Yesus Gembala yang Baik.

Sabtu, 25 April 2009

In Memory of Mr Lim


Kamis, 23 April 2009, saya menelpon RS Husada mencari informasi tentang Pak Lim yang nama lengkapnya Lim Huang Lin. Di sambung ke UGD tidak ada yang tahu, dioper ke Tata Usaha rawat inap ICU juga tidak dikenal. Heran juga. Kemana ya Pak Lim? Malamnya sewaktu datang ke Rumah Duka Gatot Subroto barulah saya sadar letak kesalahannya. Rupanya namanya yang tercantum bukanlah Lim Huang Lin melainkan Lao Ngeng Lim (?). Pantas saja petugas RS Husada tidak ada yang tahu...

Memang pengetahuan manusia tentang manusia lainnya sangat terbatas. Seperti kenal, namun sesungguhnya banyak hal yang tidak kita tahu. Tiga tahun sudah Pak Lim bergabung di GKKK Mabes. Yang kutahu hanyalah Pak Lim awalnya ”ditinggalkan” keluarganya dan akhirnya ditemukan oleh mertua ko Wimpi. Karena tidak ada sanak saudara yang mau menerimanya, akhirnya ia diminta datang ke GKKK Mabes. Itulah awalnya ia datang ke GKKK Mabes dan saya tahunya juga waktu dengar di acara kesaksian Persekutuan Doa (PD).

Saya lebih banyak mengenal Pak Lim sendiri melalui kesaksian-kesaksian yang ia sampaikan. Bila tidak ada kejadian yang ia bagikan, maka dengan suara lantang ia pun melantunkan lagu penyembahan kepadaNya. Sungguh semangat yang patut dipuji. Sementara banyak jemaat lain yang masih malu-malu untuk bersaksi, ia hampir setiap kali dengan bersemangat maju untuk bersaksi atau mempersembahkan pujian. Rupanya awal perkenalan di PD ditutup juga dengan perpisahan di PD.

Rabu malam, 22 April 2009 sekitar pk 7 lebih sedikit, saya tiba di ruang kebaktian mengikuti PA. Sewaktu akan masuk ruang kebaktian, A Hui memberitahukan bahwa Pak Lim dibawa ke rumah sakit karena terjatuh dari bangku dan terluka di kepalanya. Napasnya sudah sulit. Oleh rekan-rekan seiman lainnya sudah dibawa ke RS Husada. Saya tidak memiliki prasangka apa pun juga. Jadi saya masuk ke ruang kebaktian. Freddy pun sempat memberitahukan tentang peristiwa Pak Lim ini. Rupanya malam ini adalah malam terakhir Pak Lim ikut PD. Yang luar biasa, ia juga sudah mempersiapkan lagu yang akan dinyanyikannya pada kesaksian malam ini. Lagunya diambil dari lagu yang dinyanyikan waktu Paskah kemarin yakni Karna Dia Hidup Ada Hari Esok... Karna Dia Hidup Kutak Gentar... Karna Kutahu Dia Pegang Hari Esok... Hidup Jadi Berarti Karna Dia Hidup... Lalu dia tambahkan sendiri kata-kata yang ia tulis di kertas ... kata yang mengingatkan akan kasih Yesus...

Di RS Husada, ia langsung dimasukkan ke UGD setelah itu sekitar pk 22 langsung dimasukkan ke ICU. Dokter yang ada di sana berusaha untuk menormalkan kembali nafasnya , namun umurnya sudah di tangan Tuhan. Esok pagi, Ko Wimpi menulis diemail bahwa Pak Lim sudah pergi meninggalkan dunia selamanya... Sesungguhnya kematiannya luar biasa. Proses ia meninggal yang singkat itu terjadi saat ia sedang mengikuti PD. Ia sudah menyiapkan lagu terakhir yang akan ia sampaikan. Ia dibawa dan diiringi langsung oleh para saudara seiman. Kematiannya hanya memakan waktu yang sangat singkat. Wah, kalau saya dapat kehormatan seperti itu... mati di rumah Tuhan....mati saat sedang bersekutu dengan Tuhan...

