Yesus Gembala yang Baik.

Jumat, 24 April 2009

Terluka itu Indah


Suatu hari saya nyaris frustasi karena anak bungsu kami yang waktu itu sudah lebih dari lima tahun usianya, belum juga bisa naik sepeda. Hampir tiap hari saya menuntun sepedanya ke lapangan rumput di depan rumah.
”Naik, ya. Papa pegang di belakang. Kamu tidak akan jatuh. Papa juga,” kata saya. Selama beberapa hari dia taat. Saya memegang bagian belakang sepedanya sambil berlari-lari kecil, sementara dia belajar mengayuh. Mula-mula agak kaku, lama-lama terbiasa. Saya tetap memegang sepedanya. Tetapi, dia langsung berhenti dan turun kalau merasa ada tanda-tanda saya mau melepaskan pegangan saya. ”Jangan dilepasin, Pa,”pintanya sambil melihat ke belakang. Saya mengangguk, maka ia belajar lagi.
Lama-lama saya berpikir, sudah saatnya melepas Moze. Dia tampaknya mau bermain saja, sementara saya terengah-engah di belakang. Tetapi sejak dia tahu saya mencoba melepaskan pegangan saya, Moze sama sekali tidak mau main sepeda lagi. Saya hampir putus asa. Bagaimana caranya agar Moze mau berlatih naik sepeda?
Saya dapat ide. Bebeapa hari setelah itu saya mengajaknya ke lapangan lagi. Kami duduk-duduk di pinggir lapangan, dekat sepeda. Moze masih tidak mau mencoba naik. ”Nanti aku jatuh, luka berdarah,”kilahnya. Tiba-tiba saya memandang lutut saya. ”Lihat lutut Papa,” kata saya kepadanya. Dengan antusias anak saya memperhatikannya. ”Wah, ini bekas luka ya, Pa? Kapan Papa luka?” tanyanya. Saya pun bercerita. ”Waktu Papa seumur kamu, papa juga belajar naik sepeda. Tetapi, suatu kali waktu sedang belajar, Papa jatuh. Lutut Papa luka.”
”Banyak darahnya, Pa? Sakit?” ”Lumayanlah. Sakit juga. Papa meringis-ringis. Tapi, Papa tidak berhenti belajar. Setelah lukanya diobati, Papa kembali belajar. Akhirnya Papa bisa naik sepeda. Papa senang sekali bersepeda bersama teman-teman Papa.” ”O....”kata Moze sambil mengelus-elus bekas luka saya. ”Papa juga pernah luka, ya. Papa pernah kesakitan....”
Tiba-tiba anak saya naik ke atas sepedanya. ”Pegangin sebentar ya, Pa. Nanti kalau sudah sampai di tengah coba Papa lepaskan. Aku juga mau belajar. Jatuh ngak apa-apa, ya Pa.” Sejak saat itu, Moze bisa naik sepeda. Hari itu saya menjadi sadar bahwa ternyata luka saya waktu naik sepeda dulu sangat berguna bagi Moze sekarang. Bekas luka saya telah memberikan kepada anak saya keberanian untuk terluka. Dari pengalaman ini kami belajar satu kebenaran, kami belajar bahwa luka hidup kita, (karena dihina, dikhianati, dilecehkan, dan lain-lain) tak pernah sia-sia. Luka hati itu kelak berguna dan memberi keberanian terluka pada sesama kita.

Dipungut OPH dari buku
Mencinta Hingga Terluka
Roswitha Ndraha & Julianto Simanjuntak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar