Yesus Gembala yang Baik.

Kamis, 29 November 2012

Menafsirkan Seenaknya

360 Reflections of Life (Kisah-Kisah Kehidupan yang Meneduhkan Hati)
Sidik Nugroho

Pria ini menganggap dirinya sebagai “Penerus Tugas-Tugas Martin Luther yang Belum Selesai”. Ia menebarkan ajaran bahwa semua orang Yahudi perlu dibasmi karena merekalah yang membunuh Yesus.
                Ya, ia adalah Adolf Hitler. Ajarannya tersebut memecah gereja menjadi dua; ada yang bersimpati, tetapi tidak sedikit pula yang menentangnya. Salah penentang utama Hitler adalah Dietrich Bonhoeffer. Ia menegaskan bahwa gereja yang mendiskriminasi anggota-anggota dan pelayaan-pelayannya atas nama ras tidak lagi pantas disebut gereja Yesus Kristus. Sedemikian agresif ia menentang ajaran Hitler, sehingga memaksa Nazi menutup seminari yang dipimpinnya pada 1937.
                Pada 1943, Boenhoffer di penjara. Ia sempat dipindah ke kamp konsentrasi sebelum dihukum gantung pada 9 April 1945. Salah seorang dokter yang bekerja di kamp konsentrasi bersaksi bahwa ia melihat Boenhoeffer meninggal dengan ekspresi yang sungguh-sungguh berserah kepada Tuhan. Sedang tiga minggu kemudian Hitler bunuh diri.
                Hitler adalah diktaktor yang menafsirkan Alkitab dengan seenaknya. Bahkan, ia tidak segan-segan memersonifikasikan dirinya sebagai orang yang maha penting.
                Sebagaimana yang kita ketahui bersama, politik itu kejam. Dan, orang-orang yang berkecimpung di dalamnya akan memanfaatkan beragam cara untuk menyatakan kebenaran dari dan atas nama dirinya sendiri.
                Akan tetapi, perlu juga ditegaskan di sini bahwa sesungguhnya bukan hanya politisi yang suka menafsirkan kebenaran dengan seenaknya sendiri. Kita juga berpeluang untuk melakukan hal yang sama. Bukankah kita kerap berdalih dan mempertahankan “kebenaran” lain ketika Tuhan menuntut kita untuk berubah?
Mari, mulai detik ini , kita mengoreksi diri kita sendiri.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar