Yesus Gembala yang Baik.

Tampilkan postingan dengan label Ketaatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ketaatan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 April 2009

MENGENALI SUARANYA


Para murid sekolah di Inggris dilarang menyalakan nada dering telepon genggam di kelas. Namun, mereka tidak habis akal. Mereka memasang ringtone yang disebut ”suara nyamuk”, yaitu nada dengan frekuensi tinggi yang tidak bisa didengar oleh telinga orang dewasa. Para guru pun tak bisa mendengar suaranya. Namun, para murid dapat mendengarnya, sehingga bisa berkirim SMS dengan leluasa. Rupanya setelah berusia 25 tahun ke atas, ada bulu-bulu halus di dalam telinga manusia yang menua atau rusak. Itu sebabnya telinga orang dewasa tak lagi dapat mendengar suara dengan frekuensi tinggi (di atas 16 KHz) seperti telinga anak-anak.Yesus menggambarkan diriNya sebagai gembala yang baik dan para murid adalah domba milikNya. Ada ikatan batin antara gembala dan domba. Gembala di Israel biasanya memberi nama tiap dombanya dan memanggil nama mereka dengan nada khas. Jika malam tiba, setelah semua domba masuk kandang, sang gembala tidur di pintu masuk. Ia menjadi pintu – tameng untuk melindungi domba dari serangan musuh. Kedekatan ini membuahkan kepekaan. Domba-domba mampu mengenali dan membedakan suara gembalanya. Jika gembala asing memanggil, mereka tak bereaksi.Di sekitar kita ada banyak suara. Kadang sulit membedakan mana suara yang benar dan mana yang sesat; mana kehendak Tuhan, mana bukan kehendak Tuhan. Untuk melatih kepekaan, kita perlu membangun persekutuan dengan Tuhan melalui disiplin doa dan firman. Kalau kita ingin terus mengenali suaraNya, jangan mengabaikan disiplin rohani ini.


Dipungut OPH dari

Warta GKKK Mabes 29 Maret 2009

Kamis, 09 April 2009

PANGGILAN DIRI


Henry III, seorang raja Jerman yang memerintah pada abad ke-11. Konon suatu hari ia merasa jemu serta tertekan dengan rutinitas pemerintahannya. Kemudian ia mengajukan suatu permohonan ke sebuah monastri untuk melewati suatu kontemplasi hidup. Pemimpin monastri itu bernama Prior Richard menyambut sang raja dengan berkata : “Paduka Yang Mulia, tahukan Anda bahwa sumpah kehidupan dalam monastri di sini adalah kepatuhan? Bagi saya, hal ini mungkin saja akan merupakan kendala yang sulit bagi seorang raja.” Raja Henry III menjawab : “Aku mengerti bahwa seumur hidupku aku harus mematuhi engkau, seperti Kristus telah memimpin engkau.” Kemudian Prior Richard menjawab, “Baiklah, saya ingin menyampaikan kepada Raja apa yang perlu Raja lakukan. Kembalilah ke takhta kerajaan Anda dan layanilah dengan setia di mana Allah telah menempatkan Anda.” Ketika raja Henry III meninggal, tertulis sebuah pernyataan : “Sang Raja telah belajar memerintah dengan segala kepatuhan.”
Seperti Raja Henry III, kita sangat sering menjadi jemu dengan tanggung jawab dan peran kita sebagai wanita, sebagai istri atau pengurus di Komisi Wanita, atau sebagai anggota majelis. Seperti Raja Henry III, kita juga perlu diingatkan bahwa Allah telah menempatkan setiap kita dengan tempat yang pas untuk menjadi setia, baik itu sebagai ibu rumah tanggi, ibu mertua, anggota majelis, maupun pengurus komisi wanita. Yang Allah tuntut dari kita hanyalah kepatuhan pada Allah serta kesetiaan penuh untuk menjalankan tanggung jawab kita.

Dipungut OPH dari buku
Berkenan di Hati Alah
Dr. Jenny Wongka

KEPATUHAN ADALAH JALAN YANG AMAN


Berikut adalah kisah yang terjadi atas diri seorang hamba Tuhan yang bernama Dr. Richard Forrest. Tatkala masih remaja, ia pernah menghadiri suatu upacara pemakaman seorang anak muda tetangganya. Setelah tiba kembali di rumahnya, neneknya berkata kepadanya,”Duduklah di sini cucuku, Nenek ingin menyampaikan sebuah kisah padamu.”
“Ada sepasang suami istri muda yang kepada mereka Allah titipkan seorang bayi laki-laki yang mungil. Mereka sangat mengasihi bayi ini. Sang ibu sangat mengasihi bayinya dan hampir mencapai taraf memujanya. Suatu hari sang bayi jatuh sakit, dan dokter dipanggil. Dokter berjuang semaksimal mungkin, namun suhu badan bayi semakin tinggi dan menjadi sangat kritis. Akhirnya dokter memanggil pasangan suami isteri ini dan berkata dengan lembut,”Saya pikir bahwa Allah ingin agar bayi ini kembali ke pangkuanNya.”
“Apa maksud Anda, Dokter?” ibu muda itu bertanya. “Apakah maksud Anda bahwa ia akan mati? Ia tidak boleh mati! Saya ingin dia hidup, saya mau bayi saya hidup!” Dokter mencoba untuk meyakinkan ibu muda itu dengan berkata, “Allah mempunyai kehendak indah dan tujuanNya atas setiap kehidupan kita, dan Dia jelas mengetahui apa yang terbaik untuk kita. Ibu harus patuh kepadaNya sekarang ini.”
“Dengan linangan air mata, sang ibu muda itu menatap sang dokter serta segera menggendong bayinya yang sudah sekarat itu dengan segala kelembutan. Kemudian sambil menggoncangkan bayinya ia berteriak dengan suara nyaring,”Tuhan, jangan mengambil bayiku, saya menginginkannya, jangan biarkan ia pergi padaMu!” Dengan sangat keras ia terus menggoncangkan bayinya.
“Dokter itu sendiri berkata kemudian bahwa ia tidak pernah tahu apa yang terjadi sesungguhnya di saat yang kritis itu – apakah karena goncangan keras sang ibu yang tiba-tiba saja membuat bayi itu mulai bernafas dengan normal dan sejak saat itu sang bayi mulai pulih dan bertumbuh sehat.”
Kemudian nenek itu meneruskan,”Bayi itu tumbuh hingga dewasa. Ia kemudian menjadi anak durhaka, berulang kali menyakiti ibunya, terlibat dalam pemakaian dan pengedaran narkoba, dan pada usia ke-21 tahun ia terlibat dalam perkelahian dan membunuh orang lain. Ia sudah divonis hukuman mati, Richard.” Dengan lembut sang nenek berkata lagi,”Pemakaman anak muda itulah yang kamu hadiri tadi.”