Saat mengingat kembali memory akan Pak Lim, saya jadi teringat ketika pertama kali diadakan komsel di rumah ortu di Kebun Jeruk sekitar akhir 2007. Saat itu Pak Lim memberikan kesaksiannya sewaktu ia percaya kepada Yesus... Saat itu mama saya belum percaya... Lalu saat mama saya meninggal pada bulan Pebruari 2008, Pak Lim lah yang membantu menjaga ruang duka di Rumah Duka Husada pada malam harinya.

Kesukaan Pak Lim menyanyi didukung oleh suaranya yang prima. Ia bisa menyanyi dengan suara yang keras dan mantap. Pelayanan bersama Pak Lim terakhir adalah saat perayaan Paskah 2009. Kami berdua bersama-sama rekan-rekan lainnya bergabung dalam paduan suara. Pak Lim ikut suara tiga sedangkan saya masuk suara empat. Sayangnya suaranya waktu ikut paduan suara sepertinya tidak seperti kalau ia menyanyi solo... Mungkin agak sulit menghapal persis nada yang dinyanyikan...

Pak Lim sendiri memang kesehatannya tidak prima. Sebelum ia diterima sebagai karyawan gereja, ia kerap kali minta bantuan komisi Diakonia untuk biaya pengobatan. Setelah itu, biaya pengobatan menjadi bagian dari fasilitas karyawan gereja. Yang uniknya, sewaktu ia pertama kali diserahi tugas untuk angkat telepon yang masuk ke GKKK Mabes, ia mengangkat telepon seperti cara menjawab telepon di rumah saja. Tidak ada kata sambutan ”Kalam Kudus Selamat Pagi” atau ”Kalau Kudus Selamat Siang...” Saya sempat mengajari Pak Lim untuk menggunakan salam seperti itu. Awalnya, ia mencoba untuk mengucapkan kata sambutan... tapi setelah itu lupa lagi. Saya coba lagi test... kembali lagi seperti itu... Akhirnya, nyerah deh.... Hanya kalau sempat saja, saya ingatkan..

Pak Lim ini orangnya terkadang senang bercanda.... Saya ingat waktu sedang retreat, ia godain papanya Santo : ”papanya Santo nempel terus sama mamanya Santo... di mana ada mamanya Santo.. pasti ada papanya Santo... Sekali-kali jangan nempel terus gitu ...” Papa Santo kalau diledek begini, mesem-mesem aja. Pak Lim juga senang kebersihan. Ia tidak tahan kalau ruangannya kotor dan jorok. Ia protes keras dengan room-matenya. Retreat tahun lalu memang menyisakan misteri. Bayangin deh, Ev Pangsuri tidak bisa masuk kamar yang dihuni saya, Pak Lim, Ev Suwandi dan Ev Pangsuri. Seingat saya Ev Suwandi sudah tidur waktu pintu masih terbuka. Jadi pilihannya tinggal dua dong.... Padahal Pak Lim ia tidak kunci pintu kamarnya... Jadi siapa dong yang kunci? Perasaan, saya juga tidak mengunci pintunya...

Sabtu 25 April 2009 pk 8 pagi, kereta jenasah diberangkatkan dari RD Gatot Subroto diiringi 4 mobil pengiring di belakangnya. Dua dari pihak keluarganya dan dua dari gereja. Saya hampir saja tidak bisa berangkat, beruntung akhirnya saya bisa tiba juga di RD sebelum berangkat. Diiringi dengan 2 voorijder, kami mengantar ke krematorium Nirvana. Sekitar pk 10, jenasah dimasukkan ke perapian.... Sejam lagi sudah tidak berbentuk ... hanya serpihan debu. Dari tanah kembali ke tanah...

Pak Lim, fisikmu sudah tiada... Namun warisan anak-cucumu semakin ada.... Pak Lim sudah berjuang dan menang …. Pak Lim sudah mencapai garis akhir dan tetap mempertahankan iman. Mahkota kehidupan menanti bagi dia yang percaya kepadaNya.... Selamat jalan Pak Lim...

