Yesus Gembala yang Baik.

Minggu, 28 Oktober 2012

Kesaksian tentang Harapan : William Cutts



Hidup Yang Penuh Harapan


Tiba-tiba pintu ruang bersalin terbuka. Seorang dokter dengan pakaian khusus keluar. "Istri Anda dalam keadaan baik. Namun sayang keadaan bayinya membahayakan jiwa istri Anda. Ada satu hal yang harus Anda putuskan, keselamatan istri Anda atau bayinya. Saya tahu hal ini sulit, namun kami telah berusaha sekuat mungkin. Akhirnya kami harus menemui Anda, sebab keputusan Anda amat menentukan. Jika Anda sudah siap, silahkan kami dihubungi dan menandatangani formulir ini", setelah berkata demikian dokter tersebut memeluk bahu pria yang diajak bicara. Sorot matanya di balik kaca mata yang tebal memberi semangat pada pria yang tubuhnya gemetar.
Pria yang sedari tadi gelisah, sekarang bertambah gemetar setelah menerima berita yang meluncur dari mulut dokter yang memeluknya. Wajahnya jadi pucat seperti mayat. Butiran keringat dingin sebesar kacang kedelai bermunculan di dahinya. Mulutnya menganga, lidahnya kelu. Matanya nanar. Setelah berusaha menelan ludahnya, ia berusaha mengeluarkan kata-kata.
"Dokkkkter, .....mmm. bbberi kesempatan saaaya untuk berdoa". Kepala dokter tersebut menggangguk, tanda setuju.

Ruangan tunggu kelahiran bayi malam itu sepi menggigit, sinar lampunya nampak pudar. Suasana saat itu bisu dingin menutupi tembok sekeliling ruangan itu. Pria itu kemudian tertunduk. Wajahnya ditenggelamkan atas kedua telapak tangannya yang menopangnya. Suara tangis tertahan bercampur kepedihan dan rasa takut menimbulkan suara yang keluar dari mulutnya seperti suara berguman, tidak jelas. Suasa kembali sunyi . Kemudian ia perlahan bangkit, berjalan menuju perawat yang berdiri menunggunya.
"Suster, katakan kepada dokter, istri saya perlu diselamatkan, sedapat-dapatnya selamatkan juga anak saya. Saya telah melihat harapan."
Suster itu hanya menggangguk, kemudian menyodorkan sehelai lembaran formulir. Setelah ditandatangani. Ia kembali menunggu.

Persalinan berlangsung sulit. Dokter berupaya mengeluarkan bayi dari dalam rahim wanita yang sudah mulai kehabisan tenaga. Dengan alat khusus, dokter tersebut mengupayakan kepala sang bayi dapat keluar terlebih dahulu. Namun tiba-tiba, crot.., darah segar muncrat disertai bola mata yang masih terikat ototnya keluar mengelantung, baru kemudian kepala bayi. Merasa berpacu dengan waktu, dokter makin berusaha keras untuk mengeluarkan seluruh tubuh bayi itu. Bunyi gemeretak tulang rawan bayi yang patah karena proses tersebut. Akhirnya, tubuh bayi yang mirip seonggok daging tersebut utuh keluar dari dalam rahim. Persalinanpun berjalan sampai tuntas.

Dokter segera memerintahkan seorang perawat agar membersihkan tubuh bayi tersebut dan segera dimasukkan kantong mayat. Namun Tuhan yang mendengar doa bertindak lain. Tubuh bayi yang masih berlumuran darah dibersihkan terlebih dahulu oleh perawat. Saat tangan sang perawat membersihkan tubuh bayi di bagian dada sebelah kiri, nampak denyut jantung yang lemah. Tanda kehidupan. Rupanya denyut yang lemah terlihat oleh sang perawat tersebut. Segera bayi tersebut di kirim ke ruang khusus.

Empat tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi seorang anak mirip monster hidup. Ia di beri nama William Cutts. Jika bayi normal, diusia sebelas tahun telah belajar berjalan, tidak demikian dengan William Cutts. Ia baru belajar merangkak seperti anjing. Kepala bagian kanan agak besar, matanya yang kanan rusak berat, tidak mungkin bisa melihat. Bahunya miring. Menjelang remaja, jalannya miring seperti tiang hampir roboh. Dan kata dokter, otaknya tak akan sanggup berkembang alias tidak mungkin bisa belajar seperti manusia normal.

Sudut pandang dokter rupanya beda dengan kedua orang tuanya, mereka melihat harapan. Orangtuanya terus membesarkannya dengan penuh kasih sayang. "Kelak anakku akan dipakai Tuhan secara luar biasa, sebab aku yakin harapan itu ada", demikian doa kedua orangtuanya, setiap kali melihat William Cutts yang selalu kesulitan dengan menyelaraskan jalannya dengan bahunya. Tuhanpun mewujudkan harapan anak-anakNya.

Tepat pada waktuNya, William Cutts bersimpuh di kaki- Nya, satu ayat yang dipegangnya yang menjadi dasar panggilannya, "Justru di dalam kelemahan kuasa-Ku menjadi sempurna", II Korintus 12: 9. Inilah sumber pengharapan baginya. Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan orang yang berharap kepada-Nya. Tuhan pun membuktikan janjiNya. Apa yang tidak dipandang oleh dunia, dipakai Allah secara luar biasa. Dengan segala keterbatasannya, William Cutts maju untuk taat. Harapan demi harapan terkuak setelah ia taat melangkah.

Setelah menyelesaikan sarjananya di sekolah theologia, ia menjadi utusan misi ke Irian Jaya, Indonesia. Tuhan meneguhkan janjiNya, dalam kelemahan kuasa-Nyata nyata. Tiap langkah pelayanan William Cutts, Tuhan meneguhkan dengan mujizat-Nya. Semua ini diawali dengan orang yang melihat harapan dan mempercayai harapan di dalam Yesus itu pasti ada dan tidak pernah sia-sia.

William Cutts telah menyaksikan apa makna hidup di dalam pengharapan yang berlimpah di dalam Kristus!

Kesaksian John Sung



Saudara-saudari yang terkasih!
Izinkan saya memberikan kesaksian kepada Anda. Saya ini adalah orang yang paling berdosa.
Ayah saya adalah seorang pendeta. Keluarga saya semua adalah orang percaya. Saya dibaptis saat dilahirkan. Saya juga membaca Alkitab. Akan tetapi semua itu tidak saya lakukan dengan hati saya.
Pada usia 18 tahun, saya berangkat ke Amerika. Saya melupakan urusan dengan Tuhan. Saya merasa diri saya ini pintar dan terpelajar.
Saya memiliki segala-galanya, akan tetapi tidak ada damai sejahtera. Seringkali saya merasa ingin bunuh diri. Saya dipandang sebagai seorang cendekiawan, orang-orang mengira bahwa hidup saya bahagia.
Akan tetapi mereka tidak mengetahui kesedihan saya.
Saya mempelajari filsafat Laotse. Tidak saya dapatkan kedamaian di sana. Saya mempelajari Al Quran. Saya hanya dapati sedikit kedamaian di sana. Saya kunci diri saya di dalam kamar dan mempelajari Alkitab, akan tetapi isinya sangat membingungkan saya. Semakin saya baca, semakin pahit hati saya.
Saat itu saya memandang Yesus hanya sebagai manusia biasa, bukan Juruselamat. Namun puji Tuhan!
Suatu malam, pada tanggal 10 Februari 1927, Yesus menjumpai saya di Amerika. Yesus menemui saya di kamar 405 di sebuah seminari yang ateis.
Pada malam itu, Roh Kudus menerangi saya. Di dalam terang itu Yesus berkata kepada saya, "Anak, Aku telah mati bagi dosa-dosamu. Dosa-dosamu telah diampuni."
Saat itu, saya berubah sepenuhnya. Mulai saat itu, sukacita mengalir deras.
Tuhan menugaskan saya untuk memberitakan Injil. Saya menginjil sampai tujuh hari, namun saya ditangkap karena dianggap gila. Saya dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa. Para dokter datang untuk memeriksa saya dan menanyakan tentang latar belakang hidup saya. Setelah melewati kepedihan di rumah sakit jiwa itu, saya menerima sukacita yang sejati.
Kemanapun saya pergi, saya memberitakan Injil, jalan sejati menuju damai sejahtera.
Saudara-saudariku, saya sungguh-sungguh ingin agar Yesus yang telah menyelamatkan saya itu, menyelamatkan Anda pada hari ini. Taka ada hal yang bisa memberikan kita damai sejahtera yang sejati. Hanya Yesus yang bisa.
Yesus datang ke dunia ini bagi Anda dan saya.
Sekalipun dosa-dosa kita dalamnya melebihi lautan dan tingginya melebihi puncak gunung, Yesus bisa mengubah kita, menyelamatkan kita.
Kiranya Yesus menebus Anda dengan darah-Nya yang mahal.
(Dikutip dari khotbah John Sung, 'Bagaimana Zakheus diselamatkan' dan 'Pencarian akan Damai Sejati')

