Yesus Gembala yang Baik.

Jumat, 26 Oktober 2012

Boneka untuk Adikku




Hari terakhir sebelum Natal, aku terburu-buru ke supermarket  untuk membeli hadiah2 yang semula tidak direncanakan untuk dibeli.  Ketika melihat orang banyak, aku mulai mengeluh: "Ini akan makan  waktu selamanya, sedang masih banyak tempat yang harus kutuju"  "Natal benar-benar semakin menjengkelkan dari tahun ke tahun. Kuharap  aku bisa berbaring, tidur, dan hanya terjaga setelahnya"  Walau demikian, aku tetap berjalan menuju bagian mainan, dan di  sana aku mulai mengutuki harga-harga, berpikir apakah sesudahnya  semua anak akan sungguh-sungguh bermain dengan mainan yang mahal.

Saat sedang mencari-cari, aku melihat seorang anak laki-laki berusia sekitar 5 tahun, memeluk sebuah boneka. Ia terus membelai rambut  boneka itu dan terlihat sangat sedih. Aku bertanya-tanya untuk  siapa boneka itu. Anak itu mendekati seorang perempuan tua di  dekatnya: 'Nenek, apakah engkau yakin aku tidak punya cukup uang?' Perempuan tua itu menjawab: 'Kau tahu bahwa kau tidak punya cukup  uang untuk membeli boneka ini, sayang.' Kemudian Perempuan itu  meminta anak itu menunggu di sana sekitar 5 menit sementara ia  berkeliling ke tempat lain. Perempuan itu pergi dengan cepat. Anak  laki-laki itu masih menggenggam boneka itu di tangannya.

Akhirnya, aku mendekati anak itu dan bertanya kepada siapa dia  ingin memberikan boneka itu.'Ini adalah boneka yang paling  disayangi adik perempuanku dan dia sangat menginginkannya pada  Natal ini. Ia yakin Santa Claus akan membawa boneka ini untuknya'  Aku menjawab mungkin Santa Claus akan membawa boneka untuk adiknya,  dan supaya ia jangan khawatir. Tapi anak laki-laki itu menjawab dengan  sedih 'Tidak, Santa Claus tidak dapat membawa boneka ini ke tempat  dimana adikku berada saat ini. Aku harus memberikan boneka ini  kepada mama sehingga mama dapat memberikan kepadanya ketika mama  sampai di sana.' Mata anak laki-laki itu begitu sedih ketika mengatakan  ini 'Adikku sudah pergi kepada Tuhan. Papa berkata bahwa mama juga  segera pergi menghadap Tuhan, maka kukira mama dapat membawa boneka  ini untuk diberikan kepada adikku.' Jantungku seakan terhenti.

 Anak laki-laki itu memandangku dan berkata: 'Aku minta papa untuk memberitahu mama agar tidak pergi dulu. Aku meminta papa untuk  menunggu hingga aku pulang dari supermarket. ' Kemudian ia  menunjukkan fotonya yang sedang tertawa. Kamudian ia berkata: 'Aku  juga ingin mama membawa foto ini supaya tidak lupa padaku. Aku  cinta mama dan kuharap ia tidak meninggalkan aku tapi papa berkata  mama harus pergi bersama adikku.'Kemudian ia memandang dengan  sedih ke boneka itu dengan diam.

 Aku meraih dompetku dengan cepat dan mengambil beberapa catatan  dan berkata kepada anak itu. 'Bagaimana jika kita periksa lagi,  kalau-kalau uangmu cukup?' 'Ok' katanya. 'Kuharap punyaku cukup.'  Kutambahkan uangku pada uangnya tanpa setahunya dan kami mulai  menghitung. Ternyata cukup untuk boneka itu, dan malah sisa. Anak  itu berseru: 'Terima Kasih Tuhan karena memberiku cukup uang'  Kemudian ia memandangku dan menambahkan: 'Kemarin sebelum tidur aku  memohon kepada Tuhan untuk memastikan  bahwa aku memiliki cukup  uang untuk membeli boneka ini sehingga mama bisa memberikannya  kepada adikku. DIA mendengarkan aku. Aku juga ingin uangku cukup  untuk membeli mawar putih buat mama, tapi aku tidak berani memohon  terlalu banyak kepada Tuhan. Tapi DIA memberiku cukup untuk membeli  boneka dan mawar putih.' 'Kau tahu, mamaku suka mawar putih'

Beberapa menit kemudian, neneknya kembali dan aku berlalu dengan keretaku. Kuselesaikan belanjaku dengan suasana hati yang  sepenuhnya berbeda dari saat memulainya. Aku tidak dapat menghapus  anak itu dari pikiranku. Kemudian aku ingat artikel di koran lokal  2 hari yang lalu, yang menyatakan seorang pria mengendarai truk  dalam kondisi mabuk dan menghantam sebuah mobil yang berisi seorang  wanita muda dan seorang gadis kecil. Gadis kecil itu meninggal  seketika, dan ibunya dalam kondisi kritis. Keluarganya harus  memutuskan apakah harus mencabut alat penunjang kehidupan, karena  wanita itu tidak akan mampu keluar dari kondisi koma. Apakah mereka  keluarga dari anak laki-laki ini?

2 hari setelah pertemuan dengan anak kecil itu, kubaca di koran bahwa wanita muda itu meninggal dunia. Aku tak dapat menghentikan diriku dan pergi membeli seikat mawar putih dan kemudian pergi ke  rumah duka tempat jenasah dari wanita muda itu diperlihatkan kepada  orang-orang untuk memberikan penghormatan terakhir sebelum penguburan.  Wanita itu di sana, dalam peti matinya, menggenggam setangkai mawar  putih yang cantik dengan foto anak laki-laki dan boneka itu ditempatkan  di atas dadanya. Kutinggalkan tempat itu dengan menangis, merasa  hidupku telah berubah selamanya. Cinta yang dimiliki anak laki-laki  itu  kepada ibu dan adiknya, sampai saat ini masih sulit untuk  dibayangkan. Dalam sekejap mata, seorang pria mabuk mengambil  semuanya dari anak itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar