Yesus Gembala yang Baik.

Selasa, 07 Juni 2016

Masuk Bersama


Oleh : Stu Weber
Dari Buku : Kisah Kasih Allah

Kami biasa lari setiap pagi, tetapi ini adalah sebuah kisah yang lain dari biasanya. Kami sudah berkeringat sejak sebelum fajar menyingsing, namun sekarang keringat itu sudah mengering dari setiap pori-pori kulit kami. Dalam pelatihan fisik di sekolah tentara Amerika Serikat itu, kami benar-benar merasa diperas. Kelelahan. Namun, memang tiada pagi tanpa peluh di sana.
            Kami berlari dengan seragam lengkap. Seperti biasa, kami mengucapkan kata-kata, “Kalian keluar bersama, bekerja bersama, bekerja sebagai tim, dan kembalilah bersama. Jika kau belum bersama kami, jangan malu untuk bergabung!”
            Di tengah perjalanan, menembus tabis rasa sakit, haus, dan lelah, otak saya memikirkan sesuatu yang aneh tentang bentuk barisan kami. Di dua baris di depan saya, saya memerhatikan seorang teman tampak sempoyongan.
            Seorang yang tinggi besar dan berpotongan rambut pendek berwarna merah bernama Sanderson, tampak sudah tidak lagi berlari serentak dengan kami. Lengannya tampak terkulai. Kemudian kepalanya mulai bergoyang-goyang. Pria ini sedang berusaha bertahan. Hampir-hampir ia tak berdaya lagi.
            Sambil tetap berlari, tentara di sebelah kanan Sanderson mengangkat senapan dari bahunya untuk meringankan beban Sanderson. Jadinya, tentara itu memanggul dua senapan. Miliknya dan milik Sanderson. Si kepala merah yang tinggi besar itu tampak mendingan untuk sementara. Namun kemudian, ketika peleton itu terus bergerak, kerongkongannya seperti tercekat, matanya pucat, dan kakinya melemas. Segera kepalanya kembali bergoyang.
            Kali ini, tentara di sebelah kirinya meraihnya, membuka helmnya, mengepitnya di bawah lengannya dan terus berlari. Semua terus berlari. Langkah sepatu kami berderap-derap serempak di jalan yang kotor. Tap-tap-tap-tap-tap.
            Namun, Sanderson sakit parah. Benar-benar parah. Ia rebah. Tetapi, tunggu. Dua tentara di belakangnya mengangkat ransel di punggungnya, kemudian masing-masing memanggul Sanderson dengan tangan yang bebaas. Sanderson mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya. Membusungkan dadanya. Pasukan itu terus berlari. Terus menelusuri jalan hingga garis akhir.
            Kami berangkat bersama. Kami pulang bersama. Dengan begitu, kami semua menjadi lebih kuat.
            Bersama-sama memang selalu lebih baik.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar