Yesus Gembala yang Baik.

Tampilkan postingan dengan label Agape. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agape. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 April 2009

Anak Yang Hilang


Seorang pemuda akan diwisuda. Sebentar lagi dia akan menjadi seorang sarjana sebagai ganjaran dari jerih payahnya selama beberapa tahun mengenyam bangku pendidikan. Beberapa bulan yang lalu dia melewati sebuah showroom, dan saat itu dia jatuh cinta kepada sebuah mobil sport. Selama beberapa bulan dia selalu membayangkan, nanti pada saat wisuda ayahnya pasti akan menghadiahkan mobil itu untuknya. Karena dia adalah anak semata wayang dan ayahnya sangat sayang padanya, dia sangat yakin akan mendapatkan mobil itu. Dia pun berangan-angan mengendarai mobil itu dan bersenang-senang dengan teman-temannya. Bahkan, semua mimpinya itu dia ceritakan ke teman-temannya.
Saat wisuda pun tiba. Siang itu, setelah wisuda, dia melangkah pasti ke arah ayahnya. Sang ayah tersenyum, dan dengan berlinang air mata karena terharu dia mengungkapkan betapa dia membanggakan anaknya, dan betapa dia mencintai anaknya itu. Lalu, dia pun mengeluarkan sebuah bingkisan.... , namun bukan sebuah kunci! Dengan hati yang hancur sang anak menerima bingkisan itu. Dengan sangat kecewa dia membuka kado itu. Dalam bungkusan rapi kertas kado itu ia menemukan sebuah Alkitab yang bersampulkan kulit asli, di kulit itu terukir indah namanya dengan tinta mas.
Pemuda itu menjadi sangat marah. Dengan suara yang meninggi dia berteriak, ”Yaahh... Ayah memang sangat mencintai saya, dengan semua uang ayah, ayah belikan Alkitab ini untukku?” Lalu ia membanting Alkitab itu dan lari meninggalkan ayahnya.
Ayahnya tidak bisa berkata apa-apa. Hatinya hancur. Dia berdiri mematung disaksikan beribu pasang mata yang hadir di acara wisuda itu.
Tahun demi tahun berganti. Sang anak telah menjadi seorang yang sukses. Dengan modal otaknya yang cemerlang dia berhasil menjadi seorang kaya dan terpandang. Dia mempunyai rumah yang besar dan mewah, dengan seorang istri yang cantik dan anak-anak yang cerdas.
Sementara itu, ayahnya semakin tua dan tinggal sendiri. Sejak hari wisuda itu, anaknya pergi meninggalkan dia dan tak pernah menghubungi dia. Dia berharap suatu saat dapat bertemu anaknya itu, hanya untuk meyakinkan dia betapa ia sangat mengasihi anaknya. Sang anak pun kadang rindu dan ingin bertemu dengan sang ayah, tapi mengingat apa yang terjadi pada hari wisudanya, dia menjadi sakit hati. Dia masih menyimpan dendam.
Sampai suatu hari datang sebuah telegram dari kantor kejaksaan yang memberitakan bahwa ayahnya telah meninggal. Sebelum meninggal, dia mewariskan semua hartanya kepada anak satu-satunya. Sang anak disuruh menghadap Jaksa Wilayah dan bersama-sama ke rumah ayahnya untuk mengurus semua harta peninggalannya.
Saat melangkah masuk ke rumah itu, mendadak hatinya menjadi sangat sedih, mengingat semua kenangan semasa dia tinggal di situ. Dia merasa sangat menyesal telah bersikap buruk terhadap ayahnya.
Dengan bayangan-bayangan masa lalu yang menari-nari di matanya, dia menelusuri semua barang di rumah itu. Ketika dia membuka brankas ayahnya, dia menemukan Alkitab itu, masih terbungkus dengan kertas yang sama beberapa puluh tahun yang lalu. Dengan airmata berlinang, dia lalu memungut Alkitab itu dan mulai membuka halamannya.
Di halaman pertama Alkitab itu, dia membaca tulisan tangan ayahnya, ”Dan kamu yang jahat tahu memberikan yang baik kepada anakmu, apalagi Bapamu yang di surga akan memberikan apa yang kamu minta kepadaNya?” Selesai dia membaca tulisan itu, sesuatu jatuh dari bagian belakang Alkitab itu. Dia memungutnya, ternyata... sebuah kunci mobil! Di gantungan kunci mobil itu tercetak nama dealer, sama dengan dealer mobil sport yang dulu dia idamkan! Dia membuka halaman terakhir Alkitab itu, dan menemukan di situ terselip STNK dan surat-surat lainnya, namanya tercetak di situ. Dan sebuah kuitansi pembelian mobil, tanggalnya tepat sehari sebelum hari wisuda itu.
Dia berlari menuju garasi, dan di sana dia menemukan sebuah mobil yang berlapiskan debu selama bertahun-tahun, meskipun mobil itu sudah sangat kotor karena tidak disentuh bertahun-tahun, dia masih mengenal jelas mobil itu, mobil sport yang dia dambakan bertahun-tahun lalu. Dengan buru-buru dia menghapus debu pada jendela mobil dan melongok ke dalam bagian dalam mobil itu masih baru, plastik membungkus jok mobil dan setirnya, di atas dashboardnya ada sebuah foto, foto ayahnya, sedang tersenyum bangga.
Mendadak dia menjadi lemas, lalu terduduk di samping mobil itu, air matanya tidak terhentikan, mengalir terus mengiringi rasa menyesalnya.
Inilah kekuatan cinta sang Ayah. Meski secara manusia menyakitkan memiliki anak ”durhaka”, namun sang Ayah tetap mencinta si anak. Cinta yang tidak bersyarat inilah yang dibutuhkan anak-anak. Cinta tak bersyarat tangguh dan kuat, tak lekang oleh waktu. Suatu saat cinta itu berbuah, si anak kembali menyesal dan bertobat. Cinta mengatasi pemberontakan. Cinta mengatasi pengkhianatan.

Dipungut OPH dari buku
Mencinta Hingga Terluka
Roswitha Ndraha & Julianto Simanjuntak

Kekuatan Cinta


Ada seorang Ibu yang dikhianati pasangannya. Suaminya, seorang pengusaha besar akirnya menikah dengan sekretarisnya. Cinta pengusaha itu kepada istrinya yang sah itu luntur lewat waktu karena tak tahan godaan sekretarisnya. Istrinya sangat kecewa, demikian juga ketiga anaknya yang masih kecil-kecil. Sang pengusaha ini pun meninggalkan istri pertama dan tinggal bersama istri kedua.
Waktu berjalan, istri kedua ini ternyata menikah hanya untuk menguras harta si pengusaha. Sampai beberapa tahun, seluruh kekayaan sudah berbalik nama. Konflik si pengusaha dengan istri kedua makin keras. Pertengkaran demi pertengkaran, rasa bersalah karena mengingat istri pertama dan ketiga anaknya, membuat pertahanannya jebol. Dia sakit keras dan masuk rumah sakit. Namun, istri kedua tidak mau lagi mengurus suaminya. Pertengkaran dan konflik mereka juga menimbulkan kebencian dalam hatinya. Setelah beberapa bulan dirawat, si pengusaha ini tak cukup punya uang untuk keluar dari rumah sakit yang terbilang mahal. Mantan sekretaris yang menjadi istri keduanya tidak mau menolong.
Saat seperti itulah dia ingat kembali pada istri pertamanya. Dia mencoba menelepon. Istrinya mengangkat telepon tapi sebentar kemudian ia menutup telepon setelah tahu itu dari mantan suaminya. Si suami menelepon lagi, dan mengemis pada istrinya untuk menerima telepon. ”Aku sakit... aku tidak bisa keluar dari rumah sakit karena tidak punya uang.” ”Ke mana uangmu yang banyak itu?” tanya istrinya keheranan.
”Semua dikuras oleh istriku sekarang. Dia benar-benar jahat, serigala berbulu domba. Tolonglah aku, Ma. Tolonglah. Aku menyesal,maafkan aku telah melukaimu dan mengkhianatimu.” Mantan istri dengan sedikit kesal bercampur kasihan berkata, ”Nanti aku pikirkan dulu dan bicarakan dengan anak-anak. Mereka cukup besar untuk saya mintai pendapat.”
Si Ibu lalu memberitahukan percakapan itu kepada ketiga anaknya. Semua anak langsung berpendapat, ”Mama jangan peduli pada Ayah yang tak beranggung jawab itu. Biar dia rasa, Ma. Kita juga semua susah karena ulah dia. Sekarang lagi susah, dia menelepon. Kami tidak setuju mama ke rumah sakit.” Mereka kompak sekali.
Tapi si Ibu dengan air mata berlinang bicara dengan hati-hati kepada anaknya,”Anak-anakku, kalian memang menderita karena perlakuan Ayah kalian. Tapi, ingat , mama lebih terluka. Kalau dengar hati mama, mama tidak akan pergi melihat papa kalian. Tapi mama ingat janji mama kepada Tuhan, bahwa Mama harus setia sampai kematian memisahkan kami. Nak, maafkan mama karena harus pergi melihat papa kalian.”
Si Ibu lalu pergi ke rumah sakit untuk menebus pengusaha yang pernah melukai dan mengkhianatinya.
Itulah kekuatan cinta. Dia tetap tangguh, tak peduli badai apa yang menimpa hidupnya. Cinta itu kuat.

Dipungut OPH dari buku
Mencinta Hingga Terluka
Roswitha Ndraha & Julianto Simanjuntak

Kisah Corrie Ten Boom


Corrie Ten Boom dan keluarganya mengalami kekejaman selama tahun-tahun terakhir perang dunia II. Ia dan keluarganya dikirim oleh Nazi ke kamp pembantaian di Ravensbruck, Jerman. Akhirnya, hanya Corrie yang selamat. Sesudah perang, ia menjadi penulis terkenal dan sering berbicara tentang kasih Allah. Namun, dalam hatinya, ia masih merasakan kepahitan terhadap Nazi atas apa yang sudah mereka perbuat terhadap dirinya dan keluarganya. Dua tahun sesuah perang, Corrie berbicara di Munich, Jerman, tentang topik pengampunan Allah. Sesudah kebaktian, ia melihat seorang pria yang ikut menyiksa dirinya bersama keluarganya berjalan ke arahnya. Beginilah kisahnya :
Pria yang sedang berjalan menghampirinya adalah seorang penjaga – salah seorang dari penjaga yang paling keji. Sekarang orang ini ada di hadapan Corrie dengan tangan terulur. Pria itu berkata, ”Pesan yang bagus, Ibu! Betapa senangnya mengatakan bahwa, seperti Anda katakan, semua dosa kita sudah dibuang ke dasar laut!” Dan saya, yang baru saja berbicara dengan fasih tentang pengampunan. Saya tak kuasa menerima salamnya. Saya hanya, meraba-raba buku saya, bukannya menyambut tangan yang terulur itu. Tentu saja orang ini tidak akan mengingat saya – bagaimana mungkin ia ingat seorang tahanan di antara ribuan wanita itu? Namun, saya ingat kepadanya dan cambuk kulit yang mengayun dari ikat pinggangnya. Darah saya serasa membeku.
”Anda menyebutkan Ravensbruck dalam ceramah Anda,” orang itu berkata. ”Saya dulu menjadi penjaga di sana.” Tidak, ia tidak ingat saya. ”Tapi, sejak saat itu,” ia melanjutkan,”saya menjadi orang Kristen. Saya tahu Allah sudah mengampuni saya untuk hal-hal keji yang saya lakukan di sana. Tetapi, saya ingin mendengar dari bibir Anda juga ibu,” sekali lagi tangan itu terulur ”maukah Anda mengampuni saya?”
Saya berdiri terdiam di sana, saya tidak sanggup mengampuni.Betsie saudaraku meninggal di tempat itu, dapatkah orang ini menghapus kepahitannya hanya dengan meminta maaf? Tidak lebih dari beberapa detik orang itu berdiri di sana dengan tangan terulur, tetapi bagi saya rasanya berjam-jam sementara saya bergumul dengan perkara paling sulit yang harus saya lakukan.
Karena saya harus melakukannya, saya tahu itu. Pesan bahwa Allah mengampuni didahului dengan kondisi : bahwa kita harus mengampuni mereka yang sudah menyakiti kita. ”Jika engkau tidak mengampuni kesalahan yang lain,” Yesus berkata,”maka Bapamu yang di surga tidak akan mengamuni dosamu juga.”
Saya tahu itu bukan hanya sebagai perintah Allah, tetapi juga sebagai pengalaman sehari-hari. sesederhana itukah? Dan saya masih berdiri di sana dengan hati yang membeku. Namun, pengampunan bukanlah emosi, saya juga tahu itu. Pengampunan adalah tindakan dari kehendak, dan kehendak dapat berfungsi lepas dari suhu hati saat itu. ”Yesus, tolong saya!” Saya berdoa dalam hati. ”Saya dapat mengangkat tangan saya. Saya dapat berbuat sejauh itu. Engkaulah yang memberikan perasaan itu.”
Dengan kaku dan seperti mesin, saya pun mengulurkan tangan untuk menyambut tangan yang terulur itu. Ketika saya melakukannya, terjadi suatu peristiwa yang luar biasa. Ada aliran yang timbul dimulai dari bahu saya, merambat turun ke lengan saya. Lalu menyebar ke tangan kami yang saling menggenggam. Kemudian, kehangatan yang menyembuhkan ini tampak membanjiri seluruh diri saya sehingga mata saya banjir air mata. ”Saya mengampunimu, Saudara,” saya berseru,”dengan segenap hati saya.”
Untuk waktu yang lama kami saling menggenggam tangan satu sama lain, mantan penjaga dan mantan tahanan. say tidak pernah mengetahui kasih Allah begitu kuat, seperti yang saya saya rasakan saat itu. Namun, meskipun begitu , saya sadar itu bukan kasih saya. Saya sudah berusaha dan tidak mempunyai kekuatan untuk itu. Itu adalah kuasa Roh Kudus seperti tercatat dalam Roma 5:5 ”...karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.”

Memaafkan selalu memberi orang kesempatan kedua. Mengampuni adalah jalan terbaik orang dapat melihat cinta kasih Kristus dalam diri kita yang sesungguhnya. Mengampuni adalah sisi mutiara kasih Kristus yang paling tampak sinarnya bagi kita yang melihatnya.

Dipungut OPH dari buku
Mencinta Hingga Terluka
Roswitha Ndraha & Julianto Simanjuntak

Terluka itu Indah


Suatu hari saya nyaris frustasi karena anak bungsu kami yang waktu itu sudah lebih dari lima tahun usianya, belum juga bisa naik sepeda. Hampir tiap hari saya menuntun sepedanya ke lapangan rumput di depan rumah.
”Naik, ya. Papa pegang di belakang. Kamu tidak akan jatuh. Papa juga,” kata saya. Selama beberapa hari dia taat. Saya memegang bagian belakang sepedanya sambil berlari-lari kecil, sementara dia belajar mengayuh. Mula-mula agak kaku, lama-lama terbiasa. Saya tetap memegang sepedanya. Tetapi, dia langsung berhenti dan turun kalau merasa ada tanda-tanda saya mau melepaskan pegangan saya. ”Jangan dilepasin, Pa,”pintanya sambil melihat ke belakang. Saya mengangguk, maka ia belajar lagi.
Lama-lama saya berpikir, sudah saatnya melepas Moze. Dia tampaknya mau bermain saja, sementara saya terengah-engah di belakang. Tetapi sejak dia tahu saya mencoba melepaskan pegangan saya, Moze sama sekali tidak mau main sepeda lagi. Saya hampir putus asa. Bagaimana caranya agar Moze mau berlatih naik sepeda?
Saya dapat ide. Bebeapa hari setelah itu saya mengajaknya ke lapangan lagi. Kami duduk-duduk di pinggir lapangan, dekat sepeda. Moze masih tidak mau mencoba naik. ”Nanti aku jatuh, luka berdarah,”kilahnya. Tiba-tiba saya memandang lutut saya. ”Lihat lutut Papa,” kata saya kepadanya. Dengan antusias anak saya memperhatikannya. ”Wah, ini bekas luka ya, Pa? Kapan Papa luka?” tanyanya. Saya pun bercerita. ”Waktu Papa seumur kamu, papa juga belajar naik sepeda. Tetapi, suatu kali waktu sedang belajar, Papa jatuh. Lutut Papa luka.”
”Banyak darahnya, Pa? Sakit?” ”Lumayanlah. Sakit juga. Papa meringis-ringis. Tapi, Papa tidak berhenti belajar. Setelah lukanya diobati, Papa kembali belajar. Akhirnya Papa bisa naik sepeda. Papa senang sekali bersepeda bersama teman-teman Papa.” ”O....”kata Moze sambil mengelus-elus bekas luka saya. ”Papa juga pernah luka, ya. Papa pernah kesakitan....”
Tiba-tiba anak saya naik ke atas sepedanya. ”Pegangin sebentar ya, Pa. Nanti kalau sudah sampai di tengah coba Papa lepaskan. Aku juga mau belajar. Jatuh ngak apa-apa, ya Pa.” Sejak saat itu, Moze bisa naik sepeda. Hari itu saya menjadi sadar bahwa ternyata luka saya waktu naik sepeda dulu sangat berguna bagi Moze sekarang. Bekas luka saya telah memberikan kepada anak saya keberanian untuk terluka. Dari pengalaman ini kami belajar satu kebenaran, kami belajar bahwa luka hidup kita, (karena dihina, dikhianati, dilecehkan, dan lain-lain) tak pernah sia-sia. Luka hati itu kelak berguna dan memberi keberanian terluka pada sesama kita.

Dipungut OPH dari buku
Mencinta Hingga Terluka
Roswitha Ndraha & Julianto Simanjuntak

Mencinta Hingga Terluka


Suatu hari, Bunda Teresa berekeliling dari gang ke gang di kampung-kampung Calcutta. ”Bunda Teresa!” teriak seorang pengemis sambil menggelesot mendekati Bunda Teresa. ”Ini untukmu. Aku ingin memberikannya padamu,” kata pengemis itu sambil memberikan semangkuk uang receh rupee hasil jerih payahnya mengemis hari itu. Mother Teresa menolak halus dan berkata,”Mengapa, Bu? Bukankah ini untuk makan Ibu hari ini? Tidak usah, Bu.” Pengemis itu memandang Bunda Teresa dengan mata berkaca-kaca. Dia memang belum makan dari pagi. Teresa memperhatikan baju yang lusuh dan kulit berbalut tulang yang berlutut di depannya. Bunda Teresa mendekat. ”Tapi, Bunda,” bujuk pengemis itu, ”ada yang jauh lebih menderita daripada aku. Terimalah, Bunda. Berikan uang itu kepadanya,” kata si Pengemis itu penuh harap.
Bunda Teresa tidak berani menolak. ”Baik, baik aku terima. Terima kasih,” ucap Bunda Teresa, menepuk haru bahu pengemis itu, tanda menghargai jerih payahnya. Mother Teresa mendapat sebuah pesan dari hadiah sang pengemis itu. Pengemis itu rela dan tulus memberikan hartanya dengan segala cinta demi membahagiakan orang lain, sedangkan dirinya sendiri butuh pertolongan.Inilah yang disebut dengan ”mencinta hingga terluka”. Pengemis itu tidak mengindahkan keringat, keletihan dan luka goresan di jalanan berdebu dan panas, yang dialaminya hari itu. Ia memberi dengan cintanya.
Mencinta hingga terluka adalah sebuah cinta yang membuat sejarah. Cinta yang berkorban yang akan terus dikenang oleh yang menerimanya. Cinta yang akan diwariskan dari satu generasi ke generasi. Sebuah cinta kasih Mother Teresa kepada orang-orang yang ia layani. Juga kisah pengorbanan Maria (Injil Matius). Tentang dia, Yesus berkata, ”Sesungguhnya di mana saja Injil ini diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia.” Cinta yang diberikan kepada orang yang tepat, pada waktu yang tepat, dan motivasi yang benar, sungguh menyenangkan hati Tuhan dan setiap orang yang menerimanya.