Dipungut OPH dari buku
Berkenan di Hati Alah
Dr. Jenny Wongka

Rabu, 08 April 2009

TUGAS SEORANG PRAJURIT


Penembak Meriam
Pada .tahun 1852 sampai 1870, Prancis diperintah oleh Napoleon III. Pada tahun-tahun terakhir pemerintahannya, meletus perang dahsyat antara Prancis dan Jerman. Banyak wilayah Prancis yangdirebut dan diduduki pasukan Jerman. Dalam keadaan mendesak itu, Prancis mengambil tindakan cepat, yaitumendaftar pemuda-pemudanya untuk dijadikan tentara sukarela.
MacMahon, komandan pasukan tempur bagian meriam menerima pendaftaran seorang sukarelawan cerdas dan rajin, Pierre namanya. Tanpa memakan waktu lama, Pierre sudah menjadi anggota pasukan inti pimpinan MacMahon. Pierre ternyata sangat pandai dalam menembakkan meriam. Tiap kali ia menembak, sasaran yang dituju pasti hancur berantakan. Ia dikenal sebagai spesialis menembak dengan meriam dan menjadi prajurit kesayangan Komandan MacMahon.
Suatu hari, pasukan Perancis mengadakan pengintaian ke daerah musuh. Komandan MacMahon yang selalu berada di dekat Pierre memberikan teropong. “Coba kau amati tempat di sebelah sana”, katanya seraya menunjuk ke suatu tempat di kejauhan. Pierre segera mengambil teropong itu dan melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. “Apa yang kaulihat?” tanya MacMahon selanjutnya. “Saya melihat sebuah rumah, Komandan!” Jawab Pierre. MacMahon melanjutkan : “Menurut keterangan yang kuperoleh , rumah itu dahulu milik orang Perancis, tetapi sekarang dijadikan markas tentara Jerman. Jadi, siapkan meriammu dan tembaklah rumah itu sampai hancur!”

Taat Pada Perintah
Biasanya, begitu mendengar perintah dari atasan, Pierre segera melaksanakannya dengan baik. Tetapi kali ini ia tertegun agak lama... bibirnya terkatup, seolah tak mampu mengeluarkan kata-kata. Untunglah segera ia dapat menguasai dirinya, lalu menyiapkan meriamnya dan tak lama kemudian terdengarlah letusan meriam berkali-kali dan rumah yang diteroponginya tadi hancur berkeping-keping. Komandan MacMahon memuji tembakan Pierrre itu. Melalui teropongnya ia melihat tidak ada satu tembakanpun yang meleset. Semua mengenai sasaran dengan baik, rumah itu sekarang sudah rata dengan tanah.
Maka meluncurlah kata-kata pujian dari MacMahon: “Pierre, engkau sungguh hebat. Engkau adalah prajuritku yang paling cakap.” Tetapi sang komandan terkejut karena ia melihat Pierre tertunduk di tanah sambil menangis tersedu-sedu. “Hai mengapa engkau menangis? Bukankah seharusnya engkau gembira sebab markas musuh sudah dapat kita hancurkan?” demikian tanya MacMahon dengan heran.
Masih dengan tersedu-sedu Pierre menjawab : “Komandan, tahukah engkau bahwa rumah yang saya tembak tadi adalah rumahku sendiri? Dengan susah payah saya menyisihkan gaji saya sebagai prajurit untuk membangun rumah itu, tetapi sekarang rumah itu telah rata dengan tanah karena tembakanku sendiri.” MacMahon sangat terkejut mendengar penjelasan itu, tetapi hal itu sekaligus membuat Pierre menjadi prajurit yang istimewa. Sebagai prajurit, ia tahu tugas utamanya ialah menanti perintah komandan. Maka, walau sangat berat karena ia harus menghancurkan rumahnya sendiri, perintah itu dilaksanakannya dengan baik. Sebagai penghargaan kepada Pierre, pangkatnya dinaikkan dan diberi medali kehormatan.

Renungan
Tuhan Yesus menegaskan bahwa ketaatan adalah unsur yang sangat penting dalam iman Kristen. Yohanes 14:21 berbunyi sebagai berikut : “Barangsiapa memegang perintahKu dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh BapaKu dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diriKu kepadanya.” Bukti bahwa kita mengasihi Tuhan ialah ketaatan. Orang Kristen akan memancarkan terangnya di dunia ini, tetapi tanpa ketaatan orang Kristen hanya akan menjadi cemohan saja.

Dipungut OPH dari Buku
Embun Surgawi
Pdt. Ishak Sugianto

KETAATAN - DR JENNY WONGKA


Richard Cecil, bocah yang taat
Seorang anak kecil, Richard Cecil, berusia 9 tahun, bersama ayahnya berjalan menuju ke luar kota. Tatkala sampai di perbatasan kota, sang ayah berkata , “Anakku, ayah memiliki banyak urusan di kota itu. Jangan ke mana-mana dan berdirilah di sini sambil menunggu ayah kembali.” Ayahnya pun segera memasuki kota. Namun akibat begitu banyak urusan di kota itu, sang ayah akhirnya lupa pada anaknya. Setelah kelelahan berjalan, ia menerima tawaran seorang teman untuk menumpang kereta kuda untuk pulang. Akhirnya ia tiba di rumah sekitar pk 21.00. Setelah mandi ia keluar sambil memanggil anaknya. “Richard! Kemarilah nak, ayah ingin bercerita tentang pengalaman ayah di kota itu!” Setelah tidak mendengar respons dari anaknya, sang ayah akhirnya sadar bahwa anaknya tidak berada di rumah, dan ia sadar di mana sang anak berada. Dengan mengabaikan rasa letih dan laparnya, ia segera bergegas menuju kembali ke luar kota, lalu menemukan anaknya sedang duduk tepat di mana ia berdiri sejak ditinggalkan ayahnya siang tadi!

Pemegang Janji
Yesus Kristus, Sang Kebenaran itu sendiri berbeda dengan sang ayah yang melupakan anaknya. Dia adalah Tuhan yang tidak pernah terlelap dan lalai. JanjiNya untuk memberikan kepuasan bagi kita apabila kita lapar dan haus akan kebenaran, bukanlah sebuah janji kosong. Tetapi kita harus bertanya kepada diri sendiri : apakah kita memiliki kerinduan atau terus-menerus merasa lapar dan haus akan kebenaranNya? Marilah kita mewujudkannya dengan tindakan nyata : melaluiNya. Konsekuensi logisnya, kita akan menjadi orang Kristen dan rohaniawan yang saleh di dalam iman, serta menjadi orang yang bahagia di dalam hidup ini. Yang lebih indah lagi, keberadaan kita akan dinikmati sesama sebagai pembawa berkat Allah.

Dipungut oleh OPH dari Buku
Kristus Mengubah Hina Menjadi Mulia
Dr. Jenny Wongka

Selasa, 07 April 2009

Pemuda yang Taat




Seorang pemuda baru lulus dari fakultas ekonomi. Ia berasal dari keluarga yang kurang mampu, sehingga ia sangat membutuhkan sebuah pekerjaan. Pemuda tersebut sudah berusaha melamar pekerjaan ke sana ke mari, tetapi belum juga mendapat pekerjaan yang diidam-idamkannya. Dalam keadaan risau, pada suatu siang ia mengendarai sepeda motornya melewati suatu kawasan perkantoran dan tanpa sengaja menabrak sebuah mobil yang sedang diparkir.
Pemuda ini sangat terkejut ketika melihat bahwa yang ia tabrak adalah mobil mewah Mercedez Benz. Ia melihat lampu belakang sebuah kanan dari mobil itu pecah. Pada saat itu di kawasan tersebut suasananya sepi, jika ia mau, ia dapat lari begitu saja tanpa ada orang yang tahu. Namun, pemuda ini adalah seorang Kristen yang tulus dan jujur hatinya dan ia mau menjadi orang yang bertanggungjawab.
Ia mencari petugas parkir di kawasan itu dan menanyakan mobil siapa yang ia tabrak tadi. Petugas parkir heran melihat kejujuran pemuda ini. Ia berkata bahwa mobil mewah ini pasti milik seorang bos yang berkantor di gedung dekat situ, tetapi petugas parkir itu juga tidak tahu persis di mana kantor pemilik mobil itu berada. Akhirnya pemuda ini bertekad menunggu saja di area parkir itu. Setelah dua jam menunggu, barulah bos pemilik mobil itu muncul. Pemilik mobil tersebut heran melihat kejujuran pemuda itu. Ia memberi kartu namanya dengan pesan untuk menemuinya esok hari pukul sebelas siang.
Pemuda ini pulang dengan hati sedih. Ia berpikir esok hari pasti bos itu sudah mengecek di toko suku cadang mobil berapa biaya yang harus ia bayar untuk mengganti lampu belakang yang pecah itu. Malam itu, ia berdoa dengan penuh kesungguhan dan menyerahkan masalah ini ke tangan Tuhan. Keesokan harinya, tepat pukul sebelas siang, pemuda ini sudah berada di kantor bos yang ia temui kemarin. Apa yang ia hadapi ternyata sungguh di luardugaan. Bos ini dengan ramah mempersilahkan si pemuda menceritakan latar belakang pendidikannya. Ketika tahu bahwa ia adalah seorang Sarjana Ekonomi, wajah bos itu menjadi cerah. Dengan segera ia menawarkan apakah pemuda itu mau bekerja di kantor yang ia pimpin, sebab ia memang membutuhkan seorang staf yang ahli di bidang manajemen ekonomi. Ia menegaskan bahwa dari peristiwa kemarin ia dapat melihat bahwa pemuda ini adalah seorang yang jujur dan ia ingin sekali mempunyai staf seperti itu.
Ketika pemuda tersebut menanyakan bagaimana caranya mengganti kerugian mobilnya yang rusak sedangkan ia tidak mempunyai uang, dengan tersenyum bos itu berkata bahwa itu dapat diatur dengan cara memotong gajinya pada akhir bulan nanti. Pemuda itu pulang rumah dengan suka cita dan pujian yang melimpah kepada Tuhan! Berkat ketaatan dan kesungguhannya untuk menjaga citra Kristen yang baik, ia mendapatkan pekerjaan idaman. Seandainya ia melakukan tabrak lari seperti yang sering dilakukan orang, ia tidak akan mendapatkan pekerjaan yang baik.

