Yesus Gembala yang Baik.

Jumat, 10 Juni 2016

Tulang Rusuk yang Hilang


Majalah Komunikasi Kristiani – Standard Vol. XI No. 10 (Februari 2016)

Seorang wanita bertanya kepada kekasihnya ,”Orang yang paling kamu cintai di dunia ini siapa?”
“Kamu dong!” balas sang kekasih dengan cepat.
“Menurut kamu, aku ini siapa?” Setelah berpikir sejenak kekasihnya menjawa, “Kamu tulang rusukku. Ketika Tuhan melihat Adam kesepian , dengan diam-diam ketika Adam tertidur, Ia mengambil tulang rusuknya dan diciptakan Hawa. Saat ini semua pria mencari tulang rusuknya yang hilang, ketika ia menemukan seorang wanita untuknya, ia tidak lagi merasakan sakit hati.”
            Setelah Menikah, pasangan itu mengalami masa yang indah untuk sesaat. Setelah itu, mereka mulai tenggelam dalam kesibukan dan kepenatan hidup. Hidup mereka menjadi membosankan. Kenyataan hidup yang kejam membuat mereka mulai menyisihkan impian dan cinta satu sama lain. Mereka mulai bertengkar dan pertengkaran itu mulai menjadi semakin panas. Sampai pada suatu hari, di akhir dari sebuah pertengkaran, sang wanita lari keluar rumah. Saat tiba di seberang jalan, ia berteriak, “Kamu tidak mencintai aku lagi!”
            Pria itu sangat membenci ketidakdewasaan yang ditunjukkan istrinya dan dengan spontan membalasnya. “Aku menyesal kita menikah! Ternyata, kau bukan tulang rusukku!”
            Terdiam dan berdiri terpaku, wanita itu mendengar kekasihnya mengucapkan kata-kata seperti itu. Kekasihnya sadar dan menyesal dengan apa yang sudah diucapkannya, tetapi seperti air tertumpah dan tidak mungkin diambil kembali.
            Dengan berlinang, wanita itu kembali ke rumah , mengambil barang-barangnya, bertekad untuk berpisah.
            “Kalau aku bukan tulang rusukmu biarkan aku pergi!”
            Lima tahun berlaru, pria itu tidak menikah lagi, tetapi berusaha tahu akan kehidupan wanitanya.
            Wanita itu pernah ke luar negeri tetapi sudah embali lagi. Ia pernah menikah dengan seorang asing dan kemudian bercerai.
            Dan di tengah malam yang sunyi pria itu menimum kopi dan merasakan sakit di hatinya. Tetapi ia tidak sanggup mengakui bahwa ia merindukan wanitanya.
            Suatu hari, mereka akhirnya bertemu di airport, tempat di mana banyak terjadi pertemuan dan perpisahan.
            “Apa kabar kamu?”
            “Baik, apakah kamu sudah menemukan tulang rusukmu yang hilang?”
            “Belum....”
            “Aku terbang ke New York dengan penerbangan berikutnya.”
            “Aku akan kembali 2 minggu lagi. Telepon aku kalau kamu sempat. Kamu tahu nomor telepon kita, tidak ada yang berubah.”
            Wanita itu tersenyum manis, lalu berlalu. “Bye...”
            Seminggu kemudian ia mendengar bahwa wanitanya adalah salah satu korban Menara WTC. Malam itu sekali lagi pria itu mereguk kopinya dan kembali merasakan sakit di hatinya. Akhirnya ia sadar bahwa sakit itu adalah karena  wanitanya tulang rusuknya sendiri yang telah dengan bodohnya ia patahkan.
            Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada orang yang paling kita cintai. Dan akibatnya seringkali adalah fatal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar