Yesus Gembala yang Baik.

Tampilkan postingan dengan label Fokus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fokus. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Juni 2016

Nak... Mainkan Terus


Drs. Timotius Adi Tan
Dari Buku : Secangkir Sup Bagi Jiwa Anda

Di suatu kota digelar konser piano yang dimainkan oleh seorang pianis yang sangat termasyur dari Jerman. Beribu-ibu orang sudah memadati gedung pertunjukan menunggu acara segera dimulai. Tiba-tiba seorang anak kecil kira-kira berusia 5 tahun naik ke atas panggung pertunjukkan dan kemudian duduk di kursi buat si pianis dan mulai mencoba-coba memencet tuts piano dengan lagu anak-anak.

Penonton di gedung itu mulai riuholeh terikan marah dari penonton. Bahkan ada yang mulai melemparkan batu, sandal, dan lain-lain ke arah panggung, sambil berteriak, “Turun... turun....!:
Melihat hal ini si anak kecil mukanya menjadi pucat ketakutan dan hampir menangis, tetapi pada saat demikian tiba-tiba ia merasakan ada kedua tangan besar yang memegang belakang bahunya dengan lembut sambil berkata,”Nak! Jangan takut, mainkan saja terus sampai selesai, aku ada bersamamu,” kata si pianis memberi semangat.

Si anak mulai tenang dan terus memainkan lagu kesukaannya. Tak lama kemudian suasana mulai tenang dan penonton satu demi satu mulai berdiri dan bertepuk tangan memberi hormat.

1 Korintus 15:58  Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.

Kamis, 09 April 2009

SURAT ANAK SEKOLAH MINGGU




A Teacher’s reconsecration mengisahkan tetang seorang kepala perawat rumah sakit yang merawat seorang anak lelaki berusia 9 tahun yang sekarat. Dengan pengamatan dan pengeahuan medisnya, ia jelas tahu bahwa anak ini sudah tidak dapat tertolong lagi. Ia melangkah ringan dan dengan suara lembut bertanya apakah anak ini ingin menyampaikan berita kepada ibunya (yang saat itu untuk sementara meninggalkan dia, pulang ke rumah untuk mengasuh adiknya yang masih bayi). “Ya,” jawab si anak. “Beritahukan kepada Mama bahwa saya meninggal dalam kondisi yang penuh bahagia sebagai anak Tuhan Yesus.” “Masih ada hal yang lagi, Nak?” “Ya,” sahutnya “Tolong tuliskan sepucuk surat kepada guru Sekolah Minggu saya bahwa saya meninggal sebagai seorang Kristen, dan saya tidak pernah melupakan pengajaran Sekolah Minggu yang diberikannya kepada saya.” Beberapa menit setelah itu, anak ini meninggal dengan tenang. Dua minggu kemudian, sang kepala perawat rumah sakit menerima sepucuk surat dari guru Sekolah Minggu anak itu, yang berbunyi demikian, “Allah telah menaruh belas kasihan kepadaku. Tepat hari ini sudah dua bulan lamanya saya berhenti mengajar Sekolah Minggu sebab saya merasa bahwa pengajaran saya tidak menghasilkan apa-apa. Dengan penuh frustasi saya telah menyerahkan semua materi pengajaran dan alat peraga kepada kepala sekolah Sekolah Minggu. Setiba di rumah, surat Anda tiba dengan berita dari anak Sekolah Minggu saya. Saya tersentak dan sadar bahwa setidaknya ada seorang anak lelaki yang mengatakan ia menjadi percaya melalui pengajaran saya. Oh, saya tidak menyadari bahwa sesungguhnya Tuhan telah memakai saya sebagai alat untuk memenangkan jiwa orang. Saya akan segera kembali kepada kepala Sekolah Minggu untuk meneruskan pelayanan Sekolah Minggu demi nama Kristus sendiri, dan saya akan menjalankan pelayanan ini dengan setia hingga akhir.”

Dipungut OPH dari buku
Berkenan di Hati Alah
Dr. Jenny Wongka

SANG PEMENANG - SHARON JAYNES


Pengantar
Justin Rigsbee adalah seorang siswa sekolah menengah yang ikut tergabung dalam tim renang Middle School Aquatics (MSA) dan sedang dalam perjalanan mengikuti lomba dengan tim renang sekolah lainnya. Tim renang ini beranggotakan 48 orang remaja yang berpikir sebentar lagi akan meraih kemenangan. Sebagai perenang di sekolahnya , ia bukanlah perenang yang diandalkan. Ia diikutsertakan untuk menimba pengalaman. Tim sekolahnya sendiri baru sekali ini mengikuti pertandingan antar sekolah. Setelah 3 jam perjalanan menuju arena pertandingan, akhirnya tim sekolah ini pun sampailah.

Melawan Goliat
Saat seluruh anggota tim turun dari bus, maka tampaklah lawan tanding mereka. Tim MSA memandang tak percaya pada postur tubuh mereka yang berotot bak dewa Yunani. Pak Huey, pelatih MSA, pun merasa heran. Ia memeriksa jadwal pertandingan. Tidak ada yang salah, tempat dan waktunya sudah benar.
Kedua tim berbaris di tepi kolam. Peluit berbunyi, pertandingan dimulai dan perenang-perenang tim MSA kalah. Pak Huey berpikir bahwa timnya bakal tidak mau meneruskan pertandingan, maka ia pun bertanya,”Baiklah, siapa yang ingin ikut dalam nomor 450 meter gaya bebas?” Namun beberapa anak mengangkat tangan, termasuk Justin. Pak Huey memandang wajah yang berbintik-bintiknya lalu berkata,”Justin, pertandingan ini jauhnya dua puluh putaran. Sementara kamu paling jauh baru bisa delapan putaran.” ”Oh, saya sanggup, Pak. Biarkan saya mencoba. Apalah artinya tambahan dua belas putaran?” Dengan enggan, Pak Huey menyerah. ”Bagaimana pun juga, bukan kemenangan, melainkan usahalah yang membangun karakter” pikirnya.

Terus Berjuang
Peluit berbunyi dan lawan-lawan MSA meluncur bagaikan torpedo untuk mengakhiri pertandingan dalam waktu 4 menit 50 detik. Empat menit kemudian , anggota tim MSA yang kelelahan muncul dari air. Hanya Justin seorang yang masih berenang. Ia terus mengambil napas sambil mengayuhkan tangannya mendorong tubuhnya yang kurus. Ia seperti hendak tenggelam setiap saat, namun ada sesuatu yang terus mendorongnya untuk maju. Para orang tua bertanya-tanya, kenapa sang pelatih tidak menghentikannya karena pertandingan sudah dimenangkan pihak lawan.
Para orang tua tidak menyadari akan peperangan sebenarnya yang sedang terjadi, bagaimana seorang anak laki-lai berjuang menjadi dewasa baru saja dimulai. Pelatih berjalan ke Justin, berlutut dan berbicara pelan. Para orang tua merasa lega. Namun mereka terkejut saat pelatih melangkah mundur membiarkan sang anak terus berenang.
Salah seorang anggota tim lainnya tergugah melihat keberanian temannya itu. Ia berjalan ke sisi kolam dan mulai menyoraki Justin. ”Ayo, Justin, kamu bisa! Kamu bisa! Terus! Jangan menyerah!” Teman-temannya yang lain satu per satu ikut berjalan ke sisi kolam untuk memberikan semangat. Tim lawan melihat apa yang terjadi dan begabung dengan sorak sorai itu. Sorakan para siswa yang bersahutan membuat penonton terpaku. Tak lama kemudian para orang tua yang menyadari hal ini ikut berdiri, bersorak, dan juga berdoa. Ruangan itu dipenuhi dengan semangat dan kegembiraan saat rekan-rekan Justin bersama lawan-lawannya memompa semangat seorang perenang kecil.

Sang Pemenang
Akhirnya pada menit kedua belas, Justin Rigsbee menyelesaikan putaran terakhirnya dan keluar dari kolam sambil tersenyum meski tampak kelelahan. Tadi para hadirin telah bertepuk tangan untuk perenang yang berhasil mencapai garis finis pertama kali. Namun standing ovation (sambutan sorak-sorai sambil berdiri) yang mereka berikan kepada Justin merupakan bukti bahwa Justin meraih kemenangan yang lebih besar, setelah berhasil menyelesaikan pertandingan yang sesungguhnya.

Disusun ulang OPH dari buku
Mengejar Pelangi
Alice Gray