Dipungut OPH dari buku
Embun Surgawi
Pdt. Ishak Sugianto

Mendengar Suara Tuannya


Pada suatu hari, seorang bapak kehilangan anjing yang sangat disayanginya. Ia berusaha keras untuk menemukan anjingnya yang hilang itu, tetapi sejauh ini usahanya tidak membuahkan hasil. Maka ia memasang iklan di sebuah surat kabar dan memberikan ciri-ciri anjing yang hilang itu. Ia juga menjanjikan hadiah bagi siapa saja yang dapat menemukan anjing kesayangannya itu.
Dua hari kemudian ia menerima telepon dari seseorang yang tinggal lebih kurang 150 km dari rumah tempat tinggalnya. Si penelepon itu berkata bahwa ia telah menemukan anjing yang sangat cocok dengan ciri-ciri yang disebutkan dalam iklan surat kabar yang dibacanya. Anjing itu dibawa ke rumahnya, dalam keadaan sangat lembah, tetapi tetap tidak mau makan walaupun sudah dibujuk sekuat tenaga untuk makan. Pemilik anjing itu berkata : “Cobalah aku bicara dengan anjingku itu.” Telepon itu dibawa ke dekat anjing itu dan si pemilik berbicara memanggil-manggil nama anjingnya.
Mendengar suara tuannya, anjing yang tadinya lemah dan murung itu segera tampak segar dan ceria. Dikibas-kibaskannya ekornya dan anjing itu mencari-cari tuannya di ruang itu serta berputar-putar di kolong meja. Ketika akhirnya aning itu tahu suara tuannya bersumber dari telepon, ia menghampiri telepon itu, mendengar suara tuannya baik-baik. Pemilik anjing itu mencatat alamat si penelepon dan segera mengendarai mobilnya menuju ke sana. Ketika sampai di rumah itu, ia melihat anjingnya sudah segar kembali sebab sudah makan dengan lahapnya.
Anjing itu hanya mau mendengar satu suara saja, yaitu suara tuannya! Hal itu harus menjadi suatu teladan bagi kita orang Kristen. Hanya satu suara saja yang harus kita dengar dan patuhi, dan itu adalah suara Tuhan kita Yesus Kristus, Gembala yang baik. Yohanes 10:4-5, “Ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti Dia, karena mereka mengenal suaraNya. Tetapi orang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal.

Dipungut OPH dari buku
Embun Surgawi
Pdt. Ishak Sugianto