya tidak mau bikin hutang lagi dalam hidup saya. Saya Charles Bonar Sirait . Ini aku dan sebuah cerita.


Sabtu, 06 Agustus 2016

Harta yang Tidak Disadari


Ada seseorang yg merasa dirinya tidak rupawan dan tidak kaya sehingga tiap saat merasa gelisah. Seorang malaikat diutus datang kepadanya.

👼:"Saudara, kenapa engkau tidak bahagia?"
👦:"Saya merasa bingung mengapa aku miskin terus ?"
👼:"Miskin ? Bukannya kamu kaya?"
👦:"Bagaimana bisa anda katakan kalau aku kaya? Dari mana anda menilainya?"
👼:"Kalo sekarang engkau kehilangan 1 jari tanganmu, aku beri Rp 50 juta, apa kamu mau?"
👦:"Hmm..  Gak mau!"
👼:"Jikalau kamu kehilangan sebelah lenganmu, aku beri Rp 500 juta, mau?"
👦 :"Hhmm... Gak mau"
👼:"Kalau sepasang matamu buta, aku beri Rp 10 milliar , mau ?"
👦:"Gak mau"
👼:"Kalo aku jadikan engkau menjadi kakek berumur 80 tahun sakit sakitan, aku beri Rp 100 milliar , mau?"
👦:"Gak mau "
👼:"Kalo sekarang engkau langsung meninggal, aku beri kamu Rp 1 triliun, mau?"
👦 :"Gak mau"
👼:"Hahahaha. Berarti benar kan kalau kamu sudah memiliki kekayaan tak terhingga ? Di dalam hatimu, kenapa masih mengeluh miskin ?"

Orang itu tak bisa ber kata-kata dan tiba-tiba menyadari apa arti kekayaan.
Karena HIDUP adalah WAKTU yg dipinjamkan dan HARTA adalah ANUGERAH yg dipercayakan,
BERSYUKUR atas Nafas yg masih kita miliki,
BERSYUKUR atas tubuh yg masih kita miliki.
BERSYUKUR atas Kesehatan yg masih kita miliki,
BERSYUKUR atas Keluarga yg masih kita miliki,
BERSYUKUR atas Teman & Sahabat yg masih kita miliki
BERSYUKUR atas Pekerjaan yg masih kita miliki
Mari kita sadari bahwa kita selalu DIBERIKAN YG TERBAIK oleh TUHAN.
Dan begitu pula mestinya kita kepada sesama..sebagai bukti rasa syukur kita..

Aamiin...🙏

Selasa, 26 Juli 2016

Pernikahan Dini (Membangun Hubungan)


Dr. Gary & Barbara Rosberg
Pernikahan Anti cerai, Mengorbarkan Api Cinta untuk Membangun Pernikahan yang Kokoh.

Mike, 17 tahun, adalah pemuda yang berorientasi pada tujuan. Di sekolah , ia menaruh perhatian kepada Cheryl, dan ia memutuskan untuk berkenalan dengannya walaupun gadis ini sudah memiliki kekasih. Jadi, ketika ia mendapati Cheryl sedang bekerja di gerai McDonald pada musim panas itu, Mike mendatanginya dan bertanya apakah ia bersedia berkencan dengan seseorang selain kekasihnya yang sekarang. Cheryl menjawab,”Tentu, mengapa tidak.”
                Selama pertandingan football sekolah musim gugur tahun itu, Mike melihat kesempatan untuk mengambil langkah. Sementara kekasih Cheryl sedang bertanding di lapangan, Mike menemui gadis itu di tempat duduk penonton. Cheryl tidak menolak ajakan Mike untuk berkencan.
                Pada musim panas berikutnya, Mike berumur 18 tahun dan telah lulus. Cheryl, 17 tahun, bersiap-siap untuk naik ke kelas 3 SMA. Cheryl hamil dengan bayi Mike.
                Keluarga Cheryl dan keluarga Mike maupun sahabat-sahabat dari keluarga kedua belah pihak mengatakan bahwa sinting jika keduanya ingin menikah. Mika dan Cheryl ditekan untuk menggugurkan janin yang ada di dalam kandungan. Namun, mereka saling mencintai dan ingin membesarkan bayi mereka bersama. Jadi, mereka menikah pada musim panas itu. Mereka masih belia dan kini bersiap unutuk memiliki anak mereka sendiri.
                Mike menghadapi situasinya sebagai sebuah tantangan. Ia berasal dari keluarga yang sukses dan ia tahu bahwa sangat mungkin bagi dirinya untukmenjadi bagian dari bisnis keluarga kelak. Pada musim gugur, ia mulai kuliah purna waktu sambil bekerja 65 jam seminggu, yaitu menjadi pengantar susu dari perusahaan susu milik keluarga.
                Cheryl, yang baru menjadi ibu, tinggal di rumah mungil mereka setiap hari sementara Mike larut dalam urusan sekolah dan pekerjaan. “Betul, sudah sulit sejak awal,” katanya. “Saya tidak tahu peran saya dan komitmen saya yang dibutuhkan Mike. Saya banyak membuat kesalahan dan membuat pilihan yang buruk. Sudah ada bayi, tetapi kami berdua sama sekali belum membangun hubungan.”
                Karena Mike dan Cheryl menikah dan mempunyai bayi, mereka memandang diri sebagai orang dewasa. Karena usia mereka di atas 18 tahun, yaitu usia yang sah menurut undang-undang untuk mengkonsumsi minuman keras, mereka juga mulai hidup sebagaimana mereka pikir, layaknya orang dewasa. Setiap malam dan akhir pekan, mereka lewatkan dengan minum-minum dan berpesta bersama teman-teman mereka. Cheryl tahu bahwa dirinya tidak merasakan adana ikatan batin dengan putranya, Michael, ataupun dengan suaminya sebagaimana mestinya. “Saya hanya gadis kecil yang mencari cinta dan bersenang-senang. Tidak tahu bagaimana menjadi seorang ibu.”
                “saat itu saya belum menjadi pecandu minuman keras,”Mike menegaskan,”tetapi saya memang peminum berat. Ketika saya mabuk, sikap agresif dan kemarahan saya meledak. Saya meninju dinding sampai berlubang, dan saya pernah membanting kursi dapur ke atas lantai. Saya juga menyerang Cheryl , bukan secara fisik, tetapi secara verbal. Kami berdiri di tangga depan rumah sambil saling meneriakkan kata-kata yang tidak senonoh. Dalam waktu singkat, kami telah bermusuhan.”
                Perilakuk Mike sudah tidak asing bagi Cheryl. Bertumbuh di tengah-tengah keluarga pecandu minuman keras, Cheryl pernah menyaksikan hal semacam itu sebelumnya. Apa yang ia lihat pada Mike membuat ia takut dan bertanya apakahia rela untuk menghadapi kebiasaan Mike minum-minum dan marah-marah sepanjang sisa hidupnya. “Mike tidak pernah menganiaya saya”, ujar Cheryl, “tetapi saya tidak merasa aman ketika berada di dekatnya.”
                Sementara hubungannya dengan Mike terus memburuk, Cheryl menderita karena kisah romantis mereka yang seperti cerita dongen bberakhir,”Kami benar-benar menderita, maka saya memutuskan untuk meninggalkan Mike. Perceraian kami diputuskan beberapa bulan kemudian.”

****

Sesudah Mike dan Cheryl  bercerai, hubungan mereka tetap buruk. “Saya tidak mau berhubungan dengan Mike untuk hal apapun,” ujar Cheryl. “Ia yang bersalah untuk segala hal yang salah di antara kami. Kami benar-benar tidak berbicara sama sekali. Kontak kami terbatas pada waktu kami bertemu untuk menyerahkan putera kami yang masih kecil, Michael.”
                Sementara itu, Mike telah menjadi orang beriman, dan Cheryl sedang perjalanan kembali kepada Tuhan. Ketika Tuhan mulai mengubah hati Mike, ia teringat akan hakikat keluarga muda yang telah hilang dari hidupnya. Ia memutuskan untuk berusaha mendapatkan Cheryl kembali – dan melakukannya dengan benar kali ini.
                Cheryl masih ingat ketika suatu hari ia berada di dalam mobil bersama Michal kecil yang terisak-isak. “Kenapa kita tidak bisa bersama Ayah?” Tidak lama kemudian , Mike menelepon dan bertanya apakah Cheryl mau melakukan sesuatu bersamanya. Ia setuju. “Sesudah berbicara dengan Mike sejenak, saya tahu saya akan aman bersamanya,” ujar Cheryl. “Ia memiliki damai sejahtera yang dulu tidak ada sebelumnya. Ia bahkan terdengar berbeda. Ia pasti telah melihat bahwa Tuhan juga sudah membuat perbedaan dalam hidup saya.”
                Sesudah menikmati kebersamaan dengan putera mereka malam itu, Mike dan Cheryl mulai membangun hubungan kembali di bawah bimbingan seorang pemimpin rohni yang bijaksana. Mereka kembali ke awal. Mike mengencani mantan istrinya. Mereka tidak mengadakan hubungan fisik selama masa ini. Mereka ingin membangun cinta yang kekal, cinta yang rohani dan emosional, bukan sekedar jasmani.
                Satu setengah tahun sesudah perceraian resmi mereka, Mike dan Cheryl menikah kembali di hadapan keluarga dan sahabat. Banyak di antaranya telah menunjukkan keberpihakan ketika pasangan tersebut berpisah. Proses pemulihan untuk perselisihan keluarga ini dimulai hari itu juga ketika Michael yang beusia 3 tahun berdiri dalam upacara itu dan kemudian berteriak lantang,”Itu Ayah dan Ibuku!” Semua hati yang keras menjadi luluh. Air mata mengalir. Setiap orang yang hadir sadar bahwa mereka tengah menyaksikan sebuah mujizat dalam bentuk lahir kembalinya pernikahan Mike dan Cheryl.
                Namun, kisahnya tidak berakhir di sana. Mika dan Cheryl baru-baru ini merayakan ulang tahun ke 21 pernikahan mereka. Barb tidak dapat hadir , tetapi saya berada di sana. Pemimpin rohani mereka memimpin ibadah perayaan untuk pernikahan yang tidak akan mati. Saya merasa bersukacita ketika memimpin pasangan tersebut mengucapkan janji komitmen pernikahan mereka dan menandatangani perjanjian nikah kembali. Ketika Mike dan Cheryl mengenal kebenaran tentang mimpi Tuhan bagi pernikahan , kebenaran pun memerdekakan mereka, dan mereka mempunyai kisah rekonsiliasi yang luar biasa untuk diceritakan. Mike dan Cheryl adalah saksi hidup bahwa tidak ada pernikahan yang tak dapat diselamatkan.

****


Ketika Mike dan Cheryl merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ke-20, orang-orang di sekeliling mereka tahu bahwa pasangan suami istri ini telah menjalani lingkaran penuh. Ketika mereka bercerai 23 tahun yang lalu, pasangan yang waktu itu masih muda ini tidak melihat peluang untuk rekonsiliasi. Kemarahan dan kata-kata kasar yang saling dilontarkan, dan keyakinan bahwa pola yang menyakitkan ini tidak akan pernah berubah mendorong mereka untuk berpisah. Kebencian dan kepedihan begitu besar sehingga selama 7 bulan setelah perceraian, mereka bahkan tidak mau berbicara satu sama lain kecuali dalam pertemuan singkat ketika mereka masing-masing harus mengambil dan mengantar putra mereka yang masih kecil dari dan ke rumah mantan pasangan.
                Namun, 20 tahun kemudian, Mike dan Cheryl berdiri bersama-sama di hadapan ratusan orang dalam gedung bundar DPRD negara bagian Iowa. Ulang tahun istimewa pernikahan mereka kebetulan jatuh pada Hari Pernikahan dan Keluarga yang diproklamirkan oleh gubernur Iowa. Ratusan mata menatap Mike dan Cheryl ketika keduanya menyampaikan kisah mereka dan kemudian menandatangani perjanjian pernikahan – suatu pernyataan ulang bahwa mereka berjanji dan mengakui kepermanenan ikatan pernikahan yang Tuhan rancang.
                Mike dan Cheryl Wells benar-benar telah menjalani satu lingkaran penuh. Bukannya menjadi pengantar susu, Mike sekarang menjadi eksekutif dalam bisnis keluarga, Wells Blue Bunny Corporation yang bernilai 700 juta dolar, pembuat Wells Blue Bunny Ice Cream. Masa lalu yang menyakitkan dari pasangan ini sudah lenyap, digantikan dengan pengampunan, sikap yang tidak egois, dan komitmen yang tidak tergoyahkan. Sekarang Mike dan Cheryl  mempunyai 4 orang anak, dan mereka tidak dapat percaya betapa menakjubkan pernikahan mereka sekarang. Mereka melihat setiap hari sebagai awal, satu langkah lagi dalam perjalanan. Kisah mereka tentang membangun kembali sebuah pernikahan dari reruntuhan yang sudah hangus akibat perceraian membuat perubahan dalam pernikahan di seantero Amerika.
                Semenjak bercerai, Mike dan Cheryl dengan jujur mengira bahwa mereka dapat melepaskan diri dari satu sama lain. Kemudian mereka berhadapan dengan kenyataan yang mengubah kehidupan. Pernikahan mereka – yang pertama – telah menjalin mereka menjadi satu dalam ikatan yang sakral. “Sejak hari perceraian itu, saya menjadi orang yang paling menderita di dunia,” Mike berkata. “Malam hari setelah perceraian tersebut sudah tuntas, saya pergi minum-minum bersama teman-teman pria. Ada orang yang menghampiri saya sambil berkata,’Wow! Kamu pasti merasa lega. Akhirnya, kamu bercerai’ Saya katakan kepadanya bahwa saya belum pernah merasa hampa seperti itu selama hidup saya. Sebagian dari diri saya telah tercabut. Sebagian dari diri saya telah hilang.”
                Mike berpikir bahwa melepaskan diri dari Cheryl akan membuat segalanya beres. Walaupun akte perceraian mengatakan bahwa mereka tidak lagi satu, pada hakikatnya mereka tidak pernah bisa memutus ikatan emosional yang sudah terbentuk. Bagi keduanya, perceraian membuat mereka seakan-akan kehilangan sebelah tangan atau, seolah-olah kaki mereka ditarik hingga terlepas.
                Saat itu Mike dan Cheryl tidak mengerti bahwa ketika mengucapkan,”Aku bersedia”, itu adalah sebuah janji seumur hidup. Tuhan telah mengikat keduanya satu sama lain berdasarkan komitmen mereka, dan Dia ingin keduanya bersama-sama kembali. Tuhan tidak akan membiarkan mereka pergi tanpa perjuangan, bahkan sesudah perceraian!

                Tidak jadi soal posisi pernikahan Anda pada peta pernikahan – walaupuan Anda mengalami perceraian emosional, walaupun Anda telah memprakarsai perpisahan dan perceraian resmi – segala sesuatu yang baik masih mungkin diwujudkan oleh karena ikatan antara Anda berdua, dan Tuhan tidak akan membiarkan Anda mengabaikannya. Dia menciptakan suatu ikatan pernikahan – perjanjian yang serius – agar tidak terputuskan. Cinta yang memperbarui membuatnya demikian, membantu Anda dan pasangan untuk merasa yakin dan teguh dalam mencintai satu sama lain.