Yesus Gembala yang Baik.

Kamis, 09 April 2009

EMPAT KEPING CINTA - Nancy Jo. Sulivan


Pengantar
Nancy adalah seorang eksekutif wanita yang merawat sendiri rumah dan mobilnya. Jadwalnya penuh dengan berbagai kesibukan di rumah dan kantor. Namun tatkala putrinya memintanya untuk membantu sebagai petugas kasir sukarela selama sehari pada acara pasar raya di sekolah, ia tidak tega menolaknya - meskipun setumpuk pekerjaan menunggu : rumah berantakan, dikejar tenggat waktu di kantor dan servis mobil. Kepada sesama orang tua murid lainnya, ia senantiasa berkata, “Saya sibuk sekali”, untuk menunjukkan pengorbanan begitu besar yang telah ia lakukan. Sukacitapun menguap.

Empat Keping Koin
Sepanjang pagi itu, anak-anak datang melihat-lihat, satu kelas setiap setengah jam. Saat mereka membawa barang yang diminati ke meja kasir, Nancy pun menjumlahkan belanjaan mereka. Lalu anak-anak itu menyerahkan cek yang telah ditulis orang tua mereka. Ada yang sepuluh, dua puluh dan kadang kala tiga puluh dolar.
Sekitar waktu makan, serombongan anak kelas enam datang. Seorang anak laki-laki datang menghampiri meja jualan di dekat Nancy, meja barang obral. Di atasnya penuh dengan penghapus, stiker dan tempat pensil dan semuanya bertanda satu dolar. Anak bermata biru dan wajah berbintik-bintik itu mengangkat poster mobil balap, sebuah Ferari merah dilatarbelakangi warna hitam metalik. Matanya menatap poster itu berbinar-binar. Ia mengamati gambar yang berkilau dan mengagumi setiap detilnya. “Harganya hanya satu dolar” kata Nancy sambil tersenyum. Anak itu merogoh sakunya, mengeluarkan empat keping koin seperempat dolar. “Ini uang makan siangku,”katanya. Ia tak punya cek dari orang tuanya, hal ini menunjukkan ia bukan berasal dari keluarga berada.
Bel berbunyi. Meskipun sudah saatnya kembali ke kelas, ia belum mau beranjak. Ia menimang-nimang keputusan untuk membelinya. Saat itu, sekelompok anak kelas satu mulai memasuki arena. Seorang anak lelaki kecil dengan label nama Johnny mendekat. Sambil berjinjit, pandangannya menangkap gambar poster yang sedang dipegang oleh kakak kelasnya. “Wah,” Johnny berbisik keras. “Harganya cuma satu dolar” kata anak itu saat ia menurunkan poster itu supaya Johnny dapat melihatnya. “Aku tidak punya uang,” jawab si kecil. Tanpa ragu, anak yang lebih besar itu menyerahkan keempat koinnya kepada Nancy, jumlah yang tepat untuk membayar poster mobil balap tadi. Sambil menyeringai, ia meletakkan poster itu di tangan Johnny, lalu berlari menyusul teman-teman sekelasnya yang menunggu.

Titik Balik
Nancy mengingat rasa sebalnya pagi ini, bagaimana ia merasa sudah berkorban begitu banyak untuk memperlihatkan “perbuatan baik”. Namun saat ini, ia melihat perbuatan baik yang paling terhormat yang diberikan secara diam-diam dan mengalir dari kerendahan hati. Hati yang tidak memerlukan pengakuan. Hati yang berkorban tanpa tanda-tanda kemarahan. Hati yang dengan penuh sukacita membagikan apa yang paling sulit dibagikannya.
Nancy pun menjalani sisa hari itu dengan penuh sukacita. Ia tersenyum saat menjumlahkan harga, berbicara, bergurau, dan membaca bersama anak-anak. Bahkan ia pun membeli setumpuk stiker, dan dengan diam-diam menyelipkannya ke buku-buku yang baru dibeli. Ia pun lupa pada rumah yang berantakan, tenggat waktu di kantor dan servis mobil. Ada hal-hal lebih baik yang harus dikerjakan!

Disusun ulang OPH dari buku
It's Your Time To Shine!
Alice Gray

BAGIKANLAH - Kendra Smiley


Ada Apa di Balik Sangkar?
Di depan sekelompok anak, seorang pendeta membawa sebuah sangkar burung besar yang ditutup sehelai kain dan bertanya, “Di .balik kain ini ada sebuah sangkar burung yang sangat bagus,” katanya. “Apakah kalian tahu binatang apa yang tinggal dalam sebuah sangkar?” “Burung” jawab mereka serempak. “Benar!” jawab Pak Pendeta, “dan ada seekor burung kelabu besar dalam sangkar ini.” Lalu ia menyibakkan kain itu untuk memperlihatkan seekor kucing kelabu besar yang dengan nyamannya meringkuk di dasar sangkar itu.
“Itu bukan burung,” anak-anak itu cekikikan. “Itu kucing.” “Pasti burung,” sanggah pendeta itu. “Ia ada dalam sebuah sangkar burung, kan?” “Itu kucing,” kata anak-anak itu. “Maksud kalian, berada dalam sebuah sangkar burung tidak akan menjadikan kamu seekor burung?” “Benar!” jawab mereka riang, senang karena berhasil memenangkan perdebatan itu. “Bapak kira kalian benar,” ia mengakui. “Dan, duduk di gereja tidak membuatmu menjadi orang kristiani. Kalian harus mengenal Yesus sebagai Juru Selamat kalian.”

Korek Api Dapur
Tahun-tahun berlalu. Salah seorang anak muda yang mendengar khotbah sang pendeta itu diminta untuk menyampaikan pelajaran di perkumpulan Persekutuan Para Atlet Kristiani di SMAnya. Pelajaran yang ia sampaikan sama dengan pelajaran yang pernah diterimanya ketika ia masih kecil.
Pemuda itu mengacungkan sebatang lilin yang hendak ia nyalakan, jadi ia mengeluarkan sebuah kotak yang diberi nama “Korek Api Dapur”. Ketika ia membuka kotak itu, ternyata kotak itu penuh paku payung. Sekeras apa pun ia berusaha, tak mungkin ia dapat menyalakan lilin dengan paku payung.
“Meskipun berada dalam sebuah kotak korek api, paku payung ini tidak serta-merta menjadi korek api,” ia menyimpulkan. “Tinggal dalam sebuah garasi tidak berarti Anda adalah sebuah mobil. Dan, hadir di gereja tidak membuat Anda menjadi orang kristiani. Anda harus mengenal Yesus sebagai Juru Selamat Anda.” Malam itu sang pemuda memanfaatkan kesempatan untuk bersaksi tentang imannya, dan keputusannya itu menimbulkan konsekuensi yang abadi.

Bagikanlah
Beberapa minggu kemudian, seorang gadis yang menghadiri pertemuan itu mengalami kecelakaan mobil yang fatal. Ibu gadis itu mengatakan bahwa putrinya telah berubah sejak menghadiri pertemuan itu. Ia pulang ke rumah, menceritakan pelajaran yang diperolehnya, lalu mendiskusikannya panjang lebar dengan kedua orangtuanya, yang adalah orang kristiani. “Saya yakin Andrea telah menerima Kristus berkat pelajaran yang disampaikan pemuda itu,” kata ibunya. “Sekarang saya tidak sabar untuk dapat bertemu kembali dengannya di sorga.”
Kita bisa memilih untuk memberi kesaksian tentang iman kita. Kita juga bisa memilih untuk membagikan kasih, sukacita, hikmat dan kenang-kenangan kita. Allah mengaruniakan begitu banyak hal yang bisa kita bagikan. Dan, Dia ingin agar kita membagikan berkat-berkatnya itu dengan murah hati kepada sesama kita.

Dipungut OPH dari Buku
The Right Choice
Kendra Smiley

SENTUHAN PENUH ARTI - John Trent


Pendahuluan
Seorang prajurit muda (PM) sedang cuti mengikuti camp musim panas Kaum Muda. PM sebenarnya enggan mengikuti camp tersebut. Hanya janji orang tuanya untuk membelikan PM sebuah mobil bekas, membuatnya terpaksa ikut. PM masih berusia 18 tahun dan pandangannya penuh ketakutan. Dari jendela matanya, ia tampak seperti seorang pria tua yang letih, tidak seperti kawanan anak-anak yang gembira di sekitarnya. Ia adalah seorang veteran perang Vietnam. Dua minggu sebelumnya ia berjuang mempertahankan hidupnya, melihat rekan-rekannya bergelimpangan di sekitarnya. Kemudian semuanya selesai. Ia diangkut keluar dari medan baku tembak yang mengerikan di Saigon, menumpang sebuah penerbangan komersial dan pulang. Perang memang seringkali membuat pelaku yang terlibat gila dan menderita trauma.
Camp itu sendiri diadakan di Colorado Rockies, lembah Rocky Mountain tahun 1969. Lokasi camp berada di tengah lembah yang luas dan berumput, dikelilingi pohon-pohon cemara raksasa yang menjulang bagaikan pagar megah. Kondisi camp sendiri sangat kontras dengan area perang di hutan-hutan Vietnam yang sedang berlangsung. Kebanyakan peserta camp tidak menyadari bahwa pada saat mereka menikmati camp, sejumlah ayah, sahabat, teman sekolah, saudara mereka sedang berperang di hutan-hutan itu.

Kenangan Traumatis
Matahari meluncur ke balik puncak-puncak gunung yang mengitari area camp. Sementara PM bersama para remaja lainnya sedang mengantri ayam panggang dengan pandangan penuh ketakutan. Sedangkan peserta camp lainnya sedang tertawa-tawa gaduh menunggu makan malam. Mereka seakan tidak perduli dengan apa yang terjadi di Vietnam. Wajah PM terlihat pucat dan tubuhnya gemetar. Tubuhnya kian lama kian gemetar. Saat ia akan menerima jatahnya, tiba-tiba ia menjatuhkan piringnya, menumpahkan kacang polong dan selada ke tanah sehingga mengenai orang yang berdiri di depannya. Diiringi tangisan tersedak, ia berlari kencang ke arah hutan.
Tiba-tiba semua orang berhenti berbicara dan hanya memandang. Doug, Ketua Kaum Muda , mengejarnya. Setelah keduanya menghilang dalam hutan, antrean makan malam pun dilanjutkan. Dough menemukan PM bersembunyi di balik pepohonan, gemetar seperti daun bergoyang. Dough adalah mantan pemain football yang kekar lebih tinggi hampir 30 cm dan lebih berat 50 kg dari PM. Doug tanpa mengucapkan sepatah kata pun dengan lembut merengkuh dan memeluk erat peserta camp yang sedang gemetar itu. PM membenamkan wajahnya di dada Dough dan menangis tak terkendali. Mereka berdua berdiri bersama di malam itu selama hampir dua puluh menit. PM terisak, Dough memeluknya, tanpa mengatakan apa pun. Ketika kendali dirinya pulih, PM bercerita, “Di Vietnam, jika Anda berada di tempat terbuka seperti tadi dengan begitu banyak orang berkeliaran, berondongan mortir pasti akan segera dimulai.” PM sendiri baru menyaksikan sersannya tewas, tepat di depannya sebelum kembali ke AS. Sang sersan tewas tepat di depannya, terkena serangan granat! Ia sudah berusaha melupakannya, namun pemandangan dan suara saat itu terngiang kembali. Sesaat sebelum mengambil jatah makan malamnya, ia seakan-akan mendengar bunyi tembakan senapan dan teriakan bergema,”Serangan! Serangan!” Ia pun tak tahan lagi dan lari mencari perlindungan...

Memenangkan Peperangan
Hari itu menjadi hari yang penting bagi PM. Sebelum minggu camp berakhir, ia menyerahkan hidupnya kepada komandan yang baru, Yesus Kristus. Pada malam terakhir, ia berdiri memberikan kesaksian bahwa ia telah mengenal Kristus dalam minggu itu. Kisah pertobatannya sangat berbeda dengan yang lainnya. Diawali keinginan untuk mendapatkan mobil bekas dari orang tuanya akhirnya ia ikut camp ini. Meskipun semua peserta telah bersikap sangat baik kepadanya, bukan persahatan ini yang membuatnya mengambil keputusan menerima Yesus. Juga bukan karena khotbah pembicara camp yang baik dan jelas menyampaikan Injil sehingga membuatnya memberi tanggapan kepada Kristus. Hal yang benar-benar menyentuhnya adalah “pria besar itu”.D ough, yang bersedia berdiri di hutan bersamanya dan memeluknya hingga sepotong mimpi buruk mengendurkan cengkeramannya. Singkatnya, Allah memakai sebuah pelukan – bukan khotbah, bukan perjalanan panjang di tengah hutan, bukan kesaksian – untuk memenangkan pertarungan rohani yang lebih besar yang sedang dihadapinya!

Disusun ulang OPH dari Buku
It’s your time to Shine!

MATI UNTUK HIDUP - Kendra Smiley


Pengantar
Kendra bersahabat erat dengan kakak beradik Jill dan Jane. Mereka bersama-sama saat masih kecil karena bertetangga. Setelah menjalin persahabatan sampai dengan kuliah, mereka pun menempuh jalan masing-masing. Jill lebih tua dibanding Kendra dan Jane yang seumur. Jill sangat toleran dengan kedua juniornya. Ia lebih dahulu kuliah dan tiga tahun kemudian Jane dan Kendra menyusulnya. Setelah itu mereka jarang bersua. Jill yang pada awalnya bertemu dengan Yesus. Kendra menemukan John , sahabat karib dan kemudian menjadi suaminya.lalu bertemu Yesus. Jill dan Kendra menjalin ikatan yang baru, yang sangat kuat , yang tidak pernah terjalin sebelumya. Mereka berdua sangat mengasihi Yesus. Jane juga menemukan banyak hal – tetapi ia belum menemukan Yesus. Jane dan Kendra bertemu setahun sekali setiap hari Natal, namun Kendra belum pernah membagikan imannya kepada Jane.

Pertemuan Terakhir
Suatu kali, Kendra bekerja sebagai penjual buku-buku rohani di pameran Pekan Raya Negara Bagian Illinois. Pada pameran inilah ia bertemu kembali dengan Jill yang sedang menemani teman sekamarnya (Barb) dan kemenakan dari temannya itu. Pertemuan sekitar 30 menit di stand yang dijaga Kendra sangat berarti. Saling bertukar pengalaman termasuk bertukar pemikiran mengenai kasih Sang Juru Selamat. Kendra merasa pertemuan ini bukanlah suatu kebetulan belaka tetapi perjumpaan yang Allah atur sebelumnya.
Keesokan harinya, Jill dan Barb sekeluarga bepergian menyusuri jalan-jalan pedesaan di Illinois. Jalan-jalan di pedesaan sangat indah di sore hari di musim panas, namun keindahan ini bisa menipu. Tanaman jagung yang telah cukup umur itu tinggi dan daunnya rimbun sehingga menghalangi pandangan. Hal inilah faktor yang menyebabkan terjadinya tabrakan maut yang menimpa mobil yang dikemudikan Jill. Akibatnya Jill dan ibu Barb meninggal.
Sore itu, sepulang dari pekan raya, telepon Kendra berdering. Ia mendapat kabar bahwa Jill telah meninggal. Polisi telah menghubungi Jane, adik Jill. Kendra terkejut dan berkomentar,”Baru kemarin saya bertemu Jill”. Segera Kendra menghubungi Jane. “Jane, saya baru saja mendengar tentang Jill. Saya sangat sedih....!” Kendra terisak. Jane juga menangis.
Kendra pun memberitahukan pertemuannya dengan Jill kemarin di Pekan Raya Negara Bagian Illinois. Jane yang sedang dalam perjalanan kembali ke Illionois langsung meminta Kendra menceritakan obrolan tersebut dan menemuinya di rumah orang tuannya setibanya ia di sana. Hal ini langsung disanggupi. Kendra pun merenungkan kembali kata Jane,”Ceritakanlah setiap detil pembicaraan kalian.”

Mati untuk Hidup
Sebelum Jane tiba, Kendra sudah sampai di rumah orang tua Jane. Tak lama kemudian, Jane pun tiba. Mobilnya memasuki pekarangan dan ia bergegas masuk bersama suami dan bayinya. Jane dan Kendra berpelukan sambil menangis dan akhirnya mereka berdua saja di kamar tidur. Segera Jane mendesak Kendra untuk menceritakan semua yang dikatakan Jill.
Selama beberapa jam terakhir sebelumnya, Kendra mengulang-ulang pembicarannya dengan Jill dan sekarang ia pun memutar ulang seluruh pembicaraannya seakurat mungkin. “Kami membicarakan tentang pekerjaan Jill, dan mengenai orangtua kalian. Kami membicarakan tentang betapa manis putrimu. Kami membicarakan tentang buku-buku yang telah kami baca, sedang kami baca dan ingin baca. Dan yang terpenting, kami berbicara tentang Yesus! Sebenarnya,” Kendra melanjutkan, “Dialah yang terutama kami bicarakan.” Kendra pun menjelaskan pada Jane betapa pentingnya Yesus baginya dan Jill. Jane mendengar dengan penuh minat dan terus mendesak untuk dilanjutkan sampai Kendra tak ingat lagi apa yang dibicarakan.
Jane menatap Kendra dan perlahan berkata, “Saya ingin menjadi orang kristiani. Katakan apa yang harus kulakukan.” Sebisa mungkin, Kendra memberitakan Injil kepada Jane. Kendra menceritakan kasih Allah dan rencana yang indah untuk hidup Jane. Semua manusia telah berdosa dan hal ini yang memisahkan manusia dari Allah. Yesus lah yang menjembatani jurang pemisah ini. Ia telah mati menggantikan kita dan bangkit kembali. Hanya dialah jalan satu-satunya untuk menuju pada Allah. Setiap orang harus menerima Kristus secara pribadi agar dapat mengenal kasih Allah seperti yang dilakukan kakaknya, Jill. Jane pun menerima Kristus sebagai Juru Selamatnya.
Setelah itu ia berkata, “Mirip dengan buklet kecil yang kubaca sore ini,” katanya dengan bersemangat. Ia pun merogoh sakunya dan mengeluarkan traktat! Rupanya dalam perjalanan pulang tadi, Jane berhenti sebentar untuk minum dan pergi ke kamar kecil. Saat mencuci tangan, ia melihat traktat ini di rak di atas wastafel. Ia pun memungut dan mengambilnya. Ia pun membacanya di mobil. “Lihat! Tepat sama dengan semua yang kaukatakan.”
Kendra pun terduduk di tempat dengan terkejut. Sungguh ia takjub akan kebesaran Allah, kasih dan pemeliharaanNya. Allah dan hamba-hambaNya yang taat telah mempersiapkan hati Jane beberapa jam sebelum Kendra mendapat kesempatan untuk menanggapi pernyataan Jane yang mengubah hidupnya itu : “Aku ingin menjadi orang kristiani” dan “Katakan apa yang harus kulakukan.”

Disusun ulang OPH dari buku
The Right Choice
Kendra Smiley

KESETIAAN SEORANG IBU


Awal Persekutuan Doa
Di sebuah gereja kecil yang terletak di sebuah pedesaan, setiap hari Rabu sore diadakan persekutuan doa. Hal ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Persekutuan doa Rabu sore itu biasanya hanya dihadiri lima sampai tujuh orang saja dan hal ini rupanya membuat para pemimpin gereja agak berkecil hati, sehingga dibuatlah sebuah keputusan untuk meniadakan saja persekutuan doa yang kelihatannya sukar untuk bertumbuh ini.

Ibu yang Berdoa
Tetapi apa yang terjadi? Seorang ibu tua yang senantiasa hadir dalam persekutuan doa tersebut selama bertahun-tahun sama sekali tidak setuju dengan keputusan tersebut. Ia menyatakan protes keras atas keputusan tersebut, oleh karena itu pada hari Rabu berikutnya ia tetap hadir di ruang doa gereja tersebut untuk berdoa seorang diri saja.
Keesokan harinya ibu ini bertemu dengan seorang anggota jemaat yang menanyakan apakah ia tetap pergi berdoa dalam persekutuan doa Rabu sore. Ibu ini dengan tegas berkata : “Ya, saya kemarin berdoa di sana.” Lalu temannya itu melanjutkan pertanyaannya: “Berapa yang hadir dalam persekutuan itu?” Dengan tenang ibu itu menjawab :”Yang hadir ada empat.” Temannya menjawab : “Ah, jangan mengada-ada Bu, kudengar yang hadir hanya satu orang, yaitu Ibu sendiri.” Dengan tenang ibu tua ini menjawab : “Engkau salah! Yang terlihat dengan mata jasmani memang hanya aku seorang diri, tetapi Allah Bapa, Tuhan Yesus dan Roh Kudus juga hadir, walaupun orang tak dapat melihatnya dengan mata biasa, dan kami berempat sepakat dalam doa bersama-sama!”

Akhir Persekutuan Doa
Demikianlah dari hari Rabu ke Rabu berikutnya ibu ini dengan setia datang berdoa. Akhirnya para pemimpin jemaat dengan mempertimbangkan kesetiaan ibu ini, meralat keputusan mereka. Persekutuan doa itu dibuka kembali dan melihat teladan kesetiaan ibu tua ini, anggota-anggota jemaat lainnya tergerak hatinya. Mereka mulai menyediakan waktu untuk hadir dalam persekutuan doa Rabu sore dan dalam waktu kurang lebih enam bulan setelah dibuka kembali, sudah ada lebih dari seratus orang yang berdoa bersama-sama pada setiap hari Rabu sore. Tak lama kemudian terjadilah kebangunan rohani besar di jemaat tersebut dan berkat Tuhan dicurahkan secara luar biasa kepada jemaat tersebut.

Dipungut OPH dari Buku
Embun Surgawi
Pdt. Ishak Sugianto

KESETIAAN SEORANG GURU SEKOLAH MINGGU


Menghadapi Anak Nakal
Sebuah Sekolah Minggu (SM) di satu kota kecil sedang kesulitan mencari guru yang bersedia untuk mengajar anak-anak di kelas usia 10-12 tahun. Bukan sembarang guru yang dibutuhkan karena anak-anak di kelas tersebut dikenal sangat nakal dan suka membuat keributan, sehingga tidak satu guru pun yang tahan mengajar mereka selama beberapa waktu belakangan ini.
Akhirnya bapak pendeta dari gereja yang menaungi Sekolah Minggu tersebut menunjuk seorang anggota jemaatnya untuk mengajar di kelas tersebut. Uniknya, jemaat tersebut bukanlah seorang yang terpelajar, sebab untuk membaca dan mempelajari bahan pelajaran SM saja rupanya ia mengalami banyak kesulitan. Tampaknya guru baru ini juga tidak akan bertahan lama sama seperti mereka yang mendahuluinya. Namun, ia penuh ketekunan ia memberikan pengajaran dari minggu ke minggu dan dengan penuh kesungguhan menyatakan firman Tuhan kepada murid-muridnya.

Kasih
Guru tersebut ternyata memenuhi satu persyaratan mutlak yang harus dipenuhi dalam mengajar dan menerapkan firman Tuhan, yaitu kasih! Dengan kasih yang amat besar ia mengajarkan firman Tuhan kepada murid-muridnya dengan tekun dan setia. Murid-murid yang tadinya nakal dan ribut lambat laun mengerti bahwa guru baru mereka ini mengajar dengan kasih, dan akhirnya anak-anak juga membalasnya dengan kasih yang tulus.
Guru yang tekun dan penuh kasih ini memberikan kepada para muridnya berbagai macam aktivitas rohani dan sosial yang bermanfaat. Ia dapat melihat potensi besar yang tersembunyi di balik kenakalan anak-anak tersebut. Akhirnya, kelas SM ini membuahkan seorang hakim, seorang pengacara dan tiga pendeta!

Berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia” (1 Kor. 15:58).

Dipungut OPH dari Buku
Embun Surgawi
Pdt. Ishak Sugianto

KEBOHONGAN KECIL - Meredith Proost


Awal Mulanya
Saat Ibu kembali dari berbelanja, segera ia bertanya apakah Meredtih dan Melinda sudah menunaikan janjinya untuk berlatih piano. Spontan, kedua anaknya menjawab,”Ya”. Namun begitu Ibu melihat lembaran piano belum berubah dari posisi saat ia meletakkannya tadi pagi dan buku les masih di tempatnya semula seperti kemarin, wajah sang Ibu berubah sedih. Ia tahu, anak-anaknya sedang berbohong kepadanya. Ibu tidak langsung melontarkan kemarahan. Sebelum kedua anaknya sempat berkata-kata, ia pun memotong. Ia berjanji akan berbohong kepada mereka dalam beberapa hari mendatang. Kebohongannya untuk sesuatu yang berarti bagi kedua putrinya!

Menanti Kebohongan
Malam itu, Ibu menyampaikan bahwa makanan untuk esok pagi berupa sereal panas dengan banyak krim dan gula coklat seperti yang disukai kedua anaknya. Meredith dan Melinda langsung saling adu pandang dan paham. Pasti inilah kebohongannya. Keesokan paginya, keduanya menemukan apa yang sudah dijanjikan.
Berikutnya, Ibu memberitahu keduanya akan dijemput di sekolah agar mereka bersiap-siap berbelanja baju musim semi. Keduanya suka berbelanja, namun segera menyadari ini pasti tipuan. Saat keduanya siap-siap naik bus seperti biasa, ternyata Sang Ibu sudah menanti dan sedang, duduk di tempat parkir!
Keesokan harinya, Ibu meminta keduanya untuk memilih restoran yang disukai karena mereka akan makan di luar. Keduanya langsung mengira-ngira. Kalau mereka pilih resto Itali, Ibu akan membawa makan nasi goreng Chinese. Sebaliknya bila resto Chinese yang dipilih, Ibu bakalan membawa mereka makan pizza. Akhirnya mereka mau tak mau memilih, “Makanan Chinese”. Malam itu ketiganya makan pangsit kuah , mie goreng, “kue keberuntungan” dan teh!

Akhir Kebohongan
Hari berikutnya, usai sekolah, liburan menjelang. Biasanya mereka sangat menikmati liburan di rumah nenek. Sudah bertahun-tahun Meredith dan Melinda memimpikan untuk pergi berdua menikmati libur ke rumah nenek. Saat tiba di rumah, Ibu menanti dengan berita mengejutkan! Tiket pesawat terbang ke tempat nenek untuk keduanya sudah dipesan! Wah sungguh menggembirakan. Inilah yang dinanti-nantikan! Namun tiba-tiba keduanya terdiam dan saling bertatapan. Ini dia saat yang paling berarti buat mereka! Inilah saatnya yang paling tepat untuk berbalas kebohongan! Keduanya pun menjadi tidak bergairah, tapi mereka tidak dapat berkata apa-apa.
Malam berganti, Ibu bertanya apakah kedua putrinya sudah menemukan kebohongan sang Ibu? Melinda menjawab, “Ya, kami tahu. Kami tidak akan terbang ke rumah nenek untuk libur musim semi. Segala perkataan Ibu yang lain ternyata benar, jadi penerbangan ini pastilah kebohongan Ibu.” Meredith pun menimpali “Aku senang, akhirnya semua berakhir”. Melinda meneruskan,”Ya. Tidak enak sekali harus melewatkan hari-hari sambil berpikir kami tak dapat mempercayai Ibu. Kami patut mendapat kebohongan tentang terbang ke rumah Nenek.”
Ibu tersenyum,”Kebohongannya ialah bahwa Ibu akan bohong pada kalian,” katanya dengan lembut. “Ibu belum berbohong sama sekali. Tiket pesawat terbang ke rumah Nenek ada di bawah bantal. Selamat tidur.”

Disusun ulang OPH dari Buku
Mengejar Matahari
Alice Grey