Yesus Gembala yang Baik.

Minggu, 13 Oktober 2013

Harapan

Kay Day, Chicken Soup for the Soul. Bangit dari Masa Sulit.

Ingat, kita semua akan tersandung. Itulah mengapa lebih baik berjalan sambil bergandengan tangan. (Emily Kimbrough)

Aroma rumput yang baru dipangkas menggelitik hidungku saat aku menatap suamiku berjalan ke arahku. Dia menggenggam sepucuk surat. Kematikan alat pemotong itu.
“Mereka mengirimkan orang ke sini untuk mengambil barang-barang ktia,” katanya.
“Siapa? Barang-barang apa?”
“Gara-gara pajak, mereka pikir kita berutang, dan sekarang menaruh hak gadai atas aset-aset kita.”
“Aset apa?” tanyaku. “Apa yang bisa mereka ambil, yang layak untuk menempuh perjalanan ke sini?”
Kuambil surat itu dan kulihat sekilas segel resmi Negara. Perjuangan panjang untuk membebaskan diri kami sepertinya sia-sia. Sistem yang kurang sempurna membuat Negara, yang belum lama kami tinggali, mencoba menagih pajak yang telah kami bayarkan.
Apel-apel merah muda bermekaran di sekitar kami – pertanda keceriaan yang kontras dengan momen tersebut. Kami seharusnya bahagia; status paiit yang kami ajukan tujuh tahun yang lalu akhirnya diangkat dari laporan kredit kami. Tetapi, kami malah tercebur di dalam ceruk utang tanpa pilihan lain, selain sekali lagi mengajukan pailit. Kami begitu ingin menghindari hal tersebut. Jadi, surat ini layaknya sekop yang berderak di atas tanah. Kami sedang dikubur hidup-hidup.
Bunyi dering telepon terdengar dari seberang halaman Aku tak memedulikannya. Paling-paling, hanya aku dan kreditur yang sudah hafal isi pembicaraan mereka. Ancaman tuntutan hokum. Ancaman pemotongan Aku tidak punya energy untuk menghadapi mereka.
“Aku akan pergi sebentar,” kata suamiku dan dia berlalu, pintu pagar menutup keras di belakangnya. Pandanganku terselubung air mata. Tekanan hidup mempengaruhi pernikahan kami, anak-anak – segalanya.
Stres itu tak tertahankan. Tetapi, beban yang lebih berat datang dari rasa malu dan penyesalan yang kami rasakan karena, sekali lagi, kami berada dalam situasi ini. Kami telah membuat keputusan-keputusan kredit yang buruk meskipun telah bertekad untuk menghindarinya. Kami tidak ingin melalaikan tanggung jawab, namun sepertinya tidak ada jalan lain.
Beberapa hari kemudian, di tengah-tengah studi Alkitab, aku meminta para ibu berdoa untuk kami. Aku ingin Tuhan menjawab kebutuhan kami dan memberikan kebijaksanaan untuk mengatasi keadaan ini.
Setelahnya, dua teman baik mendatangiku. Masing-masing menyelipkan secarik kertas ke dalam tanganku. Aku ingin melihat, tetapi mereka melarangku.
“Bawalah pulang. Kami ingin membantu.”
“Oh, aku tidak bisa,” kataku. Aku malu sampai berada di titik aku memerlukan uang dari orang lain. Namun, aku hanya perlu sekali memandang ke arah teman-temanku untuk mengetahui bahwa aku memang tidak punya pilihan lain. Kupeluk mereka dan kudoakan karunia bagi mereka.
Di mobil, kubuka kedua lembar cek tersebut. Kedua perempuan itu sudah tua. Satu orang menghabiskan hari-harinya merawat suaminya yang mengalami kelumpuhan quadriplegic, sementara yang satu hidup dari uang pensiun perusahaan telepon. Apa yang mereka berikan jauh melebihi kemampuan mereka. Aku menangis sepanjang perjalanan pulang.
Suamiku sedang duduk bersama setumpuk tagihan di hadapannya ketika aku tiba.
“Lihat,” kataku sambil menyodorkan cek-cek itu. Suamiku mengambil keduanya sembari menatap wajahku.
Dia melihat nilainya kemudian terkesiap. “Mengapa mereka melakukan ini?”
Kupikir, harga dirinya pastilah terluka, sama seperti harga diriku.
“Aku hanya meminta mereka berdoa untuk kita, dan mereka memberikan ini.”
Dia menatap kertas-kertas itu untuk beberapa saat. “Uang ini akan bisa untuk membayar tagihan listrik. Sekarang, mereka tidak bisa memotong listrik kita.”
Aku menarik napas dan membisikkan doa terima kasih. Teman-temanku telah memberikan sesuatu yang lebih berharga ketimbang uang; mereka memberikan harapan.
Dengan bantuan Tuhan , kami mampu memanjat keluar dari keterpurukan, dan kami lebih kuat dalam menempuh perjalanan selanjutnya. Harapan dari dua teman pemurahlah yang telah memberikan kami kekuatan untuk mengangkat kepala dan memulai perjalanan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar