Yesus Gembala yang Baik.

Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Juli 2016

Susah Itu Ada Gunanya


Dalam buku Who Put My Life on Fast-Forward, penulisnya. Phil Callaway bercerita tentang pengalaman seorang temannya, Doug Nichols.
                Setelah Nichols menjalani operasi kanker usus pada bulan April 1993,dokter dengan sedih berkata kepadanya : “Maafkah saya , Doug, engkau hanya mempunyai 30 persen peluang untuk kembali pulih.”
                “Maksud dokter, saya punya 70 persen peluang untuk meninggal?” tanya Doug sambil tersenyum.
                “Saya tidak berkata begitu,” kata dokternya sambil keheranan dengan sikapnya, “ teatpi perkiraan terbaik saya adalah Anda paling banyak hanya punya waktu 3 bulan lagi untuk hidup.”
                Nichols menjawab, “Yah, apapun yang terjadi saya punya 100% peluang untuk masuk surga.”
                Ternyata 3 bulan kemudian Doug tidak mati, hanya radiasi dan kemoterapi membuatnya sangat menderita kesakitan.
                Suatu malam dalam berita TV, ia dan isterinya mendengar pemberitaan tentang perang saudara di Rwanda. Di sana terjadi pembantaian yang sukar untuk dapat dipercaya. Karena selain jumlah orang yang dibantai sangat besar – lebih dari 1 juta orang – juga karena pembantaian itu kebanyakan dilakukan oleh para tetangga dan sahabat-sahabat mereka sendiri. Ribuan penduduk Rwanda melarikan diri menyeberangi perbatasan menuju Zaire dan tinggal bergerombol di kamp-kamp pengungsi yang kotor dan sangat minim sarana. Penyakit seperti kolera berjangkit dengan cepat. Dimana-mana korban berjatuhan, dalam waktu hanya 3 hari saja sudah 50.000 jiwa meninggal dunia. Mendengar semua itu hari Doug dan isterinya , Margareth, merasa hancur. Tetapi apa daya mereka?
                Ternyata kemudian mereka memutuskan untuk pergi bersama dengan tim dokter dan perawat berangkat ke Rwanda. Di sana Doug berkenalan dengan seorang pemimpin Kristen Rwanda. Orang itu mempekerjakan 300 orang pengungsi sebagai pemikul usungan untuk mengangkut orang yang sakit – sehingga dokter dapat memberikan pertolongan – ataupun untuk mengubur mereka yang meninggal setiap harinya.
                Suatu hari pemimpin itu mendekati Doug dengan wajah cemas, “Tuan Nichols kita menghadapi masalah. Para pemikul usungan dengan marah meminta uang tambahan upah mereka. Mereka mengancam akan mogok kerja jika tuntutan mereka tidak dipenuhi. Sementara uang telah habis. Dan jika mereka tidak bekerja, korban yang meninggal dunia akan menjadi berlipat ganda.”
                Doug meminta agar diperbolehkan berbicara langsung kepada para pengusung itu. Sambil berjalan menuju sebuah tempat bekas gedung sekolah tua yang telah habis terbakar. Doug berpikir apa yang akan ia katakan untuk meredakan kemarahan orang itu dan membuat mereka mau kembali bekerja walau tanpa upah tambahan.
                Inilah kata-kata yang Doug sampaikan kepada para pengusung yang berjumlah sekitar 300 orang itu. “Saya tidak mungkin dapat memahami penderitaan yang kalian alami, dan sekarang menyaksikan isteri dan anak-anak kalian meninggal akibat kolera; saya juga tidak akan pernah dapat memahami seperti apa itu rasanya. Mungkin kalian menginginkan lebih banyak uang untuk membeli makanan, air, serta obat-obatan bagi keluarga kalian; saya juga belum pernah berada dalam posisi seperti itu. Tidak ada kejadian tragis yang pernah terjadi dalam kehidupan saya yang setera dengan apa yang telah kalian derita. Satu-satunya yang pernah menimpa saya adalah bahwa saya mengidap kanker...” Ketika Doug akan melanjutkan kata-katanya, penterjemahnya berhenti dan berpaling kepada Doug dan bertanya kepadanya. Terjadilah dialog seperti ini :
                “Maaf Anda bilang Anda mengidap kanker?” “Ya.”
                “Dan Anda datang ke sini? Apa dokter Anda mengatakan Anda boleh datang ke sini?”
                “Ia mengatakan pada saya bahwa jika saya pergi ke Afrika, saya mungkin akan mati dalam waktu 3 hari.”                 “Dokter anda mengatakan itu dan anda masih tetap datang juga? Untuk apa? Dan bagaimana jika anda meninggal?”
                “Saya ada di sini karena Tuhan menyuruh kami datang dan melakukan sesuatu untuk orang-orang di dalam namaNya. Saya bukan pahlawan. Jika saya mati, kuburkan saja saya di lapangan di mana kalian menguburkan orang mati lainnya.”
                Penterjemah itu mulai menangis. Lalu dengan air mata masih mengalir di wajahnya ia berpaling kepada para pengusung dan mulai berpidato, “Pria ini mengidap kanker. Ia datang kemari dan rela mati demi rakyat kita. Sementara itu kita mogok kerja hanya demi mendapat sedikit uang tambahan? Kita seharusnya malu.”
                Tiba-tiba semua orang mulai berlutut dan menangis. Seorang pria merangkak menghampiri Doug dan memeluknya. Tanpa banyak bicara, mereka satu per satu kembali bekerja tanpa bersuara. Dengan kembalinya mereka bekerja, ribuan nyawa terselamatkan dan banyak yang mendengar tentang Yesus Kristus.
                Belakangan ketika penterjemah itu menceritakan kembali semuanya, Doug berpikir dalam hati. “Apa yang kulakukan? Tidak ada. Bukan kemampuanku untuk merawat orang sakit, bukan keahlianku mengorganisir. Yang aku lakukan hanyalah mengidap kanker. Tetapi Allah memakai kelemahan itu untuk menggerakan hati orang-orang.”

Jumat, 10 Juni 2016

Nak... Mainkan Terus


Drs. Timotius Adi Tan
Dari Buku : Secangkir Sup Bagi Jiwa Anda

Di suatu kota digelar konser piano yang dimainkan oleh seorang pianis yang sangat termasyur dari Jerman. Beribu-ibu orang sudah memadati gedung pertunjukan menunggu acara segera dimulai. Tiba-tiba seorang anak kecil kira-kira berusia 5 tahun naik ke atas panggung pertunjukkan dan kemudian duduk di kursi buat si pianis dan mulai mencoba-coba memencet tuts piano dengan lagu anak-anak.

Penonton di gedung itu mulai riuholeh terikan marah dari penonton. Bahkan ada yang mulai melemparkan batu, sandal, dan lain-lain ke arah panggung, sambil berteriak, “Turun... turun....!:
Melihat hal ini si anak kecil mukanya menjadi pucat ketakutan dan hampir menangis, tetapi pada saat demikian tiba-tiba ia merasakan ada kedua tangan besar yang memegang belakang bahunya dengan lembut sambil berkata,”Nak! Jangan takut, mainkan saja terus sampai selesai, aku ada bersamamu,” kata si pianis memberi semangat.

Si anak mulai tenang dan terus memainkan lagu kesukaannya. Tak lama kemudian suasana mulai tenang dan penonton satu demi satu mulai berdiri dan bertepuk tangan memberi hormat.

1 Korintus 15:58  Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.

Standing Ovation


Drs. Timotius Adi Tan

Dari Buku : Secangkir Sup Bagi Jiwa Anda

Juni 1989, di Paris ada Turnamen Tenis Grand Slam Perancis terbuka, terjadi suatu pertandingan yang luar biasa. Peternis nomor satu Ivan Lendl (Cekoslowakia) berhadapan dengan petenis Amerika Serikat keturunan Tionghoa Michael Chang pada enam belas besar.
            Di atas kertas, Lendl yang sudah tiga kali juara di tempat itu apalagi menduduki unggulan pertama, akan dengan mudah mengalahkan Chang. Untuk sementara, itulah yang terjadi. Di dua set awal Lendl dengan mudah menang 6-4,6-4.
            Drama dimulai di sini. Chang mengawali set kelima praktis hanya dengan satu kaki karena kaki kanannya sudah kram penuh. Keringat bercucuran di wajah Chang yang walau tampak menderita menahan sakit, tetapi pantang menyerah.
            Pada saat itulah, para penggemar tenis terpukau melihat Chang menjungkalkan Lendl dalam waktu 4 jam 30 menit dengan satu kaki! Begitu pukulan silangnya idak dapat dikembalikan Lendl, Chang langsung terjatuh dan menangis tersedu-sedu. Walau dibopong untuk meninggalkan lapangan pertandingan karena sudah tidak bisa berdiri lagi, Chang mendapat penghormatan tertinggi dari penonton dengan penghormatan berdiri sambil bertepuk tangan meriah (standing ovation). Bahkan, Jose Higueras, mantan petenis yang sekarang melatih petenis nomor satu dunia Jim Courier, mengatakan bahwa pertandingan Chang – Lendl aalah salah satu pertandingan tennis putra terbaik dalam sejarah!
            Ketika Stefanus bersaksi pada orang-orang Israel, ia ditangkap dan dibawa ke luar kota. Di sana ia dirajam dengan batu. Menjelang kematiannya ia berdoa untuk orang yang menyiksa dia, “Tuhan janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” Ia menengadah ke atas dan melihat Yesus berdiri memberikan penghormatan standing ovation kepada Stefanus!
            Tuhan Yesus yang menciptakan dunia dan yang berkuasa di bumi dan di sorga memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada Stefanus, karena ia yan berkenan kepada Allah, penyerahan mutlak, setia sampai mati untuk Yesus (Kis 7:55).
            Dr. Billy Graham pernah menulis dalam sebuah buletin :
            To receive Christ costs nothing
            To follow Christ costs something
            To serve Christ costs everything
(Untuk menerima Kristus kita tidak perlu membayar apa pun, untuk mengikut Kristus dituntut sesuatu, untuk menlayani Kristus harus menyerahkan segalanya)

Kisah Para Rasul 7:55  Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah.

Selasa, 07 Juni 2016

Kisah Michael Berawal Saat Berumur Enam Tahun


Oleh : Charlotte Elmore
Dalam Buku : Kisah Kasih Allah

Dengan putus asa, saya bertanya apakah Michael dapat dites ulang. Ia menggeleng dan berkata “tidak”. Dalam upaya menunjukkan betapa “normalnya” Michael sesungguhnya, saya mula menceritakan apa saja yang dapat dilakukan Michael. Namun ia tidak menanggapi ucapan saya, berdiri, dan meninggalkan saya. “Michael akan baik-baik saja,” katanya.
            Malam itu, setelah Michael dan Linda, adik perempuannya yang berusia tiga tahun, tidur, saya berbicara sambil terisak kepada Frank tentang apa yang terjadi hari itu. Setelah membahasnya, kami setuju bahwa kami lebih mengenal anak kami daripada tes IQ itu. Kami memutuskan bahwa nilai tes Michael yang rendah pasti keliru.
            Seperti saya, Frank tak percaya bahwa anak kami “lemah mental”. Ia malah menceritakan hal-hal yang baru saja dilakukan Michael, yang membuktikan bahwa Michael pandai...  Ia berkata bahwa suatu malam Michael menunjukkan minta terhadap sketsa cetak biru yang sedang dikerjakannya , maka ia mencari mainan blok-blok berbentuk ganjil milik Michael dan dengan cepat membuat gambar dua dimensi dari blok-blok itu. Frank kemudian meminta Michael mencocokkan mainan tersebut dengan gambar yang sesuai. Frank berkata bahwa ia senang melihat betapa mudahnya Michael membuat sesuatu dengan pedoman diagram yang menyertai mainan itu.
            Ketika kami pindah ke Fort Wayne, Indiana pada tahun 1962, Michael masuk ke SMU Concordia Lutheran. Sekolah itu mengadakan seleksi persiapan masuk, termasuk biologi, bahasa Latin, dan aljabar – beberapa mata pelajaran yang menurut psikolog, tak akan pernah dikuasainya. Namun, biologi segera menjadi pelajaran kesukaannya. Dan ia mulai berkata kepada setiap orang bahwa ia ingin menjadi dokter.
            Michael masuk Universitas Indiana di Bloomington tahun 1965 sebagai calon mahasiswa kedokteran. Pada pertengahan tahun, indeks prestasi kumulatifnya 3,47. Ia masuk dalam daftar murid terbaik, dan pembimbing akademiknya memberi izin khusus untuk mengambil mata kuliah tambahan. Nilainya pun memenuhi syarat untuk diterima di Universitas Kedokteran di Indianapolis pada akhir tahun pertama pendidikan pendahuluan itu.
            Selama tahun pertama sekolah kedokteran, Michael ikut tes IQ lagi, dan skornya 126 , naik 36 poin. Kenaikan seperti itu merupakan sesuatu yang tidak mungkin.
            Pada 12 Mei 1972, Frank, Linda, dan saya menghadiri upacara wisudanya dan memeluk Dr. Mike kami! Setelah upacara kami bercerita kepada Michael dan Linda tentang IQ-nya yang rendah saat 6 tahun, yanga membuat kami sedikit khawatir. Lalu Michael memandang saya dan sambil menyeringai berkata,”Ayah dan Ibu sama sekali tak pernah mengatakan bahwa saya tidak mungkin menjadi dokter, itu sebabnya saya lulus menjadi dokter!” Begitulah ia mensyukuri iman dan keyakinan kami.
            Ya, anak-anak hidup dengan apa yang diharapkan orang tua – katakan kepada seorang anak ia “bodoh”, maka ia akan benar-benar menjadi bodoh. Kami sering berpikir apa jadinya jika kami tetap memperlakukan Michael sebagai seorang “terbelakang mental” dan membatasi impiannya.


Sabtu, 04 Juni 2016

Tiga Surat dari Teddy


Oleh : Elizabeth Silance Ballard
Dari Buku : Kisah Kasih Allah

Surat Teddy datang hari ini. Setelah membacanya, saya akan menyimpannya dalam laci lemari kayu beserta barang-barang lain yang penting bagi hidup saya.
            “Saya ingin Ibu yang pertama kali tahu.”
            Saya tersenyum membaca kata-kata pertama yang ditulisnya dan hati saya melambung oleh kebanggaan yang sepertinya tidak layak saya terima. Saya sudah tidak pernah bertemu dengan Teddy Stallard sejak ia masih duduk di kelas lima, lima belas tahun lalu. Saat itu adalah awal karier saya, dan saya sudah mengajar selama dua tahun.
            Sejak hari pertama masuk kelas, saya tak suka pada Teddy. Para guru (meski setiap orang berbeda) tidak dianjurkan memiliki perasaan tertentu di kelas, terutama tidak boleh menunjukkan rasa tak suka pada anak, siapa pun itu.
            Namun setiap tahun ada saja satu atau dua anak yang menjadi kesayangan, karena para guru juga manusia, dan wajar bila kita cenderung menyukai orang yang cerdas, cantik, cakap, pintar. Kadang-kadang – tidak terlalu sering memang- akan selalu ada satu-dua anak yang tidak disukai guru.
            Tadinya saya pikir akan mampu mengatasi perasaan itu, sampai Teddy masuk dalam hidup saya. Saya tidak menganakemaskan seorang murid pun pada tahun itu, tetapi yang pasti Teddy adalah murid yang tidak saya sukai.
            Ia kotor. Bukan hanya sesekali, tetapi selalu kotor. Rambutnya panjang menutupi telinga, sampai ia harus memegangi atau mengikatnya saat menulis di kelas. (Hal ini terjadi sebelum model rambut seperti itu menjadi tren di kalangan anak muda!) Ditambah lagi, ia punya bau badan yang khas.
            Ia punya banyak kelemahan fisik, dan kecerdasannya pun jauh dari harapan. Sebelum akhir minggu pertama, saya sudah tahu bahwa ia jauh tertinggal dibandingkan murid lain. Masih pula ia lambat mengejar ketinggalannya! Sebab itu, say amulai menjaga jarak dengannya.
            Setiap guru pasti akan mengatakan bahwa lebih menyenangkan mengajar anak cerdas. Tentu saja, karena itu lebih memuaskan ego seseorang. Namun, setiap guru yang baik harus tetap memperhatikan anak cerdas itu , agar terus tertantang dan belajar, sementara pada saat yang sama si guru juga mengerahkan upayanya untuk membantu anak yang lebih lambat. Setiap guru dapat melakukan hal itu. Sebagian besar guru melakukannya, tetapi saya tidak, tidak untuk tahun itu.
            Kenyataannya, saya memusatkan perhatian pada para murid terbarik dan membiarkan mereka mengerjakan hal terbaik yang mampu mereka lakukan. Dengan agak malu untuk mengakui, saya merasa sedikit senang saat menggunakan pulpen merah saya. Apalagi setiap kali memeriksa pekerjaan Teddy, tanda silang (yang banyak jumlahnya) selalu saya buat lebih besar dan lebih merah daripada yang seharusnya.
            “Pekerjaan yang buruk!” tulis saya dengan mantap.
            Meski saya tidak mencemooh anak itu secara langsung, tetapi sikap saya menunjukkannya dengan jelas, karena dengan cepat ia menjadi orang “kelas kambing” di kelas itu, orang yang disingkirkan : tidak menarik dan tidak pantas dikasihi.
            Ia tahu saya tak menyukainya, tapi ia tidak tahu sebabnya. Demikian pula saya. Sesungguhnya, baik dulu maupun sekarang, saya tidak tahu mengapa saya tidak menyukainya. Yang saya tahu, ia adalah anak kecil yang tidak dipedulikan oleh siapa pun, dan saya tak melakukan apa-apa untuk membantunya.
            Hari terus bergulir. Kami melewati Pesta Musim Gugur, liburan hari Pengucapan Syukur, dan saya masih terus menorehkan tanda merah dengan pulpen saya.
            Saat liburan Natal semakin dekat, saya tahu bahwa Teddy tidak akan ernah naik ke kelas enam.
            Untuk membenarkan diri sendiri, saya terus memandangi nilai-nilainya. Ia mendapat nilai yang rendah selama empat tahun pertama belajar, tetapi ia tak pernah tidak naik kelas. Bagaimana itu bisa terjadi, saya tak tahu. Sampai akhirnya saya melihat sebuah catatan khusus di rapornya.
            Kelas satu : Teddy berjanji untuk memperbaiki prestasi dan sikapnya. Ia menghadapi situasi keluarga yang menyedihkan. Kelas dua : Teddy dapat melakukan yang lebih baik. Ibunya sakit parah. Ia hanya mendapat sedikit perhatian di rumah. Kelas tiga : Teddy adalah anak yang menyenangkan. Ibunya meninggal pada akhir tahun. Kelas empat : sangat lambat, tetapi berkelakuan baik. Ayahnya tak punya perhatian.
            Ya, para guru telah meluluskannya empat kali, tetapi ia pasti mengulang kelas lima ini! Ini demi kebaikannya! Saya berkata kepada diri sendiri.
            Dan, tibalah hari terakhir sebelum libur. Pohon kecil kami yang ada di atas meja baca dihiasi dengan kertas dan rantai pop-corn. Banyak hadiah di bawahnya, menanti saat istimewa itu.
            Para guru selalu mendapat hadiah saat Natal, tetapi hadiah saya tahun itu tampaknya lebih besar dan lebih bermacam-macam daripada sebelumnya. Tak ada murid yang tidak membawa hadiah. Setiap hadiah yang dibuka menimbulkan jeritan kesukaan, dan pemberinya akan menerima ucapan terima kasih yang berlebihan.
            Hadiah Teddy bukan yang terakhir saya ambil; karena ada di tengah tumpukan. Dibungkus kertas cokelat, dan direkatkan dengan plester. Lalu ia menggambar pohon Natal dan lonceng merah di depannya.
            “Buat Bu Thompson , dari Teddy.” Demikianlah pesannya.
            Kelas benar-benar hening. Dan, untuk pertama kalinya saya merasa menjadi pusat perhatian. Saya malu karena mereka semua berdiri menatap saya membuka hadiah itu.
            Saat saya melepaskan plester terakhir, dua benda jatuh ke meja: sebuah gelang dengan beberapa batu permata yang hilang dan sebotol kecil minyak wangi yang isinya tinggal setengah.
            Saya mendengar suara tertawa dan bisik-bisik, dan tiba-tiba saya memandang Teddy.
            “Bukankah ini sangat indah?” tanya saya sambil memasang gelang. “Teddy, kau bisa menolong Ibu mengencangkannya?”
            Ia tersipu malu saat mengikatkan gelang itu, dan saya mengangkat pergelangan tangan supaya mereka bisa mengaguminya.
            Beberapa anak merasa heran dan ragu, tetapi saat saya mengoleskan minyak wangi itu di belakang telinga saya, semua anak perempuan berbaris untuk mengoleskannya juga.
            Saya melanjutkan membuka hadiah hingga tumpukan paling bawah. Kemudian kami menikmati bekal makanan kami, sampai akhirnya bel berbunyi.
            Anak-anak pun bubar sambil berseru, “Sampai jumpa tahun depan!” dan “Selamat Natal!” Namun, Teddy tetap duduk di bangkunya.
            Ketika mereka semua sudah keluar, ia berjalan menghampiri saya, sambil mendekap hadiah dan buku-buku di dadanya.
            “Ibu harum seperti Mama,” katanya lembur. “Gelang Mama juga tampak cantik dipakai Ibu. Saya senang Ibu menyukainya.”
            Lalu ia segera keluar. Saya mengunci pintu, duduk di meja, dan menangis. Saya berketetapan untuk memperbaiki semua yang selama ini telah saya rampas dengan sengaja dari diri Teddy – menjadi seorang guru yang peduli.
            Saya meluangkan waktu setiap sore bersama Teddy, dari akhir libur Natal sehingga akhir masa sekolah. Terkadang saya membantunya belajar. Kadang ia bekerja sendiri sementara saya merencanakan pelajaran dan tugas-tugas mendatang.        
            Perlahan namun pasti, ia mengejar ketertinggalannya. Bahkan , nilai rata-rata akhirnya termasuk yang tertinggi di kelas. Dan meskipun saya tahu ia akan pindah kelak, saya tidak khawatir. Teddy telah menjadi pribadi yang sanggup bertahan menghadapi tahun-tahun yang akan datang, ke mana pun ia pergi. Ia telah menikmati satu langkah sukses, dan selanjutnya, seperti yang telah diajarkan di pelatihan guru: “Kesuksesan yang satu menciptakan kesuksesan berikutnya.”
            Saya tidak mendengar kabar dari Teddy hingga tujuh tahun kemudian, saat surat pertamanya muncul di kotak surat.

            Bu Thompson yang baik,
            Saya ingin Ibu yang pertama tahu, bahwa saya akan lulus sebagai peringkat kedua di kelas saya bulan depan.
            Salam kasih,
            Teddy Stallard

            Saya mengiriminya kartu ucapan selamat dan paket kecil berisi pulpen dan pensil. Saya bertanya-tanya apa yang akan dilakukannya setelah lulus nanti.
            Empat tahun kemudian, surat Teddy tiba.

            Bu Thompson yang baik,
            Saya ingin Ibu yang pertama kali tahu berita ini. Saya baru dapat informasi bahwa saya akan menjadi lululusan terbaik di kelas saya. Universitas    bukanlah hal yang mudah , tapi saya menyukainya.
            Salam hangat,
            Teddy Stallard.

            Saya mengiriminya sepasang manset perak murni bertatahkan huruf timbul dan selembar kartu, dengan kebanggaan yang dalam atas prestasinya! Dan sekarang, surat Teddy yang ketiga.

            Bu Thompson yang baik,
            Saya ingin Ibu yang pertama kali tahu. Saya sekarang adalah Theodore Stallard, MD. Cukup keren, kan?!
            Saya akan menikah pada tanggal 27 Juli. Saya ingin mengundang Ibu untuk datang dan duduk di tempat Mama – seandainya ia masih hidup. Saya sudah tak punya keluarga lagi karena Ayah sudah meninggal tahun lalu.
            Salam hangat,
            Teddy Stallard

            Saya tidak tahu hadiah apa yang pantas bagi seorang dokter yang baru lulus dari sekolah kedokteran. Namun, saya rasa kado masih bisa menanti, tetapi kartu ucapan selamat harus segera dikirimkan.

            Ted yang baik,
            Selamat! Kamu sudah berhasil, dan kamu melakukannya sendiri! Hari istimewa ini datang bukan karena saya dan bukan karena kita, tetapi karena usahamu yang keras.
            Tuhan memberkatimu. Saya akan hadir pada hari pernikahanmu, saat lonceng pernikahan berdentang!


            Elizabeth Silance Ballard.

Jumat, 10 April 2009

SANG PEMENANG - John William Smith


Pertandingan Sepakbola Anak-Anak

Sepakbola telah menjadi permainan yang sangat popular. Tidak saja disukai oleh pria, namun sekarang banyak perempuan yang menyukainya. Juga anak kecil. Suatu kali diadakan pertandingan sepabola anak-anak usia 5-6 tahun. Pertandingan ini diatur seperti sebenarnya dengan melibatkan wasit, seragam dan orangtua. Terdapat dua tim yang bertanding yakni tim A dan tim B.


Scotty Frustasi

Setelah imbang tanpa gol di babak pertama, pelatih Tim A menarik semua pemain andalnya dan hanya menyisakan pemain terbaiknya yang menjadi penjaga gawang. Sedangkan pelatih Tim B tetap mempertahankan para pemain terbaiknya. Dengan demikian, permainan menjadi tidak berimbang. Dengan segera penjaga gawang tim (Scotty) menjadi bulan-bulanan serangan Tim B. Scotty bermain luar biasa, namun sulit mengatasi serangan tiga atau empat pemain lawan sekaligus. Walau ia sudah berusaha sekuat tenaga dan melemparkan tubuhnya mencegat bola, segera saja gawangnya kebobolan. Dua gol sudah disarangkan ke gawangnya!Gol-gol yang menghujam membuatnya marah. Ia tidak rela gawangnya kebobolan. Ia berteriak-teriak, berlari-lari, melompat ke sana ke mari. Namun apa daya, sepakbola adalah permainan kelompok. Satu orang lawan dihadang, bola segera dioper ke pemain lainnya yang kemudian mencetak gol yang ketiga!Rupanya pertandingan ini disaksikan oleh kedua orang tua Scotty. Sang ayah sangat bersemangat memberikan dukungan buat anaknya terkasih. Tanpa melepas dasinya selepas kerja di kantor , ia dan istrinya segera berteriak-teriak menyemangati sang anak. Sang anak yang menyadari tak mungkin upayanya sendiri mencegah gol, awalnya tidak pantang menyerah namun segera ia menjadi putus asa. Ia merasa sangat gagal. Jim, sang ayah, menjadi gelisah. Dari pinggir lapangan, ia berteriak-teriak, ”Tidak apa-apa, tidak apa-apa!” Jim merasakan kesedihan anaknya.Setelah gol keempat, Scotty memungut bola dari gawangnya , memberikannya kepada wasit ---- dan kemudian ia menangis tanpa suara! Hanya air mata besar-besar menetes dari mata turun ke pipinya. Scotty berlutut dan menutup matanya, menangis karena putus asa dan sedih.


Papa Bangga!

Jim walau dilarang istrinya karena takut membuat Scotty malu, tetap memasuki lapangan. Ia tahu seharusnya tidak boleh melakukan hal itu karena pertandingan masih berlangsung. Dengan segala asesoris baju kantornya, ia berlari masuk ke lapangan. Kemudian ia angkat sang anak hingga semua orang tahu Scotty adalah anaknya. Dipeluknya sang anak dan iapun menangis bersamanya. Digendongnya Scotty menuju luar lapangan sambil berkata,”Scotty, papa bangga padamu. Kamu hebat sekali tadi. Saya ingin semua orang tahu kalau kamu adalah anakku.” Sambil menangis tersedu, sang anak menjawab,”Papa, saya tidak bisa menghentikan mereka. Saya sudah mencobanya, pa. Saya terus berusaha, namun mereka terus mencetak gol.””Scotty, tidak masalah seberapa banyak mereka mencetak gol, kamu tetaplah anak papa dan papa bangga padamu. Papa ingin kamu kembali ke lapangan dan menyelesaikan pertandingan. Walau papa tahu kamu ingin berhenti bermain, kamu tidak boleh berhenti sekarang. Nak, kamu akan dikalahkan lagi, tetapi tidak penting. Ayo, masuklah sekarang.” Kata-kata sang ayah membawa perubahan. Walau lawan mencetak dua gol lagi, itu tidak penting.


Renungan

Saat”dikalahkan” setiap kali, kita terus berusaha keras. Kita mungkin menggerutu dan marah. Godaan dan dosa terus menarik kedagingan kita dan membuat Setan tertawa. Saat Iblis mencetak ”angka kemenangan” , air mata kita menetes dan kita jatuh berlutut – merasa berdosa, terhukum dan tak berdaya. Kemudian Bapaku – Bapaku bergegas masuk lapangan dan di hadapan cemoohan dan ejekan semua orang, Ia mengangkat dan memeluk kita dan berkata, ”Aku sangat bangga padamu. Kau hebat sekali tadi. Aku ingin semua orang tahu kalau kamu adalah anakKu..”


Disusun ulang oleh OPHDari Buku

It’s your time to Shine

Kamis, 09 April 2009

PEMBENTUK IMPIAN - GUY RICE DOUD


Pengantar
Guy Doud adalah murid pria di kelas enam SD. Ia sedang mengalami putus asa dengan sekolah dan kehidupannya. Ia bukan salah satu murid terpandai di kelas, bahkan sangat bodoh dalam matematika. Karya seninya bahkan dicopot dari majalah dinding. Ia bernyanyi terlalu keras. Ia tidak pernah diminta teman-temannya untuk bergabung dalam tim kickball. Ia tidak pernah menjadi ketua kelas dan merasa yakin tak akan pernah menjadi salah satu anak terkenal. Bebeapa rekan sekelasnya mengejek ukuran tubuhnya. Ia percaya bahwa dirinya bodoh.

Guru Baru
Card adalah seorang guru baru di kelas enam. Ia satu-satunya guru pria bagi Doud. Doud mengamati bahwa Card terlalu muda menjadi seorang guru. Awalnya Goud khawatir saat Card menjadi gurunya karena ia beranggapan guru wanita lebih baik dari guru pria, padahal Goud membutuhkan simpati yang biasanya diperoleh dari guru wanita. Card sendiri baru lulus dari perguruan tinggi.
Namun sikapnya segera berubah. Saat Doud mencoba mengenalnya, Card menghampirinya dan mengeluarkan tangan sambil memperkenalkan namanya. Tak pernah ada guru yang melakukan hal ini sebelumnya. Card memang guru yang berbeda. Saat istirahat ia ikut bermain bersama murid-muridnya. Ia berlari berkeliling dan berteriak seperti murid-muridnya.

Football
Suatu kali Card memperkenalkan permainan sepakbola. Ia bermain bergantian di antara tim yang dibentuk. Saat ia bermain dalam tim Doud ia berkata,”Guy, aku ingin kau menerima lemparan bolaku. Larilah di sisi kiri. Menyeberanglah. Saat kau sampai di tengah, aku akan melempar bola kepadamu.” Doud menjadi percaya diri. Kalau sebelum perannya hanya sebagai penghadang, sekarang dia dipercaya sebagai penangkap bola. Doud pun dengan penuh semangat memainkan peranannya di tengah keterkejutan teman-temannya atas keputusan yang diambil Card. Doud tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Card dan iapun berhasil menangkap bola! Doud sangat bangga.
Selanjutnya Card juga mendatangi meja Doud dan memeriksa pekerjaannya. Lalu, ia meletakkan tangannya di bahu Doud. Walau terasa berat, Doud sepertinya menangkap pesan – aku menyukaimu, Guy. Kau pandai. Doud pun belajar keras untuknya, dan Card pun memuji usaha Doud untuk belajar. Sejak itu Doud sadar bahwa melakukan sesuatu sebaik-baiknya dan berusaha keras lebih penting daripada menjadi pintar dan karya seni yang terpajang di majalah dinding.

Penghargaan
Minggu terakhir di kelasnya, Card membagikan penghargaan. Upacaranya sangat meriah. Sepertinya setiap anak mendapat penghargaan. Bahkan Card memberikan penghargaan kepada anak yang naik bus paling jauh setiap hari! Akhirnya tertinggal dua penghargaan terakhir yang paling penting, karena diperuntukkan bagi murid laki-laki dan perempuan yang belajar paling giat.
Doud sudah menduga bahwa untuk perempuan kalau tidak Mary ya Linda yang akan menerimanya, sedangkan untuk yang pria , kalau tidak Sam ya Danny.. Kemudian Card pun mengumumkan penilaiannya. ”Penghargaan untuk murid laki-laki yang belajar paling giat di kelas enam diberikan kepada Guy Doud.”
Doud sekan tidak percaya. Akhirnya Card mendoronngnya, ”Guy, majulah dan ambil penghargaanmu” Doud pun maju dan selanjutnya ia mendapat hadiah. Ia satu-satunya murid di kelas yang memiliki meja dari baja. Di samping itu ia mendapat sertifikat yang berbunyi,”Murid laki-laki paling rajin di kelas enam asuhan Pak Card”. Walau tulisan itu tertulis di atas selembar kertas stensil sederhana, namun bagi Doud sertifikat itu jauh lebih berharga dari patung emas. Bahkan ibunya menempelkannya di pintu lemari es sampai Doud melepasnya sekitar tiga minggu sebelum ia masuk SMP.

Disusun ulang OPH dari Buku
Mengejar Pelangi
Alice Gray