Batavia, 25 April 2009
OPH

Jumat, 24 April 2009

Anak Yang Hilang


Seorang pemuda akan diwisuda. Sebentar lagi dia akan menjadi seorang sarjana sebagai ganjaran dari jerih payahnya selama beberapa tahun mengenyam bangku pendidikan. Beberapa bulan yang lalu dia melewati sebuah showroom, dan saat itu dia jatuh cinta kepada sebuah mobil sport. Selama beberapa bulan dia selalu membayangkan, nanti pada saat wisuda ayahnya pasti akan menghadiahkan mobil itu untuknya. Karena dia adalah anak semata wayang dan ayahnya sangat sayang padanya, dia sangat yakin akan mendapatkan mobil itu. Dia pun berangan-angan mengendarai mobil itu dan bersenang-senang dengan teman-temannya. Bahkan, semua mimpinya itu dia ceritakan ke teman-temannya.
Saat wisuda pun tiba. Siang itu, setelah wisuda, dia melangkah pasti ke arah ayahnya. Sang ayah tersenyum, dan dengan berlinang air mata karena terharu dia mengungkapkan betapa dia membanggakan anaknya, dan betapa dia mencintai anaknya itu. Lalu, dia pun mengeluarkan sebuah bingkisan.... , namun bukan sebuah kunci! Dengan hati yang hancur sang anak menerima bingkisan itu. Dengan sangat kecewa dia membuka kado itu. Dalam bungkusan rapi kertas kado itu ia menemukan sebuah Alkitab yang bersampulkan kulit asli, di kulit itu terukir indah namanya dengan tinta mas.
Pemuda itu menjadi sangat marah. Dengan suara yang meninggi dia berteriak, ”Yaahh... Ayah memang sangat mencintai saya, dengan semua uang ayah, ayah belikan Alkitab ini untukku?” Lalu ia membanting Alkitab itu dan lari meninggalkan ayahnya.
Ayahnya tidak bisa berkata apa-apa. Hatinya hancur. Dia berdiri mematung disaksikan beribu pasang mata yang hadir di acara wisuda itu.
Tahun demi tahun berganti. Sang anak telah menjadi seorang yang sukses. Dengan modal otaknya yang cemerlang dia berhasil menjadi seorang kaya dan terpandang. Dia mempunyai rumah yang besar dan mewah, dengan seorang istri yang cantik dan anak-anak yang cerdas.
Sementara itu, ayahnya semakin tua dan tinggal sendiri. Sejak hari wisuda itu, anaknya pergi meninggalkan dia dan tak pernah menghubungi dia. Dia berharap suatu saat dapat bertemu anaknya itu, hanya untuk meyakinkan dia betapa ia sangat mengasihi anaknya. Sang anak pun kadang rindu dan ingin bertemu dengan sang ayah, tapi mengingat apa yang terjadi pada hari wisudanya, dia menjadi sakit hati. Dia masih menyimpan dendam.
Sampai suatu hari datang sebuah telegram dari kantor kejaksaan yang memberitakan bahwa ayahnya telah meninggal. Sebelum meninggal, dia mewariskan semua hartanya kepada anak satu-satunya. Sang anak disuruh menghadap Jaksa Wilayah dan bersama-sama ke rumah ayahnya untuk mengurus semua harta peninggalannya.
Saat melangkah masuk ke rumah itu, mendadak hatinya menjadi sangat sedih, mengingat semua kenangan semasa dia tinggal di situ. Dia merasa sangat menyesal telah bersikap buruk terhadap ayahnya.
Dengan bayangan-bayangan masa lalu yang menari-nari di matanya, dia menelusuri semua barang di rumah itu. Ketika dia membuka brankas ayahnya, dia menemukan Alkitab itu, masih terbungkus dengan kertas yang sama beberapa puluh tahun yang lalu. Dengan airmata berlinang, dia lalu memungut Alkitab itu dan mulai membuka halamannya.
Di halaman pertama Alkitab itu, dia membaca tulisan tangan ayahnya, ”Dan kamu yang jahat tahu memberikan yang baik kepada anakmu, apalagi Bapamu yang di surga akan memberikan apa yang kamu minta kepadaNya?” Selesai dia membaca tulisan itu, sesuatu jatuh dari bagian belakang Alkitab itu. Dia memungutnya, ternyata... sebuah kunci mobil! Di gantungan kunci mobil itu tercetak nama dealer, sama dengan dealer mobil sport yang dulu dia idamkan! Dia membuka halaman terakhir Alkitab itu, dan menemukan di situ terselip STNK dan surat-surat lainnya, namanya tercetak di situ. Dan sebuah kuitansi pembelian mobil, tanggalnya tepat sehari sebelum hari wisuda itu.
Dia berlari menuju garasi, dan di sana dia menemukan sebuah mobil yang berlapiskan debu selama bertahun-tahun, meskipun mobil itu sudah sangat kotor karena tidak disentuh bertahun-tahun, dia masih mengenal jelas mobil itu, mobil sport yang dia dambakan bertahun-tahun lalu. Dengan buru-buru dia menghapus debu pada jendela mobil dan melongok ke dalam bagian dalam mobil itu masih baru, plastik membungkus jok mobil dan setirnya, di atas dashboardnya ada sebuah foto, foto ayahnya, sedang tersenyum bangga.
Mendadak dia menjadi lemas, lalu terduduk di samping mobil itu, air matanya tidak terhentikan, mengalir terus mengiringi rasa menyesalnya.
Inilah kekuatan cinta sang Ayah. Meski secara manusia menyakitkan memiliki anak ”durhaka”, namun sang Ayah tetap mencinta si anak. Cinta yang tidak bersyarat inilah yang dibutuhkan anak-anak. Cinta tak bersyarat tangguh dan kuat, tak lekang oleh waktu. Suatu saat cinta itu berbuah, si anak kembali menyesal dan bertobat. Cinta mengatasi pemberontakan. Cinta mengatasi pengkhianatan.

Dipungut OPH dari buku
Mencinta Hingga Terluka
Roswitha Ndraha & Julianto Simanjuntak

Kekuatan Cinta


Ada seorang Ibu yang dikhianati pasangannya. Suaminya, seorang pengusaha besar akirnya menikah dengan sekretarisnya. Cinta pengusaha itu kepada istrinya yang sah itu luntur lewat waktu karena tak tahan godaan sekretarisnya. Istrinya sangat kecewa, demikian juga ketiga anaknya yang masih kecil-kecil. Sang pengusaha ini pun meninggalkan istri pertama dan tinggal bersama istri kedua.
Waktu berjalan, istri kedua ini ternyata menikah hanya untuk menguras harta si pengusaha. Sampai beberapa tahun, seluruh kekayaan sudah berbalik nama. Konflik si pengusaha dengan istri kedua makin keras. Pertengkaran demi pertengkaran, rasa bersalah karena mengingat istri pertama dan ketiga anaknya, membuat pertahanannya jebol. Dia sakit keras dan masuk rumah sakit. Namun, istri kedua tidak mau lagi mengurus suaminya. Pertengkaran dan konflik mereka juga menimbulkan kebencian dalam hatinya. Setelah beberapa bulan dirawat, si pengusaha ini tak cukup punya uang untuk keluar dari rumah sakit yang terbilang mahal. Mantan sekretaris yang menjadi istri keduanya tidak mau menolong.
Saat seperti itulah dia ingat kembali pada istri pertamanya. Dia mencoba menelepon. Istrinya mengangkat telepon tapi sebentar kemudian ia menutup telepon setelah tahu itu dari mantan suaminya. Si suami menelepon lagi, dan mengemis pada istrinya untuk menerima telepon. ”Aku sakit... aku tidak bisa keluar dari rumah sakit karena tidak punya uang.” ”Ke mana uangmu yang banyak itu?” tanya istrinya keheranan.
”Semua dikuras oleh istriku sekarang. Dia benar-benar jahat, serigala berbulu domba. Tolonglah aku, Ma. Tolonglah. Aku menyesal,maafkan aku telah melukaimu dan mengkhianatimu.” Mantan istri dengan sedikit kesal bercampur kasihan berkata, ”Nanti aku pikirkan dulu dan bicarakan dengan anak-anak. Mereka cukup besar untuk saya mintai pendapat.”
Si Ibu lalu memberitahukan percakapan itu kepada ketiga anaknya. Semua anak langsung berpendapat, ”Mama jangan peduli pada Ayah yang tak beranggung jawab itu. Biar dia rasa, Ma. Kita juga semua susah karena ulah dia. Sekarang lagi susah, dia menelepon. Kami tidak setuju mama ke rumah sakit.” Mereka kompak sekali.
Tapi si Ibu dengan air mata berlinang bicara dengan hati-hati kepada anaknya,”Anak-anakku, kalian memang menderita karena perlakuan Ayah kalian. Tapi, ingat , mama lebih terluka. Kalau dengar hati mama, mama tidak akan pergi melihat papa kalian. Tapi mama ingat janji mama kepada Tuhan, bahwa Mama harus setia sampai kematian memisahkan kami. Nak, maafkan mama karena harus pergi melihat papa kalian.”
Si Ibu lalu pergi ke rumah sakit untuk menebus pengusaha yang pernah melukai dan mengkhianatinya.
Itulah kekuatan cinta. Dia tetap tangguh, tak peduli badai apa yang menimpa hidupnya. Cinta itu kuat.

Dipungut OPH dari buku
Mencinta Hingga Terluka
Roswitha Ndraha & Julianto Simanjuntak

Kisah Corrie Ten Boom


Corrie Ten Boom dan keluarganya mengalami kekejaman selama tahun-tahun terakhir perang dunia II. Ia dan keluarganya dikirim oleh Nazi ke kamp pembantaian di Ravensbruck, Jerman. Akhirnya, hanya Corrie yang selamat. Sesudah perang, ia menjadi penulis terkenal dan sering berbicara tentang kasih Allah. Namun, dalam hatinya, ia masih merasakan kepahitan terhadap Nazi atas apa yang sudah mereka perbuat terhadap dirinya dan keluarganya. Dua tahun sesuah perang, Corrie berbicara di Munich, Jerman, tentang topik pengampunan Allah. Sesudah kebaktian, ia melihat seorang pria yang ikut menyiksa dirinya bersama keluarganya berjalan ke arahnya. Beginilah kisahnya :
Pria yang sedang berjalan menghampirinya adalah seorang penjaga – salah seorang dari penjaga yang paling keji. Sekarang orang ini ada di hadapan Corrie dengan tangan terulur. Pria itu berkata, ”Pesan yang bagus, Ibu! Betapa senangnya mengatakan bahwa, seperti Anda katakan, semua dosa kita sudah dibuang ke dasar laut!” Dan saya, yang baru saja berbicara dengan fasih tentang pengampunan. Saya tak kuasa menerima salamnya. Saya hanya, meraba-raba buku saya, bukannya menyambut tangan yang terulur itu. Tentu saja orang ini tidak akan mengingat saya – bagaimana mungkin ia ingat seorang tahanan di antara ribuan wanita itu? Namun, saya ingat kepadanya dan cambuk kulit yang mengayun dari ikat pinggangnya. Darah saya serasa membeku.
”Anda menyebutkan Ravensbruck dalam ceramah Anda,” orang itu berkata. ”Saya dulu menjadi penjaga di sana.” Tidak, ia tidak ingat saya. ”Tapi, sejak saat itu,” ia melanjutkan,”saya menjadi orang Kristen. Saya tahu Allah sudah mengampuni saya untuk hal-hal keji yang saya lakukan di sana. Tetapi, saya ingin mendengar dari bibir Anda juga ibu,” sekali lagi tangan itu terulur ”maukah Anda mengampuni saya?”
Saya berdiri terdiam di sana, saya tidak sanggup mengampuni.Betsie saudaraku meninggal di tempat itu, dapatkah orang ini menghapus kepahitannya hanya dengan meminta maaf? Tidak lebih dari beberapa detik orang itu berdiri di sana dengan tangan terulur, tetapi bagi saya rasanya berjam-jam sementara saya bergumul dengan perkara paling sulit yang harus saya lakukan.
Karena saya harus melakukannya, saya tahu itu. Pesan bahwa Allah mengampuni didahului dengan kondisi : bahwa kita harus mengampuni mereka yang sudah menyakiti kita. ”Jika engkau tidak mengampuni kesalahan yang lain,” Yesus berkata,”maka Bapamu yang di surga tidak akan mengamuni dosamu juga.”
Saya tahu itu bukan hanya sebagai perintah Allah, tetapi juga sebagai pengalaman sehari-hari. sesederhana itukah? Dan saya masih berdiri di sana dengan hati yang membeku. Namun, pengampunan bukanlah emosi, saya juga tahu itu. Pengampunan adalah tindakan dari kehendak, dan kehendak dapat berfungsi lepas dari suhu hati saat itu. ”Yesus, tolong saya!” Saya berdoa dalam hati. ”Saya dapat mengangkat tangan saya. Saya dapat berbuat sejauh itu. Engkaulah yang memberikan perasaan itu.”
Dengan kaku dan seperti mesin, saya pun mengulurkan tangan untuk menyambut tangan yang terulur itu. Ketika saya melakukannya, terjadi suatu peristiwa yang luar biasa. Ada aliran yang timbul dimulai dari bahu saya, merambat turun ke lengan saya. Lalu menyebar ke tangan kami yang saling menggenggam. Kemudian, kehangatan yang menyembuhkan ini tampak membanjiri seluruh diri saya sehingga mata saya banjir air mata. ”Saya mengampunimu, Saudara,” saya berseru,”dengan segenap hati saya.”
Untuk waktu yang lama kami saling menggenggam tangan satu sama lain, mantan penjaga dan mantan tahanan. say tidak pernah mengetahui kasih Allah begitu kuat, seperti yang saya saya rasakan saat itu. Namun, meskipun begitu , saya sadar itu bukan kasih saya. Saya sudah berusaha dan tidak mempunyai kekuatan untuk itu. Itu adalah kuasa Roh Kudus seperti tercatat dalam Roma 5:5 ”...karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.”

