Yesus Gembala yang Baik.

Jumat, 26 Oktober 2012

Kesukaan kita = kedukaan orang lain?



Dari kejauhan Jack terus menekan pedal gas kendaraannya. Ia tidak mau terlambat, apalagi lampu merah disini menyala cukup lama.  Lampu lalu-lintas berganti kuning.  Tiga meter menjelang garis jalan, lampu merah menyala.  Jack bimbang,haruskah ia berhenti atau terus saja.  "Ah, aku tidak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak", pikirnya sambil terus melaju.
PRIIIT!!  Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya berhenti.  Jack menepikan kendaraan sambil mengumpat dalam hati.  Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu.  Hey, itu kan Bob, teman semasa SMA dulu.  Hati Jack agak lega.  Ia melompat keluar sambil berkata "Hai Bob, senang sekali ketemu kamu lagi!".  "Hai Jack", sapa Bob tanpa senyum.  "Duh, sepertinya saya kena tilang nih?  Saya memang agak buru2.  Istri saya sedang menunggu di rumah.
Hari ini dia ulang tahun jadi dia dan anak-anak sudah menyiapkan pesta di rumah.  Tentu aku tidak boleh terlambat dong", kata Jack.  Bob berkata "Saya mengerti tapi sebenarnya saya sering memperhatikanmu melintasi lampu merah di persimpangan ini.  Jack mulai gelisah, ia harus ganti strategi, ia berkata "Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu merah,sewaktu aku lewat tadi lampu kuning masih menyala kok".
Aha..terkadang berdusta sedikit bisa memperlancar situasi.
Bob berkata "Jack, kami melihatnya dengan jelas, tolong keluarkan SIM-mu".  Jack kemudian dengan ketus menyerah-kan SIM-nya ke Bob lalu masuk ke dalam mobilnya dan menutup kaca jendela, sementara Bob menulis sesuatu di buku tilangnya kemudian dia mengetuk kaca mobil Jack.
Jack yang merasa kesal dan marah cuma membuka kaca jendela sedikit, katanya "Ah, lima senti sudah cukup untuk memasukkan surat tilang".  Sesudah Jack menerima surat tilang itu dia langsung menggas mobilnya dan cepat berlalu dari tempat tersebut.  Tanpa berkata-kata Bob kembali ke posnya.

Setelah agak jauh dari tempat kejadian, Jack mau memasuk-kan SIM-nya ke dompet dan ia melihat ada surat tapi bukan surat tilang.  "Surat apa ini? Ini bukan surat tilang?  Kenapa ia tidak memberiku surat tilang?, tanya Jack.  Ia langsung meminggirkan mobilnya dan membaca surat dari Bob tadi.

Bunyi surat tersebut demikian:
"Halo Jack, tahukah kamu aku mempunyai seorang anak perempuan, anakku satu-satunya.  Ia sangat cantik dan lincah.  Aku dan istriku sangat  menyayanginya.  Sayangnya, ia sudah meninggal karena tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah saat ia melintas bersama ibunya di zebra-cross.  Anakku langsung meninggal di tempat. Istriku sampai saat ini mengidap depresi hebat.  Pengemudi itu hanya dihukum penjara selama 3 bulan saja.  Begitu bebas, ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi. Sedangkan aku, aku kehilangan malaikat kecil kesayanganku.Aku dan istriku masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan mengaruniai seorang anak lagi agar dapat kami peluk.  Tapi kondisi istriku tidak memungkinkan. Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu.  Oh.. betapa sulitnya!  Begitu juga kali ini.  Maafkan aku, Jack.  Doakan agar permohonan kami mempunyai anak terkabulkan.
Berhati-hatilah saat menyetir.  Dari temanmu, Bob".

Jack kaget sekali saat ia membaca surat Bob tersebut. Ia langsung memutar balik mobilnya dan pergi ke pos jaga Bob. Namun, Bob sudah meninggalkan pos itu entah kemana. Sepanjang jalan pulang Jack mengemudi dengan hati-hati dan ia berjanji dalam dirinya untuk menahan diri agar tidak ngebut dan menyetir ugal-ugalan.  Ia teringat akan anak-anaknya. Memang, tak selamanya orang harus mengerti kita.  Bisa jadi kesukaan kita adalah kedukaan orang lain.  Hidup ini sangat berharga, karena itu jalanilah dengan penuh hati-hati dan saling menghargai.

Unknow

Tidak ada komentar:

Posting Komentar