Yesus Gembala yang Baik.

Sabtu, 13 Februari 2016

Saat Razia, Isi Tas Siswi SMA Ini Membuat Para Gurunya Menangis!



http://mari-sebarkan.blogspot.com/2016/02/saat-razia-isi-tas-siswi-sma-ini.html#

Pihak sekolah SMA Putri di kota Shan’a’ yang merupakan ibu kota Yaman menetapkan kebijakan adanya pemeriksaan mendadak bagi seluruh siswi di dalam kelas. Sebagaimana yang ditegaskan oleh salah seorang pegawai sekolah bahwa tentunya pemeriksaan itu bertujuan merazia barang-barang yang di larang di bawa ke dalam sekolah, seperti: telepon genggam yang dilengkapi dengan kamera, foto-foto, surat-surat, alat-alat kecantikan dan lain sebagainya. Yang mana seharusnya memang sebuah lembaga pendidikan sebagai pusat ilmu bukan untuk hal-hal yang tidak baik.

Lantas pihak sekolah pun melakukan sweeping di seluruh kelas dengan penuh semangat. Mereka keluar kelas, masuk kelas lain.

Sementara tas para siswi terbuka di hadapan mereka. Tas-tas tersebut tidak berisi apapun melainkan beberapa buku, pulpen, dan peralatan sekolah lainnya..

Semua kelas sudah dirazia, hanya tersisa satu kelas saja. Dimana kelas tersebut terdapat seorang siswi yang menceritakan kisah ini.

Seperti biasa, dengan penuh percaya diri tim pemeriksa masuk ke dalam kelas. Mereka lantas meminta izin untuk memeriksa tas sekolah para siswi di sana. Pemeriksaan pun dimulai..

Di salah satu sudut kelas ada seorang siswi yang dikenal sangat tertutup dan pemalu. Ia juga dikenal sebagai seorang siswi yang berakhlak sopan dan santun. Ia tidak suka berbaur dengan siswi-siswi lainnya, ia suka menyendiri, padahal ia sangat pintar dan menonjol dalam belajar..

Ia memandang tim pemeriksa dengan pandangan penuh ketakutan, sementara tangannya berada di dalam tas miliknya. Semakin dekat gilirannya untuk diperiksa, semakin tampak raut takut pada wajahnya.

Apakah sebenarnya yang disembunyikan siswi tersebut dalam tasnya?!

Tidak lama kemudian tibalah gilirannya untuk diperiksa..

Dia memegangi tasnya dengan kuat, seolah mengatakan demi Allah kalian tidak boleh membukanya!

Kini giliran diperiksa, dan dari sinilah dimulai kisahnya…

“Buka tasmu wahai putriku..”

Siswi tersebut memandangi pemeriksa dengan pandangan sedih, ia pun kini telah meletakkan tasnya dalam pelukan..

“Berikan tasmu..”

Ia menoleh dan menjerit, “Tidak…tidak…tidak..”

Perdebatan pun terjadi sangat tajam..

“Berikan tasmu..” …

“Tidak..”

“Berikan..”

“Tidak..”

Apakah sebenarnya yang membuat siswi tersebut menolak untuk dilakukan pemeriksaan pada tasnya?!

Apa sebenarnya yang ada dalam tas miliknya dan takut dipergoki oleh tim pemeriksa?!

Keributan pun terjadi dan tangan mereka saling berebut. Sementara tas tersebut masih di pegang erat dan para guru belum berhasil merampas tas dari tangan siswi tersebut karena ia memeluknya dengan penuh kegilaan!

Spontan saja siswi itu menangis sejadi-jadinya. Siswi-siswi lain terkejut. Mereka melotot. Para guru yang mengenalnya sebagai seorang siswi yang pintar dan disiplin terkejut melihat kejadian tersebut..

Tempat itu pun berubah menjadi hening..

Ya Allah, apa sebenarnya yang terjadi dan apa gerangan yang ada di dalam tas siswi tersebut. Apakah mungkin siswi tersebut…??

Setelah berdiskusi ringan, tim pemeriksa sepakat untuk membawa siswi tersebut ke kantor sekolah, dengan syarat jangan sampai perhatian mereka berpaling dari siswi tersebut supaya ia tidak dapat melemparkan sesuatu dari dalam tasnya sehingga bisa terbebas begitu saja..

Mereka pun membawa siswi tersebut dengan penjagaan yang ketat dari tim dan para guru serta sebagian siswi lainnya. Siswi tersebut kini masuk ke ruangan kantor sekolah, sementara air matanya mengalir seperti hujan.

Siswi tersebut memperhatikan orang-orang disekitarnya dengan penuh kebencian, karena mereka akan mempermalukannya di depan umum.

Karena perilakunya selama satu tahun ini baik dan tidak pernah melakukan kesalahan dan pelanggaran, maka kepala sekolah menenangkan hadirin dan memerintahkan para siswi lainnya agar membubarkan diri. Dan dengan penuh santun, kepala sekolah juga memohon agar para guru meninggalkan ruangannya sehingga yang tersisa hanya para tim pemeriksa saja..

Kepala sekolah berusaha menenangkan siswi malang tersebut. Lantas bertanya padanya, “Apa yang engkau sembunyikan wahai putriku..?”

Di sini, dalam sekejap siswi tersebut simpati dengan kepala sekolah dan membuka tasnya.

Di dalam tas tersebut tidak ada benda-benda terlarang atau haram, atau telepon genggam atau foto-foto, demi Allah, itu semua tidak ada!

Tidak ada dalam tas itu melainkan sisa-sisa roti..
Yah, itulah yang ada dalam tas tersebut.

Setelah merasa tenang, siswi itu berkata, “Sisa-sisa roti ini adalah sisa-sisa dari para siswi yang mereka buang di tanah, lalu aku kumpulkan untuk kemudian aku makan dengan sebagiannya dan membawa sisanya kepada keluargaku. Ibu dan saudari-saudariku di rumah tidak memiliki sesuatu untuk mereka santap di siang dan malam hari bila aku tidak membawakan untuk mereka sisa-sisa roti ini.."

"Kami adalah keluarga fakir yang tidak memiliki apa-apa. Kami tidak punya kerabat dan tidak ada yang peduli pada kami..," ujar siswi tersebut sambil menunduk malu.

"Inilah yang membuat aku menolak untuk membuka tas, agar aku tidak dipermalukan di hadapan teman-temanku di kelas, yang mana mereka akan terus mencelaku di sekolah, sehingga kemungkinan hal tersebut menyebabkan aku tidak dapat lagi meneruskan pendidikanku karena rasa malu. Maka saya mohon maaf sekali kepada Anda semua atas perilaku saya yang tidak sopan..”

Saat itu juga semua yang hadir di ruangan tersebut tak kuasa menahan air mata, bahkan beberapa guru menangis sambil memeluk siswi tersebut.

Maka tirai pun ditutup karena ada kejadian yang menyedihkan tersebut, dan kita berharap untuk tidak menyaksikannya.

Karenanya wahai saudara dan saudariku, ini adalah satu dari tragedi yang kemungkinan ada di sekitar kita, baik itu di lingkungan dan desa kita sementara kita tidak mengetahuinya atau bahkan kita terkadang berpura-pura tidak mengenal mereka.

Wajib bagi seluruh sekolah dan pesantren untuk mendata kondisi ekonomi para santri-santrinya agar orang yang ingin membantu keluarga fakir miskin dapat mengenalinya dengan baik.

Kita memohon kepada Allah agar tidak menghinakan orang yang mulia dan memohon pada-Nya agar Dia selalu menjaga kaum Muslimin di setiap tempat.

Minggu, 21 September 2014

Peluru


PELURU

            Waktu itu siang hari di akhir bulan Maret dan Anya sedang duduk di dalam mobil sambil menghafal ayat-ayat Alkitab. Ia melakukan hal itu setiap minggu sementara adik laki-lakinya, Zeek, kursus piano. Giliran Anya untuk kursus akan tiba nanti, tetapi ia perlu mengulangi membaca ayat-ayat itu dengan keras untuk menghafalnya, dan itu paling baik dilakukan di dalam mobil. Anya adalah anggota tim Bible Quiz (Kuis Alkitab) di sekolahnya, dan itu berarti ia harus menguasai betul satu bagian Alkitab. Bukan masalah. Anya suka pertandingan itu!
            Guru music mereka tinggal di rumah bertingkat dua dan pianonya berada di lantai atas.Sebelum pelajaran dimulai, Zeek berkata kepada ibunya, “Aku ingin Kak Anya mendengarkan aku berlatih piano.” Sang ibu mengingatkan bahwa Anya perlu waktu untuk belajar , lagi pula kakaknya telah mendengarkannya berlatih piano sepanjang minggu, dan membuat ibunya terkejut ketika ia kembali bersama kakaknya.
            Kursus dimulai. Lima menit kemudian pelajaran itu mendadak terhenti oleh suara keras di luar rumah. Semua orang menyaksikan sebuah mobil model baru melesat dengan cepat. Pelajaran dimulai kembali setelah guru menenangkan mereka bahwa mungkin suara itu adalah letusan mesin mobil. Jemari Zeek baru saja akan menyentuh piano ketika suami gurunya bergegas masuk, “Tembakan senapan… ke dalam mobil… menghancurleburkan jenedela samping di tempat duduk depan!” Pelajaran pun terhenti. Mereka bergegas turun untuk memeriksa. Benar, sebuah peluru menancap tepat di sandaran kursi tempat kepala Anya bersandar lima menit yang lalu.
            Segera mereka semua menyadari apa yang terjadi. Allah telah memakai Zeek yang berusia tujuh tahun untuk menyelamatkan nyawa kakaknya. Momen itu sungguh mengharukan. Zeek telah bertindak meskipun hal itu tidak masuk akal baginya maupun orang lain, dan Anya telah menuruti permintaannya yang tidak logis.
            Kedua penembak misterius itu mengemudikan mobil mereka melintasi jalan-jalan di Salem, Oregon, dan dengan serampangan  menembaki kotak surat, mobil dan rumah-rumah. Mereka akhirnya ditangkap dan ditahan dengan nilai jaminan satu juta dollar. Dalam sidang mereka, pengadilan wilayah mengundang Anya dan Zeek untuk menceritakan kisah mereka. Kedua penembak itu akhirnya dipenjarakan selama lima tahun, setelah mendengar kisah mengenai bagaimana Allah melindungi seorang anak berumur tujuh tahun dan kakak perempuannya.


Doris Sanford
Dari Buku Mengejar Pelangi
(kompilator Alice Gray)

Penerbit : Gloria Graffa

Anugerah yang Menakjubkan


Peran utama itu seharusnya diberikan kepadaku. Semua temanku sependapat denganku. Setidaknya, peran itu tak seharusnya diberikan kepada Helen, murid baru yang aneh itu. Ia jarang berbicara, dan selalu memandang ke bawah seolah hidup ini teramat berat. Kami tak pernah menanyakannya, karena mungkin ia tidak suka memberi penjelasan. Hidupnya tidak mungkin menderita, karena ia mengenakan baju-baju yang sangat bagus. Belum pernah ia memakai pakaian yang sama lebih dari dua kali selama dua bulan belajar di sekolah kami.
            Namun yang paling menjengkelkan adalah saat ia muncul pada tes awal pemilihan peran dan menyanyikan lagu untuk peran yang kumainkan. Semua siswa tahu bahwa peran utama itu adalah untukku, karena aku terlibat dalam semua kegiatan music di sekolah dan tahun ini kami berada di tingkat akhir.
            Teman-teman sedang menungguku sehingga aku tidak sempat melihat audisi Helen. Kejutan itu terjadi dua hari kemudian saat kami bergegas memeriksa papan bulletin drama untuk pembagian peran di sekolah kami.
            Kami membolak-balik lembaran-lembaran di papan itu dengan cepat untuk mencari namaku. Ketika kami menemukannya, tangisku langsung meledak. Helen terpilih sebagai pemeran utama! Aku terpilih menjadi ibu Helen dan pemeran pengganti. Pemeran pengganti? Tak seorang pun dapat memercayainya.
            Saat-saat latihan terasa sangat lama. Tampaknya Helen tidak menyadari bahwa kami berusaha keras tidak memedulikannya.
            Kuakui Helen memiliki suara yang indah. Bagaimana pun ia tampak berbeda di panggung. Tidak begitu ceria, tapi sangat tenang dan teguh.
            Pada malam pembukaan kami merasa gugup. Semua siswa sibuk berjalan ke sana ke mari di belakang panggung dan menunggu tirai terangkat , kecuali Helen. Ia tampak tenggelam dalam dunianya sendiri yang tenang.
            Pertunjukan itu sukses. Pengaturan waktu kami sangat sempurna, suara kami mengalun dan berpadu dengan manis. Helen dan aku keluar masuk panggung, menjalin cerita di antara kami. Aku berperan sebagai ibu sakit yang berdoa untuk putrinya yang suka melawan, sedangkan Helen berperan sebagai anak perempuan yang saat ibunya meninggal menyadari ada sesuatu yang lebih berarti dalam hidup ini selain kehidupan itu sendiri.
