Yesus Gembala yang Baik.

Minggu, 21 September 2014

Peluru


PELURU

            Waktu itu siang hari di akhir bulan Maret dan Anya sedang duduk di dalam mobil sambil menghafal ayat-ayat Alkitab. Ia melakukan hal itu setiap minggu sementara adik laki-lakinya, Zeek, kursus piano. Giliran Anya untuk kursus akan tiba nanti, tetapi ia perlu mengulangi membaca ayat-ayat itu dengan keras untuk menghafalnya, dan itu paling baik dilakukan di dalam mobil. Anya adalah anggota tim Bible Quiz (Kuis Alkitab) di sekolahnya, dan itu berarti ia harus menguasai betul satu bagian Alkitab. Bukan masalah. Anya suka pertandingan itu!
            Guru music mereka tinggal di rumah bertingkat dua dan pianonya berada di lantai atas.Sebelum pelajaran dimulai, Zeek berkata kepada ibunya, “Aku ingin Kak Anya mendengarkan aku berlatih piano.” Sang ibu mengingatkan bahwa Anya perlu waktu untuk belajar , lagi pula kakaknya telah mendengarkannya berlatih piano sepanjang minggu, dan membuat ibunya terkejut ketika ia kembali bersama kakaknya.
            Kursus dimulai. Lima menit kemudian pelajaran itu mendadak terhenti oleh suara keras di luar rumah. Semua orang menyaksikan sebuah mobil model baru melesat dengan cepat. Pelajaran dimulai kembali setelah guru menenangkan mereka bahwa mungkin suara itu adalah letusan mesin mobil. Jemari Zeek baru saja akan menyentuh piano ketika suami gurunya bergegas masuk, “Tembakan senapan… ke dalam mobil… menghancurleburkan jenedela samping di tempat duduk depan!” Pelajaran pun terhenti. Mereka bergegas turun untuk memeriksa. Benar, sebuah peluru menancap tepat di sandaran kursi tempat kepala Anya bersandar lima menit yang lalu.
            Segera mereka semua menyadari apa yang terjadi. Allah telah memakai Zeek yang berusia tujuh tahun untuk menyelamatkan nyawa kakaknya. Momen itu sungguh mengharukan. Zeek telah bertindak meskipun hal itu tidak masuk akal baginya maupun orang lain, dan Anya telah menuruti permintaannya yang tidak logis.
            Kedua penembak misterius itu mengemudikan mobil mereka melintasi jalan-jalan di Salem, Oregon, dan dengan serampangan  menembaki kotak surat, mobil dan rumah-rumah. Mereka akhirnya ditangkap dan ditahan dengan nilai jaminan satu juta dollar. Dalam sidang mereka, pengadilan wilayah mengundang Anya dan Zeek untuk menceritakan kisah mereka. Kedua penembak itu akhirnya dipenjarakan selama lima tahun, setelah mendengar kisah mengenai bagaimana Allah melindungi seorang anak berumur tujuh tahun dan kakak perempuannya.


Doris Sanford
Dari Buku Mengejar Pelangi
(kompilator Alice Gray)

Penerbit : Gloria Graffa

Anugerah yang Menakjubkan


Peran utama itu seharusnya diberikan kepadaku. Semua temanku sependapat denganku. Setidaknya, peran itu tak seharusnya diberikan kepada Helen, murid baru yang aneh itu. Ia jarang berbicara, dan selalu memandang ke bawah seolah hidup ini teramat berat. Kami tak pernah menanyakannya, karena mungkin ia tidak suka memberi penjelasan. Hidupnya tidak mungkin menderita, karena ia mengenakan baju-baju yang sangat bagus. Belum pernah ia memakai pakaian yang sama lebih dari dua kali selama dua bulan belajar di sekolah kami.
            Namun yang paling menjengkelkan adalah saat ia muncul pada tes awal pemilihan peran dan menyanyikan lagu untuk peran yang kumainkan. Semua siswa tahu bahwa peran utama itu adalah untukku, karena aku terlibat dalam semua kegiatan music di sekolah dan tahun ini kami berada di tingkat akhir.
            Teman-teman sedang menungguku sehingga aku tidak sempat melihat audisi Helen. Kejutan itu terjadi dua hari kemudian saat kami bergegas memeriksa papan bulletin drama untuk pembagian peran di sekolah kami.
            Kami membolak-balik lembaran-lembaran di papan itu dengan cepat untuk mencari namaku. Ketika kami menemukannya, tangisku langsung meledak. Helen terpilih sebagai pemeran utama! Aku terpilih menjadi ibu Helen dan pemeran pengganti. Pemeran pengganti? Tak seorang pun dapat memercayainya.
            Saat-saat latihan terasa sangat lama. Tampaknya Helen tidak menyadari bahwa kami berusaha keras tidak memedulikannya.
            Kuakui Helen memiliki suara yang indah. Bagaimana pun ia tampak berbeda di panggung. Tidak begitu ceria, tapi sangat tenang dan teguh.
            Pada malam pembukaan kami merasa gugup. Semua siswa sibuk berjalan ke sana ke mari di belakang panggung dan menunggu tirai terangkat , kecuali Helen. Ia tampak tenggelam dalam dunianya sendiri yang tenang.
            Pertunjukan itu sukses. Pengaturan waktu kami sangat sempurna, suara kami mengalun dan berpadu dengan manis. Helen dan aku keluar masuk panggung, menjalin cerita di antara kami. Aku berperan sebagai ibu sakit yang berdoa untuk putrinya yang suka melawan, sedangkan Helen berperan sebagai anak perempuan yang saat ibunya meninggal menyadari ada sesuatu yang lebih berarti dalam hidup ini selain kehidupan itu sendiri.
            Akhirnya kami sampai pada adegan terakhir yang dramatis. Aku terbaring di kamar tidur yang gelap. Tempat tidur di panggung yang menyangga tubuhku terasa tidak nyaman, membuatku sulit untuk tenang. Aku merasa tidak sabar, dan ingin agar Helen cepat-cepat menyelesaikan pertunjukan ini.
            Helen disorot dengan lampu sampai ke belakang panggung, putri yang berduka itu mulai memahami makna sesungguhnya dari himme yang dinyanyikannya saat ibunya meninggal.
            “Sangat besar anugerahMu…” Suara Helen menggema, mengungkapkan kepedihan atas kematian ibunya dan pengharapan akan janji-janji Tuhan.
            “… memberi aku selamat…” Sesuatu yang nyata mulai terjadi pada diriku sementara Helen menyanyi. Ketidaksabaranku tiba-tiba lenyap.
            “…dulu aku sesat, kini ditemukan…” Hatiku sangat tersentuh sehingga ingin menangis.
            “…buta dicelikkan.” Rohku mulai berbalik di dalam diriku dan aku berpaling kepada Allah. Pada saat itulah, aku menyadari kasih dan kerinduanNya kepada diriku.
            Suara Helen berkumandang seiring doa pada nada terakhir Tirai ditutup.
            Benar-benar hening. Sama sekali tak terdengar suara. Helen berdiri di belakang tirai yang tertutup dengan kepada tertunduk, dan diam-diam menangis.
            Terdengar tepuk tangan dan sorak-sorai yang bergemuruh. Dan tatkala tirai terangkat, Helen melihat penonton berdiri sambil bertepuk tangan.
            Kami semua membungkuk untuk memberi penghormatan. Aku memeluk Helen dengan hati yang tulus. Hatiku telah terbuka terhadap Kasih yang Agung.
            Pertunjukkan usai. Kostum digantung, make-up dibersihkan, lampu dipadamkan. Para pemain meninggalkan panggung dalam kelompok-kelompok seperti biasanya, saling memberi selamat.  Semua pemain kecuali Helen. Semua pemain kecuali aku.
            “Helen, nyanyianmu terasa amat nyata bagiku.” Aku ragu-ragu, perasaanku begitu terharu. “Nyanyianmu membuatku merasa sangat dekat dengan Tuhan.” Helen menahan napas. Tatapannya bertemu dengan mataku.
            “Itu yang dikatakan Ibu kepadaku pada malam ketika ia meninggal.” Air mata menetes di pipinya. Hatiku sangat tersentuh. “Ibu merasa sangat kesakitan. Lagu ‘Sangat Besar AnugerahMu’ selalu membuat hatinya terhibur. Ibu mengatakan aku harus selau ingat bahwa Tuhan telah menjanjikan apa yang baik untukku dan bahwa anugerahNya akan mengantarnya pulang.”
            Wajahnya tampak sangat bercahaya, kasih ibunya terpancar. “Sebelum Ibu meninggal ia berbisik, ‘Menyanyilah agar Ibu merasa dekat dengan Tuhan, Helen.’ Malam itu dan malam ini, aku menyanyi untuk Ibu.”

Cynthia Hamond
Dari Buku Mengejar Pelangi
(kompilator Alice Gray)

Penerbit : Gloria Graffa

Sabtu, 20 September 2014

Orang Suci dari Auschwitz


Orang Suci dari Auschwitz

            Dari antara semua kenangan yang menyeramkan tentang Auschwitz ada satu kenangan yang indah; yaitu kenangan Gajowniczek mengenai Maximilian Kolbe.
            Pada bulan Februari 1941, Kolbe dipenjarakan di Auschwitz. Kolbe adalah seorang pastor Fransiskan. Di tengah kekejaman dalam kamp pembantaian itu ia tetap mempertahankan kelemahlembutan Kristus. Ia membagi-bagikan makanannya. Ia menyerahkan tempat tidurnya kepada narapidana lain. Ia berdoa bagi orang-orang yang menangkapnya. Kita dapat menyebutnya “Orang Suci dari Auschwitz.”
            Pada bulan Juli tahun yang sama seorang narapidana lolos dari penjara. Di Auschwitz terdapat kebiasaan untuk membunuh sepuluh narapidana apabila satu narapidana melarikan diri. Semua narapidana dikumpulkan  di halaman, dan komandan memilih secara acak sepuluh narapidana dari barisan. Para korban segera akan dimasukkan ke dalam sebuah sel, tidak diberi makan dan minum sampai mereka mati.
            Komandan mulai menyeleksi. Satu per satu narapidana melangkah maju untuk memenuhi panggilan yang menyeramkan itu. Nama kesepuluh yang dipanggilnya adalah Gajowniczek.
            Ketika para perwira memeriksa nomor-nomor orang terhukum itu, seorang dari mereka menangis,”Oh, istri dan anak-anakku,”katanya di antara isak tangisnya.
            Para perwira itu berpaling ketika mereka mendengar suara gerakan di antara narapidana. Penjaga menyiapkan senapan mereka. Anjing pelacak tampak tegang, menunggu komando untuk menyerang. Seorang narapidana meninggalkan barisan dan melangkah maju.
            Narapidana itu Kolbe. Tidak tampak ketakutan di wajahnya. Tidak tampak keraguan dalam langkahnya. Penjaga berteriak dan menyuruhnya berhenti atau ia akan ditembak. “Saya ingin berbicara dengan komandan,” katanya dengan tenang. Entah mengapa petugas tidak memukul dan membunuhnya. Kolber berhenti beberapa langkah dari komandan, melepas topinya dan memandang perwira Jerman itu tepat di matanya.
            “Tuan komandan, saya ingin mengajukan sebuah permohonan.” Sungguh mengherankan, tak seorang pun menembaknya.
            “Saya ingin mati untuk menggantikan narapidana ini.” Ia menunjuk pada Gajowniczek yang sedang menangis terisak-isak. Permintaan yang berani itu diucapkannya tanpa rasa gugup sedikitpun.
            “Saya tidak mempunyai istri dan anak-anak. Selain itu, saya sudah tua dan tidak berguna. Keadaan orang itu masih lebih baik dari keadaan saya.” Kolbe tahu mentalitas Nazi.
            “Siapa kau?” tanya perwira itu.
            “Seorang pastor Katolik.”
            Barisan narapidana itu tercengang. Sang komandan diam seribu bahasa, tidak seperti biasanya. Tak lama kemudian, ia berkata dengan suara nyaring,”Permohonan dikabulkan.”
            Para narapidana tidak pernah diberi kesempatan berbicara. Gajowniczek mengatakan,”Saya hanya dapat berterima kasih kepadanya lewat pandangan mata saya. Saya merasa sangat tercengang dan hampir-hampir tidak dapat memercayai apa yang sedang terjadi. Betapa dalam makna peristiwa itu. Saya, orang yang terhukum, akan tetap hidup sedangkan orang lain dengan sukarela menyerahkan nyawanya untuk saya – orang yang tidak dikenalnya. Apakah ini mimpi?”
            Orang Suci dari Auschwitz itu hidup lebih lama dari Sembilan narapidana lainnya. Sesungguhnya ia tidak mati karena kehausan atau kelaparan. Ia mati setelah racun disuntikkan ke dalam pembuluh darahnya. Hari itu tanggal 14 Agustus 1941.
            Gajowniczek lolos dari pembantaian. Ia kembali ke kampong halamannya. Namun setiap tahun ia kembali ke Auschwitz. Setiap tanggal 14 Agustus ia kembali ke sana untuk mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah mati menggantikannya.
            Di halaman belakang rumahnya terdapat sebuah tanda peringatan yang diukur dengan tangannya sendiri, sebagai  penghargaan terhadap Maximilian Kolbe – orang yang mati baginya agar ia tetap hidup.

Patricia Treece
Dari Buku Mengejar Pelangi
(kompilator Alice Gray)
Penerbit : Gloria Graffa


Minggu, 13 Oktober 2013

Orang Baik Hati

Jeannie Lancaster, Chicken Soup for the Soul. Bangit dari Masa Sulit.

Sudahkah kau menerima kebaikan? Teruskanlah kebaikan itu! Menghapus air mata satu demi satu orang, sampai kebaikan itu muncul di surga—Teruskanlah kebaikan itu! Henry Burton.

Orangtuaku bercerai pada tahun 1963, saat aku berusia sebelas tahun. Setahun kemudian, ayahku tidak lagi memberikan duungan financial apa pun bagiku maupun ketiga kakak perempuanku. Ibuku sendirian, bekerja untuk menghidupi dirinya dan keluarganya yang semuanya perempuan, dengan satu anak yang mengalami keterlambatan perkembangan yang parah.
                Masa-masa itu jelas sangat menantang. Aku masih ingat telepon-telepon ancaman dari penagih utang, suara tangis ibuku pada larut malam, dan malam-malam ketika pancake tepung dan air merupakan makan malam kami yang sedikit. Tetapi, satu kenangan yang muncul dengan kuat, lebih dari yang lain, adalah momen ketika aku belajar makna berbagi dan mengasihi.
                Untuk menafkahi keluarga kami, ibuku bekerja pada siang hari di sebuah kantor surat kabar setempat. Sebagai tambahan, beberapa malam dalam seminggu dia menjual baju-baju perempuan di pesta-pesta pribadi.
                Saat menyetir pulang pada suatu malam, dia berhenti di lampu merah. Lelah seusai kerja membuatnya tidak melihat mobil yang mengebut di belakangnya. Si pengemudi tidak memperhatikan lampu merah. Mobil itu menabrak bagian belakang mobil ibuku dengan kecepatan 96 kilometer per jam.
                Barangkali, kelelahan yang telah menyelamatkan nyawa ibuku malam itu. Tubuhnya, letih dan lemas, terlempar dari kursi si pengemudi ke bagian belakang mobil. Mobilnya sendiri hancur menjadi serpihan besi di sekitarnya.
                Ajaib, ibuku selamat hanya dengan memar dan benjol. Baju-baju yang hendak dijual telah bertindak sebagai pengaman. Tetapi, mobilnya tidak selamat, sementara pengemudi mobil yang menabrak adalah pria muda yang tidak memiliki asuransi. Aku ingat ekspresi putus asa di wajah ibuku, khawatir bagaimana mungkin dia bisa mengumpulkan uang untuk membeli mobil baru.
                Keesokan harinya, aku melihat tetangga kami, keluarga Clayton, berjalan menuruni bukit dari rumah mereka. Mereka memberikan amplop kepaa ibuku berisi 500 dolar. Aku masih ingat ibuku yang tangguh dengan harga diri tinggi, menolak pemberian itu, berkata dia tidak bisa menerima uang mereka. Tidak mungkin ibuku bisa membayar kembali uang tersebut.
                Mr. Clayton tersenyum mendengar protes-protesnya, lalu memberikan pernyataan yang berkesan. “Jangan khawatir soal membayar kembali. Kelak, jika situasi membaik, tolonglah orang lain yang sedang membutuhkan. Itu saja imbalan yang dibutuhkan.”
                Ibuku mengingat-ingat pesan ini. Setahun kemudian dia pulang dari perjalanan panjang dengan bus ke kota tetangga, tempatnya menjual iklan untuk penerbit setempat. Saat berjalan masuk, dia melihat seorang perempuan muda memeluk bayinya yang menangis. Mereka duduk meringkuk di lantai. Ibuku menggiring mereka ke dapur kami dan langsung memasak hidangan sederhana untuk makan malam sang tamu.
                Dengan berjalannya malam, kisah si perempuan muda pun mengalir. Dia melarikan diri dari suami yang suka menyiksa sambil membawa bayi mereka serta sedikit barang. Uangnya hanya cukup untuk pergi sejauh kota kami. Saat bertemu dengan mereka di bus, ibuku tahu apa yang harus dilakukan.
                Ibuku menyiapkan sofat kami sebagai tempat tidurnya. Setelah itu, aku melihat ibuku membuka dompetnya dan memberikan perjalanan ke kota berikutnya dengan bus. AKu tahu hanya itulah uang ibuku. Tetapi, aku melihat tekad dan kebahagiaan di wajahnya saat memberikan uang itu. Aku mendengarkan saat si ibu muda menelpon orangtuanya sambil menangis, mengabarkan bahwa dia akan pulang.
                Selama bertahun-tahun, keluarga kami terus berada dalam kondisi sulit. Namun, lagi dan lagi, aku melihat ibuku menolong orang lain, bagaimanapun caranya, apakah itu dengan uang, waktu, akupun bentuk bantuan lainnya.
                Beberapa decade telah berlaku sejak tetangga kami datang menuruni bukit membawa hadiah. AKu mencoba mengikuti contoh mereka dan ibuku, menolong kecil-kecilan di sana-sini. Aku berharap kelak anak-anakku akan melihat pelajaran yang kupetik bertahun-tahun lalu dari tetangga kami yang baik hati, dan dari ibuku. Kuharap, mereka akan melihat bahwa, di tengah situasi sulit, kebaikan dan kemurahan hati akan membuat perbedaan besar.


Harapan

Kay Day, Chicken Soup for the Soul. Bangit dari Masa Sulit.

Ingat, kita semua akan tersandung. Itulah mengapa lebih baik berjalan sambil bergandengan tangan. (Emily Kimbrough)

Aroma rumput yang baru dipangkas menggelitik hidungku saat aku menatap suamiku berjalan ke arahku. Dia menggenggam sepucuk surat. Kematikan alat pemotong itu.
“Mereka mengirimkan orang ke sini untuk mengambil barang-barang ktia,” katanya.
“Siapa? Barang-barang apa?”
“Gara-gara pajak, mereka pikir kita berutang, dan sekarang menaruh hak gadai atas aset-aset kita.”
“Aset apa?” tanyaku. “Apa yang bisa mereka ambil, yang layak untuk menempuh perjalanan ke sini?”
Kuambil surat itu dan kulihat sekilas segel resmi Negara. Perjuangan panjang untuk membebaskan diri kami sepertinya sia-sia. Sistem yang kurang sempurna membuat Negara, yang belum lama kami tinggali, mencoba menagih pajak yang telah kami bayarkan.
Apel-apel merah muda bermekaran di sekitar kami – pertanda keceriaan yang kontras dengan momen tersebut. Kami seharusnya bahagia; status paiit yang kami ajukan tujuh tahun yang lalu akhirnya diangkat dari laporan kredit kami. Tetapi, kami malah tercebur di dalam ceruk utang tanpa pilihan lain, selain sekali lagi mengajukan pailit. Kami begitu ingin menghindari hal tersebut. Jadi, surat ini layaknya sekop yang berderak di atas tanah. Kami sedang dikubur hidup-hidup.
Bunyi dering telepon terdengar dari seberang halaman Aku tak memedulikannya. Paling-paling, hanya aku dan kreditur yang sudah hafal isi pembicaraan mereka. Ancaman tuntutan hokum. Ancaman pemotongan Aku tidak punya energy untuk menghadapi mereka.
“Aku akan pergi sebentar,” kata suamiku dan dia berlalu, pintu pagar menutup keras di belakangnya. Pandanganku terselubung air mata. Tekanan hidup mempengaruhi pernikahan kami, anak-anak – segalanya.
Stres itu tak tertahankan. Tetapi, beban yang lebih berat datang dari rasa malu dan penyesalan yang kami rasakan karena, sekali lagi, kami berada dalam situasi ini. Kami telah membuat keputusan-keputusan kredit yang buruk meskipun telah bertekad untuk menghindarinya. Kami tidak ingin melalaikan tanggung jawab, namun sepertinya tidak ada jalan lain.
Beberapa hari kemudian, di tengah-tengah studi Alkitab, aku meminta para ibu berdoa untuk kami. Aku ingin Tuhan menjawab kebutuhan kami dan memberikan kebijaksanaan untuk mengatasi keadaan ini.
Setelahnya, dua teman baik mendatangiku. Masing-masing menyelipkan secarik kertas ke dalam tanganku. Aku ingin melihat, tetapi mereka melarangku.
“Bawalah pulang. Kami ingin membantu.”
“Oh, aku tidak bisa,” kataku. Aku malu sampai berada di titik aku memerlukan uang dari orang lain. Namun, aku hanya perlu sekali memandang ke arah teman-temanku untuk mengetahui bahwa aku memang tidak punya pilihan lain. Kupeluk mereka dan kudoakan karunia bagi mereka.
Di mobil, kubuka kedua lembar cek tersebut. Kedua perempuan itu sudah tua. Satu orang menghabiskan hari-harinya merawat suaminya yang mengalami kelumpuhan quadriplegic, sementara yang satu hidup dari uang pensiun perusahaan telepon. Apa yang mereka berikan jauh melebihi kemampuan mereka. Aku menangis sepanjang perjalanan pulang.
Suamiku sedang duduk bersama setumpuk tagihan di hadapannya ketika aku tiba.
“Lihat,” kataku sambil menyodorkan cek-cek itu. Suamiku mengambil keduanya sembari menatap wajahku.
Dia melihat nilainya kemudian terkesiap. “Mengapa mereka melakukan ini?”
Kupikir, harga dirinya pastilah terluka, sama seperti harga diriku.
“Aku hanya meminta mereka berdoa untuk kita, dan mereka memberikan ini.”
Dia menatap kertas-kertas itu untuk beberapa saat. “Uang ini akan bisa untuk membayar tagihan listrik. Sekarang, mereka tidak bisa memotong listrik kita.”
Aku menarik napas dan membisikkan doa terima kasih. Teman-temanku telah memberikan sesuatu yang lebih berharga ketimbang uang; mereka memberikan harapan.
Dengan bantuan Tuhan , kami mampu memanjat keluar dari keterpurukan, dan kami lebih kuat dalam menempuh perjalanan selanjutnya. Harapan dari dua teman pemurahlah yang telah memberikan kami kekuatan untuk mengangkat kepala dan memulai perjalanan.



