Yesus Gembala yang Baik.

Tampilkan postingan dengan label Kasih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kasih. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Juli 2016

Susah Itu Ada Gunanya


Dalam buku Who Put My Life on Fast-Forward, penulisnya. Phil Callaway bercerita tentang pengalaman seorang temannya, Doug Nichols.
                Setelah Nichols menjalani operasi kanker usus pada bulan April 1993,dokter dengan sedih berkata kepadanya : “Maafkah saya , Doug, engkau hanya mempunyai 30 persen peluang untuk kembali pulih.”
                “Maksud dokter, saya punya 70 persen peluang untuk meninggal?” tanya Doug sambil tersenyum.
                “Saya tidak berkata begitu,” kata dokternya sambil keheranan dengan sikapnya, “ teatpi perkiraan terbaik saya adalah Anda paling banyak hanya punya waktu 3 bulan lagi untuk hidup.”
                Nichols menjawab, “Yah, apapun yang terjadi saya punya 100% peluang untuk masuk surga.”
                Ternyata 3 bulan kemudian Doug tidak mati, hanya radiasi dan kemoterapi membuatnya sangat menderita kesakitan.
                Suatu malam dalam berita TV, ia dan isterinya mendengar pemberitaan tentang perang saudara di Rwanda. Di sana terjadi pembantaian yang sukar untuk dapat dipercaya. Karena selain jumlah orang yang dibantai sangat besar – lebih dari 1 juta orang – juga karena pembantaian itu kebanyakan dilakukan oleh para tetangga dan sahabat-sahabat mereka sendiri. Ribuan penduduk Rwanda melarikan diri menyeberangi perbatasan menuju Zaire dan tinggal bergerombol di kamp-kamp pengungsi yang kotor dan sangat minim sarana. Penyakit seperti kolera berjangkit dengan cepat. Dimana-mana korban berjatuhan, dalam waktu hanya 3 hari saja sudah 50.000 jiwa meninggal dunia. Mendengar semua itu hari Doug dan isterinya , Margareth, merasa hancur. Tetapi apa daya mereka?
                Ternyata kemudian mereka memutuskan untuk pergi bersama dengan tim dokter dan perawat berangkat ke Rwanda. Di sana Doug berkenalan dengan seorang pemimpin Kristen Rwanda. Orang itu mempekerjakan 300 orang pengungsi sebagai pemikul usungan untuk mengangkut orang yang sakit – sehingga dokter dapat memberikan pertolongan – ataupun untuk mengubur mereka yang meninggal setiap harinya.
                Suatu hari pemimpin itu mendekati Doug dengan wajah cemas, “Tuan Nichols kita menghadapi masalah. Para pemikul usungan dengan marah meminta uang tambahan upah mereka. Mereka mengancam akan mogok kerja jika tuntutan mereka tidak dipenuhi. Sementara uang telah habis. Dan jika mereka tidak bekerja, korban yang meninggal dunia akan menjadi berlipat ganda.”
                Doug meminta agar diperbolehkan berbicara langsung kepada para pengusung itu. Sambil berjalan menuju sebuah tempat bekas gedung sekolah tua yang telah habis terbakar. Doug berpikir apa yang akan ia katakan untuk meredakan kemarahan orang itu dan membuat mereka mau kembali bekerja walau tanpa upah tambahan.
                Inilah kata-kata yang Doug sampaikan kepada para pengusung yang berjumlah sekitar 300 orang itu. “Saya tidak mungkin dapat memahami penderitaan yang kalian alami, dan sekarang menyaksikan isteri dan anak-anak kalian meninggal akibat kolera; saya juga tidak akan pernah dapat memahami seperti apa itu rasanya. Mungkin kalian menginginkan lebih banyak uang untuk membeli makanan, air, serta obat-obatan bagi keluarga kalian; saya juga belum pernah berada dalam posisi seperti itu. Tidak ada kejadian tragis yang pernah terjadi dalam kehidupan saya yang setera dengan apa yang telah kalian derita. Satu-satunya yang pernah menimpa saya adalah bahwa saya mengidap kanker...” Ketika Doug akan melanjutkan kata-katanya, penterjemahnya berhenti dan berpaling kepada Doug dan bertanya kepadanya. Terjadilah dialog seperti ini :
                “Maaf Anda bilang Anda mengidap kanker?” “Ya.”
                “Dan Anda datang ke sini? Apa dokter Anda mengatakan Anda boleh datang ke sini?”
                “Ia mengatakan pada saya bahwa jika saya pergi ke Afrika, saya mungkin akan mati dalam waktu 3 hari.”                 “Dokter anda mengatakan itu dan anda masih tetap datang juga? Untuk apa? Dan bagaimana jika anda meninggal?”
                “Saya ada di sini karena Tuhan menyuruh kami datang dan melakukan sesuatu untuk orang-orang di dalam namaNya. Saya bukan pahlawan. Jika saya mati, kuburkan saja saya di lapangan di mana kalian menguburkan orang mati lainnya.”
                Penterjemah itu mulai menangis. Lalu dengan air mata masih mengalir di wajahnya ia berpaling kepada para pengusung dan mulai berpidato, “Pria ini mengidap kanker. Ia datang kemari dan rela mati demi rakyat kita. Sementara itu kita mogok kerja hanya demi mendapat sedikit uang tambahan? Kita seharusnya malu.”
                Tiba-tiba semua orang mulai berlutut dan menangis. Seorang pria merangkak menghampiri Doug dan memeluknya. Tanpa banyak bicara, mereka satu per satu kembali bekerja tanpa bersuara. Dengan kembalinya mereka bekerja, ribuan nyawa terselamatkan dan banyak yang mendengar tentang Yesus Kristus.
                Belakangan ketika penterjemah itu menceritakan kembali semuanya, Doug berpikir dalam hati. “Apa yang kulakukan? Tidak ada. Bukan kemampuanku untuk merawat orang sakit, bukan keahlianku mengorganisir. Yang aku lakukan hanyalah mengidap kanker. Tetapi Allah memakai kelemahan itu untuk menggerakan hati orang-orang.”

Jumat, 10 Juni 2016

Meja Nenek


Drs. Timotius Adi Tan
Dari Buku : Secangkir Sup Bagi Jiwa Anda

Ada seorang janda tua yang begitu lemah. Ia menumpang di rumah anak laki-laki, istrinya, serta putri mereka yang masih kecil. Setiap hari penglihatan dan pendengaran wanita tua semain berkurang dan kadang-kadang pada saat makan kedua tangannya gemetar sehingga kacang polong menggelinding dari sendoknya atau sup tercecer dari mangkoknya. Anak laki-laki dan menantunya sering jengkel melihat wanita tua itu menumpahkan makanan di atas meja.

Pada suatu hari, setelah wanita tua itu menjatuhkan segelas susu, mereka berkata satu sama lainnya “Cukup! Sudah cukup kesabaranku!” Mereka tidak bisa mentoleransi lagi. Akhirnya mereka menyediakan meja kecil untuknya di pojok dekat lemari tempat penyimpanan sapu dan mereka menyuruh nenek tua itu makan di  situ. Nenek tua itu duduk seorang diri, memandang dengan mata yang berkaca-kaca ke seberang ruang makan itu. Kadang-kadang mereka berbicara kepadanya sementara mereka makan, tetapi lebih sering hanya untuk mengomelinya ketika ia menjatuhkan sendok atau garpu

Pada suatu malam, tepat sebelum makan malam, gadis kecil kesayangannya itu sedang bermain di lantai dengan kotak-kotak bangunannya. Ayahnya menanyakan apa yang sedang ia perbuat dengan kotak-kotak tersebut. “Aku sedang membuat sebuah meja kecil untuk ayah dan ibu,” ia tersenyum, “supaya kalian berdua bisa makan di pojok dapur suatu hari nanti apabila aku sudah besar.” Mendengar hal itu kedua orangtuanya terhenyak beberapa saat dan mendadak keduanya mulai menangis. Malam itu mereka segera menuntun wanita tua itu kembali ke meja makannya yang besar. Sejak saat itu mereka selalu makan bersama-sama. Dan, tidak seorang pun keberatan lagi bila wanita tua itu menumpahkan sesuatu di atas meja makannya.

Kolose 3:23
Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

Julianna Snow Memilih Pergi ke Surga daripada ke Rumah Sakit.


Majalah Komunikasi Kristiani – Standard Vol. XI No. 10 (Februari 2016)

Juliana Snow, gadis kecil berusia 5 tahun ini tidak pernah memiliki kesehatan yang memadai untuk bisa pergi ke Sekolah Minggu di Gereja City Bible Church di Portland , Oregon, di mana keluarganya berjemaat. Karena itu sebagian besar pengetahuannya tentang surga adalah ajaran dari kedua orang tuanya. Mereka mengatakan padanya bahwa surga itu adalah tempat di mana ia akan bisa berlari dan bermain, dan semua itu tidak bisa ia lakukan sekarang ini. Surga adalah tempat di mana ia akan bertemu nenek buyutnya. Ia juga diberitahu bahwa di surga ada Allah yang akan mengasihinya lebih dari yang bisa mereka lakukan.
            Julianna, di usianya yang masih sangat belia telah menderita penyakit parah yang disebut Charcot-Marie-Tooth Disease. Penyakit yang awalnya menyerang lengan dan kakinya itu kini mulai menggerogoti saraf pernapasan serta otot-ototnya. Charcot-Marie-Tooth Disease, yang juga dikenal sebagai neuropati motorik dan sensorik herediter, adalah sekumpulan kondisi medis yang ditandai dengan rusaknya atau hancurnya selaput pelindung (selubung mielin) yang mengelilingi serabut saraf atau sel saraf itu sendiri. Penyakit itu tidak dapat  disembuhkan dan sifatnya progresif, menyebabkan mati rasa dan kelemahan yang menyebar luas, yang nantinya berakhir dengan kecacatan.
            Otot-otot batuk dan pernapasan Julianna sangat lemah sehingga jika ia terkena penyakit flu, maka infeksi itu bisa menetap di paru-parunya yang bisa menyebabkan pneumonia yang mematikan. Dokternya percaya bahwa jika mereka dapat menyelamatkan dirinya dari situasi ini – dan itu adalah sebuah pengandaian yang besar – ia mungkin akan dibius dengan sebuah alat respirator namun dengan kualitas kehidupan yang sangat rendah.
            Michelle Moon – sang ibu – mencari bimbingan secara online bagaimana menghadapi anak yang akan menghadapi kematian di usia 4 tahun. Tetapi ia tidak menemukan apa yang ia butuhkan. Kemudian ia membuat sebuah blog dengan harapan dapat membantu keluarga lain dalam situasi yang sama.
            Dan ketika Julianna berusia 4 tahun, Michelle bertanya pada putrinya, apakah ia mau dirawat di rumah sakit atau memilih meninggal di rumah jika jatuh sakit lagi. Dan ternyata jawaban Julianna sungguh mengharukan. Kepada harian dailymail.co.uk, Mihelle mengatakan bahwa putrinya lebih memilih untuk pergi ke surga daripada pergi ke rumah sakit untuk menerima perawatan.
            “Julianna, jika kamu sakit lagi, kamu mau dirawat di rumah sakit atau tetap di rumah saja?”tanya Michelle.
            “Tidak ke rumah sakit, saya benci NT. Saya benci rumah sakit.” Jawab Juianna.
            “Itu bisa berarti kamu akan segera pergi ke surga jika tetap tinggal di rumah?” sang ibu memperjelas resiko yang bisa menimpa putrinya itu.
            Julianna mengangguk.
            Julianna tidak mau pergi ke rumah sakit karena membenci prosedur naso-tracheal suction (NT) yang pernah ia jalani. Selama prosedur yang berlangsung 4 jam itu, perawat akan memasukkan selang ke hidung dan tenggorokan Julianna, kemudian mendorong sebuah selang melewati saluran refleks muntah (gag reflex) hingga ke paru-paru. Proses berikutnya adalah menghisap lendir keluar dari lubang-lubang kecil jalur pernapasannya. Dan semua prosedur itu dilakukan tanpa pembiusan!
            “Dan kamu tahu bukan Mommy dan Daddy tak bisa langsung menemani kamu di surga? Kamu akan pergi duluan seorang diri.”lanjut Michelle.
            “Tapi saya tidak akan sendirian, Tuhan akan menjaga saya,”Kata Julianna sungguh menggetarkan hati.
            “Itu benar. Kamu tidak akan sendirian.”
            “Apakah orang-orang akan segera pergi ke surga?”
            “Ya. Hanya saja kami tidak tahu kapan kami akan ke surga. Kadang-kadang bayi pergi ke surga. Kadang-kadang ada orang yang benar-benar tua baru pergi ke surga.”
            “Apakah Alex (kakaknya yang kini berumur 7 tahun) akan pergi ke surga bersama dengan saya?”
            “Mungkin tidak. Kadang-kadang orang pergi ke surga bersama-sama pada saat yang bersama, tetapi sebagian besar akan pergi sendirian. Apakah itu menakutkan kamu?”
            “Tidak, surga adalah tempat yang indah. Tetapi saya tidak menyukai kondisi sekarat.”
            “Mommy tahu. Itu adalah bagian yang sulit. Kita tidak perlu takut mati karena kita percaya bahwa kita akan pergi ke surga. Tetapi hal it ujuga menyedihkan sebab Mommy akan sangat kehilangan kamu.”
            “Jangan khawatir, saya tidak takut sendirian.”
            “Mommy tahu... Mommy sayang kamu.”
            “Sangat.” Julianna menambahkan.
            “Ya, Mommy sangat sayang kamu.... Mommy sangat beruntung.”
            “Dan saya juga sangat beruntung.”
            “Mengapa?” tanya sang ibu.
            “Karena Mommy sangat sayang pada saya.”
            Sebagai seorang ibu, Michelle menyimpan kesedihannya sendiri, “Tapi kalau kamu pergi ke rumah sakit, kamu bisa lebih sembuh dan pulang lagi ke rumah menghabiskan waktu lebih banyak bersama. Mommy ingin kamu tahu hal itu. Rumah sakit bisa memberimu waktu lebih banyak untuk tinggal bersama Mommy dan Daddy.”
            “Saya tahu,” kata Julianna lagi.
            Michelle pun menangis,”Maaf, Julian. Mommy tahu kamu tidak suka melihat Mommy menangis. Tapi Mommy akan sangat kehilangan kmau.”
            Dan jawaban Julianna selanjutnya sungguh membuat hati siapa saja tersentuh,”Tidak apa-apa. Tuhan akan menjaga saya. Dia ada di dalam hati saya.”
            Sebelum percakapan itu, Michelle mengatakan bahwa ia dan suaminya – Steve Snow – telah berencana untuk membawa Julianna ke rumah sakit jika ia sakit lagi. Tetapi setelah mendengar keinginan Julianna, mereka berubah pikiran.
            “Dia sudah mengatakan dengan jelas bahwa ia tidak ingin pergi ke rumah sakit lagi,”demikian Michelle menulis kepada CNN dalam sebuah email. “Jadi kamu harus melepaskan rencana itu karena itu egois.”
            “Sangat jelas, putri saya yang 4 tahun itu mengatakan pada saya bahwa mendapatkan lebih banyak waktu di rumah dengan keluarganya tidak setara dengan rasa sakit yang dialami jika pergi ke rumah sakit lagi. Saya memastikan bahwa ia mengerti pergi ke surga berarti kematian dan meninggalkan dunia  ini. Dan saya juga mengatakan kepadanya bahwa hal itu juga berarti meninggalkan keluarganya untuk sementara waktu, tapi kami akan bergabung dengannya kelak. Apakah ia tetap tidak ingin pergi ke rumah sakit dan masuk surga? Dia tetap putuskan demikian.” Kata Michelle di dalam blognya.
            Sementara sebagian besar pembaca meninggalkan komentar yang mendukung posting Michelle, tetapi beberapa orang malah berpikir bahwa Michelle dan Steve telah membuat pilihan yang keliru.
            Menjawab kritik dari orang lain, Michelle berdiskusi lagi dengan putrinya. “Ketika kamu mati, kamu tidak akan melakukan apa-apa. Kamu tidak bisa berpikir.” Tetapi menurut Michelle, Julianna tidak berubah pikiran dan ia tahu bahwa ini berarti ia akan pergi ke surga sendirian.
            Walaupun demikian, kata Michelle, jika ia sakit, mereka akan menanyai hal itu lagi, dan bahwa mereka akan menghormati keinginannya.
            Pada suatu kesempatan Michelle mengobrol lagi dengan Julianna tentang bagaimana nanti ketika mereka bertemu kembali di surga.
            “Kamu ingin Mommy berdiri di depan rumah, di hadapan semua orang sehingga kamu bisa melihat Mommy terlebih dahulu?” tanya Michelle pada putrinya.
            “Iya. Saya pasti akan sangat bahagia melihat Mommy,” jawab Julianna.
            “Apakah kamu mau berlari memeluk Mommy?” tanya Michelle lagi.
            “Iya. Dan saya yakin Mommy akan berlari memeluk saya juga,” kata Julianna.
            “Saya akan berlari dengan secepat mungkin,” imbuhnya lagi.
            “Iya, Mommy yakin kamu akan lari cepat sekali,” ujar Michelle.
            Kondisi Julianna saat ini sudah agak stabil, tapi dokter mengatakan bahwa sebuah penyakit seperti flu bisa saja merenggut nyawanya.
            Mungkin kita tidak setuju dengan keputusan keluarga ini, namun hal yang biasa dari Julianna adalah imannya kepada Tuhan. Semoga Tuhan memberikan anugerah yang besar bagi anak kecil ini.