Memaafkan selalu memberi orang kesempatan kedua. Mengampuni adalah jalan terbaik orang dapat melihat cinta kasih Kristus dalam diri kita yang sesungguhnya. Mengampuni adalah sisi mutiara kasih Kristus yang paling tampak sinarnya bagi kita yang melihatnya.

Dipungut OPH dari buku
Mencinta Hingga Terluka
Roswitha Ndraha & Julianto Simanjuntak

Terluka itu Indah


Suatu hari saya nyaris frustasi karena anak bungsu kami yang waktu itu sudah lebih dari lima tahun usianya, belum juga bisa naik sepeda. Hampir tiap hari saya menuntun sepedanya ke lapangan rumput di depan rumah.
”Naik, ya. Papa pegang di belakang. Kamu tidak akan jatuh. Papa juga,” kata saya. Selama beberapa hari dia taat. Saya memegang bagian belakang sepedanya sambil berlari-lari kecil, sementara dia belajar mengayuh. Mula-mula agak kaku, lama-lama terbiasa. Saya tetap memegang sepedanya. Tetapi, dia langsung berhenti dan turun kalau merasa ada tanda-tanda saya mau melepaskan pegangan saya. ”Jangan dilepasin, Pa,”pintanya sambil melihat ke belakang. Saya mengangguk, maka ia belajar lagi.
Lama-lama saya berpikir, sudah saatnya melepas Moze. Dia tampaknya mau bermain saja, sementara saya terengah-engah di belakang. Tetapi sejak dia tahu saya mencoba melepaskan pegangan saya, Moze sama sekali tidak mau main sepeda lagi. Saya hampir putus asa. Bagaimana caranya agar Moze mau berlatih naik sepeda?
Saya dapat ide. Bebeapa hari setelah itu saya mengajaknya ke lapangan lagi. Kami duduk-duduk di pinggir lapangan, dekat sepeda. Moze masih tidak mau mencoba naik. ”Nanti aku jatuh, luka berdarah,”kilahnya. Tiba-tiba saya memandang lutut saya. ”Lihat lutut Papa,” kata saya kepadanya. Dengan antusias anak saya memperhatikannya. ”Wah, ini bekas luka ya, Pa? Kapan Papa luka?” tanyanya. Saya pun bercerita. ”Waktu Papa seumur kamu, papa juga belajar naik sepeda. Tetapi, suatu kali waktu sedang belajar, Papa jatuh. Lutut Papa luka.”
”Banyak darahnya, Pa? Sakit?” ”Lumayanlah. Sakit juga. Papa meringis-ringis. Tapi, Papa tidak berhenti belajar. Setelah lukanya diobati, Papa kembali belajar. Akhirnya Papa bisa naik sepeda. Papa senang sekali bersepeda bersama teman-teman Papa.” ”O....”kata Moze sambil mengelus-elus bekas luka saya. ”Papa juga pernah luka, ya. Papa pernah kesakitan....”
Tiba-tiba anak saya naik ke atas sepedanya. ”Pegangin sebentar ya, Pa. Nanti kalau sudah sampai di tengah coba Papa lepaskan. Aku juga mau belajar. Jatuh ngak apa-apa, ya Pa.” Sejak saat itu, Moze bisa naik sepeda. Hari itu saya menjadi sadar bahwa ternyata luka saya waktu naik sepeda dulu sangat berguna bagi Moze sekarang. Bekas luka saya telah memberikan kepada anak saya keberanian untuk terluka. Dari pengalaman ini kami belajar satu kebenaran, kami belajar bahwa luka hidup kita, (karena dihina, dikhianati, dilecehkan, dan lain-lain) tak pernah sia-sia. Luka hati itu kelak berguna dan memberi keberanian terluka pada sesama kita.