            Akhirnya kami sampai pada adegan terakhir yang dramatis. Aku terbaring di kamar tidur yang gelap. Tempat tidur di panggung yang menyangga tubuhku terasa tidak nyaman, membuatku sulit untuk tenang. Aku merasa tidak sabar, dan ingin agar Helen cepat-cepat menyelesaikan pertunjukan ini.
            Helen disorot dengan lampu sampai ke belakang panggung, putri yang berduka itu mulai memahami makna sesungguhnya dari himme yang dinyanyikannya saat ibunya meninggal.
            “Sangat besar anugerahMu…” Suara Helen menggema, mengungkapkan kepedihan atas kematian ibunya dan pengharapan akan janji-janji Tuhan.
            “… memberi aku selamat…” Sesuatu yang nyata mulai terjadi pada diriku sementara Helen menyanyi. Ketidaksabaranku tiba-tiba lenyap.
            “…dulu aku sesat, kini ditemukan…” Hatiku sangat tersentuh sehingga ingin menangis.
            “…buta dicelikkan.” Rohku mulai berbalik di dalam diriku dan aku berpaling kepada Allah. Pada saat itulah, aku menyadari kasih dan kerinduanNya kepada diriku.
            Suara Helen berkumandang seiring doa pada nada terakhir Tirai ditutup.
            Benar-benar hening. Sama sekali tak terdengar suara. Helen berdiri di belakang tirai yang tertutup dengan kepada tertunduk, dan diam-diam menangis.
            Terdengar tepuk tangan dan sorak-sorai yang bergemuruh. Dan tatkala tirai terangkat, Helen melihat penonton berdiri sambil bertepuk tangan.
            Kami semua membungkuk untuk memberi penghormatan. Aku memeluk Helen dengan hati yang tulus. Hatiku telah terbuka terhadap Kasih yang Agung.
            Pertunjukkan usai. Kostum digantung, make-up dibersihkan, lampu dipadamkan. Para pemain meninggalkan panggung dalam kelompok-kelompok seperti biasanya, saling memberi selamat.  Semua pemain kecuali Helen. Semua pemain kecuali aku.
            “Helen, nyanyianmu terasa amat nyata bagiku.” Aku ragu-ragu, perasaanku begitu terharu. “Nyanyianmu membuatku merasa sangat dekat dengan Tuhan.” Helen menahan napas. Tatapannya bertemu dengan mataku.
            “Itu yang dikatakan Ibu kepadaku pada malam ketika ia meninggal.” Air mata menetes di pipinya. Hatiku sangat tersentuh. “Ibu merasa sangat kesakitan. Lagu ‘Sangat Besar AnugerahMu’ selalu membuat hatinya terhibur. Ibu mengatakan aku harus selau ingat bahwa Tuhan telah menjanjikan apa yang baik untukku dan bahwa anugerahNya akan mengantarnya pulang.”
            Wajahnya tampak sangat bercahaya, kasih ibunya terpancar. “Sebelum Ibu meninggal ia berbisik, ‘Menyanyilah agar Ibu merasa dekat dengan Tuhan, Helen.’ Malam itu dan malam ini, aku menyanyi untuk Ibu.”

