Yesus Gembala yang Baik.

Minggu, 04 November 2012

Kesaksian Kim Phuc

Mengampuni Sehingga Dipulihkan

Apakah Anda yang mengenal orang pada  foto di atas? Ibu ini bernama Kim Phuc. Dia lahir di Trang Brang, Vietnam Selatan. Ibu ini adalah orang yang sama dalam foto hitam putih yang menjadi latar belakang foto pertama. Foto itu diabadikan pada tahun 1972 dan memenangkan hadiah pulitzer, sebuah penghargaan karya foto jurnalistik yang diberikan Amerika Serikat kepada koran, junalisme, sastra atau musik. Namun, apa yang terjadi pada saat itu? Ketika itu ia berumur sembilan  tahun, ia hidup dalam masa peperangan di Vietnam dan pada saat itu, pasukan Vietnam Utara berhasil menduduki desa Trang Brang, yang merupakan wilayah selatan itu.
.
Pada tanggal 8 Juni 1972 terjadilah suatu tragedi yang menjadi sejarah penting dalam hidup Kim Phuch. Pada waktu itu pasukan Vietnam selatan mengira bahwa penduduk sipil desa Trang Brang sudah dievakuasi dari desanya. Mereka mengira desa tersebut hanya dihuni oleh pasukan militer Vietnam Utara, sehingga mereka dengan gencar menjatuhkan bom-bom di desa tersebut untuk menyerang pasukan Vietnam utara. Ternyata tanpa mereka ketahui ada beberapa warga sipil yang masih bersembunyi di desa itu, salah satunya adalah Kim Puch. Tepat di dekat tempat persembunyian mereka bom jatuh dan mengenai mereka. Karena ledakan bom serta panasnya api akibat bom mereka semua berhamburan keluar dari persembunyian mereka dan berlari ke tengah jalan. Di tengah kekacauan itu Kim puch berlari telanjang, dan berteriak, “Panas, panas, panas sekali.” Ia terkena luka bakar yang mengerikan di selurh punggungnya, sehingga ia harus dirawat di Rumah sakit selama 14 bulan dan harus mengalami operasi sebanyak 17 kali.

.Ternyata di balik tragedi menyedihkan ini, ada seorang yang merasa sangat bersalah, dia adalah Pdt. John Plummer. Pada saat serangan ke desa Kim Puch itu dilakukan, John Plummer adalah salah seorang yang bertanggung jawab untuk memastikan bahwa tidak ada rakyat sipil di daerah itu. Dia berkata bahwa dia telah benar-benar memastikan bahwa tidak ada rakyat sipil di daerah itu. Namun ternyata ia memberikan informasi yang kurang memadai dan terjadilah kesalahan yang besar. Dia tidak mengetahui kalau masih ada rakyat sipil yang bersembunyi di dalam kuil. Serangan itu menyebabkan luka bakar yang sangat serius pada punggung Kim Puch, selain itu ia juga kehilangan dua orang saudaranya. Plummer merasa sangat bersalah atas peristiwa yang terjadi dan ia sangat menyesal melihat keadaan Kim Puch dan inginsekali meminta maaf kepadanya.
.
Dua puluh lima tahun kemudian, dalam pertemuan Vietnam Veterans Memorial di Washington DC, ternyata secara tak terduga Plummer melihat Kim Phuc berbicara di depan podium. Pada saat itu Kim Puch memberikan pernyataan pengampunan secara publik atas tragedi yang menimpa dia di Vietnam di waktu lampau. Pada saat itu ia berkata,  “Jika saya bertemu dengan pilot pesawat yang menyerang desa saya, saya akan berkata kepadanya, “Saya memaafkannya. Kita tidak dapat mengubah masa lalu, namun saya berharap kita bisa bekerja sama untuk masa depan.” Pernyataan Kim Puch sangat menyentuh hati Plummer, kemudian dia menulis artikel dalam sebuah majalah tentang kisah ini, dia mengatakan: “She saw my grief, my pain, my sorrow, she held out her arms to me and embraced me, all i could say was: “I’m Sorry; I’m sorry” over and over again. At the time she was saying, “it’s alright,it’s alright: I forgive, I forgive.”

Bertapa mengharukan ketika kita membaca kisah ini, dan hal itu membuat kita bertanya-tanya, apa yang sebenarnya menyebabkan Kim Puch dapat mengampuni orang yang menyebabkan tragedi buruk itu terjadi?” Dalam satu wawancara di sebuah stasiun radio tahun 1950, ia menceritakan tragedi buruk yang tidak akan pernah ia lupakan itu. Ia mengucapkan beberapa kalimat yang ia ucapkan: “Ini adalah waktu yang sangat sulit bagi saya ketika saya pulang dari rumah sakit. Rumah kami hancur, kami kehilangan segalanya dan kami hanya bertahan dari hari ke hari. Kemarahan di dalam diriku seperti kebencian setinggi gunung. Aku membenci hidupku. Aku benar-benar ingin mati berkali-kali. Kemudian aku menghabiskan siang hariku di perpustakaan untuk membaca banyak buku-buku agama untuk menemukan tujuan hidup saya. Salah satu buku yang saya baca adalah Alkitab. Pada Natal 1982, saya menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadi saya. Itu adalah titik balik luar biasa dalam hidup saya. Allah membantu saya untuk belajar mengampuni – pelajaran yang paling sulit dari semua pelajaran. Ini tidaklah terjadi dalam sehari dan itu tidak mudah.. Tapi akhirnya saya berhasil. Pengampunan membuat saya bebas dari kebencian. Saya masih memiliki bekas luka yang banyak di tubuh saya dan menyisakan hari-hari yang menyedihkan tetapi paling tidak hati saya telah dibersihkan. Bom kimia itu memang sangat kuat, tetapi iman, pengampunan dan kasih jauh lebih kuat saya rasakan dalam hidup saya. Tidak akan ada perang sama sekali jika semua orang bisa belajar bagaimana hidup dengan cinta, pengharapan, dan pengampunan sejati.”

Jika terjadi sebuah tragedi antar sesama manusia dan telah memberkan luka-luka fisik atau batin, tidak akan pernah terselesaikan jika tidak ada pengampunan diantara mereka. Hanya orang yang sudah pernah menerima pengampunan yang dapat memberi pengampunan. Hanya orang yang sudah pernah mendapatkan kemurahan yang dapat memberikan kemurahan kepada orang lain. Kim Puch telah menerima pengampunan dari Tuhan, itulah yang memberikan kemampuan kepadanya untuk mengampuni semua orang yang mengakibatkan penderitaan dalam hidupnya dan negaranya. Ketika seseorang tidak mau melepaskan pengampunan atas kesalahan orang lain, selama itu juga persaaan benci dan dendam akan menguasainya bahkan membelenggunya. Mengampuni bukanlah hal yang mudah, namun sesungguhnya jauh lebih sulit dan lebih berat jika seseorang tetap menyimpan kesalahan orang lain dalam hidupnya. Sampai kapankah seseorang sanggup terus menyimpan kepahitan itu, bukankah hal itu justru akan semakin menggerogoti hidup orang yang menyimpannya? Kesembuhan dan pemulihan hanya akan terjadi jika kita saling mengampuni.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar