Yesus Gembala yang Baik.

Sabtu, 08 Desember 2012

Injil Menurut Toko Serba Ada

Ada kisah tentang kebaikan dan kasih yang tercecer dari antara perayaan-perayaan Natal. Semacam kisah Orang Samaria yang Baik Hati. Kisah tentang kasih yang indah ini sayangnya tidak terjadi di gereja, tetapi di sebuah Dept. Store di Amerika Serikat.

Pada suatu hari seorang pengemis wanita yang dikenal dengan sebutan “Bag Lady” (karena segala harta-bendanya hanya termuat dalam sebuah tas yang ia jinjing kemana-mana sambil mengemis) memasuki sebuah Dept. Store yang mewah sekali. Hari-hari itu adalah menjelang hari Natal. Toko itu dihias dengan indah sekali. Lantainya semua dilapisi karpet yang baru dan indah.
Pengemis ini tanpa ragu-ragu memasuki toko ini. Bajunya kotor dan penuh lubang-lubang. Badannya mungkin sudah tidak mandi berminggu-minggu Bau badan menyengat hidung. Ketika itu seorang hamba Tuhan wanita mengikutinya dari belakang. Ia berjaga-jaga, kalau petugas sekuriti toko itu mengusir pengemis ini, sang hamba Tuhan mungkin dapat membela atau membantunya. Wah, tentu pemilik atau pengurus toko mewah ini tidak ingin ada pengemis kotor dan bau mengganggu para pelanggan terhormat yang ada di toko itu. Begitu pikir sang hamba Tuhan wanita. Tetapi pengemis ini dapat terus masuk ke bagian-bagian dalam toko itu. Tak ada petugas keamanan yang mencegat dan mengusirnya. Aneh ya padahal, para pelanggan lain berlalu lalang di situ dengan setelan jas atau gaun yang mewah dan mahal.

Di tengah Dept. Store itu ada piano besar (grand piano) yang dimainkan seorang pianis dengan jas tuksedo, mengiringi para penyanyi yang menyanyikan lagu-lagu natal dengan gaun yang indah. Suasana di toko itu tidak cocok sekali bagi si pengemis wanita itu. Ia nampak seperti makhluk aneh di lingkungan gemerlapan itu. Tetapi sang ‘bag lady” jalan terus. Sang hamba Tuhan itu juga mengikuti terus dari jarak tertentu.

Rupanya pengemis itu mencari sesuatu dibagian Gaun Wanita. Ia mendatangi counter paling eksklusif yang memajang gaun-gaun mahal bermerek (branded items) dengan harga diatas $ 2500 per piece. Kalau dikonversi dengan kurs hari-hari ini, harganya dalam rupiah sekitar Rp. 20 juta per piece. Baju-baju yang mahal dan mewah ! Apa yang dikerjakan pengemis ini?
Sang pelayan bertanya, “Apa yang dapat saya bantu bagi anda ?”
“Saya ingin mencoba gaun merah muda itu ?”
Kalau anda ada di posisi sang pelayan itu, bagaimana respons anda ? Wah, kalau pengemis ini mencobanya tentu gaun-gaun mahal itu akan jadi kotor dan bau, dan pelanggan lain yang melihat mungkin akan jijik membeli baju-baju ini setelah dia pakai. Apalagi bau badan orang ini begitu menyengat, tentu akan merusak gaun-gaun itu. Tetapi mari kita dengarkan apa jawaban sang pelayan toko mewah itu.
“Berapa ukuran yang anda perlukan ?”
“Tidak tahu !”
“Baiklah, mari saya ukur dulu.”
Pelayan itu mengambil pita meteran, mendekati pengemis itu, mengukur bahu, pinggang, dan panjang badannya. Bau menusuk hidung terhirup ketika ia berdekatan dengan pengemis ini. Ia cuek saja. Ia layani pengemis ini seperti satu-satunya pelanggan terhormat yang mengunjungi counternya.”OK, saya sudah dapatkan nomor yang pas untuk nyonya ! Cobalah yangini !” Ia memberikan gaun itu untuk dicoba di kamar pas. “Ah, yang ini kurang cocok untuk saya. Apakah saya boleh mencoba yang lain?
“Oh, tentu !”
Kurang lebih dua jam pelayan ini menghabiskan waktunya untuk melayani sang “bag lady”. Apakah pengemis ini akhirnya membeli salah satu gaun yang dicobanya? Tentu saja tidak ! Gaun seharga puluhan juta rupiah itu jauh dari jangkauan kemampuan keuangannya.

Pengemis itu kemudian berlalu begitu saja, tetapi dengan kepala tegak karena ia telah diperlakukan sebagai layaknya seorang manusia. Biasanya ia dipandang sebelah mata. Hari itu ada seorang pelayan toko yang melayaninya, yang menganggapnya seperti orang penting, yang mau mendengarkan permintaannya.

Tetapi mengapa pelayan toko itu repot-repot melayaninya ? Bukankah kedatangan pengemis itu membuang-buang waktu dan perlu biaya bagi toko itu? Toko itu harus mengirim gaun-gaun yang sudah dicoba itu ke Laundry, dicuci bersih agar kembali tampak indah dan tidak bau. Pertanyaan ini juga mengganggu sang hamba Tuhan yang memperhatikan apa yang terjadi di counter itu. Kemudian hamba Tuhan ini bertanya kepada pelayan toko itu setelah ia selesai melayani tamu “istimewa”-nya.
“Mengapa anda membiarkan pengemis itu mencoba gaun-gaun indah ini ?”
“Oh, memang tugas saya adalah melayani dan berbuat baik (My job is to serve and to be kind !) “Tetapi, anda ‘kan tahu bahwa pengemis itu tidak mungkin sanggup membeli gaun-gaun mahal ini?”
“Maaf, soal itu bukan urusan saya. Saya tidak dalam posisi untuk menilai atau menghakimi para pelanggan saya. Tugas saya adalah untuk melayani dan berbuat baik.” Hamba Tuhan ini tersentak kaget. Di jaman yang penuh keduniawian ini ternyata masih ada orang-orang yang tugasnya adalah melayani dan berbuat baik, tanpa perlu menghakimi orang lain.

Hamba Tuhan ini akhirnya memutuskan untuk membawakan khotbah pada hari Minggu berikutnya dengan thema “Injil Menurut Toko Serba Ada”. Khotbah ini menyentuh banyak orang, dan kemudian diberitakan di halaman-halaman surat kabar di kota itu.

Berita itu menggugah banyak orang sehingga mereka juga ingin dilayani di toko yang eksklusif ini. Pengemis wanita itu tidak membeli apa-apa, tidak memberi keuntungan apa-apa, tetapi akibat perlakuan istimewa toko itu kepadanya, hasil penjualan toko itu meningkat drastis, sehingga pada bulan itu keuntungan naik 48 % !

“Peliharalah kasih persaudaraan ! Jangan kamu lupa memberi kebaikan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat.” Ibrani 13:1-2.

Kamis, 06 Desember 2012

Ricardo Kaka : I Belong to Jesus

Standard Nov 2012

Kaka, demikian pesepakbola handal ini dipanggil. Lahir di Brasilia pada tahun 1982 dengan nama lengkap Ricardo Izecson dos Santos Leite. Ia berasal dari keluarga penginjil yang kaya raya. Kariernya di dunia sepakbola tidak terlepas dari mujizat yang pernah ia alami sendiri.

Sejak kecil Kaka sangat mencintai sepakbola dan di usia remaja, ia sudah menjadi pemain cadangan untuk club Sao Paulo. Karier Kaka remaja (18 tahun) terhenti, saat punggungnya mengalami cedera yang sangat serius saat berenang. Dokter memvonis bahwa Kaka tidak bisa bermain sepakbola lagi, bahkan ia terancam mengalami kelumpuhan. Kala itu tidak ada tindakan operasi atau terapi yang bisa menyelamatkan kondisinya.
                Di saat dokter tidak bisa berbuat apapun, Kaka tahu kepada siapa ia harus minta pertolongan. Ia bergumul dengan Tuhan dan tiada henti berdoa memohon kesembuhan kepada Dia. Ia bernazar jika sembuh dan dapat bermain sepakbola, maka ia akan mempersembahkan seluruh prestasinya hanya untuk Tuhan Yesus.
                Suatu keajaiban terjadi, setahun setelah kecelakaan itu, Kaka dinyatakan sembuh secara total dan dapat bermain bola lagi bahkan dengan lebih berprestasi lagi, terbukti kali ini ia tidak lagi duduk di bangku cadangan. Belum setahun membela klubnya, Kaka dipanggil untuk bergabung dengan tim nasional. Karena manager tim Brazil terpikat oleh permainan Kaka muda yang kemudian memberinya kesempatan untuk membela tim Brazil dalam piala dunia 2002.
                Bagi Kaka, masuk tim nasional dalam ajang Piala Dunia adalah sebuah keajaiban dan naugerah Tuhan Yesus baginya, walaupun ia hanya duduk di pinggir lapangan menonton para seniornya bertanding.
                Pertandingan demi pertandingan berjalan dengan sangat keras, sehingga beberapa pemain bintang terpaksa dikandangkan di bangku cadangan karena cedera. Cedera para senior menjadi berkat tersendiri bagi Kaka. Ia ditarik keluar dari bangku cadangan.
                Sebuah peristiwa legendaries yang menggemparkan dunia terjadi. Kaka mengangkat seragamnya dan dibaliknya terdapat tulisan I Love Jesus. Hal itu trus ia lakukan setiap kali teman-temannya merayakan gol. Dan akirnya Brazil berhasil memenangkan Piala Dunia 2002 setelah mengalahkan Jerman dengan skor 2:0.
                Ketika merayakan kemenangan di negaranya, baju yang bertuliskan I love Jesus tetap dikenakannya. Hal itu memberi inspirasi bagi para pemain Brazil bahkan pemain Negara lain pun melakukan hal yang sama.
                Ketika diwawancarai oleh stasiun TV mengapa ia melakukan hal itu? Kaka berkata, “Saya ingin memperlihatkan dengan hidup dan kerja saya, apa yang telah Tuhan Yesus lakukan bagi saya, supaya orang lain dapat melihat apa yang Tuhan Yesus dapat lakukan dalam kehidupan mereka.”
                Penampilan yang cemerlang Kaka di Piala Dunia menarik perhatian AC Milan, sebuah klub raksasa di Italia. Ia ditrasnfer ke Italia dan masuk sebagai pemain utama. Penampilannya di AC Milan sangat bagus. Dalam musim pertamanya di Liga Italia Seri A, ia langsung menyumbangkan juara scudetto bagi AC Milan.
                Dalam waktu singkat Kaka menjadi bintang dan pujaan banyak orang khususnya wanita, kegantengannya membuat ia selalu dikejar-kejar fans wanita, di mana pun ia berada selalu ada jeritan gadis-gadis muda yang mengaguminya. Namun cinta dan kesetiaannya hanya pada Caroline Celico, kekasihnya di Brazil.
                Walaupun kehidupan pemain sepakbola selalu di kelilingi wanita-wanita cantik atau dengan berpesta, Kaka selalu menghindari semuanya itu. Ia bahkan tidak mau membawa Caroline tinggal dengannya di Italia sebelum mereka menikah.
                Tahun 2005, Kaka meminang Caroline, dalam sebuah upacara perkawinan yang sangat sederhana, sangat berbeda dengan pernikahan selebritis lain yang super mewah. Dalam acara akbar itu ia menyatakan bahwa ia masih perjaka dan Caroline masih perawan.
                “Itu adalah jangka waktu yang penting, sebuah ujian untuk cinta kami berdua. Saya seorang lelaki normal dan pasti tergoda untuk melakukan hubungan sebelum pernikahan, tapi saya dapat melewatinya. Malam pertama kami juga ditandai darah keperawanan, sebagai  tanda cinta suci kami.”
                Anak mereka yang pertama bernama Luca lahir pada tahun 2008. Ketika Kaka kembali ke Brazil dan tidak mengikuti pertandingan, Kaka sering berkhotbah dan memimpin pujian di gerejanya.
                Walaupun sebuah isu pindah agama sempat menerpanya di akhir tahun 2006, namun Kaka membuktikan pada mata dunia , bahwa ia adalah Prajurit Kristus sejati. Dalam final Liga Champions Mei 2007. Menjadi kemenangan melawan Liverpool, Kaka langsung merayakan golnya dengan membuka bajunya dan menunjukkan tulisan I belong to Jesus kemudian berlutut berdoa bersyukur di tengah lapangan. Teman-temannya yang lain turut merayakan , tapi mereka mengerti dan tidak mengganggu Kaka yang sedang berdoa. Peristiwa ini ditonton jutaan penonton yang menyaksikan final Liga Juara Champions 2007.
                Bagi Kaka beserta seluruh pemain dan pendukung AC Milan, kemenangan ini merupakan mukjizat. Tidak ada yang menyangka AC Milan akan menang, di tengah kepungan 3 club yang berasal dari liga Inggris yang diunggulkan yaitu Manchester United, Chelsea dan Liverpool.
                Kaka menjadi pencipta gol terbanyak dalam Liga Champions, pertarungan liga paling bergengsi dan tertinggi di seluruh dunia. Membuatnya dinobatkan sebagai raja oleh para media Itallia, dan layak dinobatkan sebagai pemain terbaik di dunia, langsung memenangi gelaran “World Player of the Year 2007” dari FIFA.
                Kaka sering menyaksikan akan keajaiban yang dialami dalam hidupnya. Tuhan Yesus sering mempunyai sesuatu yang lebih untuk kita daripada apa yang kita pikirkan, kata Kaka,”Aku tidak pernah menyangka akan menjadi pemain sepakbola dunia bahkan memenangkan penghargaan dari FIFA.”
                Ayat Alkitab yang sering Kaka ingat adalah diambil dari Yohanes 14:6, di mana Yesus berkata,”Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”
                Kaka salah satu bintang sepakbola dalam tim Brazil. Demikian juga di Eropa, klub Real Madrid yang kaya raya mengajukan penawaran sebesar 56 juta euro sebagai nilai pemain termahal saat itu.
                Kaka dengan teman-temannya seperti Lucio (kapten) mengadakan Bible Study (Pengkajian ALkitab) dan berdoa. Mereka sepakat untuk dapat memuliakan Tuhan Yesus pada waktu pertandingan dijalankan. Termasuk membuat baju dalam khusus yang bertuliskan I Belong To Jesus atau I Love Jesus.
                Pada tahun 2006 FIFA melarang para pemain Brazil untuk memakai baju dalam tersebut.
                “Kami mematuhi peraturan FIFA tersebut.” Kata Kaka. “Kami percaya mempunyai tugas untuk menabur dan biarlah Roh Kudus yang akan menumbuhkannya. Kiranya hidup kami dapat memuliakan nama Tuhan Yesus yang di surga, dan memimpin orang banyak datang kepada Tuhan Yesus dengan contoh hidup kami. [facebook.com].

Mendonorkan Hati demi Keselamatan Sang Kakak

Standard Nov 2012

Seorang penerima donor hati merasa bersalah secara luar biasa setelah saudaranya yang mendonorkan sebagian hatinya, meninggal karena pendonoran tersebut. Apalagi organ donor itu kemudian dinyatakan tidak berfungsi.

Seorang pria Colorado mengalami keterhilangan dan rasa bersalah yang luar biasa, setelah transplantasi hati  yang ia jalani, akhirnya merengut  nyawa sang adik, yang menjadi pendonor hidup. Parahnya lagi, operasi itu tidak berarti apa-apa karena hati yang ditranplantasi itu pun kelihatannya gagal.
                Chad Arnold berumur 38 tahun saat menderita penyakit yang disebut primary sclerosing cholangitis (PSC) yang tidak diketahui penyebabnya dan juga belum ada obatnya. Satu-satunya cara agar ia bisa selamat adalah melalui transplantasi hati. Ia kemudian mendapatkan donor dari adiknya sendiri, Ryan (34 tahun) yang bersedia mendonorkan sebagian dari organ tubuhnya untuk sang kakak.
                Semula Chad berharap mendapatkan donor dari mayat. Tetapi pada waktu yang sama, ada 16.000 pasien secara nasional yang juga sedang menunggu transplantasi hati, sementara hanya ada sekitar 4.500 organ hati dari mayat yang tersedia di AS setiap tahunnya.
                Pilihan terbaik adalah transplantasi donor hidup, prosedur langka di mana sebagian hati diambil dari donor yang sehat dan kemudian dipindahkan ke pasien yang sakit. Hasil tes menunjukkan bahwa darah Ryan, seorang ayah dari tiga anak, adalah cocok dengan kepunyaan Chad.
                Segala sesuatu bergerak dengan cepat setelah Ryan menerima sebuah telepon di saat mengadakan reuni keluarga yang memberitahukan bahwa ia cocok untuk menjadi pendonor yang akan menyelamatkan kehidupan Chad.
                Satu setengah minggu kemudian, keluarga itu kembali ke Colorado untuk mempersiapkan operasi tersebut. Malam sebelumnya, mereka membaca Kitab Suci, bersekutu bersama dan siap memutahirkan informasi mengenai perkembangan mereka untuk teman-teman dan keluarga melalui website (laman).
                Keesokan harinya, di Rumah Sakit University of Colorado, kedua bersaudara ini saling bertukar lelucon. Tepat sebelum Ryan dibawa ke ruang operasi, Chad berjalan ke ruang pra operasi adiknya dan membelitkan lengannya di sekeliling Ryan.
                “Saya berutang nyawa padamu,” bisiknya pada Ryan, yang mencoba, seperti biaya, untuk meyakinkan.
                “Sepotong kue,” kata Ryan.
                Pada pukul 5 sore operasi telah dilakukan. Dua pertiga dari hati Ryan telah diangkat dan ditempatkan ke hati Chad, sementara organ yang sakit dibuang.
                Segera setelah itu, kulit Chad yang kuning kembali ke warna yang alami, sedangkan perut buncit disebabkan oleh hati yang bengkak juga menghilang.
                Hanya dalam beberapa minggu, baik hati yang sakit dan yang menjadi donor telah mengalami regenerasi dan tumbuh kembali ke ukuran yang normal, namun perlu jangka waktu yang cukup panjang agar keduanya dapat berfungsi dengan regular.
                Chad merasa itu adalah waktu yang terbaik yang ia miliki di tahun itu. Melalui anggota keluarga, ia mengirim pesan kepada Ryan. “Katakan padanya saya merasa baik. Katakan padanya saya mencintainya.”

Ryan Meninggal
                Keduanya seolah-olah beralih tempat. Sementara Chad sudah bangun dan berjalan, Ryan mengalami waktu yang sulit.
                Sehari setelah operasi, pada hari Jumat, Ryan merasa grogi tapi oke. Pada hari Sabtu ia mengalami kesakitan yang luar biasa.
                Hari Minggu, Ryan memasuki kondisi ‘kode biru’ dan diresusitasi yang membuatnya dalam kondisi kritis. Dan pada Senin, ia meninggal.
                Ada sebuah memori yang diputar berulang-ulang dalam pikiran Chad. Dimulai dengan panggilan mendesak dari ujung aula :”Kode biru. Kamar 601.”
                Ujung aula adalah tempat perawatan Ryan yang baru saja menjalani operasi pemotongan organ hati yang diberikan kepada Chad.
                Chad masih dibelit dengan banyak selang infuse setelah transplantasi hati, dan terbaring hanya beberapa pintu dari tempat adiknya dirawat. Dari lorong ia menyaksikan semua kejadian tersebut sehingga horror itu selamanya tertanam dalam ingatannya.
                Apa yang menyedihkan adalah bahwa mereka berdua semula berhasil keluar dari operasi dengan baik-baik saja, bahkan seluruh proses telah menjadi perayaan kemenangan – tampaknya tidak ada sesuatu yang perlu ditakuti, benar-benar suatu akhir yang membahagiakan.
                Dari 4.100 lebih kasus transplantasi hati dari donor hidup yang telah dilakukan di Amerika Serikat sejak tahun 1989, hanya ada tiga donor yang meninggal akibat komplikasi yang berkaitan dengan operasi itu.
                Sang ayah memilih untuk menyampaikan berita itu pada Chad, setelah tes menunjukkan bahwa otak Ryan tidak lagi berfungsi. Dia memasuki ruangan tempat tidur Chad dan meraih jari-jari kakinya untuk membangunkan anaknya itu, cara biasa yang ia lakukan ketika Chad masih kanak-kanak. Dan kemudian berkata, dengan penuh kelembutan,”otak Ryan sudah mati, tapi tetap kita menyerahkan pada Allah yang baik.”
                Ketika Chad pergi untuk mengucapkan selamat tinggal, ia berjanji pada Ryan bahwa ia akan bertahan, bahwa ia akan hidup dengan sepenuhnya, bahwa ia akan “hidup bagi mereka berdua”.
                Seluruh keberadaannya menjadi tentang penyembuhan, penyembuhan bukan hanya tubuhnya, tapi hatinya juga.
                Semua ritual kedukaan – kebaktian perkabungan, pemakaman dan ucapan selamat jalan yang terakhir tidak dapat dihadiri oleh Chad. Dia sempat dikeluarkan sesaat sebelum pelayanan untuk Ryan, tapi tidak cukup kuat untuk perjalan ke South Dakota untuk menghadiri acara tersebut.
                Kemudian komplikasi membuatnya segera dikembalikan ke rumah sakit. Selama beberapa minggu, ia dirawat hanya berjarak dua pintu dari kamar perawatan Ryan; berjalan melewatinya adalah sebagai latihan yang dimaksudnkan untuk membantu penyembuhannya.
                Dia ingat bagaimana Ryan menjalani kehidupan ‘tanpa pamrih dan positif, bagaimana ia bahkan mengirim ‘sms’ untuk Chad beberapa hari sebelum operasi yang berkata,”Saya percaya padamu.”
                Chad berjuang untuk mengusir setan yang mengganggu pikirannya. “Kenapa Ryan, Tuhan? Kenapa bukan saya? Bagaimana dengan semua doa-doa?” TUlisnya. “Jika Anda berpikir bahwa saya tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu, Anda salah…. Jika Anda berpikir bahwa saya tidak berteriak pada Tuhan – Maafkan saya, Anda keliru.”
                Dia terus bertanya-tanya: Bagaimana jika ia tetap menunggu donor mayat daripada menerima donor dari Ryan? Lalu seorang pekerja rumah sakit mengatakan kepadanya bahwa kondisi hatinya sangat parah dan ia hanya memiliki waktu beberapa bulan saja untuk hidup. Dan hal itu sedikit menghiburnya.
                Dia menyesalkan ayahnya yang telah pensiun harus keluar untuk membuka praktek orthodonsi yang selama ini telah diambil alih oleh Ryan.
                Ketika Chad keluar dari rumah sakit, ia begitu senang berada di rumah istri dan dua anak lagi, ia memegang erat-erat putra-putranya, mencium mereka dan mengucapkan selamat malam. Kemudian ia menyadari bahwa istri dan tiga anak laki-laki Ryan tidak memiliki saat-saat seperti itu lagi.
                Dia mencoba untuk fokus pada penyembuhan tubuhnya. Padi di atas treadmill, dua kali seminggu melakukan pemeriksaan, periksa lab. Perlahan-lahan ia kembali bekerja mengkoordinasi gereja-gereja untuk membantu anak-anak miskin, dan melakukan pekerjaannya dengan semangat dan perspektif yang baru, kini ia tahu apa artinya penderitaan. Dia juga menetapkan prioritas baru bagi hidupnya, mengikuti apa yang dahulu diprioritaskan oleh Ryan : iman , keluarga dan persahabatan.
                Dia berjanji untuk menghabiskan lebih banyak waktu dengan anak-anaknya, lebih sabar dan penuh kasih sayang dengan anak-anaknya, lebih sabar dan penuh kasih sayang pada istrinya, mengunjungi orang tuanya dengan lebih senang, lebih membangun persahabatan dengan teman-temannya.
                Laporan otopsi Ryan menyebutkan bahwa kematiannya dikarenakan kurangnya pasokan oksigen ke otaka setelah serangan jantung. Dikatakan bahwa komplikasi dari operasi mungkin telah memberikan tekanan yang berlebihan pada jantung, hal itu terlihat dari kondisi jantung Ryan yang sedikit membesar, yang mungkin telah membuatnya rentan terhadap ritme yang tak teratur.
                Peninjauan yang dilakukan tidak menemukan adanya kekurangan dalam program itu sendiri. Dan personil rumah sakit sekarang akan terus memantau donor pasca-operasi dengan  mesin yang membunyikan alarm jika tingkat oksigen dalam darah menurun dan pasien berhenti bernapas. Dalam sebuah pernyataan sederhana, rumah sakit berkata,”Kematian Ryan tidaklah sia-sia.”
                Chad masih membuat janji yang sama untuk dirinya sendiri, meskipun komplikasi berkelanjutan yang baru-baru ini membawa berita buruk bahwa ada kemungkinan ia tidak akan mampu menjaga hati Ryan. Dalam dua minggu terakhir, karena penumpukan cairan yang menunjukkan transplantasi liver belum berfungsi dengan baik. AKhirnya Chad dimasukkan dalam daftar tunggu untuk mendapatkan hati dari mayat.
                Dia masih berharap hari demi hari, hati dari Ryan akan berfungsi. Tetapi jika tersedia hati dari myata, Chad telah memutuskan untuk menjalani transplantasi lainnya.
                Dalam kondisi seperti itu, ia merasa tidak punya pilihan. Satu hal yang ia dapat control : ia tidak akan lagi menerima sumbangan hati dari orang yang masih hidup, tanggung jawab ini terlalu besar.
                “Saya tidak akan membiarkan hal itu terjadi pada orang lain lagi,”katanya. “Jika tidak menunggu donor dari mayat, saya lebih suka tidak mendapatkan dari manapun juga.” Tulis Chad.
                Iman yang kuat yang selalu membantu keluarganya menaklukkan kesulitan, juga membantu mereka bertahan. Chad mungkin bertanya ‘mengapa’ dan ‘bagaimana’, tapi ia tahu pertanyaan-pertanyaannya itu tidak akan benar-benar mendapatkan jawaban.
                Iman , ia menulis dalam sebuah blog, adalah hal yang Anda pegang teguh ketika Anda mengambil napas terakhir di sebuah sungai beku yang arusnya terlalu kuat. Dan saat ini arus itu terlalu kuat bagi saya, dank arena itu saya sedang berpegang dengan teguh
                Perjalanannya terus berlangsung, sebuah proses yang melibatkan kerja keras, doa lebih banyak untuk penyembuhan dan hari yang diisi dengan penuh kenangan, beberapa di antaranya membahagiakan dan lainnya menakutkan.
                Chad tidak bisa tidak merasa seolah-olah dia akan gagal, entah bagaimana, jika ia tidak menerima donor hati yang lain. Memiliki sebagian hati Ryan telah membantunya mengurangi sedikit rasa nyeri atas kehilangan saudaranya.
                Saat ia menulis dalam sebuah blog entry : “Saya berhadapan dengan kebenaran keras yang dingin bahwa saya tidak mungkin menjaga apa yang telah menjadi satu-satunya penebusan dalam semua ini.” Dan lagi pula, ia tahu Ryan tidak ingin ia merasa seperti itu. Dia tahu apa yang adiknya akan katakana tentang kemungkina transplantasi kedua.
                “….. Jika saya harus hidup, saya harus hidup,” kata Chad. “Ryan akan memberitahu pada saya untuk melakukan hal demikian.” [Mailonline]