Pertobatan Billy Graham



Berita Yamari, Edisi 54, 2010
Yayasan Marturia Indonesia, Jakarta


Billy berusia 17 tahun pada saat seorang bekas petinju bayaran yang telah berubah menjadi penginjil, datang ke kota Charlote. Mordecai Ham, seorang penginjil yang berapi-api dan suka menunjuk orang-orang yang berdosa secara langsung.

Pemimpin-pemimpin Gereja di kota Charlote menganggap Mordecai Ham sebagai pengganggu. Mereka menolak permintaan izinnya untuk membangun sebuah tenda. Namun dengan pertolongan orang-orang awam, bekas petinju itu memasang tenda tepat di luar batas kota. Ia mengadakan kebaktian kebangunan rohani (KKR) selama beberapa minggu di kota tersebut.

Billy adalah seorang pemuda tinggi ramping, berambut ikal, dan pirang, setiap Minggu pergi ke gereja bersama orang tuanya yang saleh. Ia tidak merokok maupun minum-minuman keras. Walaupun ayahnya seorang pendukung kuat Mordecai Ham, Billy tidak bersusah-susah menghadiri sebelumnya, karena ada hal-hal lain yang harus dilakukannya.

Pengunjung Kebaktian Kebangunan Rohani itu cukup banyak bagi kota Charlote -- 5.000 orang. Orang-orang berkata bahwa itu merupakan jumlah terbesar yang pernah dialami penduduk Negara Bagian Carolina. Billy dan temannya di SMA berjalan melewati jalan kecil di antara deretan bangku dan duduk di bangku yang keras.

Khotbah yang disampaikan pengkhotbah berbadan besar itu sangat tidak berkesan bagi Billy, sampai pengkhotbah itu mengacungkan jari menunjuk ke arah Billy serta berteriak, "Kamu berdosa." Billy yang selalu siap menangkap bola tidak siap untuk main tangkap-tangkapan dengan pengkhotbah itu. Ia menundukkan kepalanya yang berambut pirang dan bersembunyi di belakang topi seorang wanita di depannya.

Dua malam kemudian Billy datang lagi, membawa seorang teman, namanya Albert McMakin. Selama beberapa malam seterusnya, kedua orang itu hadir bersama-sama. Penginjil yang berapi-api itu terus meyakinkan Billy bahwa ia harus memilih sorga atau neraka.

Pada suatu malam Billy membawa seorang teman lain, Grady Wilson. "Mari kita duduk di bagian paduan suara," usul Billy, walaupun ia tahu ia tidak dapat menyanyi. Maka kedua orang itu duduk di belakang mimbar (tempat paduan suara), selamat dari pandangan pengkhotbah yang suka memukul mimbar itu.

Mordecai Ham tidak menunjukkan jarinya kepada Billy malam itu, namun demikian Billy mendapat pukulan dari khotbahnya pada saat pengkhotbah itu berkata, "Malam ini, ada orang yang sangat berdosa di sini."

Ia mengatakan tentang saya, pikir Billy. Seseorang pasti telah memberi tahu dia bahwa saya ada di sini. Pengkhotbah itu mengakhiri khotbahnya dan memberi undangan bagi orang-orang yang mau bertobat. Billy menahan napasnya pada saat paduan suara itu mulai menyanyi. Setelah menyanyi sebentar, ia tidak dapat bertahan lagi. "Ayo, Grady," ia berkata kepada temannya.

Kedua orang itu turun dari paduan suara dan berdiri di depan. Mengingat keputusannya, Billy berkata, "Hal itu seperti tinggal di luar pada hari yang gelap dan sinar matahari menembus melalui lapisan awan. Segalanya tampak berbeda. Untuk pertama kalinya, saya merasakan sukacita dilahirkan kembali."

Sejak malam yang penuh kenangan pada tahun 1936 itu, Billy Graham telah berkhotbah kepada lebih banyak orang daripada almarhum Pendeta Mordecai Ham, orang yang telah membimbingnya kepada Kristus.

Sebenarnya, ia telah berkhotbah kepada lebih banyak orang, secara langsung, daripada pengkhotbah-pengkhotbah lainnya dalam sejarah, lebih dari dua puluh juta orang. Namun demikian, yang lebih penting lagi, ia telah meyakinkan puluhan ribu orang bertobat dan bertelut kepada Kristus.

Mental Positif dan Perkenanan Tuhan



Manna Surgawi 120811


Budaya instan sudah menjamur dan efek buruknya adalah orang tidak sabar lagi untuk menjalani sebuah proses yang dapat memberi dua dampak positif : hasil yang maksimal dan terbentuknya karakter yang gigih.

Seorang professor memasuki kelas untuk melaksanakan Ujian Akhir Semester (UAS). Dalam kelas ia mengajukan suatu tawaran istimewa kepada  para mahasiswa yang mengikuti kelasnya. “Siapa yang mau mendapat nilai C dalam mata kuliah ini harap angkat tangan. Kamu tidak perlu mengikuti ujian, saya akan langsung memberikanmu nilai C,” katanya dengan wajah tersenyum tapi serius. Awalnya hanya satu tangan yang terangkat, tetapi tidak berapa lama kemudian cukup banyak tangan yang teracung. Kira-kira setengah dari mahasiswa memilih untuk tidak mengikuti ujian hari itu dan puas mendapat nilai C. Setelah para mahasiswa yang mendapat nilai C keluar dari ruangan, si professor membagikan lembaran kertas kepada mahasiswa yang masih tinggal di kelas. Ia meletakkannya di meja mereka dan meminta mereka tidak membaliknya sebelum ia memberi aba-aba. Kemudian professor itu memberi aba-aba untuk membalik kertas yang ada di meja mereka. Di lembaran ujian itu tertulis kalimat singkat,”Selamat, Anda baru saja mendapatkan  nilai A.” Profesor itu kemudian memberi selamat kepada mereka karena tidak mau menerima nilai rata-rata. Sikap yang tidak mau menerima sesuatu secara instan akan membawa kita melangkah untuk melakukan hal-hal yang lebih besar dan bermakna dalam hidup ini.

Mengapa kebanyakan orang memilih untuk mendapatkan hasil yang biasa-biasa , yang bisa diperoleh tanpa perjuangan yang keras? Mungkin karena takut untuk memulai dan takut gagal. Seorang bijak berkata,”Jangan buang waktumu dengan menangisi susu yang tumpah, sementara si sapi masih hidup, kembalilah dan perah sapimu lagi.” Artinya, kegagalan adalah hal yang lumrah, kalau gagal maka kita harus terus mencoba dengan semangat yang baru. Mengambil jalan pintas yang mudah dan menerima keadaan biasa-biasa saja saat seharusnya berusaha membangun potensi diri, tidaklah bijak. Timothy L. Griffith berkata, “Mereka  yang berhasil tidak hanya tegar hati, mereka juga pekerja keras yang percaya kepada kemampuan dirinya.” Orang yang menanamkan dalam hatinya baghwa tidak ada kata-kata tidak bisa dalam hidupnya, terlebih karena Tuhan menyertai langkah-langkahnya, pasti akan terus mencoba meraih impian-impian dalam hidupnya.

Di atas semua sikap mental positif yang kita bangun, sertakanlah Tuhan Yesus dalam setiap rencana kita. Dengan doa yang tidak putus, iman yang teguh, dan perkenanan Tuhan atas langkah-langkah kita, apa pun yang kita kerjakan niscaya akan membuahkan hasil. “Ia seperti  pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” (Mazmur 1:3)

Buatlah Mereka Bahagia




Manna Surgawi 100812

Perbuatan-perbuatan kecil yang kita berikan dengan tulus kepada mereka yang membutuhkan bisa menjadi sebuah mujizat yang membahagiakan mereka. Sydney Smith berkata, “Jika Anda membuat seseorang bahagia hari ini, Anda juga membuat dia berbahagia dua puluh tahun lagi, saat ia mengenang peristiwa itu.”

Sore itu dalam perjalanan pulang saya mampir untuk makan mie ayam di warung langganan saya. Warung itu memang selalu ramai karena mie ayamnya enak dan lokasinya di pinggir jalan besar. Tidak berapa lama, masuklah dua orang pemuda yang juga ingin menikmati mie ayam di sore nan cerah itu Sambil menikmati mie ayam, diam-diam saya mendengarkan pembicaraan mereka dalam bahasa daerah, ternyata mereka berdua dari tanah Batak. Sambil mencuri pandang, saya melihat mereka memakai seragam kerja yang sama, saya dapat memastikan bahwa para pemuda itu adalah sales marketing salah satu produk minuman. Biasanya mereka berjalan dari pintu ke pintu untuk menawarkan  produk yang mereka usung. Seketika timbul belas kasihan, hati saya tergerak untuk mentraktir mereka berdua. Setelah saya selesai makan, diam-diam saya katakana kepada si penjual mie ayam untuk menghitung, termasuk yang mereka makan. Setelah membayar, saya katakana kepada salah seorang dari pria itu, “Bang, nanti tidak usah bayar ya!” kemudian saya berjalan menuju sepeda motor saya. Mendengar itu mereka terkejut, salah seorang mengikuti saya dan mengucapkan terima kasih, raut wajahnya menyiratkan rasa penasaran. “Apa Ibu mengenal kami, atau sebelumnya kita pernah bertemu?” katanya bertanya. “Tidak, saya tidak mengenal Anda berdua, terimalah itu sebagai berkat dari Tuhan. Bersyukur saja kepada Tuhan,” jawab saya sambil tersenyum.

Waktu berlalu, beberapa hari kemudian saya bertemu dengan salah satu dari pria itu ketika ia sedang menjual produknya ke rumah tempat saya tinggal Kami pun bercerita cukup lama. “Kami sebenarnya bergumul untuk masuk ke warung mie ayam itu Bu. Kami sama sekali tidak punya uang. Uang kami hanya cukup untuk ongkos pulang, tapi rasa lapar memaksa kami masuk dan mengabaikan masalah kepulangan. Waktu Ibu mengatakan bahwa semuanya sudah dibayar kami benar-benar terkejut, apalagi Ibu katakana itu semua berkat yang datang dari  TUhan. Setelah Ibu pergi, teman saya mengatakan bahwa ia percaya masih ada mujizat. Ya, hari itu kami mengalami mujizat lewat uluran tangan Ibu,” katanya menuturkan. Hati saya diliputi rasa haru dan syukur kepada TUhan karena bisa menjadi saluran berkat, yang mengingatkan kedua pria itu bahwa Tuhan punya banyak cara untuk memelihara hidup mereka. Materi yang saya keluarkan tidak seberapa jumlahnya, tetapi nilainya bagi mereka dan saya sangatlah besar.

Benih kebaikan akan menghasilkan buah yang manis dan lebat. Tetaplah berbuat baik!