Dipungut OPH dari buku
Mencinta Hingga Terluka
Roswitha Ndraha & Julianto Simanjuntak

Jumat, 10 April 2009

PENGEMUDI BARU - Charles R. Swindoll


Rintangan dalam Pekerjaan

Aaron seorang pemuda Kristen. Suatu kali ia berdoa memohon kepada Allah agar diberi pekerjaan dalam bentuk dilibatkan dalam tugas penginjilan. Setelah menunggu berminggu-minggu akhirnya ia pun mengalihkan upayanya untuk mencari pekerjaan di iklan lowongan kerja. Karena memerlukan uang untuk membayar uang kuliahnya, ia pun akhirnya terpaksa menerima pekerjaan sebagai supir bus di daerah Chicago Selatan yang terkenal sebagai daerah yang berbahaya. Sebentar saja ia harus menerima kenyataan betapa berbahayanya tugas yang diembannya. Sekelompok pemuda brandal anggota geng yang menumpang di busnya dengan sengaja tidak membayar tiket bus dan mengejek Aaron. Akhirnya Aaron menganggapnya hal tersebut sudah cukup dan keesokan harinya saat para pemuda brandal tersebut memperlakukannya dengan cara yang sama, ia pun menghentikan busnya dan melaporkannya ke polisi. Polisi segera meminta para brandal itu membayar dan setelah itu sang polisi pun turun. Setelah beberapa tikungan, para brandal yang tidak senang kemudian membalas tindakan Aaron dengan menghajarnya sampai Aaron terluka. Darah membasahi kemejanya, dua giginya tanggal, kedua matanya bengkak, uangnya hilang dan busnya kosong! Aaron sangat benci kepada para brandal tersebut. Kebingungan, kemarahan, kekecewaan bagaikan bahan bakar yang mengobarkan api akibat rasa sakit di tubuhnya. Ia pun mulai mempertanyakan Allah, “Di mana Allah saat semua ini terjadi? Bukankah aku sungguh-sungguh ingin melayaniNya, tetapi inilah yang aku dapatkan?”Aaron kemudian memutuskan untuk mengajukan tuntutan. Dengan bantuan polisi yang bertemu dengan geng itu dan beberapa orang yang memberikan kesaksian melawan para berandal, akhirnya para berandal tersebut dijebloskan ke penjara. Beberapa hari kemudian sidang kasusnya diadakan di depan hakim.


Penanggung Hukuman

Saat Aaron dan pengacaranya memasuki ruang sidang, pandangan marah para anggota geng yang berada di seberang ruangan mengikutinya. Tiba-tiba ia diingatkan sesuatu. Pikirannya dipenuhi oleh belas kasihan. Hatinya terbuka bagi para pemuda yang telah menyerangnya. Di bawah kuasa Roh Kudus, ia tidak lagi membenci mereka – ia mengasihani mereka! Mereka membutuhkan pertolongan, bukan kebencian. Apa yang dapat dilakukan atau dikatakannya? Tiba-tiba Aaron dengan mengejutkan semua orang (termasuk pengacaranya sendiri) bangkit berdiri dan meminta izin untuk berbicara. “Yang Mulia, saya mohon Anda menjumlah semua hari hukuman yang harus dijalani masing-masing orang ini – dan saya mohon Anda mengizinkan saya untuk menjalani hukuman penjara itu menggantikan mereka.: Hakim terdiam, pengacara kedua pihak tercengang. Saat Aaron memandang para anggota geng itu (yang menatapnya dengan mata terbelalak dan mulut ternganga), ia tersenyum dan berkata pelan, “Ini karena saya mengampuni kalian.”Sang hakim pun terpaku. Setelah ketenangannya kembali, sang hakim berkata dengan tegas,”Anak muda, kau menyalahi peraturan. Hal seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya!” Anak muda itu menjawab dengan penuh hikmat. “Oh ya, ini sudah pernah terjadi, Yang Mulia... ya, sudah pernah. Hal ini terjadi lebih dari 19 abad yang lalu ketika seorang pria dan Galilea membayar hukuman yang layak diterima oleh seluruh umat manusia.”Selama tiga atau empat menit berikutnya, tanpa gangguan , ia menjelaskan bagaimana Yesus mati menggantikan kita, untuk membuktikan kasih dan pengampunan Allah. Permintaannya tidak dikabulkan, tetapi anak muda itu mengunjungi para anggota geng tadi di penjara, membawa sebagian besar dari mereka kepada Kristus, dan memulai penginjilkan yang besar kepada banyak orang di daerah Chicago Selatan.


Disusun ulang OPH dari Buku

It’s your time to Shine!

Kamis, 09 April 2009

KASIH AGAPE MEMULIHKAN PERKAWINAN - Joseph F Manning


Pengantar
Pada persekutaun ibu-ibu muda di Minneapolis, Pdt Joe diundang untuk memimpin Pemahaman Alkitab. Para ibu muda sengaja datang ke persekutuan untuk meninggalkan para suami mereka di rumah. Buat mereka kesempatan persekutuan ini dimanfaatkan untuk “melepaskan penderitaan” mereka sejenak. “Suami saya bagaikan seorang binatang buas” kata seorang ibu. Komentar ini segera disambut oleh gelak tawa setuju semua ibu yang hadir.
Dalam doa-doa yang dipanjatkan, seorang ibu meminta dalam doanya agar suaminya tidak membuatnya benci di pagi hari. Ada juga yang mendoakan suaminya dari masalah minuman yang ditanggapi oleh ibu lain,”suami saya juga”.

Kasih Agape
Pdt Joe melihat bahwa para ibu tersebut perlu mendengar tentang kasih agape. Kebanyakan konflik yang mereka hadapi mengenai suami dan anak-anak mereka. Saat para ibu tersebut dijelaskan bahwa kasih agape adalah kekuatan yang menolong kita untuk mengasihi orang yang tidak bisa dikasihi dan memberikan pengampunan bagi mereka yang tidak layak diampuni, para ibu memberikan tanggapan negatif. “Tidak mungkin”, kata seorang ibu. Para ibu tidak percaya bahwa dalam keadaan diperlakukan sewenang-wenang oleh para suami, justru kasih Allah yang memungkinkan mereka untuk mengasihinya dengan cara yang luar biasa. Ada juga yang berkata tidak mungkin berdiam diri saja dan menerima kata-kata suami yang kasar atau “anda akan menjadi orang super bila hidup tanpa reaksi” atau “hidup seperti itu akan membuat kita jadi orang suci dan keluarga saya tidak akan mengenali saya” atau “anak-anak saya akan mengira saya jadi orang aneh” atau “jika saya tahu bahwa suami saya menyeleweng, saya akan menceraikannya.”
Pdt Joe menjelaskan bahwa rahasia agar kasih agape bekerja adalah dengan membiarkan diri kita menjadi termostat, bukan termometer. Termostat itu tetap stabil, sedangkan termometer turun naik. Orang-orang yang tinggal bersama kita adalah orang-orang yang ditempatkan Tuhan untuk kita kasihi. Tetapi sebagai sebuah termostat, kita harus rela untuk dibentuk jika kita ingin kasih agape bekerja, khususnya dalam rumah tangga. Kita harus berhenti naik dan turun. Kita seharusnya mengizinkan Tuhan mengontrol keadaan agar kasih Yesus yang ajaib bisa bekerja.” Saat kasih kita memudar, biarkan kasih Allah mengambil alih sehingga suami kita menerima kesembuhan. Justru pada saat kasih manusia gagal, kasih Allah mulai bekerja.
Setelah berdoa kembali, beberapa ibu menangis. Tuhan sedang menjamah dan mengasihi hati mereka.

Kasih Agape adalah Jawaban
Marcia, salah seorang ibu yang ikut dalam persekutuan malam itu, merasa begitu bebas dan penuh kasih sehingga sepulangnya dari persekutuan ia merangkul suaminya. Namun tanpa sengaja ia menginjak jari-jari kaki suaminya. Langsung sang suami mendorongnya dan mengatainya bodoh dan aneh. Marcia pun berkata bahwa ia mengasihinya, dan sang suami bertanya,”Mengapa?” Marcia mulai berpikir bahwa kasih agape hanyalah omong kosong belaka. Tetapi, ketika berdoa, ia merasakan damai yang luar biasa. Ia berdoa agar tidak merasa sakit hati seperti yang biasanya ia alami.
Esok paginya, Marcia menyiapkan telur dan membuat adonan kue kesukaan sang suami. Ia biarkan suami membaca koran dahulu (biasanya terbalik). Sang suami pun memandang dengan cara aneh, merasa sang istri tidak seperti biasanya dan bertanya, apakah sang istri baik-baik saja. Yang dijawab ya. Setelah sang suami dan anak berangkat, ia pun mengenang kembali hari pernikahan mereka dan bagaimana mereka berjanji untuk saling mengasihi. Namun kemudian sang suami berubah menjadi orang yang aneh dan sang istri menjadi penguasa. Hal-hal kecil menghancurkan perkawinan. Perdebatan dan ketidaksesuaian pendapat terjadi karena hal-hal remeh. Namun sekarang ia merasa heran mengapa mereka menjadi bersikap jahat satu dengan yang lain. Sang ibu menyadari bahwa suaminya marah karena tidak dilibatkan dalam aktivitas di rumah tangga sehingga ia meninggalkan keluarga dan menghabiskan banyak waktu dalam bisnisnya. Setelah menyadari kegagalannya, sang ibu berlutut dan tiba-tiba seluruh ruangan dipenuhi dengan cahaya dan keindahan yang belum pernah dirasakan. Tangan Tuhan yang ajaib menjamahnya dengan cara yang luar biasa. Sang ibu berdoa,”Oh Tuhan, ubahlah diri saya. Jadikan saya isteri yang layak untuk menyatakan kasihMu. Biarlah kasih ini mengubah dan menjadikan diri saya sebagai seorang isteri dan ibu seperti yang Engkau kehendaki. Saya tahu bahwa saya telah gagal, namun saya ingin melakukan yang lebih baik.”
Saat suami pulang pagian karena lambungnya kram, Marcia pun membatalkan janji dengan penata rambut dan melayani suami dengan cara yang tidak biasanya. Kemudian, saat berbaring di kasur, Marcia menangis sehingga sang sumai heran. Marcia berkata bahwa ia adalah isteri yang kasar dan minta maaf atas perbuatan yang telah menyakit sang suami. Sang suami pun mengampuninya! Sebaliknya, sang isteri juga mengampuni kesalahan sang suami.. Mereka tertidur sambil berangkulan dan menangis, air mata sang suami membuat sang istri merasa makin dicintai. Selanjutnya pernikahan mereka dihidupkan kembali. Saat anak-anak membutuhkan ijin, sang ibu meminta anak-anak untuk meminta ijin kepada ayah mereka. Selanjutnya mereka mengerjakan segala sesuatu sebagai sebuah keluarga.

Marian, salah seorang ibu lainnya juga bersaksi. Ketika menjenguk teman di sebuah rumah sakit, yang mengalami sakit fisik yang parah, ia mulai menangis dengan belas kasihan dan kasih yang besar untuknya. Hal ini sangat menghibur temannya karena Marian benar-benar memperdulikannya. Ia tidak percaya bahwa belas kasihan itu dari dalam dirinya, karena ia tidak pernah menangis! Kasih Allah yang penuh kuasa itulah yang bekerja di dalam dan melalui dirinya sehingga membuatnya memiliki belas kasih seperti itu. Menantu lelakinya memperhatikan kehangatan dalam dirinya yang tidak pernah dirasakan sebelumnya sehingga mereka menjadi semakin akrab. Hidupnya telah diubahkan. Ia sangat bahagia dan berterima kasih kepada Tuhan.