Kamis, 18 Juli 2013

KISAH SEDIH SEORANG MURID




Saya adalah seorang guru di sekolah dasar, saya mengajar di jam sore hari. Salah seorang murid saya setiap hari datang terlambat ke sekolah. Tas dan bajunya selalu kotor. Setiap kali saya bertanya tentang baju dan tasnya dia hanya terdiam. Saya masih bersabar dengan keadaan pakaiannya.
Tetapi kesabaran saya benar-benar diuji dengan sikapnya yang setiap hari datang terlambat. Pada mulanya saya hanya memberi nasehat. Dia hanya menundukkan kepala tanpa berkata-kata kecuali anggukan yang seolah-olah dipaksakan. Kali kedua saya memarahinya, dia masih juga mengangguk tetapi masih juga datang terlambat keesokan harinya.
Kali ketiga, saya terpaksa menjalankan janji saya untuk memukulnya kalau masih terlambat. Anehnya dia hanya menyerahkan punggungnya untuk dipukul. Air matanya saja yang berjatuhan tanpa berucap sepatah katapun dari mulutnya.
Keesokan harinya dia masih juga terlambat, dan saya memukulnya lagi. Namun ia masih tetap datang ke sekolah dan masih tetap datang terlambat.
Suatu hari saya berencana untuk menyelidikinya ke rumahnya. Setelah mendapat alamatnya, saya melanjutkan niat saya. Dia tinggal di sebuah kawasan bukit yang tidak begitu jauh dari sekolah. Keadaan rumahnya sungguh sangat sederhana, bahkan bisa dikatakan tidak layak huni.
Saya melihat murid saya itu sedang berdiri di depan rumahnya dalam keadaan gelisah. Seorang wanita yang mungkin ibunya juga kelihatan. Kurang lebih pukul 1.30 siang, seorang anak lelaki sedang berlari-lari sekuat tenaga menuju rumah itu. Sambil berlari dia membuka baju sekolahnya. Sampai di depan rumah, baju dan tasnya diserahkan kepada murid saya yang langsung bergegas memakainya. Sebelum pakaian sekolahnya sempurna dikenakan, dia sudah berlari ke arah sekolah.
Saya kembali ke sekolah dengan penuh penyesalan. Saya memanggil anak itu sambil menahan air mata yang mulai tergenang. "Maafkan ibu. Tadi ibu pergi ke rumah kamu dan memperhatikan kamu dari kejauhan. Siapa yang berlari memberi kamu baju tadi?"
Dia terkejut dan wajahnya berubah. "Itu kakak saya. Kami bergantian baju dan tas sebab tidak ada baju lain lagi. Hanya baju dan tas itu yang ada. Maafkan saya, ibu." jawabnya.
"Kenapa kamu tidak memberitahu ibu dan kenapa kamu biarkan saja ketika ibu memukul kamu?"
"Ibu saya berpesan, jangan meminta-minta pada orang, jangan ceritakan kemiskinan kita pada orang. Kalau ibu guru mau memukul, serahkan saja punggung kamu."
Sambil menahan air mata yang mulai berguguran, saya memeluk anak itu, "Maaf ibu..." Kejadian itu cukup menyadarkan saya. Setelah itu saya mencoba membantunya sekuat yang aku mampu.

Dipetik dari pengalaman seorang guru.

Sumber : Unknown