Yesus Gembala yang Baik.

Senin, 29 Oktober 2012

Belajar dari Keluarga White




Aku mengenal keluarga White ketika baru masuk kuliah. Perkenalanku dengan keluarga ini dimulai dari pertemananku dengan Jane White.Ketika Jane memperkenalkan aku dengan keluarganya, aku langsung merasa akrab dan senang berada di tengah tengah mereka.

Keluargaku terbiasa dengan sikap mencari tahu siapa yang salah dan menghukumnya dengan berlebihan.
Ketika melihat ruang tamu berantakan, ibu akan berteriak, " Semua itu pasti perbuatan kamu"
Ayahpun demikian, pada saat ia menemukan cacat pada mobilnya, maka ia akan bertanya, " Siapa yang terakhir memakai mobil? Bagaimana mobil ini bisa rusak? " Ia akan terus mengomel dan marah2 hingga orang yang menyebabkan mobilnya rusak benar2 merasa tertekan.

Tetapi aku menemukan hal yang sangat berbeda dalam keluarga White.Mereka tidak menghukum secara berlebihan dan dengan emosional siapa yang telah berbuat salah.
Yang mereka tanamkan adalah memberikan kesempatan untuk memperbaiki dan bertanggung jawab dengan merapikan apa yang berantakan, memperbaiki yang rusak dan menjaga suasana agar tetap ada dalam sukacita.

Keluaraga White mempunyai 3 anak laki2 dan 3 anak perempuan .Ketiga anak perempuan mereka adalah Sarah, Jane dan Amy.Sarah dan Jane sudah kuliah, sedangkan Amy baru berusia 16 tahun. Seorang anak laki2 nereka sudah meninggal.

Suatu hari, aku dan ketiga anak perempuan White berjalan jalan dengan mobil. Amy baru saja memiliki SIM sehingga dengan bangganya ia memamerkan SIM itu kepada kami. Kami berangkat Dari Florida ke New York.Mulanya Sarah dan Jane yang mengemudi secara bergantian dan Amy hanya diizinkan mengemudi ketika melalui jalan yang tidak terlalu ramai.

Mungkin karena gugup, di sebuah perempatan di mana mobil dari arah kami seharusnya berhenti, tetapi Amy terus melaju.Akhirnya terjadilah tabarakan yang merenggut nyawa sahabatku Jane.Dengan segenap keberanian aku menelpon keluarga White.

Tak lama berselang, Bapak dan Ibu White tiba di rumah sakit.Mereka memeluk kami bertiga dan menangis. " Kami senang karena kalian masih hidup", kata mereka sambil menghapus air mata dari pipi kedua puteri mereka yang masih hidup.

Aku heran, mereka tidak memarahi Amy atau membahas penyebab kecelakaan itu. Sebaliknya mereka berusaha membuat Amy tersenyum. Karena tidak tahan, aku bertanya mengapa mereka tidak menyinggung soal keteledoran Amy. " Kami sedih Jane meninggal, apapun yang kami lakukan tidak akan bisa menghidupkannya lagi. Tapi masa depan Amy masih panjang, kami mau ia melaluinya tanpa rasa bersalah", jawab Bapak dan Ibu White..

Aku belajar dari keluarga White bahwa sifat menghakimi yang berlebihan tidaklah penting. " MENYALAHKAN TIDAK AKAN MEMBUAT KEADAAN MENJADI LEBIH BAIK, MEMBERI KESEMPATAN MEMPERBAIKI AKAN LEBIH BERGUNA'

Tidak ada komentar:

Posting Komentar