Tulang Rusuk yang Hilang


Majalah Komunikasi Kristiani – Standard Vol. XI No. 10 (Februari 2016)

Seorang wanita bertanya kepada kekasihnya ,”Orang yang paling kamu cintai di dunia ini siapa?”
“Kamu dong!” balas sang kekasih dengan cepat.
“Menurut kamu, aku ini siapa?” Setelah berpikir sejenak kekasihnya menjawa, “Kamu tulang rusukku. Ketika Tuhan melihat Adam kesepian , dengan diam-diam ketika Adam tertidur, Ia mengambil tulang rusuknya dan diciptakan Hawa. Saat ini semua pria mencari tulang rusuknya yang hilang, ketika ia menemukan seorang wanita untuknya, ia tidak lagi merasakan sakit hati.”
            Setelah Menikah, pasangan itu mengalami masa yang indah untuk sesaat. Setelah itu, mereka mulai tenggelam dalam kesibukan dan kepenatan hidup. Hidup mereka menjadi membosankan. Kenyataan hidup yang kejam membuat mereka mulai menyisihkan impian dan cinta satu sama lain. Mereka mulai bertengkar dan pertengkaran itu mulai menjadi semakin panas. Sampai pada suatu hari, di akhir dari sebuah pertengkaran, sang wanita lari keluar rumah. Saat tiba di seberang jalan, ia berteriak, “Kamu tidak mencintai aku lagi!”
            Pria itu sangat membenci ketidakdewasaan yang ditunjukkan istrinya dan dengan spontan membalasnya. “Aku menyesal kita menikah! Ternyata, kau bukan tulang rusukku!”
            Terdiam dan berdiri terpaku, wanita itu mendengar kekasihnya mengucapkan kata-kata seperti itu. Kekasihnya sadar dan menyesal dengan apa yang sudah diucapkannya, tetapi seperti air tertumpah dan tidak mungkin diambil kembali.
            Dengan berlinang, wanita itu kembali ke rumah , mengambil barang-barangnya, bertekad untuk berpisah.
            “Kalau aku bukan tulang rusukmu biarkan aku pergi!”
            Lima tahun berlaru, pria itu tidak menikah lagi, tetapi berusaha tahu akan kehidupan wanitanya.
            Wanita itu pernah ke luar negeri tetapi sudah embali lagi. Ia pernah menikah dengan seorang asing dan kemudian bercerai.
            Dan di tengah malam yang sunyi pria itu menimum kopi dan merasakan sakit di hatinya. Tetapi ia tidak sanggup mengakui bahwa ia merindukan wanitanya.
            Suatu hari, mereka akhirnya bertemu di airport, tempat di mana banyak terjadi pertemuan dan perpisahan.
            “Apa kabar kamu?”
            “Baik, apakah kamu sudah menemukan tulang rusukmu yang hilang?”
            “Belum....”
            “Aku terbang ke New York dengan penerbangan berikutnya.”
            “Aku akan kembali 2 minggu lagi. Telepon aku kalau kamu sempat. Kamu tahu nomor telepon kita, tidak ada yang berubah.”
            Wanita itu tersenyum manis, lalu berlalu. “Bye...”
            Seminggu kemudian ia mendengar bahwa wanitanya adalah salah satu korban Menara WTC. Malam itu sekali lagi pria itu mereguk kopinya dan kembali merasakan sakit di hatinya. Akhirnya ia sadar bahwa sakit itu adalah karena  wanitanya tulang rusuknya sendiri yang telah dengan bodohnya ia patahkan.
            Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada orang yang paling kita cintai. Dan akibatnya seringkali adalah fatal.

Selasa, 07 Juni 2016

Sekeping Pecahan Porselen


Bettie B. Youngs
Dari Buku : Kisah Kasih Allah

Suatu ketika, saat saya masih berusia kira-kira sembilan tahunan, Ibu pergi ke kota dan menugaskan saya menjaga saudara perempuan dan laki-laki saya. Begitu Ibu berangkat, saya berlari memasuki kamar tidurnya dan membuka lemari rias untuk menggeledak isinya.
            Di laci atas, di bawah pakaian dewasa yang halus dan berbau wangi, terdapat sebuah kotak perhiasan kecil dari kayu. Saya begitu terpesona melihat perhiasan di dalamnya – cincin rubi peninggalan bibi kesayangan Ibu; anting-anting mutiara yang tadinya milik Nenek; bando pernikahan Ibu yang dilepasnya ketika membantu Ayah bekerja di pertanian.
            Saya mencoba semua perhiasan itu, sambil berangan-angan membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang wanita cantik seperti Ibu dan memiliki sendiri benda-benda indah seperti itu.
            Kemudian, saya melihat sesuatu yang terselip di balik laken merah lapisan penutupnya. Setelah mengangkat kain itu, saya menemukan kepingan kecil pecahan dari porselen.
            Saya memungutnya. Sungguh aneh, mengapa Ibu menyimpan pecahan kecil seperti itu? Saya mengamatinya di bawah kilauan cahaya lampu, namun hal itu tak memberi jawaban.
            Beberapa bulan kemudian, saat saya menyiapkan meja untuk makan malam, tetangga kami, Marge, mengetuk pintu. Ibu yang sedang sibuk di perapian, menyuruhnya untuk langsung masuk. Sambil melirik ke meja makan, Marge berkata,”Wah, tampaknya kau sedang menunggu tamu. Kalau begitu lain kali saja aku mampir lagi.”
            “Oh, tak apa-apa, masuk sajalah,” jawab Ibu. “Kami tidak sedang menunggu siapa pun.”
            “Tapi, bukankah itu adalah perlengkapan porselen terbaikmu?” tanya Marge. “Aku takkan pernah membiarkananak-anak menangani piring-piring terbaikku!”
            Ibu tertawa,”Malam ini aku menyajikan menu favorit keluarga. Kalau kau memakai peralatan makan terbaik untuk menjamu tamu istimewa, mengapa untuk keluarga sendiri kau tidak melakukan hal yang sama?”
            “Tapi, peralatan makan perselenmu cantik!” jawab Marge.
            “Yah, begitulah” kata Ibu, “sedikit piring pecah hanyalah harga yang murah untuk membayar sukacita yang dirasakan ketika kami menggunakannya.” Lalu, ia menambahkan, “Di samping itu, setiap kepingan dan retakan selalu ada kisahnya sendiri.”
            Sambil meraih ke lemari makanan, Ibu menarik keluar sebuah piring yang sudah pecah namun disatukan kembali. “Yang ini pecah pada hari ketika kami membawa Mark pulang dari rumah sakit,” katanya. “Betapa dingin dan kencangnya angin sore itu! Judy baru berumur enam tahun, tapi ia ingin membantu. Ia menjatuhkan piring itu ketika sedang membawanya ke bak cucian.”
            “Mulanya aku jengkel, tapi kemudian aku berkata kepada diri sendiri,’Aku tak akan membiarkan piring pecah itu menghubah kebahagiaan yang kami rasakan saat menyambut bayi baru kami.’ Di samping itu kami semua justru menikmati saat-saat merekatkan kepingan-kepingan piring itu kembali menjadi satu!”
            Marge tampaknya tidak begitu percaya.
            Ibu kembali menuju lemari makan dan mengeluarkan sebuah piring lagi. Sambil memegangnya ia berkata,”Kau lihat pecahan di pinggiran ini? Ini terjadi ketika aku berumur 17 tahun.”
            Suaranya melembut “Suatu hari di musim gugur saudara-saudara lelakiku membantu menanta jerami terakhir di musim gugur. Mereka juga mempekerjakan seorang lelaki muda untuk membantu kami. Pemuda itu ramping, memiliki lengan yang kokoh dan rambut pirang yang lebat. Ia juga memiliki senyum yang menawan.”
            “Saudara-saudara lelakiku menyukainya dan mengundangnya makan malam. Ketika kakakku memintanya duduk di sebelahku, aku menjadi grogi, sampai-sampai hampir pingsan.”
            Tiba-tiba ketika tersadar ia sedang bercerita kepada putrinya yang masih dan tetangganya, Ibu tersipu-sipu dan pergi cepat-cepat. “Lalu, ia mengulurkan piringnya kepadaku dan meminta tolong. Namun, aku begitu gugup sehingga ketika menerimanya, piring itu tergelincir dan membentur mangkuk tempat masakan.”
            “Kedengarannya seperti kenangan yang memalukan,” kata Marge.
            “Oh, justru tidak,” tukas ibu saya. “Ketika pemuda itu hendak pulang, ia berjalan mendekat, memegang tanganku dan menaruh kepingan porselen itu di telapak tanganku. Tanpa sepatah kata pun. Ia hanya menyunggingkan senyumnya yang menawan itu.”
            “Satu tahun kemudian aku menikah dengannya. Dan, sampai hari ini, kalau aku melihat piring ini, dengan rasa cinta aku mengenang saat berjumpa dengannya.”
            Karena melihat saya membelalakan mata, Ibu mengedipkan matanya. Kemudian, dengan hati-hati ia meletakkan piring itu kembali, di balik piring-piring yang lain, di tempatnya masing-masing.
            Saya belum melupakan piring yang sebagian kepingannya hilang itu. Begitu aku kesempatan, saya pun bergegas ke kamar Ibu dan mengeluarkan kotak perhiasan kayu itu lagi. Di sana keping pecahan porselen itu masih ada.
            Saya mengamat-amatinya dengan cermat, lalu berlari ke lemari dapur, menarik kursi, menaikinya, dan mengeluarkan sebuah piring. Tepat seperti yang saya duga, kepingan yang disimpan Ibu dengan hati-hati itu merupakan pecahan dari piring yang dipecahkannya ketika bertemu ayah.
            Sekarang saya jadi lebih tahu, dan lebih hormat, sehingga dengan hati-hati saya mengembalikan kepingan itu ke tempatnya, di antara batu-batu permata.
            Kisah cinta yang dimulai dengan kepingan itu sekarang telah berusia 54 tahun. Baru-baru ini salah satu saudara perempuan saya meminta agar kelak cincin antik berbatu rubi itu boleh menjadi miliknya. Saudari saya yang lain meminta anting-anting mutiara nenek.
            Sedangkan saya, saya ingin harta ibu yang paling berharga, suatu kenang-kenangan rasa cinta yang luar biasa; kepingan porselen itu.


Sabtu, 04 Juni 2016

Ia Butuh Putranya


Oleh : Anonim
(Buku : Kisah Kasih Allah, Alice Gray)

Seorang perawat menjagai seorang pemuda yang kelelahan dan cemas di samping tempat tidur seorang lelaki jompo.
            “Ini putramu datang,” bisiknya kepada si pasien. Perawat itu harus mengulangi kata-katanya beberapa kali sebelum mata si pasien terbuka. Ia dalam keadaan setengah sadar karena rasa sakit akibat serangan jantung dan dengan samar-samar ia melihat seorang lelaki muda dari balik alat bantu oksigennya.
            Ia meraih tangan pemuda itu yang segera menggenggam tangan si pria jompo. Melalui genggaman tangannya, si pemuda mengungkapkan dorongan yang membesarkan hati. Lalu si perawat membawakan sebuah kursi ke dekat tempat tidur itu. Sepanjang malam si pemuda duduk sambil memegang tangan pria jompo itu sambil menyampaikan kata-kata pengharapan yang lembut. Pria yang sedang menjelang ajal itu tidak mengucapkan sepatah kata pun ketika ia memegang erat tangan putranya.
            Ketika fajar menjelang, si pasien mengembuskan napas penghabisan. Si pemuda meletakkan tangan yang telah digenggamnya semalaman itu ke tempat tidur, lalu ia pergi untuk memberi tahu perawat. Ketika perawat membereskan segalanya, si pemuda dengan sabar menunggu. Setelah menyelesaikan tugasnya, si perawat menyampaikan kata-kata belasungkawa kepada si pemuda. Namun pemuda itu menyela pembicaraannya.
            “Siapa ornag itu?” tanyanya.
            Perawat itu terkejut dan berkata,”Lo, saya kira ia ayahmu.”
            “Oh, itu bukan ayah saya,” jawabnya. “Seumur hidup saya belum pernah bertemu dengannya.”
            “Kalau begitu mengapa engkau diam saja waktu kuajak mendampinginya?” tanya si perawat.

            Pemuda itu menjawab,”Yang saya tahu adalah, ia membutuhkan kehadiran putranya, yang tidak ada di sini. Waktu saya menyadari bahwa sakitnya terlalu parah sehingga ia tidak bisa membedakan apakah saya putranya atau bukan, saya tahu bahwa ia sangat membutuhkan saya.”

Kesepian


Oleh : Anonim
(Buku : Kisah Kasih Allah, Alice Gray)

Bocah lelaki itu duduk berdempetan begitu rapat dengan seorang wanita bergaun abu-abu, sehingga setiap orang yakin ia anak wanita itu. Tak heran jika ketika anak itu tanpa sengaja menggerakkan sepatunya yang berlumpur ke rok berbahan halus yang dipakai seorang wanita di sebelah kirinya, wanita itu mencondongkan badannya dan berkata,”Maafkan saya, Ibu, tolong awasi putra kecil Anda. Ia mengotori rok saya dengan lumpur di sepatunya.”
            Wanita yang bergaun abu-abu itu agak tersipu-sipu dan mendorong anak itu menjauh.
            “Anak saya?”katanya. “Astaga, ia bukan anak saya.”
            Anak itu menggeliat dengan gelisah. Anak itu begitu kecil sehingga tidak bisa menjejakkan kakinya ke lantai, maka ia menjulurkan kakinya harus ke depan seperti gantungan, dan memandangi kakinya dengan malu.
            “Maaf, saya mengotori gaun Ibu,” katanya kepada wanita di sebelah kirinya. “Semoga bisa disikat bersih.”
            “Oh, tidak apa-apa,” jawab wanita itu. Kemudian, karena mata bocah itu masih menatapnya, ia menambahkan,”Apakah kamu pergi ke kota sendirian?”
            “Ya,Bu,” katanya. “Saya selalu bepergian sendiri. Tak ada yang bisa menemani saya. Ayah dan ibu saya sudah meninggal. Saya tinggal bersama Bibi Clara di Brooklyn, tapi katanya Bibi Anna juga punya kewajiban merawat saya, maka satu atau dua kali seminggu, kalau Bibi Clara capai dan ingin pergi ke suatu tempat untuk beristirahat, ia menyuruh saya tinggal bersama Bibi Anna. Sekarang saya akan ke sana. Kadang-kadang saya tidak menjumpainya di rumah, tapi kali ini saya harap ia ada di rumah, karena tampaknya hari akan hujan, dan saya tak ingin keluyuran di jalan pada saat hujan.”
            Wanita itu merasakan sesuatu menyekat di tenggorokkannya, dan berkata dengan suara gementar,”Engkau terlalu kecil untuk pergi sendiriain.”
            “Oh, itu tidak menjadi masalah buat saya,” kata bocah itu. “Saya tidak pernah tersesat. Hanya, kadang-kadang saya merasa kesepian waktu melakukan perjalanan jauh, sehingga ketika melihat seseorang yang saya suka dan saya rasa cocok menjadi anaknya, saya akan merapat kepadanya sehingga saya dapat berpura-pura seperti anakny. Pagi ini saya pura-pura menjadi anak ibu ini, sampai-sampai saya lupa menjaga kaki saya. Karena itulah, saya mengotori gaun Ibu.”

            Wanita itu merangkul bocah itu erat-erat sampai-sampai hampir menyakitinya. Ddan setiap wanita lain yang telah mendengar perkataan bocah yang begitu naif itu melihat bahwa tampak wanita itu tidak hanya akan membiarkan bocah itu mengusapkan sepatunya ke gaun terbaiknya, ia bahkan mengharapkan itu terjadi.

Minggu, 28 Februari 2010

Lagu untuk Mama

Saya seorang mantan guru sekolah musik dari Des Moines, Iowa. Saya mendapat nafkah dengan mengajar piano selama lebih dari 30 tahun. Selama itu, saya menyadari tiap anak punya kemampuan musik yang berbeda. Tapi saya tidak pernah merasa telah menolong walaupun saya telah mengajar beberapa murid berbakat. Walaupun begitu, saya ingin bercerita tentang murid yang 'tertantang secara musik'.
Contohnya adalah Robby. Robby berumur 11 tahun, ketika ibunya memasukkan dia dalam les untuk pertama kalinya. Saya lebih senang kalau murid (khususnya laki-laki) mulai ketika lebih muda, saya jelaskan itu pada Robby. Tapi Robby berkata, ibunya selalu ingin mendengar dia bermain piano. Jadi saya jadikan dia murid. Robby memulai les pianonya dan dari awal saya pikir dia tidak ada harapan. Robby mencoba, tapi dia tak mempunyai perasaan nada maupun irama dasar yang perlu dipelajari. Tapi dia mempelajari benar-benar tangga nada dan beberapa pelajaran awal yang saya wajibkan untuk dipelajari semua murid.
Selama beberapa bulan, dia mencoba terus dan saya mendengarnya dengan ngeri dan terus mencoba menyemangatinya. Setiap akhir pelajaran mingguannya, dia berkata, 'Ibu saya akan mendengar saya bermain pada suatu hari.' Tapi rasanya sia-sia saja. Dia memang tak berkemampuan sejak lahir. Saya hanya mengetahui ibunya dari jauh ketika menurunkan Robby atau menjemput Robby. Dia hanya tersenyum dan melambaikan tangan tapi tidak pernah turun.
Pada suatu hari, Robby tidak datang lagi ke les kami. Saya berpikir untuk menghubunginya, tapi karena
ketidak-mampuannya, mungkin dia mau les yang lain saja maka saya tidak jadi menghubunginya. Saya juga senang dia tidak datang lagi. Dia menjadi iklan yang buruk untuk pengajaran saya !
Beberapa minggu sesudahnya, saya mengirimkan brosur ke tiap murid, mengenai pertunjukan yang akan dilaksanakan. Yang mengagetkan saya, Robby (yang juga menerima brosur) menanyakan saya apakah dia bias ikut pertunjukan itu. Saya katakan kepadanya, pertunjukan itu untuk murid yang ada sekarang dan karena dia telah keluar, tentu dia tak bisa ikut. Dia katakan bahwa ibunya sakit sehingga tak bisa mengantarnya ke les, tapi dia tetap terus berlatih. 'Bu Hondrof . . . saya mau main !' dia memaksa.
Saya tidak tahu apa yang membuat saya akhirnya membolehkan dia main dipertunjukan itu. Mungkin karena kegigihannya atau mungkin ada sesuatu yang berkata dalam hati saya bahwa dia akan baik-baik saja. Malam pertunjukan datang. Aula itu dipenuhi dengan orang tua, teman, dan relasi. Saya menaruh
Robby pada urutan terakhir sebelum saya ke depan untuk berterima kasih dan memainkan bagian terakhir. Saya rasa kesalahan yang dia buat akan terjadi pada akhir acara dan saya bisa menutupinya dengan permainan dari saya. Pertunjukan itu berlangsung tanpa masalah.
Murid-murid telah berlatih dan hasilnya bagus. Lalu Robby naik ke panggung. Bajunya kusut dan rambutnya bagaikan baru dikocok. 'Kenapa dia tak berpakaian seperti murid lainnya ?' pikir saya. 'Kenapa ibunya tidak menyisir rambutnya setidaknya untuk malam ini ?' Robby menarik kursi piano dan mulai. Saya terkejut ketika dia menyatakan bahwa dia telah memilih Mozart's Concerto #21 in C Major. Saya tidak dapat bersiap untuk mendengarnya. Tetapi . . . jarinya ringan di tuts nada, bahkan menari dengan gesit. Dia berpindah dari pianossimo ke fortissimo . . . dari allegro ke virtuoso. Akord tergantungnya yang diinginkan Mozart sangat mengagumkan ! Saya tak pernah mendengar lagu Mozart dimainkan orang seumur dia sebagus itu ! Setelah enam setengah menit, dia mengakhirinya dengan crescendo besar dan semua terpaku disana dengan tepuk tangan yang meriah. Dalam air mata, saya naik ke panggung dan memeluk Robby dengan sukacita. 'Saya belum pernah mendengar kau bermain seperti itu, Robby! Bagaimana kau melakukannya ?' Melalui pengeras suara Robby menjawab, 'Bu Hondorf . . . ingat saya berkata bahwa ibu saya sakit ? Ya . . . Sebenarnya dia sakit kanker dan dia telah kembali ke surga pagi ini. Dan sebenarnya . . . dia tuli sejak lahir jadi hari inilah dia pertama kali mendengar saya bermain. Saya ingin bermain secara khusus.' Tidak ada satu pun mata yang kering malam itu. Ketika orang-orang dari Layanan sosial membawa Robby dari panggung ke rumah duka, saya menyadari meskipun mata mereka merah dan bengkak, betapa hidup saya jauh lebih berarti karena mengambil Robby sebagai murid saya.
Tidak, saya tidak pernah menjadi penolong, tapi malam itu saya menjadi orang yang ditolong Robby. Dialah gurunya dan sayalah muridnya. Karena dialah yang mengajarkan saya arti ketekunan, kasih, percaya pada dirimu sendiri, dan bahkan mau memberi kesempatan pada seseorang yang tak anda ketahui mengapa . . .
Peristiwa ini semakin berarti ketika, setelah bermain di Desert Storm, Robby terbunuh oleh pengeboman yang tak masuk akal oleh Alfred P. Murrah Federal Building di Oklahoma pada April 1995, ketika dilaporkan . . . dia sedang main piano!.

Minggu, 12 April 2009

KEAJAIBAN MELALUI UANG PALSU

Ada sebuah kisah yang pernah terjadi di kota Nan-chang, provinsi Ciang-sia. Tahun 1938 adalah masa peperangan di masa Presiden Ciang Kai Sek masih menjabat sebagai komandan laskar yang bertempat di Nan-chang. Saat itu di sepanjang jalan terlihat para wanita yang sudah tua dan lemah duduk berjualan. Mereka menjual bermacam-macam kebutuhan tentanra, seperti handuk dan kaus kaki. Biasanya para tentara pergi berbelanja pada jam-jam istirahat.
Suatu hari ketika para tentara sedang berbelanja, tampaklah seorang nenek tua menangis terisak-isak di pinggir jalan. Ketika orang-orang bertanya mengapa ia menangis ia menceritakan bahwa ada orang yang telah membeli banyak sekali barang dagangannya dengan uang yen palsu. Sang nenek baru menyadari bahwa itu adalah uang yen palsu, ketika pembelinya sudah pergi entah ke mana. Seorang tentara yang sedang berbelanja, iba melihat nenek tersebut. Kebetulan ia baru saja menerima gaji, sehingga ia mulai menghibur sang nenek sambil berkata, “Tenang saja Nek, saya baru gajian dan Nenek boleh menukarkan uang yen palsu itu kepada saya sebagai kenang-kenangan.” “Itu tidak mungkin, kau tidak bersalah dalam hal ini, tetapi mengapa engkau mau mengorbankan uangmu untuk saya?” kata sang nenek. “Tidak apa-apa Nek, ambillah uang ini dan Nenek bisa jadikan modal,” bujuk tentara tersebut. Berkali-kali si nenek menolak pemberian tentara itu, namun akhirnya ia tidak kuasa menolak pemberian yang tulus tersebut. Ia menerima uang pemberian si tentara dan menyerahkan uang yen palsu kepadanya.
Beberapa waktu kemudian, tentara itu kembali berdinas di kota Nan-chang. Ia berusaha mencari si nenek untuk menceritakan sebuah keajaiban yang dialaminya. Ternyata di sebuah pertempuran sengit ketika berada di barisan depan dalam medan pertempuran, sebuah peluru menghujam dadanya. Ia begitu takut hingga pingsan, karena mengira bahwa ia sudah menemui ajalnya. Tetapi ketika sadar, ia tidak merasakan sakit apa-apa. Tangannya meraba dadanya untuk mengetahui apakah ada peluru yang bersarang di tubuhnya. Tapi ia tidak melihat darah sedikit pun. Ia melihat kepingan uang logam yang tak lain adalah yen palsu di kantong kirinya. Yen palsu tersebut sudah cekung akibat hantaman peluru. Ternyata yen palsu itu telah menyelamatkan nyawanya, sehingga cerita itu menyebar ke seluruh kota.
Cerita ini membawa satu pesan bagi kita bahwa setiap kebaikan terlebih pengorbanan, akan selalu diperhitungkan oleh Tuhan. Kita tidak tahu dengan cara apa semua itu akan dibalaskan kepada kita, tetapi yang pasti bahwa kita tidak akan kehilangan keuntungan ketika kita memutuskan untuk memberi. Douglas M. Lawson mengatakan, “Kita ada untuk sementara melalui apa yang kita ambil, tetapi kita hidup selamanya melalui apa yang kita berikan.” Jangan takut untuk memberi atau berkorban bagi sesama.

Dipungut OPH dari Manna Sorgawi September 2008

Sabtu, 11 April 2009

PITA KUNING DI POHON EK


PITA KUNING DI POHON EK

Seorang pria asal White Oak, Georgia , Amerika, menyia-nyiakan kebaikan istrinya yang cantik. Dia sering pulang dini hari dalam keadaan mabuk, kemudian tanpa segan memukuli istri serta anak-anaknya. Suatu malam ia memutuskan untuk pergi ke New York, dengan berbekalkan uang yang dicurinya dari tabungan isterinya.
Di New York, pria itu mencoba berbisnis bersama beberapa orang temannya. Sambil berbisnis ia menikmati seks bebas, judi dan mabuk-mabukan. Bulan serta tahun berlalu, dan dia sama sekali tidak memberi kabar tentang keberadaannya kepada keluarga yang ditinggalkannya secara diam-diam. Seiring dengan berjalannya waktu ia bangkrut , bahkan terlibat hutang dan melakukan penipuan dengan menulis cek palsu. Ia tertangkap dan dijerat hukuman penjara selama tiga tahun. Menjelang akhir masa tahanan, ia mulai merindukan istri dan anak-anaknya. Ia mengumpulkan keberaniannya dan menulis sepucuk surat kepada istrinya. Di dalam surat itu ia menceritakan penyesalan dan kerinduannya untuk membina keluarga yang harmonis.
”Sayang, engkau tidak perlu menungguku. Namun jika engkau masih mau aku kembali, ikatkanlah sehelai pita kuning pada pohon ek yang ada di pusat kota. Apabila aku lewat dan tidak menemukan sehelai pita kuning, tidak apa-apa. Aku tidak akan turun dari bis dan terus ke Miami. Aku berjanji tidak akan mengganggu kehidupanmu dan anak-anak...” itulah sekelumit isi suratnya.
Setelah dibebaskan, pria itu menaiki bis dengan tujuan kembali ke kampung halamannya. Ia tidak tahu apakah istrinya sudah menerima suratnya dan mau mengampuninya. Di dalam bis ia bercerita dan meminta supir bis untuk menjalankan bisnya secara perlahan-lahan saat mereka memasuki pusat kota White Oak. “Tolong Pak, saat melewati pusat kota berjalanlah perlahan.... kita sama-sama melihat apa yang akan terjadi,” katanya memohon. Saat bis memasuki White Oak, detak jantung pria itu berdebar sangat kencang, tubuhnya basah oleh keringat. Di tengah-tengah keadaan yang menegangkan itu, tiba-tiba air matanya menetes tanpa henti saat melihat ratusan pita kuning bergantungan di sebuah pohon ek. “Wow... seluruh pohon dipenuhi pita kuning,” sorak penumpang yang ikut-ikutan tegang di dalam bis tersebut. Akhirnya semua penupang bis sepakat mengantar pria yang disambut oleh kehangatan cinta istri dan anak-anaknya. Saking terharunya, si supir bis menelpon surat kabar New York Post untuk menceritakan kisah indah tersebut. Yang tak kalah menariknya, saat itu seorang penulis lagu berada dalam bis tersebut. Kisah nyata itu kemudian menginspirasinya untuk menulis sebuah lagu. Februari 1973, lagu berjudul “Tie a Yellow Ribbon Around the Old Oak Tree” ini dirilis dan langsung menjadi hits.
Kesabaran, penerimaan dan pengampunan adalah bagian dari kasih. Kasih yang nyata membawa dampak yang luar biasa. Biarlah kita hidup saling menerima dan mengampuni.

Dipungut OPH dari Manna Sorgawi-Mei 2009


Jumat, 10 April 2009

HADIAH LULUS UJIAN - Readers' Digest


Komedian, David Brenner, berasal dari keluarga miskin. Ketika ia berhasil dalam ujian akhir di Sekolah Menengah Umum, ia diberi hadiah yang tak terlupakan.”Beberapa teman saya menerima hadiah berupa pakaian baru, dan yang kaya mendapat mobil baru”, kenangnya. ”Setelah saya menerima ijazah, ayah saya mendekat dan mengucapkan selamat kepada saya, dan memasukkan tangannya ke dalam sakunya lalu mengeluarkan sesuatu. Saya mengulurkan tangan , membuka telapak, dan membiarkan ayahku menaruh hadiah itu ke dalam telapak tanganku – sebuah logam lima ratus rupiah!Kemudian ia mengatakan kepadaku, ”Belilah sebuah surat kabar dengan logam itu. Bacalah setiap kata yang ada di dalamnya. Kemudian bukalah halaman kolom iklan dan temukanlah pekerjaan untuk dirimu. Ceburkanlah dirimu ke dalam dunia. Sekarang, semuanya milikmu.””Saya selalu berpikir bahwa itulah sebuah lelucon yang paling lucu yang pernah dipertontonkan ayah kepada saya, hingga beberapa tahun lalu di Angkatan Bersenjata, saya duduk di sebuah ruangan kecil memikirkan keluarga dan kehidupan saya. Di situlah saya kemudian menyadari bahwa teman-teman saya telah menerima HANYA mobil baru, atau HANYA pakaian baru. Ayah saya telah memberi saya seluruh dunia. Adakah pemberian yang lebih besar daripada itu?”


Dipungut OPH dari buku

1.500 Ceritera BermaknaFrank Mihalic, SVD

TINDAKAN RAHASIA - Donald E. - Vesta W Mansell


Pengantar
Sir Ernest Shackleton, seorang penjelajah Antartika yang terkenal dari Inggris, suatu kali ditanya tentang saat paling buruk yang dialaminya di benua yang beku tersebut. Orang mungkin mengira ia akan bercerita tentang badai salju kutub yang dahsyat, tetapi tidak. Sebaliknya, ia mengatakan bahwa saat paling buruk datang suatu malam ketika ia dan anak buahnya berkerumun di sebuah gubuk darurat dan bekal yang terakhir sudah dibagikan! Hal ini berarti bila badai tidak juga reda maka hari berikutnya mereka akan kelaparan dan selanjutnya tanpa adanya pertolongan dari luar berarti ajal pun menjelang.

Tindakan Rahasia
Setelah semua anak buahnya mendengkur, Shackleton tetap terjaga, matanya setengah terpejam. Tiba-tiba ia melihat gerakan sembunyi-sembunyi dari salah seorang anak buahnya. Sambil memicingkan mata ke arah pria tadi, ia melihatnya diam-diam menggapai ke salah satu pria yang lain dan melepaskan tas biskuit dari ranselnya.
Shackleton terkejut! Sampai detik itu ia telah mempercayakan nyawanya kepada pria itu. Sang bawahan telah dipercaya memegang seluruh perbekalan. Sekarang ia menjadi ragu-ragu. Tindakan anak buahnya sangat mencurigakannya dan mengarah kepada pencurian.
Namun kemudian, saat ia memperhatikan, ia melihat pria itu membuka tas biskuitnya sendiri. Lalu ia mengeluarkan potongan makanannya yang terakhir, diam-diam menaruhnya dalam tas pria tadi, dan mengembalikannya ke ranselnya!
Saat Shackleton menceritakan kisah tadi, ia berkata,”Saya tak berani menyebutkan nama pria itu kepada kalian. Saya rasa tindakannya adalah rahasia antara dirinya dan Allah.” Anak buahnya memang luar biasa. Memberi tanpa terlihat orang lain. Kalau Shackleton memberitahunya berarti ia membuat niat baik anak buahnya tidak tersampaikan!

Dipungut OPH dari buku
It's Your Time To Shine!
Alice Gray

Kamis, 09 April 2009

KELUARGA DI APARTEMEN SEBERANG - Rusty Fischer


Pengantar
Memulai hidup mandiri berarti hidup tanpa dibiayai orang tua. Rusty memulainya di rumah susun murah penuh mahasiswa dan karyawan muda dengan kekecualian satu keluarga yang tinggal tepat di seberang kamar apartemennya. Baik Rusty maupun keluarga muda tersebut tinggal di apartemen dengan hanya 1 kamar yang saling berhadap-hadapan tembus pandang karena keduanya tidak punya tirai! Rusty pun menyaksikan keluarga di apartemen seberangnya. Keluarga tersebut terdiri dari sang ayah, sang ibu dan seorang anak. Biasanya sang anak duduk di meja dapur sibuk mewarnai gambar sambil minum susu dan makan kue kering murahan. Sang ibu aktif menjahit untuk mencari nafkah membantu sang ayah. Sang ayah pulang sekitar pk 5 sore setiap hari. Kala sang ayah pulang, maka sang ibu dan sang putra menyambut sang ayah dengan lompatan dan pelukan , seolah-olah sang ayah sudah meninggalkan rumah selama seminggu!
Rusty bekerja sebagai pramusaja di malam hari untuk mencukupi biaya kuliahnya di siang hari. Sebagai pramusaja baru, Rusty hanya bisa pulang sebentar sebelum Natal untuk mengunjungi keluarga. Karena sepanjang libur natal, ia dijadwalkan bekerja sehingga ia tidak bisa pulang lama. Setelah 2 hari pulang, ia pun kembali.

Kala Berduka
Beberapa hari setelah kembali ke apartemennya, Rusty mengamati keluarga di seberangnya seperti biasa. Namun kali ini suasananya berbeda. Si anak tetap di meja, namun tidak ada segelas susu dan sepiring kue! Ibunya menjahit, namun jarang mengangkat kepalanya. Saat pk 5 sore tiba, sang ayah tidak muncul! Tidak ada jaket di rak mantel. Pk 5.50 sore masih belum ada tanda-tanda sang ayah.
Saat keluar dari kamar apartemennya untuk bekerja shift malam, Rusty melihat krans bunga pemakaman tergantung di pintu depan keluarga itu. Bunganya masih segar! Hal ini menjelaskan ketiadaan sang ayah. Rusty menangis sepanjang perjalanan ke tempat kerja seolah-olah pria itu adalah ayahnya sendiri. Kenangan senyum dan tawa keluarga itu berkelebatan sepanjang malam itu berganti dengan pertanyaan bagaimana keluarga tersebut dapat bertahan tanpa sang ayah. Rusty pun sulit melewati waktu kerjanya...
Namun demikian, Rusty merasa sungkan untuk mengetuk pintu mereka karena walau selama enam bulan terakhir ia selalu mengamati keluarga itu, ia sama sekali tidak mengenal dan dikenal keluarga itu. Lagipula Rusty khawatir membuat keluarga itu takut karena pembawaannya sebagai mahasiswa kucel, berjanggut kambing dan bercelemek.
Hari lewat hari, kondisi keluarga itu semakin menyedihkan. Sang ibu dan anak duduk dan berdiri, tak lepas dari perhatian Rusty. Lagu natal pun berkumandang dari radio, film animasi dan TV, namun kemuraman tak berubah. Di sini, Rusty menyadari artinya “hari raya kelabu”.

Membagi Perhatian
Belum tampak sepotong hiasan natal pun di apartemen seberang. Tampaknya tak satu lampu natal pun dinyalakan keluarga itu. Sepulang kerja, Rusty pun bergegas membeli pohon natal dan membeli daging beku, jus jeruk, permen dan eggnog. Sesampai di apartemen, Rusty memasukkan steker ke stopkontak untuk memanaskan makanan dan mengetes lampu pohon natal. Lalu ia pun duduk di kursi butut namun empuk. Tak disadarinya, ia ketiduran. Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu. Rusty pun terlonjak berdiri, mengamati makanan yang sudah hangat dan pohon natal yang menyala terang di atas meja makan.
Rusty pun membuka pintu dan melihat sang ibu dan sang anak. Wajah keduanya tampak cemas. “Kami melihat pohonmu masih menyala dan kau tertidur di sebelahnya. Kami khawatir apartemenmu kebakaran.” Rupanya suasana apartemennya membuat ibu-anak itu kasihan kepada Rusty yang duduk di kursi bututnya sendirian pada hari Natal. Sungguh luar biasa. Dalam kepedihan, mereka masih bisa merasa kasihan pada Rusty!
Awalnya Rusty yang ingin memberi mereka kejutan. Namun yang terjadi sebaliknya. Justru keluarga kecil dari apartemen seberang lah yang membuat keajaiban!

Disusun Ulang OPH dari Buku
True
Irene Dunlap

EMPAT KEPING CINTA - Nancy Jo. Sulivan


Pengantar
Nancy adalah seorang eksekutif wanita yang merawat sendiri rumah dan mobilnya. Jadwalnya penuh dengan berbagai kesibukan di rumah dan kantor. Namun tatkala putrinya memintanya untuk membantu sebagai petugas kasir sukarela selama sehari pada acara pasar raya di sekolah, ia tidak tega menolaknya - meskipun setumpuk pekerjaan menunggu : rumah berantakan, dikejar tenggat waktu di kantor dan servis mobil. Kepada sesama orang tua murid lainnya, ia senantiasa berkata, “Saya sibuk sekali”, untuk menunjukkan pengorbanan begitu besar yang telah ia lakukan. Sukacitapun menguap.

Empat Keping Koin
Sepanjang pagi itu, anak-anak datang melihat-lihat, satu kelas setiap setengah jam. Saat mereka membawa barang yang diminati ke meja kasir, Nancy pun menjumlahkan belanjaan mereka. Lalu anak-anak itu menyerahkan cek yang telah ditulis orang tua mereka. Ada yang sepuluh, dua puluh dan kadang kala tiga puluh dolar.
Sekitar waktu makan, serombongan anak kelas enam datang. Seorang anak laki-laki datang menghampiri meja jualan di dekat Nancy, meja barang obral. Di atasnya penuh dengan penghapus, stiker dan tempat pensil dan semuanya bertanda satu dolar. Anak bermata biru dan wajah berbintik-bintik itu mengangkat poster mobil balap, sebuah Ferari merah dilatarbelakangi warna hitam metalik. Matanya menatap poster itu berbinar-binar. Ia mengamati gambar yang berkilau dan mengagumi setiap detilnya. “Harganya hanya satu dolar” kata Nancy sambil tersenyum. Anak itu merogoh sakunya, mengeluarkan empat keping koin seperempat dolar. “Ini uang makan siangku,”katanya. Ia tak punya cek dari orang tuanya, hal ini menunjukkan ia bukan berasal dari keluarga berada.
Bel berbunyi. Meskipun sudah saatnya kembali ke kelas, ia belum mau beranjak. Ia menimang-nimang keputusan untuk membelinya. Saat itu, sekelompok anak kelas satu mulai memasuki arena. Seorang anak lelaki kecil dengan label nama Johnny mendekat. Sambil berjinjit, pandangannya menangkap gambar poster yang sedang dipegang oleh kakak kelasnya. “Wah,” Johnny berbisik keras. “Harganya cuma satu dolar” kata anak itu saat ia menurunkan poster itu supaya Johnny dapat melihatnya. “Aku tidak punya uang,” jawab si kecil. Tanpa ragu, anak yang lebih besar itu menyerahkan keempat koinnya kepada Nancy, jumlah yang tepat untuk membayar poster mobil balap tadi. Sambil menyeringai, ia meletakkan poster itu di tangan Johnny, lalu berlari menyusul teman-teman sekelasnya yang menunggu.

Titik Balik
Nancy mengingat rasa sebalnya pagi ini, bagaimana ia merasa sudah berkorban begitu banyak untuk memperlihatkan “perbuatan baik”. Namun saat ini, ia melihat perbuatan baik yang paling terhormat yang diberikan secara diam-diam dan mengalir dari kerendahan hati. Hati yang tidak memerlukan pengakuan. Hati yang berkorban tanpa tanda-tanda kemarahan. Hati yang dengan penuh sukacita membagikan apa yang paling sulit dibagikannya.
Nancy pun menjalani sisa hari itu dengan penuh sukacita. Ia tersenyum saat menjumlahkan harga, berbicara, bergurau, dan membaca bersama anak-anak. Bahkan ia pun membeli setumpuk stiker, dan dengan diam-diam menyelipkannya ke buku-buku yang baru dibeli. Ia pun lupa pada rumah yang berantakan, tenggat waktu di kantor dan servis mobil. Ada hal-hal lebih baik yang harus dikerjakan!

Disusun ulang OPH dari buku
It's Your Time To Shine!
Alice Gray

SENTUHAN PENUH ARTI - John Trent


Pendahuluan
Seorang prajurit muda (PM) sedang cuti mengikuti camp musim panas Kaum Muda. PM sebenarnya enggan mengikuti camp tersebut. Hanya janji orang tuanya untuk membelikan PM sebuah mobil bekas, membuatnya terpaksa ikut. PM masih berusia 18 tahun dan pandangannya penuh ketakutan. Dari jendela matanya, ia tampak seperti seorang pria tua yang letih, tidak seperti kawanan anak-anak yang gembira di sekitarnya. Ia adalah seorang veteran perang Vietnam. Dua minggu sebelumnya ia berjuang mempertahankan hidupnya, melihat rekan-rekannya bergelimpangan di sekitarnya. Kemudian semuanya selesai. Ia diangkut keluar dari medan baku tembak yang mengerikan di Saigon, menumpang sebuah penerbangan komersial dan pulang. Perang memang seringkali membuat pelaku yang terlibat gila dan menderita trauma.
Camp itu sendiri diadakan di Colorado Rockies, lembah Rocky Mountain tahun 1969. Lokasi camp berada di tengah lembah yang luas dan berumput, dikelilingi pohon-pohon cemara raksasa yang menjulang bagaikan pagar megah. Kondisi camp sendiri sangat kontras dengan area perang di hutan-hutan Vietnam yang sedang berlangsung. Kebanyakan peserta camp tidak menyadari bahwa pada saat mereka menikmati camp, sejumlah ayah, sahabat, teman sekolah, saudara mereka sedang berperang di hutan-hutan itu.

Kenangan Traumatis
Matahari meluncur ke balik puncak-puncak gunung yang mengitari area camp. Sementara PM bersama para remaja lainnya sedang mengantri ayam panggang dengan pandangan penuh ketakutan. Sedangkan peserta camp lainnya sedang tertawa-tawa gaduh menunggu makan malam. Mereka seakan tidak perduli dengan apa yang terjadi di Vietnam. Wajah PM terlihat pucat dan tubuhnya gemetar. Tubuhnya kian lama kian gemetar. Saat ia akan menerima jatahnya, tiba-tiba ia menjatuhkan piringnya, menumpahkan kacang polong dan selada ke tanah sehingga mengenai orang yang berdiri di depannya. Diiringi tangisan tersedak, ia berlari kencang ke arah hutan.
Tiba-tiba semua orang berhenti berbicara dan hanya memandang. Doug, Ketua Kaum Muda , mengejarnya. Setelah keduanya menghilang dalam hutan, antrean makan malam pun dilanjutkan. Dough menemukan PM bersembunyi di balik pepohonan, gemetar seperti daun bergoyang. Dough adalah mantan pemain football yang kekar lebih tinggi hampir 30 cm dan lebih berat 50 kg dari PM. Doug tanpa mengucapkan sepatah kata pun dengan lembut merengkuh dan memeluk erat peserta camp yang sedang gemetar itu. PM membenamkan wajahnya di dada Dough dan menangis tak terkendali. Mereka berdua berdiri bersama di malam itu selama hampir dua puluh menit. PM terisak, Dough memeluknya, tanpa mengatakan apa pun. Ketika kendali dirinya pulih, PM bercerita, “Di Vietnam, jika Anda berada di tempat terbuka seperti tadi dengan begitu banyak orang berkeliaran, berondongan mortir pasti akan segera dimulai.” PM sendiri baru menyaksikan sersannya tewas, tepat di depannya sebelum kembali ke AS. Sang sersan tewas tepat di depannya, terkena serangan granat! Ia sudah berusaha melupakannya, namun pemandangan dan suara saat itu terngiang kembali. Sesaat sebelum mengambil jatah makan malamnya, ia seakan-akan mendengar bunyi tembakan senapan dan teriakan bergema,”Serangan! Serangan!” Ia pun tak tahan lagi dan lari mencari perlindungan...

Memenangkan Peperangan
Hari itu menjadi hari yang penting bagi PM. Sebelum minggu camp berakhir, ia menyerahkan hidupnya kepada komandan yang baru, Yesus Kristus. Pada malam terakhir, ia berdiri memberikan kesaksian bahwa ia telah mengenal Kristus dalam minggu itu. Kisah pertobatannya sangat berbeda dengan yang lainnya. Diawali keinginan untuk mendapatkan mobil bekas dari orang tuanya akhirnya ia ikut camp ini. Meskipun semua peserta telah bersikap sangat baik kepadanya, bukan persahatan ini yang membuatnya mengambil keputusan menerima Yesus. Juga bukan karena khotbah pembicara camp yang baik dan jelas menyampaikan Injil sehingga membuatnya memberi tanggapan kepada Kristus. Hal yang benar-benar menyentuhnya adalah “pria besar itu”.D ough, yang bersedia berdiri di hutan bersamanya dan memeluknya hingga sepotong mimpi buruk mengendurkan cengkeramannya. Singkatnya, Allah memakai sebuah pelukan – bukan khotbah, bukan perjalanan panjang di tengah hutan, bukan kesaksian – untuk memenangkan pertarungan rohani yang lebih besar yang sedang dihadapinya!

Disusun ulang OPH dari Buku
It’s your time to Shine!