Cynthia Hamond
Dari Buku Mengejar Pelangi
(kompilator Alice Gray)

Penerbit : Gloria Graffa

Sabtu, 20 September 2014

Orang Suci dari Auschwitz


Orang Suci dari Auschwitz

            Dari antara semua kenangan yang menyeramkan tentang Auschwitz ada satu kenangan yang indah; yaitu kenangan Gajowniczek mengenai Maximilian Kolbe.
            Pada bulan Februari 1941, Kolbe dipenjarakan di Auschwitz. Kolbe adalah seorang pastor Fransiskan. Di tengah kekejaman dalam kamp pembantaian itu ia tetap mempertahankan kelemahlembutan Kristus. Ia membagi-bagikan makanannya. Ia menyerahkan tempat tidurnya kepada narapidana lain. Ia berdoa bagi orang-orang yang menangkapnya. Kita dapat menyebutnya “Orang Suci dari Auschwitz.”
            Pada bulan Juli tahun yang sama seorang narapidana lolos dari penjara. Di Auschwitz terdapat kebiasaan untuk membunuh sepuluh narapidana apabila satu narapidana melarikan diri. Semua narapidana dikumpulkan  di halaman, dan komandan memilih secara acak sepuluh narapidana dari barisan. Para korban segera akan dimasukkan ke dalam sebuah sel, tidak diberi makan dan minum sampai mereka mati.
            Komandan mulai menyeleksi. Satu per satu narapidana melangkah maju untuk memenuhi panggilan yang menyeramkan itu. Nama kesepuluh yang dipanggilnya adalah Gajowniczek.
            Ketika para perwira memeriksa nomor-nomor orang terhukum itu, seorang dari mereka menangis,”Oh, istri dan anak-anakku,”katanya di antara isak tangisnya.
            Para perwira itu berpaling ketika mereka mendengar suara gerakan di antara narapidana. Penjaga menyiapkan senapan mereka. Anjing pelacak tampak tegang, menunggu komando untuk menyerang. Seorang narapidana meninggalkan barisan dan melangkah maju.
            Narapidana itu Kolbe. Tidak tampak ketakutan di wajahnya. Tidak tampak keraguan dalam langkahnya. Penjaga berteriak dan menyuruhnya berhenti atau ia akan ditembak. “Saya ingin berbicara dengan komandan,” katanya dengan tenang. Entah mengapa petugas tidak memukul dan membunuhnya. Kolber berhenti beberapa langkah dari komandan, melepas topinya dan memandang perwira Jerman itu tepat di matanya.
            “Tuan komandan, saya ingin mengajukan sebuah permohonan.” Sungguh mengherankan, tak seorang pun menembaknya.
            “Saya ingin mati untuk menggantikan narapidana ini.” Ia menunjuk pada Gajowniczek yang sedang menangis terisak-isak. Permintaan yang berani itu diucapkannya tanpa rasa gugup sedikitpun.
            “Saya tidak mempunyai istri dan anak-anak. Selain itu, saya sudah tua dan tidak berguna. Keadaan orang itu masih lebih baik dari keadaan saya.” Kolbe tahu mentalitas Nazi.
            “Siapa kau?” tanya perwira itu.
            “Seorang pastor Katolik.”
            Barisan narapidana itu tercengang. Sang komandan diam seribu bahasa, tidak seperti biasanya. Tak lama kemudian, ia berkata dengan suara nyaring,”Permohonan dikabulkan.”
            Para narapidana tidak pernah diberi kesempatan berbicara. Gajowniczek mengatakan,”Saya hanya dapat berterima kasih kepadanya lewat pandangan mata saya. Saya merasa sangat tercengang dan hampir-hampir tidak dapat memercayai apa yang sedang terjadi. Betapa dalam makna peristiwa itu. Saya, orang yang terhukum, akan tetap hidup sedangkan orang lain dengan sukarela menyerahkan nyawanya untuk saya – orang yang tidak dikenalnya. Apakah ini mimpi?”
            Orang Suci dari Auschwitz itu hidup lebih lama dari Sembilan narapidana lainnya. Sesungguhnya ia tidak mati karena kehausan atau kelaparan. Ia mati setelah racun disuntikkan ke dalam pembuluh darahnya. Hari itu tanggal 14 Agustus 1941.
            Gajowniczek lolos dari pembantaian. Ia kembali ke kampong halamannya. Namun setiap tahun ia kembali ke Auschwitz. Setiap tanggal 14 Agustus ia kembali ke sana untuk mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah mati menggantikannya.
            Di halaman belakang rumahnya terdapat sebuah tanda peringatan yang diukur dengan tangannya sendiri, sebagai  penghargaan terhadap Maximilian Kolbe – orang yang mati baginya agar ia tetap hidup.

Patricia Treece
Dari Buku Mengejar Pelangi
(kompilator Alice Gray)
Penerbit : Gloria Graffa


Minggu, 13 Oktober 2013

Orang Baik Hati

Jeannie Lancaster, Chicken Soup for the Soul. Bangit dari Masa Sulit.

Sudahkah kau menerima kebaikan? Teruskanlah kebaikan itu! Menghapus air mata satu demi satu orang, sampai kebaikan itu muncul di surga—Teruskanlah kebaikan itu! Henry Burton.

Orangtuaku bercerai pada tahun 1963, saat aku berusia sebelas tahun. Setahun kemudian, ayahku tidak lagi memberikan duungan financial apa pun bagiku maupun ketiga kakak perempuanku. Ibuku sendirian, bekerja untuk menghidupi dirinya dan keluarganya yang semuanya perempuan, dengan satu anak yang mengalami keterlambatan perkembangan yang parah.
                Masa-masa itu jelas sangat menantang. Aku masih ingat telepon-telepon ancaman dari penagih utang, suara tangis ibuku pada larut malam, dan malam-malam ketika pancake tepung dan air merupakan makan malam kami yang sedikit. Tetapi, satu kenangan yang muncul dengan kuat, lebih dari yang lain, adalah momen ketika aku belajar makna berbagi dan mengasihi.
                Untuk menafkahi keluarga kami, ibuku bekerja pada siang hari di sebuah kantor surat kabar setempat. Sebagai tambahan, beberapa malam dalam seminggu dia menjual baju-baju perempuan di pesta-pesta pribadi.
                Saat menyetir pulang pada suatu malam, dia berhenti di lampu merah. Lelah seusai kerja membuatnya tidak melihat mobil yang mengebut di belakangnya. Si pengemudi tidak memperhatikan lampu merah. Mobil itu menabrak bagian belakang mobil ibuku dengan kecepatan 96 kilometer per jam.
                Barangkali, kelelahan yang telah menyelamatkan nyawa ibuku malam itu. Tubuhnya, letih dan lemas, terlempar dari kursi si pengemudi ke bagian belakang mobil. Mobilnya sendiri hancur menjadi serpihan besi di sekitarnya.
                Ajaib, ibuku selamat hanya dengan memar dan benjol. Baju-baju yang hendak dijual telah bertindak sebagai pengaman. Tetapi, mobilnya tidak selamat, sementara pengemudi mobil yang menabrak adalah pria muda yang tidak memiliki asuransi. Aku ingat ekspresi putus asa di wajah ibuku, khawatir bagaimana mungkin dia bisa mengumpulkan uang untuk membeli mobil baru.
                Keesokan harinya, aku melihat tetangga kami, keluarga Clayton, berjalan menuruni bukit dari rumah mereka. Mereka memberikan amplop kepaa ibuku berisi 500 dolar. Aku masih ingat ibuku yang tangguh dengan harga diri tinggi, menolak pemberian itu, berkata dia tidak bisa menerima uang mereka. Tidak mungkin ibuku bisa membayar kembali uang tersebut.
                Mr. Clayton tersenyum mendengar protes-protesnya, lalu memberikan pernyataan yang berkesan. “Jangan khawatir soal membayar kembali. Kelak, jika situasi membaik, tolonglah orang lain yang sedang membutuhkan. Itu saja imbalan yang dibutuhkan.”
                Ibuku mengingat-ingat pesan ini. Setahun kemudian dia pulang dari perjalanan panjang dengan bus ke kota tetangga, tempatnya menjual iklan untuk penerbit setempat. Saat berjalan masuk, dia melihat seorang perempuan muda memeluk bayinya yang menangis. Mereka duduk meringkuk di lantai. Ibuku menggiring mereka ke dapur kami dan langsung memasak hidangan sederhana untuk makan malam sang tamu.
                Dengan berjalannya malam, kisah si perempuan muda pun mengalir. Dia melarikan diri dari suami yang suka menyiksa sambil membawa bayi mereka serta sedikit barang. Uangnya hanya cukup untuk pergi sejauh kota kami. Saat bertemu dengan mereka di bus, ibuku tahu apa yang harus dilakukan.
                Ibuku menyiapkan sofat kami sebagai tempat tidurnya. Setelah itu, aku melihat ibuku membuka dompetnya dan memberikan perjalanan ke kota berikutnya dengan bus. AKu tahu hanya itulah uang ibuku. Tetapi, aku melihat tekad dan kebahagiaan di wajahnya saat memberikan uang itu. Aku mendengarkan saat si ibu muda menelpon orangtuanya sambil menangis, mengabarkan bahwa dia akan pulang.
                Selama bertahun-tahun, keluarga kami terus berada dalam kondisi sulit. Namun, lagi dan lagi, aku melihat ibuku menolong orang lain, bagaimanapun caranya, apakah itu dengan uang, waktu, akupun bentuk bantuan lainnya.
                Beberapa decade telah berlaku sejak tetangga kami datang menuruni bukit membawa hadiah. AKu mencoba mengikuti contoh mereka dan ibuku, menolong kecil-kecilan di sana-sini. Aku berharap kelak anak-anakku akan melihat pelajaran yang kupetik bertahun-tahun lalu dari tetangga kami yang baik hati, dan dari ibuku. Kuharap, mereka akan melihat bahwa, di tengah situasi sulit, kebaikan dan kemurahan hati akan membuat perbedaan besar.


Harapan

Kay Day, Chicken Soup for the Soul. Bangit dari Masa Sulit.

Ingat, kita semua akan tersandung. Itulah mengapa lebih baik berjalan sambil bergandengan tangan. (Emily Kimbrough)

Aroma rumput yang baru dipangkas menggelitik hidungku saat aku menatap suamiku berjalan ke arahku. Dia menggenggam sepucuk surat. Kematikan alat pemotong itu.
“Mereka mengirimkan orang ke sini untuk mengambil barang-barang ktia,” katanya.
“Siapa? Barang-barang apa?”
“Gara-gara pajak, mereka pikir kita berutang, dan sekarang menaruh hak gadai atas aset-aset kita.”
“Aset apa?” tanyaku. “Apa yang bisa mereka ambil, yang layak untuk menempuh perjalanan ke sini?”
Kuambil surat itu dan kulihat sekilas segel resmi Negara. Perjuangan panjang untuk membebaskan diri kami sepertinya sia-sia. Sistem yang kurang sempurna membuat Negara, yang belum lama kami tinggali, mencoba menagih pajak yang telah kami bayarkan.
Apel-apel merah muda bermekaran di sekitar kami – pertanda keceriaan yang kontras dengan momen tersebut. Kami seharusnya bahagia; status paiit yang kami ajukan tujuh tahun yang lalu akhirnya diangkat dari laporan kredit kami. Tetapi, kami malah tercebur di dalam ceruk utang tanpa pilihan lain, selain sekali lagi mengajukan pailit. Kami begitu ingin menghindari hal tersebut. Jadi, surat ini layaknya sekop yang berderak di atas tanah. Kami sedang dikubur hidup-hidup.
Bunyi dering telepon terdengar dari seberang halaman Aku tak memedulikannya. Paling-paling, hanya aku dan kreditur yang sudah hafal isi pembicaraan mereka. Ancaman tuntutan hokum. Ancaman pemotongan Aku tidak punya energy untuk menghadapi mereka.
“Aku akan pergi sebentar,” kata suamiku dan dia berlalu, pintu pagar menutup keras di belakangnya. Pandanganku terselubung air mata. Tekanan hidup mempengaruhi pernikahan kami, anak-anak – segalanya.
Stres itu tak tertahankan. Tetapi, beban yang lebih berat datang dari rasa malu dan penyesalan yang kami rasakan karena, sekali lagi, kami berada dalam situasi ini. Kami telah membuat keputusan-keputusan kredit yang buruk meskipun telah bertekad untuk menghindarinya. Kami tidak ingin melalaikan tanggung jawab, namun sepertinya tidak ada jalan lain.
Beberapa hari kemudian, di tengah-tengah studi Alkitab, aku meminta para ibu berdoa untuk kami. Aku ingin Tuhan menjawab kebutuhan kami dan memberikan kebijaksanaan untuk mengatasi keadaan ini.
Setelahnya, dua teman baik mendatangiku. Masing-masing menyelipkan secarik kertas ke dalam tanganku. Aku ingin melihat, tetapi mereka melarangku.
“Bawalah pulang. Kami ingin membantu.”
“Oh, aku tidak bisa,” kataku. Aku malu sampai berada di titik aku memerlukan uang dari orang lain. Namun, aku hanya perlu sekali memandang ke arah teman-temanku untuk mengetahui bahwa aku memang tidak punya pilihan lain. Kupeluk mereka dan kudoakan karunia bagi mereka.
Di mobil, kubuka kedua lembar cek tersebut. Kedua perempuan itu sudah tua. Satu orang menghabiskan hari-harinya merawat suaminya yang mengalami kelumpuhan quadriplegic, sementara yang satu hidup dari uang pensiun perusahaan telepon. Apa yang mereka berikan jauh melebihi kemampuan mereka. Aku menangis sepanjang perjalanan pulang.
Suamiku sedang duduk bersama setumpuk tagihan di hadapannya ketika aku tiba.
“Lihat,” kataku sambil menyodorkan cek-cek itu. Suamiku mengambil keduanya sembari menatap wajahku.
Dia melihat nilainya kemudian terkesiap. “Mengapa mereka melakukan ini?”
Kupikir, harga dirinya pastilah terluka, sama seperti harga diriku.
“Aku hanya meminta mereka berdoa untuk kita, dan mereka memberikan ini.”
Dia menatap kertas-kertas itu untuk beberapa saat. “Uang ini akan bisa untuk membayar tagihan listrik. Sekarang, mereka tidak bisa memotong listrik kita.”
Aku menarik napas dan membisikkan doa terima kasih. Teman-temanku telah memberikan sesuatu yang lebih berharga ketimbang uang; mereka memberikan harapan.
Dengan bantuan Tuhan , kami mampu memanjat keluar dari keterpurukan, dan kami lebih kuat dalam menempuh perjalanan selanjutnya. Harapan dari dua teman pemurahlah yang telah memberikan kami kekuatan untuk mengangkat kepala dan memulai perjalanan.