Yesus Gembala yang Baik.

Selasa, 30 Oktober 2012

William Joseph Seymour

Gembala Kulit Hitam dari Azusa Street
                William Joseph Seymour lahir di Centerville, Louisiana, pada tanggal 2 Mei 1870, dari keluarga mantan budak penganut Baptis, Simon dan Phyllis Seymour. Pada usia 25 tahun, ia pindah ke Indianapolis, bekerja sebagai penjaga rel kereta api dan kemudian menjadi pelayan restoran. Pada masa inilah ia terserang cacar yang mengakibatkan mata kirinya buta.
                Pada tahun 1900, ia pindah ke Cincinnati dan bergabung dengan Church of God. Di sini ia mendalami teologi kekudusan radilan. Teologi ini mengajarkan pengudusan sebagai pengalaman pascapertobatan menujug kekudusan sempurna, kesembuhan ilahi, premilenialisme, dan janji akan pencurahan Roh Kudsu di seluruh dunia sebelum terjadinya pengangkatan.
                Pada tahun 1903, ia pindah ke Houston, Texas, mencari keluarganya. DI sana ia bergabung dengan gereja kecil beraliran kekudusan yang digembalakan oleh seorang wanita berkulit hitam, Lucy Farrow. Tidak lama kemudian Farrow memperkenalkannya dengan Charles Fox Parham, seorang pengajar kekudusan. Murid-murid yang dilayaninya mengalami karunia berbahasa lidah (glossolalia) dua tahun sebelumnya. Bagi Parham, itu adalah “bukti alkitabiah” dari baptisan Roh Kudus. Ketika ia mendirikan sekolah Alkitab Apostolic Faith di Houston, Farrow mendorong Seymour mengikutinya.
                Karena hukum di negara bagian Texas melarang orang kulit hitam duduk dalam ruangan kelas bersama orang kulit putih, Parham meminta Seymour mendengar kuliahnya di koridor. Seymour menerima uraian Parham tentang baptisan Roh Kudus “berkat ketiga” dengan bukti berbahasa roh. Meskipun secara pribadi Seymour belum mengalami karunia berbahasa roh, ia kadang-kadang berkhotbah tentang hal itu bersama Parham di gereja-gereja Houston.

Pentakosta di Los Angeles
                Pada awal 1906, Seymour diundang untuk membantu Julia Hutchins, gembala gereja kekudusan di Los Angeles. Dengan dukungan Parham, Seymour pergi ke California, memberitakan doktrin Pentakosta baru dengan Kisah Para Rasul 2:4 sebagai nasnya. Namun Hutchins menolak pengajaran Seymour tentang bahasa roh dan menutup pintu baginya dan pengajarannya.
                Seymour kemudian diundang untuk tinggal di rumah Richard Asberry. Pada tanggal 9 April, sebulan setelah berdoa dan berpuasa secara intensif, Seymour dan beberapa orang lain berbicara dalam bahasa roh. Berita tentang peristiwa di kediaman Asberry ini segera tersebar dan menarik perhatian banyak pihak. Seymour harus berkhotbah di serambi kepada kerumnan orang di jalan. Suatu saat, karena begitu banyaknya orang yang berdesakan, lantai serambi itu pun roboh.
                Seymour pun menyusuri Los Angeles untuk mencari gedung yang memadai. Ia menemukan bekas gereja African Methodist Episcopal di Azusa Street, yang saat itu digunakan sebagai gudang dan kandang. Dibantu beberapa tukang cuci wanita, pelayan dan pekerja, ia membersihkan gedung berantakan itu, menyusun kursi kayu, dan membuat mimbar dari kotak sepatu. Kebaktian dimulai pada pertengahan April, dan gereja itu dinamai Apostolic Faith Mission.
                Peristiwa yang berlangsung di Azusa Street sepanjang tiga tahun berikutnya benar-benar mengubah jalannya sejarah gereja. Gedung kecil berukuran 12x18 meter itu dipadati oleh 600 orang, dan ratusan orang lainnya melihat dari jendela. Yang menjadi pusat perhatian adalah bahasa roh, selain gaya ibadah tradisional kaum kulit hitam yang penuh dengan teriakan, trance , dan tarian kudus. Tidak ada tata ibadah khusus karena “Roh Kudus yang memegang kendali”. Para pelayan mimbar dengan penuh gairah berdoa bagi orang-orang yang menginginkan karunia berbahasa roh. Tempat itu sangat ribut, dan ibadah berlangsung sampai jauh malam.
                Meskipun liputan surat kabar lokal secara sinis menyebutnya sebagai “celotehan ganjil tidak karuan”, berita itu menggugah minat warga kota. Ada satu jemaat yang datang berbondong-bondong ke Azusa Street dan menetap di sana, meninggalkan gereja lama mereka. Pusat-pusat Pentakosta lainnya segera bermunculan di seluruh kota.
                Orang yang membuat laporan tentang semua peristiwa ini adalah Frank Bartleman, seorang pengkhotbah kekudusan dan pekerja misi penyelematan yang melayani secara berkeliling. Kepada Way of Faith di Carolina Selatan ia menulis, “Petakosta telah melanda Los Angeles, Yerusalemnya Amerika.” Laporannya tersebut menyebarluaskan keingintahuan akan kebaktian di Azusa Street itu ke seluruh negeri.
                Pada bulan September, Seymour mulai menerbitkan surat kabarnya sendiri, The Apostolic Faith. Pada puncaknya, surat kabar ini disebarkan secara gratis ke sekitar 50.000 pelanggan di seluruh dunia.

Rekonsiliasi Rasial
                Banyak orang yang datang untuk mencemooh. Namun, banyak pula lainnya yang mendengarkan khotbah dalam bahasa asing terentu (bukan bahasa Inggris) disampaikan oleh orang kulit hitam dan kulit putih yang tidak terpelajar. Hal ini meyakinkan mereka bahwa ini adalah sebuah kebangunan rohani. Tidak kemudian, orang kulit putih menjadi mayoritas anggota dan pengunjung gereja tersebut. Tangan-tangan orang kulit hitam terulur ke atas kepala orang-orang kulit putih, mendoakan mereka untuk menerima karunia berbahasa roh.
                Pengunjung Azusa yang kemudian menjadi tokoh terkenal kalangan Pentakosta, antara lain Gaston B. Cashwell (membawa gerakan Pentakosta ke gereja-gereja kekudusan di wilayah Selatan), Charles Mason (memimpin Church of God in Christ masuk ke kalangan Pentakosta; sekarang menjadi denominasi Pentakosta kulit hitam terbesar di Amerika), dan William Durham (perintis Sidang Jemaat Allah).
                Bagi Seymour, bahasa roh bukanlah satu-satunya berita dari Azusa Street. “Jangan keluar dari tempat ini membicarakan tentang bahasa roh; bicarakanlah tentang Yesus,” tegasnya. Berita lain yang ditekankan olehnya adalah rekonsiliasi rasial. Orang kulit hitam dan kulit putih  bekerja sama dalam keharmonisan di bawah pimpinan seorang gembala kulit hitam. Ini benar-benar suatu keajaiban pada saat segregasi rasial masih sangat kental. Bartleman menyanjung,”Di Azusa Street , perbedaan warna kulit terhapus oleh Darah Yesus.” Seymour bermimpi membangun suatu jenis gereja yang baru. Dalam gereja ini, semua orang mengalami Roh Kudus sehingga tembok-tembok perbedaan rasial, etnis dan denominasi dapat diruntuhkan.
                Impian Seymour berantakan bahkan sebelum “hari-hari yang mulia di Azusa Lama” berakhir. Ketika gurunya, Charles Parham, mengunjungi Azusa pada Oktober 1906, Parsham tersntak oleh pemandangan yang disaksikannya dalam kebaktian tersebut. Ia menganggapnya sebagai antusiasme agamawi yang tidak terkendali. Ibadah yang emosional dan percampuran antara orang kulit putih dan kulit hitam sangat melukai perasaannya. Meskipun Seymour mengakui Parham sebagai “proyektor” gerakan ini, para panatua Azusa Street menolak Parham.
                Mungkin tantangan yang paling berat yang dihadapi oleh Seymour terjadi pada tahun 1909. Dua pekerja wanita kulit putih pindah ke Portland, Oregon, membawa daftar alamat pelanggan The Apostolic Faith. Hal ini memutuskan hubungan Seymour dengan para pengikutnya, dan kepemimpinannya atas pergerakan yang baru muncul ini pun berakhir.
                Setelah “tanhu-tahun kemuliaan” dari 1906 sampai 1909, gereja Azusa Street menjadi gereja kecil bagi warga kulit hitam yang digembalakan oleh Seymour sampai ia meninggal pada tanggal 28 September 1922. Istrinya, Jennie, meneruskan penggembalaan, sampai ia meninggal pada tahun 1936.
                Tahun 2000, William Seymour dipilih pembaca majalah Christian History sebagai salah satu dari 10 tokoh paling berpengaruh di abad kedua puluh. Keturunan rohaninya, yaitu kalangan Pantekosta dan Kharismatik, berjumlah sekitar 500 juta penganut – golongan Kristen terbesar kedua di dunia. Saat ini, secara praktis semua gerakan Pentakosta dan Kharismatik dapat merunut akar mereka secara langsung maupun tidak langsung pada gereja sederhana di Azusa Street dan gembalanya.

Arie Saptaji


Tidak ada komentar:

Posting Komentar