Disusun ulang OPH dari buku
Memulihkan Hubungan yang Retak
Joseph F. Manning

KASIH AGAPE MEMBERI TUJUAN UNTUK HIDUP


Pengantar
Sergei, sesuai dengan firasatnya, ditembak dan terbunuh di sebuah kamar hotel di California selatan. Kematiannya diselimuti awan misteri dan diberitakan sebagai bunuh diri yang kemudian diralat sebagai “mati mendadak”. Tidak banyak yang mengenal Sergei dan mengetahui siapa dia sebenarnya dan mengapa sampai ia ditembak mati! Kejadian ini akan terkubur begitu saja, bila tiga bulan sebelum meninggal ia tidak bertemu Pdt Joseph F Manning dan menceritakan kisahnya.

Pemuda Istimewa
Sergei adalah seorang pemuda istimewa di Rusia. Perawakannya tinggi hampir mencapai dua meter dengan lengan yang kekar. Ia bergabung dalam angkatan laut Rusia. Masa kecilnya sebenarnya sangat memprihatikan. Ia adalah seorang yatim piatu alias tidak pernah mengenal siapa ayah ibunya. Ia seorang yang penuh bakat, tidak saja secara akademis tetapi juga secara fisik. Saat remaja, ia terpilih sebagai salah seorang pemuda paling top di Rusia dalam hampir semua bidang yang berkaitan dengan pengembangan fisik dan intelektual! Ia pun mendapat penghargaan tertinggi yang pernah diterima pemuda-pemuda Rusia.
Sejak kecil ia diindoktrinasi bahwa Rusia adalah satu-satunya pemegang kekuasaan dan kebebasan yang mutlak. Agama hanya untuk orang-orang yang lemah. Keyakinan bahwa pemerintah Rusia berkata jujur tentang kehidupan, kebebasan dan Tuhan sangat berurat-akar dalam hatinya. Karena menunjukkan kemampuan memimpin di antara teman-temannya, ia dipilih pemerintah Rusia sebagai kepala Polisi Muda Rusia. Tugas utamanya adalah menyerang pertemuan-pertemuan keagamaan.

Penganiaya Orang Kristen
Sergei bekerja secara efisien. Bersama bawahannya ia merazia pertemuan-pertemuan di rumah-rumah, gereja-gereja bawah tanah maupun balai-balai pertemuan. Polisi Muda ini bertindak keras terhadap para hamba Tuhan, pendeta-pendeta dan orang-orang yang mengadakan pertemuan-pertemuan agama. Ia ikut melukai dan mengusir orang-orang “fanatik” yang menentang pemerintah secara brutal. Tidak patuh terhadap pemerintah dianggap dosa berat bagai penjahat. Pengikut-pengikut pertemuan untuk menyembah Kristus dianggap sebagai penentang. Darah mereka pun mengalir. Tulang yang patah dan tubuh-tubuh memar merupakan hal yang biasa bagi Sergei bila ia menyerang orang-orang Kristen bersama-sama dengan Polisi Muda.

Berkenalan dengan Kasih Ilahi
Suatu hari, seperti biasa Sergei menyerbu sebuah pertemuan di lantai bawah sebuah gedung. Ia dan pasukannya memukuli sekelompok orang Kristen yang sedang bersekutu, berdoa dan mengadakan Pertemuan Alkitab. Salah seorang korbannya adalah seorang gadis cantik dengan wajah tidak berdosa. Umurnya sekitar lima belas tahun. Ia pun segera menjadi mainan Sergei dan pasukannya yang masih muda-muda. Gadis itu pun dilukai seperti orang-orang Kristen lainnya. Kemudian gadis itu dan pengikut pertemuan lainnya diusir dan diancam bahwa bila mereka tertangkap lagi, maka harga yang jauh lebih mahal akan mereka terima!
Tidak lama sesudah itu, ternyata Sergei dan para anggota Polisi Muda kembali melihat gadis remaja yang belum sembuh benar dari luka-lukanya itu pada suatu pertemuan gelap lainnya. Akibat mengabaikan peringatan yang diberikan, gadis ini dilempar ke atas meja dan dipukuli tanpa belas kasihan. Sang gadis mengalami kesakitan luar biasa. Sergei sangat terbayang oleh pemandangan saat itu. Tatkala disiksa, sang gadis memancarkan kasih di matanya. Ia memandang ke arah Sergei dan wajahnya bercahaya seakan ingin mengatakan dengan bebas tentang pengampunan Yesus.
Sergei tidak mampu mengerti apa yang menyebabkan adanya kasih dan pengampunan dalam diri seorang gadis yang hampir mati sebagai martir. Sudah banyak orang Kristen yang dihukum bahkan dibunuh, tetapi Sergei tidak pernah melihat damai seperti yang dilihatnya pada mata gadis itu. Tidak pernah sebelumnya, ia melihat kasih Ilahi semacam itu yang dapat memperbarui hidup yang begitu dekat dengan maut. Kejadian ini sangat membebani pikirannya dan ia bertekad untuk mencari jawabannya.

Bebas!
.Tak lama kemudian, Sergei bergabung dengan Armada Angkatan Laut Rusia. Saat kapalnya berada di Lautan Pasifik di luar pantai British Columbia, ia merasa leah dan tidak bersemangat. Ia tidak bisa tidur di malam hari. Saat berguling ke kanan dan ke kiri, dalam benaknya terbayang wajah gadis remaja Kristen yang hampir dibunuhnya itu. Wajahnya yang cantik dan keputusannya untuk melayani Yesus terus menghantuinya. Inilah saat dalam hidupnya, perasaan Sergei terhadap Rusia mulai berubah. Rusia telah menipunya! Walau ia sudah patuh , tetapi tetap ia tidak bebas. Ia merasa jadi korban Rusia. Akhirnya ia menyadari orang-orang Kristen itulah yang memiliki kebebasan sejati. Ia melihat kebebasan itu dalam wajah sang gadis yang mengganggu tidurnya setiap malam. Pasti ada yang benar dalam keKristenan. Ada semangat yang menyala-nyala dalam diri pemeluknya. Siapakah Yesus ini, sehingga orang-orang Kristen rela mati untukNya?
Akhirnya ia membulatkan tekadnya. Ia mencari cara untuk lari dari Rusia. Ia terjun ke lautan Pasifik yang sangat dingin. Hanya sedikit yang bisa hidup dengan cara penyeberangan seperti ini. Kondisi fisiknya yang prima menolongnya bertahan hidup mengatasi dingin dan kram selama ia berenang. Ia terus berenang melampaui batas ketahanan fisiknya dan tidak akhirnya hilang kesadaran diri!
Kasih Tuhan sungguh luar biasa. Walau tidak sadar, ia tetap mengapung di atas air yang berombak, tangannya memegang puing-puing yang besar. Secara ajaib, Sergei sadar kembali sehingga akhirnya tiba di pantai Kanada di mana ia ditemukan.

Mati bagi Kristus
Polisi Kanada segera mengklarifikasi dan mengkonfirmasi siapa Sergei sebenarnya. Walau ia diminta kembali ke Rusia oleh pejabat Rusia di Kanada, ia menolak. Di Kanada ia berada dalam perlindungan sekelompok kecil simpatisan Kristen. Ia berlutut di altar gereja dan menyerahkan hidupnya kepada Yesus Kristus. Ia meminta dan menerima ampun atas dosa dan kejahatannya, ancamannya terhadap orang-orang Kristen yang telah dihukumnya di Rusia. Kini, Sergei mulai memahami arti kebebasan dan kasih di wajah sang gadis remaja. Ia pun lahir baru dan bertumbuh. Ia rindu bersaksi kepada orang lain khususnya orang-orang muda, bagaimana Yesus menggantikan kebencian dengan kasih dan ketakutan dengan kedamaian. Ia bersaksi dengan penuh semangat kepada orang lain agar mereka tahu tentang penganiayaan orang Kristen di Rusia dan tentang keberanian mereka untuk mati demi iman mereka. Dalam keadaan paling berat sekalipun, semangat orang Kristen Rusia tetap menyala-nyala.
Pihak Rusia pun tidak tinggal diam. Putra terbaiknya menghilang karena Yesus. Ini dapat menjadi preseden buruk bagi pemuda lainnya di Rusia. Terlebih lagi, sang putra sekarang malah berbalik menceritakan kekejaman Rusia dalam menganiaya orang-orang Kristen. Sergei mengatakan bahwa ia ingin meninggal sebagai martir karena perbuatan dan kekejaman yang pernah dilakukannya dulu. Ia sudah mengerti kasih sempurna yang ada pada gadis remaja itu. Ia telah menerima kasih agape yang sama yang mengalahkan segala-galanya, bahkan maut sekali pun. Akhirnya, ia yakni bahwa tujuan hidup yang sejati hanya ada di dalam Kristus sendri.
Sergei sekarang sudah tiada. Walaupun hidupnya singkat, ia benar-benar mempunyai pengalaman berhubungan dengan penyerahan hidup total kepada Yesus Kristus. Akhirnya, ia juga tahu bahwa kasih yang sempurna dari takhta Allah itulah yang mendorong seseorang untuk mengasihi Yesus Kristus di atas segala-galanya, bahkan melebihi hidup itu sendiri.

Disusun ulang OPH dari Buku
Memulihkan Hubungan yang Retak
Joseph F. Manning

Senin, 06 April 2009

KEPUTUSAN SANG AYAH - Carl Muir


Pengantar
Dalam suatu kebaktian di sebuah gereja, seorang pendeta memberikan pengenalan singkat tentang seorang teman masa kecilnya yang akan melakukan sharing. Tak lama kemudian , seorang laki-laki tua naik ke mimbar untuk berbicara. Pada kebaktian tersebut, ada dua orang remaja ikut beribadah. Berikut adalah sebagian dari apa yang disampaikannya :

Siapa yang dipilih?
Seorang ayah yang berprofesi sebagai seorang pelaut, suatu kali membawa serta anak dan teman anaknya ikut berlayar dengan kapalnya. Mereka berangkat dari pantai Pasifik. Setelah mencapai tengah lautan, musibah datang. Badai besar terjadi yang menimbulkan gelombang yang tinggi dan mengaduk-aduk lautan. Meskipun sang ayah sangat berpengalaman, ia tidak mampu mengatasi ombak yang sangat tinggi tersebut. Akhirnya saat ia mengarahkan kapalnya menuju tepi pantai, kapal tersebut oleng, hilang keseimbangan dan terbalik. Ketiganya terhempas ke dalam lautan.
Segera sang ayah berenang menuju kapalnya yang terbalik dan meraih tali penyelamat. Setelah mengikat tali tersebut di kapal, matanya pun menyapu lautan bergelora di sekitarnya. Dilihatnya anaknya dan teman anaknya sedang megap-megap mempertahankan posisi di atas air. Sudah banyak air laut yang tertelan. Karena hanya memiliki satu tali penyelamat, sang ayah bingung untuk memberikan kepada siapa. Ia sangat ingin menolong anaknya, namun bila hal ini dilakukan maka teman anaknya akan binasa dan sebaliknya.
Keputusan harus segera diambil karena kondisinya tidak memungkinkan untuk berlama-lama. Karena ia tahu teman anaknya bukan orang kristiani, akhirnya ia pun melempar tali penyelamat ke teman anaknya sambil berteriak ke anaknya,”Aku sayang padamu, Nak!” Saat ia sudah berhasil menarik teman anaknya ke kapal yang terbalik, anaknya sudah menghilang di tengah gelombang besar yang mengamuk. Tubuhnya kemudian tidak pernah ditemukan. Sang ayah tahu dengan pasti bahwa anaknya yang sudah menerima Yesus sebagai Juruselamatnya akan masuk ke sorga bersama Yesus nantinya dan ia tidak tega membiarkan teman anaknya melangkah ke alam maut menuju kebinasaan. Oleh karena itu ia mengorbankan anaknya. Betapa besar kasih Allah sehingga Ia melakukan hal yang sama untuk setiap orang yang tenggelam dalam dosa.

Kenyataan atau khayalan?
Usai kebaktian, bergegas kedua remaja yang mendengar sharing itu menghampiri orang tua tersebut. Saat berada di samping orang tua tersebut, dengan sopan salah seorang remaja tersebut berkata,”Ceritanya bagus sekali, tetapi menurutku tidak masuk akal seorang ayah mengorbankan anaknya dengan harapan temannya akan menjadi seorang kristiani.” “Ya, kamu benar juga,” jawab orang tua itu sambil melihat sepintas ke arah Alkitabnya yang sudah lusuh. Segera sebuah senyuman menghias wajahnya. Ditatapnya kedua anak itu dan sambil berkata,”Benar-benar tidak masuk akal , iya kan? Tetapi saya berdiri di sini hari ini untuk mengatakan padamu bahwa cerita itu memberikan saya sedikit bayangan apa yang dirasakan Allah yang telah mengorbankan PutraNya untuk saya. Ketahuilah.......... sayalah teman anak itu!”

Renungan
Saat Allah mengutus putra tunggalNya untuk datang ke dalam dunia, Ia dengan sadar sepenuhnya merelakan AnakNya untuk kemudian mati di kayu salib agar darahNya tercurah menghapus dosa kita sehingga semua orang yang percaya kepadaNya (Yesus Kristus) beroleh hidup yang kekal. Inilah kasih Ilahi. Hanya dengan aliran kasih ini membuat umatnya mampu melakukan hal yang serupa.

Disusun ulang oleh OPH dari Buku
It's your time to Shine!

KASIH AGAPE MEMBERKATI ANAK-ANAK


Pendahuluan
Stan seorang anak yang baru berusia 5 tahun. Ia lahir dalam sebuah keluarga broken-home di Fort Lauderdale , Florida, AS. Ayahnya meninggalkannya dan ibunya. Ibunya juga tidak kalah kelakuannya. Ia pergi dengan siapa pun lelaki yang mengingininya. Lingkungan seperti ini membuatnya merasa tersisihkan dan tidak ada seorang pun yang mengasihinya. Ia dengan cepat belajar mengucapkan kata-kata kotor, maki-makian, meludah, melakukan berbagai tingkah untuk menarik perhatian dan tidak memiliki kasih terhadap orang lain. Saat kenakalannya datang, maka ia berubah menjadi monster kecil yang energik.
Joseph F. Manning (Joe) adalah pendeta yang memberikan konseling dan sharing tentang kasih Ilahi (agape). Ia sering diundang pada berbagai persekutuan di AS untuk mengkhotbahkannya. Ia melihat sendiri bagaimana kasih Allah mengubah kehidupan orang-orang. Suatu kali saat hari terakhir menginap di rumah saudara seiman , ia melakukan sharing dan mempelajari Alkitab bersama-sama tuan rumah (Sid dan Laurie) membahas tentang kasih dalam 1 Korintus 13. Kesimpulan yang diambil : kegagalan terbesar mereka adalah dalam hal kasih.
Saat mereka bersekutu, datanglah Doris dan cucunya Stan. Karena bertugas merawat Stan, Doris jarang mengikuti persekutuan, namun ia menjadi begitu antusias melihat Alkitab yang terbuka dan seketika itu juga mengikuti persekutuan.

Stan yang Nakal
Sementara orang dewasa bersekutu, Stan berlari-lari mengelilingi rumah dan menirukan suara perang suku Indian. Ia membuat suara yang sangat keras. Saat tuan rumah Sid membaca,”Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu, ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong”, tiba-tiba terdengar suara debum yang keras akibat Stan melompat dari kursi. Setelah ditegur ia berlari mengitari rumah kembali. Doris bercerita bahwa hidupnya sangat tertekan melihat kegagalan pernikahan anaknya (mama Stan) dan kenakalan cucunya. Yang lain coba menghiburnya dan berdoa untuknya dan keluarganya.
Saat persekutuan akan dilanjutkan, Joe mendapat perintah Tuhan dengan sangat jelas untuk pergi dan mengasih Stan yang sedang berlari-larian dengan kasihNya. Pdt Joe taat dan pergi mendapatkan Stan. Iapun mengangkat lalu mendudukan Stan pada pangkuannya. Kemudian Joe berkata perlahan, “Stan, saya mengasihmu, Yesus juga mengasihimu.” Tiba-tiba wajah Stan berubah menjadi penuh kebencian dan berteriak,”Saya benci kamu!” sambil menendang lutut dan mencakar Joe untuk melepaskan diri dan kemudian meludahi Joe serta lari ke kamar tidur.

KasihNya vs Kasihku
Joe tertegun melihat perlakuan Stan kepadanya dan kemudian menjadi marah. Namun Joe segera diingatkan untuk mengasihi anak itu, “Tidak, engkau harus mengasihi anak kecil ini dengan kasihKu, bukan kasihmu.” Segera Joe berdoa meminta Tuhan menaruh kasihNya untuk Stan dalam dirinya. Usai berdoa, Joe menghampiri Stan di kamar tidur dan setelah berdoa dalam hati, ia mengulangi kata-kata yang telah diberikan Roh Kudus,”Aku mengasihimu, Stan. Dan Yesus juga mengasihimu.” Stan segera bereaksi dan berteriak sekeras-kerasnya,”Aku benci kamu! Aku benci kamu!” sambil memaki-maki dan memborbardir Joe dengan kata-kata kotor Suaranya terdengar lain. Joe bergumul di dalam hati, antara keinginan daging untuk memukul “monster kecil” ini dan keinginan roh untuk mengasihinya. Butiran keringat mengucur dari dahi Joe saat menahan kemarahannya. Namun keinginan roh menang. “Yesus mengasihmu, Stan, dan aku juga mengasihimu.”
Stan membalasnya dengan melempar sikat rambut yang mengenai pundak Joe. Joe terus berkata,”Aku mengasihimu Stan, dan Yesus juga mengasihimu.” Tiba-tiba Stan melompat ke punggung Joe lalu memukuli punggung Joe sekeras-kerasnya sambil meneriakkan kata-kata cabul seakan ingin mengosongkan kebencian yang bersemayam dalam hatinya selama ini.
Joe terus bergumul dalam hatinya, namun ia sadar peperangan ini bukanlah melawan darah dan daging tetapi melawan kerajaan-kerajaan dan kuasa-kuasa kegelapan. Joe berseru kembali, “Yesus mengasihimu dan aku mengasihimu!” Tidak terduga, Stan berhenti memukuli Joe dan duduk di lantai lalu bergumam, “Maukah engkau bermain dengan saya?” Joe pun menanggapinya,”Mengapa kamu menghendaki aku bermain denganmu? Apakah kamu mengasihi aku?” “Ya, aku sangat mengasihi engkau.” balasnya tajam. Namun, ia seperti tersadar amarahnya dan suaranya berubah keras dan kasar,”Tidak, aku tidak mengasihimu! Aku benci kamu!”
Doris pun memanggilnya dan mengajaknya pulang. Stan langsung kabur dari kamar tidur sambil berseru,”Aku benci kamu, aku benci kamu, aku benci kamu!” Saat diminta menyalami Joe, Stan malah mendobrak pintu lebar-lebar dan lari ke mobil. Joe diam-diam menyusul ke mobil, saat Doris pamitan ke tuan rumah. Joe kembali berseru,”Aku mengasihimu, Stan dan Yesus juga mengasihimu.” Stan pun berteriak sekeras-kerasnya dan menutup wajahnya. Kepada neneknya ia berkata,”Aku benci padanya!”

RancanganKu Bukanlah Rancanganmu
Joe merasa terluka, lemah dan sedih. Tuan rumah mempersilahkannya untuk beristirahat , namun Joe tak bisa tidur. Joe lelah secara spiritual. Sejam kemudian, Doris menelpon Joe mengabarkan bahwa terjadi sesuatu dengan Stan saat pulang. Ia menangis tak terkendali dan wajahnya pucat. Ia tidak mau diajak ke dokter dan berkata,”Aku mengasihinya, tapi aku membencinya.” Kemudian ia muntah-muntah di mobil. Saat Doris menelpon, Stan sedang duduk di kursi dengan tenang dan damai. Saat telepon diberikan kepadanya, iapun berbisik,”Aku mengasihimu.” Joe bertanya kepadanya,”Apakah engkau juga mengasihi Yesus?”. “Ya”,jawabnya dengan suara anak kecil dan bertanya,”Joe, maukah engkau tinggal sehari lagi agar aku dapat berjumpa denganmu?” Joe segera mengiyakan. Sungguh Joe dan tuan rumah bersyukur atas perubahan yang terjadi dalam diri Stan.
Saat datang kembali keesokan harinya, ia mendekap Joe erat-erat dengan ekspresi kasih yang murni. Ia juga merangkul tuan rumah, Laurie, dengan pelukan yang dirasakan Laurie seperti rangkulan kasih Allah sendiri melalui anak kecil itu. Pagi itu, Stan menerima Yesus di dalam hatinya. Dan Yesus pun menyambut Stan seperti Ia menyambut anak-anak kecil lainnya 2.000 tahun lalu ketika ia berkata,”Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepadaKu; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.”


Disusun ulang oleh OPH dari Buku

Mujizat Kasih Agape Memulihkan Hubungan yang Retak

oleh Joseph F. Manning

KARENA KASIH KARUNIA


Pengantar
Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu, jangan ada orang yang memegahkan diri (Efesus 2:8-9). Rasul Paulus menyampaikan kepada kita bahwa keselamatan datang dari hati Allah yang penuh kasih sebagai suatu pemberianNya kepada kita. Keselamatan itu diberikan kepada mereka yang merasa tidak layak untuk menerimanya. Sebaliknya, bagi mereka yang merasa dirinya layak untuk menerima keselamatan Tuhan, mereka hanya akan menerima murka Allah, penghakiman dan tersisihkan untuk selama-lamanya. Inilah yang dikatakan Alkitab tatkala mendiskusikan KASIH KARUNIA. Apakah defisini “kasih karunia?” Banyak orang mengaminkan definisi tentang “kasih karunia” sebagai sesuatu yang sangat kita perlukan namun kita tidak berhak menerimanya. Seorang hamba Tuhan yang bernama Dr. Lindsay yang melayani sebuah jemaat di kota Richmond, Virginia, AS mengisahkan makna “kasih karunia” dalam pengalaman pribadinya pada awal pelayanannya di Skotlandia.

Pelajaran dari Kelas Sekolah Minggu
Waktu itu Dr. Lindsay adalah seorang guru sekolah minggu (SM) kelas pra remaja. Pada awal musim semi di suatu hari Minggu, ia menyampaikan pelajaran SM dari Surat Efesus pasal 2. Ia berulang kali menegaskan tentang makna “kasih karunia” yakni sesuatu yang kita perlukan namun kita tidak berhak menerimanya. Hanya sedikit anak Pra-remaja yang menaruh perhatian pada isi pelajaran hari itu. Pada hari berikutnya, sementara ia berjalan kaki menuju sebuah desa untuk menghadiri pertemuan sosial,seorang anak remaja melihat dari kejauhan kedatangan Dr. Lindsay. Ketika itu bulan April, namun masih tersisa salju basah di seluruh permukaan tanah. Anak ini segera membuat bola-bola salju yang lumayan besar dan keras di tangannya sambil menantikan kedatangan sang guru SM itu. Sambil bersembunyi di balik sebuah pohon besar, ia sekali-kali mengarahkan pandangannya serta memusatkan arah lemparan bola salju itu ke arah gurunya. Dengan sangat tepat sebuah bola salju keras melayang dan mengenai telinga sang guru sehingga guru itu merasa sangat kesakitan. Si Bobby, sang remaja yang begitu yakin dengan ketepatan lemparannya itu segera berbalik dan lari dengan cepat tanpa menoleh sekejap pun.
Saya sungguh tergoda untuk segera mengejarnya dan menghajar anak itu,” demikian kata Dr. Lindsay. “Kemudian saya teringat pada pelajaran SM yang saya bawakan dalam kelas baru lalu tentang kasih karunia. Saya segera merasa perlu untuk mempraktekkan kasih karunia tersebut kepada anak itu.” Dr. Lindsay tahu bahwa Bobby membutuhkan sebuah alat pancing sebab Minggu siang lalu ia telah meminjam alat pancingnya itu. Maka ia segera pergi ke toko alat-alat pancing. Dicarinya sebuah alat pancing yang baik dengan warna yang menarik, lebih menarik dari kepunyaannya sendiri. Ia menuju ke rumah Bobby, namun anak itu tidak ditemukan. Dr. Lindsay menyerahkan alat pancing itu kepada ibu Bobby agar diberikan kepada Bobby.
Pada sore hari menjelang pk 6.00 terdengarlah ketukan pelan di pintu rumah Dr. Lindsay. Di ambang pintu tampaklah Bobby berdiri dengan alat pancing di tangannya. “Saya tidak boleh menerima pemberian Anda ini, Dr. Lindsay,” ujarnya. “Mengapa tidak, Bobby?”. “Sebab andai saja Bapak tahu bahwa sayalah orang yang melemparkan bola salju ke arah Bapak sehingga menyakiti Bapak, maka Bapak tidak mungkin memberikan alat pancing ini pada saya.” Bobby menundukkan kepala dengan perasaan takut dan kacau.
“Ingatkah kamu tentang pelajaran kasih karunia pada hari Minggu yang lalu?” Dr. Lindsay bertanya. “Itu tentang kasih karunia. Kita berkata bahwa kasih karunia adalah sesuatu yang kita perlukan meski seharusnya kita tidak berhak untuk menerimanya. Kini Bobby, apakah makna kasih karunia itu bagi dirimu sendiri?” Bobby kemudian mulai memahami makna kasih karunia itu. Kasih karunia itu adalah “sebuah alat pancing ini.” “Benar Bobby. Kasih karunia itu ibarat alat pancing ini tatkala alat ini merupakan sesuatu yang kauperlukan meski seharusnya kamu tidak berhak menerimanya.
Sesungguhnya hal yang layak diterima oleh Bobby adalah hukuman dari gurunya; mungkin sebuah tamparan atau hajaran keras atas perilakunya. Namun sebaliknya, yang diterimanya adalah : kasih , pengampunan – dan sebuah alat pancing.

Dipungut OPH dari Buku
Kristus Mengubah Hina Menjadi Mulia
Dr. Jenny Wongka

KASIH AGAPE MENGALAHKAN DEPRESI


Pengantar
Maria adalah seorang Kristen yang berkobar-kobar semangatnya memberitakan Injil bagi siapa pun juga. Ia telah melakukan hal ini sejak ia menerima Yesus sebagai JuruselamatNya dan membiarkan dirinya dipimpin Roh Kudus dalam setiap tingkah lakunya. Ia adalah gambaran orang Kristen yang ideal. Siapa pun yang bertemu dengannya merasakan sukacita, kehangatan dan keramahannya. Seorang wanita yang penuh senyum lebar yang indah. Sejak hidupnya diubahkan Yesus, ia benar-benar berkomitmen dan merasa bebas membagikan berita sukacita yang telah diterimanya kepada siapa pun juga. Bahkan kepada para pemuda yang berpotongan “mengerikan” seperti pemuda gondrong, pemabuk, penikmat narkoba. Ia tidak segan-segan memberi tumpangan pada mereka dan memberitakan Injil keselamatan. Kepribadiannya luar dan dalam sama baiknya. Sungguh orang Kristen yang menjadi berkat dimana pun ia berada. Ia dan suaminya (David Sr, seorang eksekutif yang terkenal.) juga rajin mengikuti persekutuan doa. Mereka dikaruniai 2 orang anak yang masih remaja.Yang sulung diberi nama sama dengan ayahnya, yakni David dan dikenal sebagai David Junior (DJ). Mereka tinggal di pinggiran kota di Long Island (New York, AS) bagian timur dengan lingkungan yang cukup nyaman dan hidup mereka penuh berkat dan kesaksian.

DJ mengalami kecelakaan
Suatu kali Maria dan suaminya menerima berita mengejutkan. DJ mengalami kecelakaan!. Rupanya saat mengendarai sepedanya , DJ ditabrak lari. Tubuhnya terpental beberapa meter dan jatuh menghujam semak. Tulang-tulangnya patah di beberapa tempat dan sepedanya ringsek tidak berbentuk. Seorang pengemudi sepeda motor yang melihatnya tergeletak menelpon ambulan dan kemudian DJ dibawa ke rumah sakit untuk dimasukkan ke Unit Perawatan Intensif. Begitu Maria dan suaminya sampai di rumah sakit, dikabarkan oleh dokter bahwa kemungkinan besar sang anak tidak dapat bertahan hidup.
Maria merasa sangat sedih. Rupanya ia sangat sayang putranya ini. Bahkan ia merasa tidak dapat hidup lagi, bila sang putra akhirnya berpulang. Malam itu berita kecelakaan DJ menyebar di rekan-rekan seimannya di gereja dan kelompok doa. Mereka berdoa bagi kesembuhan DJ. Malam itu menjadi malam yang menegangkan buat keluarga Maria walau Maria tahu saudara-saudara seimannya mendukung dengan doa-doa. Maria sendiri yang sudah memahami betapa pentingnya berdoa dan bersyukur kepada Tuhan pada setiap keadaan (baik dan buruk), namun saat itu ia sangat sulit berdoa. Keesokan harinya, dokter memberi kabar menggembirakan bahwa DJ sudah melewati masa krisis dan akan tetap hidup. Hanya untuk memulihkan DJ ke kondisi semula perlu terapi berbulan-bulan.

Kala Depresi Melanda
Maria yang mendengar berita tersebut tidak dapat menerima sepenuhnya mujijat ini. Anaknya yang awalnya divonis tidak dapat bertahan hidup ternyata bisa mengalahkan masa krisisnya. Yang dilihat Maria adalah kemalangan yang tertimpa pada sang anak. Ia membayangkan anaknya akan mengalami penderitaan dan kesulitan. Ia membayangkan hal-hal menjadi buruk. Ia tidak menerima kondisi seperti ini dan iapun menjadi depresi. Secara emosional ia hancur dan merasa putus asa. Sukacitanya pun lenyap.
Raut mukanya penuh kekalahan Dirinya diliputi kebencian dan kegeraman pada sang penabrak. Ia membayangkan sang penabrak adalah pemuda berambut gondrong yang mabuk-mabukan atau pemakai obat bius yang biasa menumpang mobilnya bila ia sedang berbelanja, yang biasa dilayani dan diberitakan Injil. Ia berharap sang penabrak ditangkap dan dimasukkan ke penjara. Ia ingin melukai sang penabrak karena membiarkan anaknya terbaring dengan tubuh patah-patah dan mungkin juga akan mati!. Bahkan ia membayangkan sang penabrak itu mati saja. Ia juga tidak ingin berjumpa lagi dengan orang-orang berambut gondrong yang dulu dilayaninya dan dibayangkan sekarang sebagai penabrak anaknya.
Saudara-saudara seimannya sering datang menghibur dia. Namun semuanya itu hanya bisa sedikit membangkitkan semangatnya. Ia masih belum bisa menerima kemalangan DJ. Walaupun menyadari bahwa peristiwa baik dan buruk bisa melanda siapa pun termasuk orang percaya, ia tidak bisa menerima saat anaknya sendiri mengalami hal tersebut. Kekalahan dan kemarahan Maria semakin mendalam. Ia sangat geram dengan para dokter di rumah sakit itu dan merasa mereka tidak memperhatikan kebutuhan anaknya seperti yang diinginkannya. Sepertinya mereka tidak punya waktu untuk anaknya. Kepahitannya seperti kanker yang menyebar kemana-mana di dalam dirinya. Ia bahkan marah dengan Tuhan dan kepada rekan seimannya yang mendorongnya berdoa. Ia pun menutupi diri dari saudara-saudara seiman, menutup semua horden dan mematikan teleponnya agar tidak bisa diganggu. Masa perawatan anaknya dijadikan alasan untuk mengabaikan semua undangan dan persekutuan doa. Ia pun mengalami mimpi buruk dari hari ke hari.

Bagaikan Rajawali
Mengatasi depresi yang dialaminya tidak mudah. Seperti burung rajawali yang berganti bulu-bulunya yang rontok memerlukan banyak waktu. Dukungan doa sepenuhnya dari rekan-rekan seiman tak pernah sirna. Berbulan kemudian, secara perlahan DJ memperoleh kembali kesehatannya semula dan mulai bersekolah. Maria juga mulai berhasil mengatasi dirinya sendiri. Ia menyadari betapa waktunya yang sudah hilang. Ia pun kemudian belajar kembali untuk menjadi seperti dirinya dahulu. Setelah dilayani dan diberitakan tentang kasih Ilahi barulah ia menyadari bahwa sesungguhnya kesembuhan DJ adalah mujijat semata dan merekapun mengucap syukur. Akhirnya ia menyadari satu pelajaran penting bahwa Tuhan sedang mencoba mengajarkan kasih agapeNya kepadanya.
Ia juga telah meminta Tuhan mengampuni dan memulihkan keadaannya seperti dulu lagi. Tuhan telah memperlihatkan betapa kecilnya kasih yang ia miliki. Ia pun akhirnya menyadari bahwa satu-satunya cara mengasihi adalah dengan kasih Allah. Ia tidak mungkin mengasihi dengan kekuatannya sendiri. Ia merasa gagal dalam ujian yang dialaminya dan sangat ingin kembali menyukakan hati Tuhan. Ia benar-benar ingin mengasihi orang-orang dengan kasihNya dan bukannya dengan kasihnya sendiri.
Kini hidupnya merupakan kesaksian yang lebih kuat dari sebelum kasih Allah bekerja dalam dirinya melalui kecelakaan yang dialami anaknya itu. Bersama suaminya, ia kemudian merencanakan Pemahaman Alkitab bagi kaum muda di rumah mereka dan mengundang pecandu-pecandu obat bius berambut gondrong yang rindu mencari Yesus. Dengan penuh kemenangan, Maria telah menemukan bahwa hanya dengan kasih agape Allah sajalah ia dapat mengalahkan depresi dan benar-benar dapat mengasihi serta mengampuni.

Disusun ulang oleh OPH dari Buku
Memulihkan Hubungan yang Retak

Joseph F. Manning

KASIH AGAPE MENGAMPUNI MUSUH


Sang Ayah
Dennis anak terkecil dari sembilan bersaudara. Ayahnya pengacara ternama dan memimpin sendiri sebuah kantor pengacara. Ayahnya merupakan figur yang dikagumi Dennis sehingga ia pun menempuh pendidikan hukum dan ingin menjadi seorang pengacara. Setelah lulus ia pun bekerja di kantor ayahnya. Dengan kepandaiannya ia cepat menjadi tangan kanan sang ayah. Namun kepandaiannya menyisakan tanda tanya dalam hatinya. Ia bukan orang percaya kepada Yesus seperti sang ayah.
Ayahnya sungguh sosok yang mengagumkan. Selain berhasil mengelola kantor pengacara ternama, ia juga orang murah hati dan mau menolong orang yang kurang mampu. Banyak dari karyawannya yang mendapat pertolongan darinya. Ia mempercayai para karyawannya dan tidak pernah memeriksa pembukuan. Banyak orang yang datang ke kantornya untuk meminta uang dan pertolongan kepadanya. Ia melayani mereka. Dennis yang melihatnya merasa hal ini tidak sehat dan segera ia pun memprotes sang ayah. Ayahnya dengan tersenyum bijaksana menjawab,”Nak, banyak sukacita dalam memberi.” Ia mengambil Alkitabnya dari meja dan membaca,”Lebih terbekati memberi daripada menerima.” Kemudian ia membuka beberapa halaman usang dan membaca,”Apa yang kamu perbuat bagi saudaramu yang paling hina ini sama halnya dengan perbuatanmu kepadaKu.” Sambil meletakkan Alkitab, ayah Dennis melanjutkan, “Apabila Ayah sedang menolong orang lain, entah secara rohani maupun keuangan, maka sebenarnya Ayah sedang melakukannya untuk Tuhan. Jika engkau melihat sukacita di wajah orang-orang yang telah Ayah tolong, jika engkau mengetahui bagaimana hidup mereka telah diubah menjadi kehidupan rohani yang lebih baik karena bantuan keuangan, tentu engkau pun akan mengubah sikapmu.” Namun demikian, Dennis tetap tidak percaya.

Awal Mula Kebencian
Waktu cepat berlalu, akhirnya Dennis menjadi pengacara kondang. Saat sang ayah pensiun, kantornya diteruskan oleh Dennis. Berbagai kiat ayahnya mengelola kantor diteruskannya. Ditambah kepandaiannya, kantornya terus berkembang menjadi semakin besar. Hanya satu kegiatan sang ayah yang tidak diikuti yakni pemberian kasih kepada orang yang kurang mampu. Suatu kali ia memeriksa pembukuan kantornya. Ia sangat terkejut ketika mendapati bahwa salah seorang bawahan ayahnya yang sangat dipercaya telah menggelapkan uang perusahaan. Hatinya seketika terbakar panas amarah. Tidak pernah dibayangkan Max, karyawan tersebut, melakukan hal itu karena Max pernah ditolong oleh sang ayah. Ia ingin membunuh atau setidaknya memenjarakan Max. Namun mengingat Max adalah orang yang dipercaya sang ayah, akhirnya ia mempersilahkan Max untuk mengundurkan diri dan ia tidak pernah mau melihat Max lagi. Ia sangat benci dan dendam kepadanya. Peristiwa ini tidak pernah diberitahukan kepada sang ayah.

Diubahkan dan Memulai Kehidupan Baru
Tak lama kemudian sang ayah menderita sakit keras karena stroke. Seluruh anggota keluarga berkumpul dan berdoa bersama. Mereka semua Kristen kecuali Dennis yang kekerasan hatinya telah memisahkannya dari Tuhan. Namun melihat sang ayah yang sangat disayanginya terbaring sakit menunggu ajal, Dennis digerakkan saudara perempuannya untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya. Kasih merupakan kekuatan yang akhirnya menghancurkan benteng Dennis. Dengan senyum dan tepuk tangan ayahnya yang sudah lama berdoa agar ia diubahkan, sambil menangis Dennis berdamai dengan Tuhan dan berlutut di samping tempat tidur ayahnya. Seorang Kristen baru telah lahir ketika yang lain berpulang ke rumah surgawi. Hari itu hari yang menyedihkan sekaligus hari sukacita. Dennis telah menyerahkan hidupnya dalam tangan Yesus Kristus.
Kembali ke kantornya, Dennis memulai kehidupan baru sebagai seorang Kristen. Rekan-rekan sekerjanya melihat perubahannya. Dennis yang dulu sangat penuntut, telah menjadi rekan yang menyenangkan. Mereka bertanya-tanya apa yang telah terjadi dengan Dennis dan mengubahnya. Itulah Yesus! Saat membaca Alkitab ayahnya , ia sangat takjub mendapatkan bagian Alkitab berbicara tentang menjadi ciptaan baru. Tuhan menunjukkan kepadanya untuk membuang semua hal dan cara-cara lama jika ia ingin menjadi orang yang dikehendaki Kristus. Ia kemudian belajar. Dulunya, ia seorang yang sombong dan kaku, tetapi kini ia menjadi bijaksana dan mengasihi keluarganya maupun orang-orang di kantornya. Dulu ia menomorsatukan pekerjaan dan tidak segan melakukan apa saja tanpa mengindahkan waktu untuk memenangkan kasus hukumnya dan berakibat serangan jantung, sekarang ia menyerahkan semuanya kepada Tuhan dibanding dirinya sendiri. Dennis menjadi serupa dengan sang ayah termasuk dalam membagikan uang kepada orang miskin yang dulu ditentangnya mati-matian.

Mengampuni Musuh
Sebuah pelayanan baru dimulai. Kantornya dipenuhi traktat dan Alkitab. Ia menghadiri berbagai konferensi kristiani untuk mempelajari Firman Tuhan dan menjadi manusia yang dikehendaki Kristus. Akhirnya secara rohani , Dennis telah bertumbuh dewasa. Namun, masih ada sesuatu yang perlu diselesaikan yakni kebencian dan dendamnya terhadap Max. Selama ini ingatannya terhadap kejahatan Max tidak pernah berhenti. Dennis ingin terus berjalan dalam berkat anugerah Allah, tetapi jika hal itu mengakibatkan ia harus berbuat sesuatu untuk Max, ia tidak sudi.
Namun Firman Tuhan terus menerangi seluruh sudut hatinya yang masih gelap. Akhirnya ia menyerahkan kebenciannya kepada Allah dan ia pun minta ampun atas kebenciannya terhadap Max. Ia minta Allah melepaskan kebencian tersebut. Tuhan pun berbicara dalam hatinya untuk pergi mencari Max dan meminta ampun kepadanya. Segera ia pun tawar-menawar dengan Tuhan. Ia akan dianggap bodoh oleh Max karena yang berdosa adalah Max, bukan dia. Namun segera terlihat dalam benaknya, “Karena sekalian manusia telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah.” Ia pun segera sadar atas dosa dan kebencian serta pandangannya terhadap perbuatan Max. Hanya mujizatlah yang membuat Dennis melakukan perintah Allah yang kelihatannya tidak mungkin itu. Dengan kekuatannya sendiri tak mungkin hal itu ia lakuan. Ia pun berdoa meminta kepada Allah agar menaruhkan kasihNya dalam dirinya agar ia mampu mengasihi Max dan melepaskan kebenciannya terhadap Max.
Max sendiri telah pindah ke bagian lain kota Massachusetts. Max tetap berprofesi sebagai pengacara. Sudah dua kali Dennis pergi ke kantor Max, namun ia tidak memiliki keberanian bertemu Max untuk meminta pengampunan. Ketigakalinya, ia berdiri tegak dengan iman seusai doa yang meminta kasih agape. Ia pun memasuki lift menuju kantor Max. Ia dipersilahkan duduk oleh sekretaris Max. Ia menunggu selama 15 menit dan itulah waktu terpanjang dalam hidupnya dalam menunggu seseorang. Setelah klien Max pulang, Dennis langsung menuju ruangan Max. Saat mata mereka bertemu pandang, keduanya terpaku diam. Mulut Max ternganga karena terkejut, namun akhirnya ia berseru, “Dennis, apakah yang sedang kaulakukan di sini?” Dennis pun menjawab,”Max, saya membencimu bertahun-tahun ini karena perbuatanmu terhadap ayah saya dengan pencurian uang yang telah kaulakukan. Sebenarnya, saya ingin sekali membunuhmu karena hal itu.”
“Dennis engkau baik sekali terhadap saya. Engkau sebenarnya dapat memenjarakan saya.” Sahut Max. “Tuhan menaruh kasihNya dalam hati saya untukmu, Max. Dan Saya datang ke mari pada hari ini untuk memohon agar mengampuni saya yang telah membencimu selama bertahun-tahun.” Wajah Max memerah dan air mata membanjiri matanya. “Tidak Dennis” katanya terputus-putus, “bukan saya yang harus mengampuni engkau, melainkan justru sayalah yang seharusnya engkau ampuni.” Air mata mengalir turun dari wajah keduanya ketika mereka saling memaafkan dengan diliputi oleh kasih Alah. Sejak itu, kesembuhan dan berkat melimpah dalam kehidupan Dennis. Ia merasa ringan dan bebas karena kasih agape Allah mengambilalih kelemahannya, mengajarkan pengampunan yang telah ditunjukkan Yesus di kayu salib.

Disusun ulang OPH dari Buku
Mujizat Kasih Agape, Memulihkan Hubungan yang Retak
oleh Joseph F. Manning

KASIH AGAPE MENGATASI KEBENCIAN


Pendahuluan
Sebagai seorang pemuda ambisius dan materialistis, Tony berhasil mewujudkan mimpinya dalam hal duniawi pada usia tigapuluhan. Setelah gonta-ganti pekerjaan sebanyak delapan kali dalam sepuluh tahun, ia terus menapaki penghasilan yang semakin menggiurkan. Buahnya terlihat dari rumah mewah di pinggiran kota New York yang diperlengkapi dengan berbagai perabot dan karpet yang mahal sehingga rumahnya bak ruang pamer. Ia dikarunia seorang istri (Carla) yang memiliki cita rasa tinggi yang dapat membuat keserasian perabot rumahnya sehingga terlihat wah dan menjadi dambaan para dekorator dan yang juga memiliki seabreg pakaian mahal serta dua orang anak yang terawat baik. Sungguh keluarga yang ideal.Kesuksesan materi menimbulkan keangkuhan pasangan keturunan Itali ini. Mereka merasa semua kebutuhan sudah terpenuhi dengan upaya mereka sendiri. Urusan rohani mereka abaikan. Mereka tidak pernah ke gereja. Ajakan untuk mengikuti persekutuan doa ditampik oleh Tony yang alergi terhadap hal-hal yang berbau rohani.
Tony yang dulunya hidup dalam keluarga besar memiliki seorang kakak perempuan bernama Anna yang telah menikah dengan John. Suatu kali saat mengadakan pesta barbecue di rumahnya, Tony diajak oleh kakak iparnya (John) untuk terjun ke bisnis baru di bidang pengangkutan dengan truk. Memandang hubungannya yang sangat akrab sejak kecil dengan kakaknya, ia pun segera tertarik akan tawaran tersebut. Setelah berhasil diyakinkan John akan prospek bisnis tersebut yang menjanjikan hasil yang jauh lebih tinggi dari penghasilannya kini, akhirnya Tony memutuskan untuk bergabung dengan kakak iparnya mengurus bisnis ini. Ia pun berhenti dari pekerjaan yang ke sembilan!
Dengan kepiawaiannya, Tony berhasil memajukan perusahaan yang baru didirikan. Terbukti penghasilan yang diperolehnya memang lebih besar dari tempat kerja terakhir yang ditinggalkan. Anna sangat bangga dan memuji adiknya ini dan berkata bahwa ia sangat mengasihinya dan tidak ada sesuatu pun yang dapat mengubahnya. Mereka pun merayakan keberhasilan yang sudah dicapai.

Awal Mula Kebencian

Suatu kali saat hujan lebat turun, John dan Tony sedang mengurus pengiriman kotak-kotak besar ke bagian pengiriman sebuah pabrik. Tanpa disadari saat berada di atas truk , Tony kehilangan pijakannya dan terperosok jatuh ke jalan yang basah. Segera ia dilarikan ambulans ke rumah sakit terdekat. Para dokter yang menangani segera mengoperasinya karena tulang belakangnya patah dan hampir seluruh urat syaraf tulang belakangnya cidera parah. Sembilan bulan dihabiskan Tony di rumah sakit untuk memulihkan cideranya. Perawatan dan pengobatan yang dibutuhkan menelan sangat banyak dana. Tony sangat berharap seluruh pengeluaran tersebut diganti oleh perusahaan pengangkutan, karena tagihnannya segera harus dibayar. Namun John dan Anna menolak menggantinya karena menurut mereka bila hal itu dilakukan akan membahayakan posisi keuangan perusahaan padahal Tony yakin bahwa perusahaantersebut mampu.
Tony sangat terpukul dengan penolakan ini. Ia tidak menduga kakak dan suaminya akan melakukannya. Hatinya sangat sakit. Ibarat pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga. Saat kemalangan menimpa diikuti oleh kemalangan lainnya. Akhirnya, Tony dan Carla istrinya berjuang mati-matian membayar tagihan rumah sakit setelah Tony memutuskan untuk meninggalkan perusahaan pengangkutan tersebut. Luka batin yang diderita Tony sangat mendalam terhadap keluarga kakaknya. Ia menolak semua hubungan dengan mereka. Juga Carla tidak mengerti mengapa Anna dan John begitu jahat.

Membangun Kembali Puing-Puing

Harta benda mewah yang telah mereka nikmati bertahun-tahun telah hilang. Tony dan Carla harus berjuang bahkan sekedar untuk memenuhi kebutuhan pokok. Mereka berdua bekerja banting tulang untuk melunasi hutanghutangnya. Kehidupan nyaman sebelumnya sirna sudah. Mereka berdua sangat lelah yang akhirnya dengan cepat menjadi bahan bakar yang menyulut pertengkaran. Kedua anaknya yang dulu sering diajak makan di luar, sekarang tidak lagi mendapat perhatian. Bangunan yang ditinggali tidak lagi menjadi rumah tempat bernaung yang sebenarnya.
Ketegangan yang terus memuncak di antara sepasang suami istri berakibat Carla menderita migrain yang semakin lama semakin berat. Dengan berlalunya waktu, penghasilan yang mereka terima bertambah besar sehingga kehidupan mereka membaik. Namun tembok pemisah hubungan antara keluarga Tony dan Anna tidak dapat dihancurkan. Tidak boleh ada nama “Anna “ di rumah Tony-Carla. Bahkan kebencian ini mempengaruhi hubungan suami istri juga. Rumah mereka seakan-akan menjadi rumah mati tanpa adanya kehangatan hubungan keluarga.
RancanganKu Bukanlah Rancanganmu Saudara sepupu Tony, Michael yang dulu pernah mengundang Tony untuk menghadiri persekutuan doa dan ditolak, kembali datang mengundang mereka menghadiri persekutuan doa. Michael yang penuh semangat (optimis) dan sukacita, menggugah Tony-Carla untuk mengcari tahu penyebabnya. Ditambah sedikit rayuan Michael akhirnya mereka datang memenuhi undangan tersebut. Di tengah kemalangan dan kesedihan, mereka akhirnya mengundang Yesus masuk ke dalam hati mereka dan mengambil alih hidup mereka karena mereka sadar bahwa Tuhan sanggup mengubah kemurungan menjadi sukacita. Malam itu mereka menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat mereka. Secara rutin mereka akhirnya mengikuti persekutuan. Hati yang telah diubahkan membuat mereka rindu untuk merubuhkan tembok pemisah mereka dengan Anna-John. Akhirnya Pdt Joeseph F. Manning mengajari mereka tentang kasih Ilahi (agape) untuk memulihkan dan memperbaiki kehancuran hubungan dan menyembuhkan hati yang terluka. Dengan berlutut di hadapan Tuhan, Tony meminta dan menerima pengampunan bagi hubungannya dengan Anna-John . Ia pun meminta agar Tuhan memenuhinya dengan kasih agapeNya bagi Anna yang tidak pernahdijumpainya selama dua tahun.

Rubuhnya Tembok Pemisah
Tak lama berselang, anak perempuan Anna-John masuk rumah sakit karena bisul yang berdarah. Tony bertekad datang untuk memulihkan hubungannya dengan Anna. Saat ia memasuki kamar perawatan di rumah sakit, Anna tertegun dan kemudian bertanya, “Mengapa kamu datang kemari? Apakah karena anakku ini?” “Karena Yesus” jawab Tony dengan tersenyum malu-malu. “Dan karena aku mengasihimu, Anna...” Akhirnya hubungan persaudaraan pun dipulihkan dan kedua keluarga disatukan kembali setelah berpisah selama dua tahun. Saat Tony-Carla dipenuhi dengan kasih Yesus , rumah mereka pun memancarkan kepenuhan Roh Kudus dan akhirnya rumah mereka dikhususkan bagi pekerjaan Tuhan. Tidak peduli betapa pun dalamnya jurang pemisah atau betapa pun tingginya dinding pemisah itu, kasih Allah yang sempurna tidak pernah gagal!

Kesimpulan
Agape (dilafalkan : a gap pa) berarti kasih ilahi, kasih Allah yang luar biasa terhadap umat manusia. Hal ini bisa dilihat pada Yohanes 3:16 :
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga dikaruniakanNya AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.
Agape adalah kasih yang diberikan Allah, di mana Tuhan memerintahkan kita untuk mengasihiNya kembali dan juga mengasihi sesama kita; kasih di mana tak seorang pun dapat memilikinya dengan kekuatan dan usahanya sendiri. Agape bukan mengalir dari manusia; melainkan pada kenyataannya asing bagi manusia. Kasih agape mengalir dari hati Allah, melalui kita, kepada sesama kita ketika kita menyediakan diri sebagai saluran-saluran.
Agape adalah kasih Allah kepada kita dan kasih Allah di dalam kita. Agape adalah kasih yang menanggung segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu dan menahan segala sesuatu.
Dengan adanya kasih agape Allah dalam setiap situasi, terjadilah mujizat. Kasih agape Allah berhasil ketika kasih kita gagal!

Disusun ulang oleh OPH dari Buku
Mujizat Kasih Agape , Memulihkan Hubungan yang Retak
oleh Joseph F. Manning