Dipungut OPH dari buku
Mencinta Hingga Terluka
Roswitha Ndraha & Julianto Simanjuntak

Mencinta Hingga Terluka


Suatu hari, Bunda Teresa berekeliling dari gang ke gang di kampung-kampung Calcutta. ”Bunda Teresa!” teriak seorang pengemis sambil menggelesot mendekati Bunda Teresa. ”Ini untukmu. Aku ingin memberikannya padamu,” kata pengemis itu sambil memberikan semangkuk uang receh rupee hasil jerih payahnya mengemis hari itu. Mother Teresa menolak halus dan berkata,”Mengapa, Bu? Bukankah ini untuk makan Ibu hari ini? Tidak usah, Bu.” Pengemis itu memandang Bunda Teresa dengan mata berkaca-kaca. Dia memang belum makan dari pagi. Teresa memperhatikan baju yang lusuh dan kulit berbalut tulang yang berlutut di depannya. Bunda Teresa mendekat. ”Tapi, Bunda,” bujuk pengemis itu, ”ada yang jauh lebih menderita daripada aku. Terimalah, Bunda. Berikan uang itu kepadanya,” kata si Pengemis itu penuh harap.
Bunda Teresa tidak berani menolak. ”Baik, baik aku terima. Terima kasih,” ucap Bunda Teresa, menepuk haru bahu pengemis itu, tanda menghargai jerih payahnya. Mother Teresa mendapat sebuah pesan dari hadiah sang pengemis itu. Pengemis itu rela dan tulus memberikan hartanya dengan segala cinta demi membahagiakan orang lain, sedangkan dirinya sendiri butuh pertolongan.Inilah yang disebut dengan ”mencinta hingga terluka”. Pengemis itu tidak mengindahkan keringat, keletihan dan luka goresan di jalanan berdebu dan panas, yang dialaminya hari itu. Ia memberi dengan cintanya.
Mencinta hingga terluka adalah sebuah cinta yang membuat sejarah. Cinta yang berkorban yang akan terus dikenang oleh yang menerimanya. Cinta yang akan diwariskan dari satu generasi ke generasi. Sebuah cinta kasih Mother Teresa kepada orang-orang yang ia layani. Juga kisah pengorbanan Maria (Injil Matius). Tentang dia, Yesus berkata, ”Sesungguhnya di mana saja Injil ini diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia.” Cinta yang diberikan kepada orang yang tepat, pada waktu yang tepat, dan motivasi yang benar, sungguh menyenangkan hati Tuhan dan setiap orang yang menerimanya.

Dipungut OPH dari buku
Mencinta Hingga Terluka
Roswitha Ndraha & Julianto Simanjuntak