Yesus Gembala yang Baik.

Selasa, 30 Oktober 2012

Kisah Seorang Penjual Tempe

Ada seorang hamba Tuhan asal Surabaya, yang  menceritakan kesaksian seorang ibu penjual tempe.  Peristiwanya terjadi di sebuah desa di Jawa Tengah.  Adalah seorang ibu setengah baya yang sehari-harinya  berjualan tempe buatan sendiri di desanya.  Pada suatu hari, seperti biasanya, pada saat ia akan  pergi ke pasar untuk menjual  tempenya, ternyata pagi itu, tempe yang terbuat dari  kacang kedele masih belum jadi tempe alias masih  setengah jadi. Ibu ini sangat sedih hatinya, sebab  jika tempe tersebut tidak jadi berarti ia tidak akan  mendapatkan uang karena tempe yang belum jadi  tentunya tidak laku dijual. Padahal mata pencaharian  si ibu hanyalah dari menjual tempe saja agar ia  dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Dalam  suasana hatinya yang sedih, si ibu yang memang aktif  beribadah di gerejanya teringat akan firman Tuhan  yang menyatakan bahwa Tuhan dapat melakukan  perkara-perkara ajaib, bahwa bagi Tuhan tiada yang  mustahil. Lalu ia pun menumpangkan tangannya di atas  tumpukan beberapa batangan kedele yang masih  dibungkus dengan daun pisang tersebut.
"Bapak di Surga, aku mohon kepadaMu agar kedele ini menjadi tempe. "Dalam nama Yesus, Amin". Demikian  doa singkat si Ibu yang dipanjatkannya dengan sepenuh hati.  Ia yakin dan percaya pasti Tuhan  menjawab doanya. Lalu, dengan tenang ia  menekan-nekan bungkusan bakal tempe tersebut dengan  ujung jarinya.
Dengan hati yang deg-deg-an ia mulai membuka sedikit  bungkusannya untuk melihat mukjijat kedele jadi tempe terjadi. Namun apa yang terjadi?  Dengan kaget dia mendapati bahwa kedele tersebut  masih tetap kedele! Si Ibu tidak kecewa. Ia berpikir  bahwa mungkin doanya kurang jelas didengar  Tuhan. Lalu kembali ia menumpangkan tangan di atas  batangan kedele tersebut. "Bapa di surga, aku tahu  bahwa bagiMu tiada yang mustahil. Tolonglah aku  supaya hari ini aku bisa berdagang tempe karena itulah mata pencaharianku. Aku  mohon dalam nama Yesus jadilah ini menjadi tempe.  Dalam nama Yesus, Amin." Dengan iman iapun kembali  membuka sedikit bungkusan tersebut. Lalu apa yang terjadi? Dengan kaget ia melihat bahwa kacang  kedele  tersebut ???.................masih tetap begitu !

Sementara hari semakin siang dimana pasar tentunya  akan semakin ramai. Si ibu dengan tidak merasa  kecewa atas doanya yang belum terkabul, merasa bahwa bagaimanapun sebagai langkah iman ia akan tetap  pergi ke pasar membawa  keranjang berisi barang dagangannya itu. Ia berpikir  mungkin mujijat Tuhan akan terjadi di tengah  perjalanan ia pergi ke pasar. Lalu iapun  bersiap-siap untuk berangkat ke pasar. Semua  keperluannya untuk berjualan tempe seperti biasanya  sudah disiapkannya. Sebelum beranjak dari rumahnya,  ia sempatkan untuk menumpangkan  tangan sekali lagi. "Bapa di surga, aku percaya Engkau akan mengabulkan  doaku. Sementara aku berjalan menuju pasar, Engkau  akan mengadakan mukjijat buatku. Dalam nama Yesus,  Amin." Lalu ia pun berangkat. Di sepanjang  perjalanan ia tidak lupa menyanyikan beberapa lagu  puji-pujian. Tidak lama kemudian sam
pailah ia di  pasar. Dan seperti biasanya ia mengambil tempat  untuk menggelar barang dagangannya. Ia yakin bahwa  tempenya sekarang pasti sudah jadi. Lalu iapun  membuka keranjangnya dan pelan-pelan menekan-nekan  dengan jarinya bungkusan tiap bungkusan yang ada.  Perlahan ia membuka sedikit daun pembungkusnya dan  melihat isinya. Apa yang terjadi? Ternyata  saudara-saudara.................tempenya benar-benar ..................... belum jadi !

Si Ibu menelan ludahnya. Ia tarik napas dalam-dalam.  Ia mulai kecewa pada Tuhan  karena doanya tidak dikabulkan. Ia merasa Tuhan tidak adil. Tuhan tidak kasihan kepadanya. Ia hidup hanya mengandalkan hasil menjual tempe saja. Selanjutnya, ia hanya duduk saja tanpa menggelar  dagangannya karena ia tahu bahwa mana ada orang mau  membeli tempe yang masih setengah jadi.  Sementara hari semakin siang dan pasar sudah mulai  sepi dengan pembeli. Ia melihat dagangan  teman-temannya sesama penjual tempe yang tempenya  sudah hampir habis. Rata-rata tinggal sedikit lagi  tersisa. Si ibu tertunduk lesuh. Ia seperti tidak  sanggup menghadapi kenyataan hidupnya hari itu. Ia  hanya bisa termenung dengan rasa kecewa yang dalam.  Yang ia tahu bahwa hari itu ia tidak akan  mengantongi uang sepeserpun.

Tiba-tiba ia dikejutkan dengan sapaan seorang wanita. "Bu?..! Maaf ya, saya mau tanya. Apakah ibu  menjual tempe yang belum jadi? Soalnya dari tadi  saya sudah keliling pasar mencarinya." Seketika si  ibu tadi terperangah. Ia kaget. Sebelum ia  menjawab sapaan wanita di depannya itu, dalam hati  cepat-cepat ia berdoa  "Tuhan?.saat ini aku tidak butuh tempe lagi. Aku  tidak butuh lagi. Biarlah daganganku ini tetap seperti semula. Dalam nama Yesus, dalam namaYesus, Amin."  Tapi kemudian, ia tidak berani menjawab  wanita itu. Ia berpikir jangan-jangan selagi ia  duduk-duduk termenung tadi, tempenya sudah jadi.  Jadi ia sendiri saat itu dalam posisi ragu-ragu  untuk menjawab ya kepada wanita itu. "Bagaimana  nih?" ia pikir. "Kalau aku katakan iya,  jangan-jangan tempenya sudah jadi. Siapa tahu tadi  sudah terjadi mukjijat Tuhan?" Ia kembali berdoa  dalam hatinya, "Ya Tuhan, biarlah tempeku ini tidak  usah jadi tempe lagi. Sudah ada orang yang  kelihatannya mau beli. Tuhan, tolonglah aku kali ini. Tuhan dengarkanlah doaku ini.." ujarnya  berkali-kali. Lalu, sebelum ia menjawab  wanita itu, ia pun membuka sedikit daun penutupnya.  Lalu ? apa yang dilihatnya Saudara-Saudara ???  Ternyata ??  ternyata ?  memang benar tempenya belum  jadi ! Ia bersorak senang dalam hatinya. Puji  Tuhan..Puji Tuhan, katanya. Singkat cerita wanita  tersebut memborong semua dagangan si Ibu itu.  Sebelum wanita itu pergi, ia penasaran kenapa ada  orang yang mau beli tempe yang belum jadi. Ia  bertanya kepada si wanita. Dan wanita itu mengatakan  bahwa anaknya di Yogya mau tempe yang berasal dari  desa itu. Berhubung tempenya akan dikirim ke Yogya jadi ia  harus membeli tempe yang belum jadi, supaya agar  setibanya di sana tempenya sudah jadi. Kalau tempe yang sudah jadi yang dikirim maka setibanya di sana  nanti tempe tersebut sudah tidak bagus lagi dan rasanya sudah tidak enak.

Apa yang bisa kita simpulkan dari kesaksian sederhana?
Pertama : Kita sering memaksakan kehendak kita  kepada Tuhan pada waktu kita berdoa padahal sebenarnya Tuhan lebih mengetahui apa yang kita  perlukan.
Kedua : Tuhan menolong kita dengan caraNya yang sama  sekali di luar perkiraan kita sebelumnya.
Ketiga : Tiada yang mustahil bagi Tuhan
Keempat : Percayalah bahwa Tuhan akan menjawab doa kita sesuai dengan rancanganNya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar