Yesus Gembala yang Baik.

Selasa, 30 Oktober 2012

Pemulihan



GI Susan  (istri Pdt. Hengky Setiawan) 


Mengenal tentang Yesus yang menyembuhkan kita.

Yesus sudah bereskan dosa , penyakit dosa kita di atas kayu salib. Yesus ingin tuntas menyembuhkan sakit penyakit kita. Yesus melayani sampai tuntas, sampai yang paling dalam, hati yang luka. Zakheus mengalami luka hati. Profesinya sendiri merupakan sampah di masyarakat yakni sebagai pemungut cukai. Juga postur tubuhnya yang pendek sering dicemooh. Saat itu Yesus sangat dielu-elukan.  Maka waktu Yesus berkata Ia mau menumpang di rumahnya, Zakheus senang sekali dan sangat antusias. Sehingga hari itu ada pertobatan dalam dirinya dan keluarganya. Luka-luka hatinya disembuhkan oleh Yesus.

Luka hati tidak terlihat seperti luka jasmani karena rasa sakit dan ngeri luka hati tidak terlihat. Orang tidak merasa dia terluka. Banyak yang merasa, itu sudah lama berlalu dan berharap dengan berlalunya waktu diharapkan  sakit hati akan sembuh dengan sendirinya. Ternyata banyak kali tidak sembuh. Ada istri yang bertengkar dengan suami. Suaminya memperlakukan dengan buruk. Sang istri ditampar, dijedotin ke tempok dan lain-lain.  Sang istri bisa menggambarkan dengan persis apa yang dikatakan suaminya. Padahal kejadian ini sudah 20 tahun berlalu. Adik GI Susan saat ditanya siapa yang melukai dia pertama kali. Dia berkata seorang ibu tua. Sakit hati dia sudah 30 tahun. Saat itu ia duduk di kelas 5 SD dan ikut retreat. Saat dia dengan santai sikat gigi, tiba-tiba bel berbunyi. Dia akhirnya tinggal sendiri dan tiba-tiba muncul ibu tua yang membentak dia dan berteriak sehingga suaranya sampai ke kamar peserta lainnya (termasuk kamar GI Susan). Besok hari hal ini jadi pembicaraan. Para peserta bertanya-tanya siapa yang kena dimarahi.Waktu itu adik GI Susan muncul dan mengaku bahwa dialah yang dimarahi serta bilang dia mau pulang bahkan bila GI Susan tidak mau pulang, dia mau pulang sendiri. Saat ikut sesi pemulihaan, baru dia ampuni ibu tua itu. Waktu ternyata tidak sembuhkan luka hati.

Kalau kita diserempet bajaj, paling kita marah sebentar tapi kalau hal yang salah dilakukan oleh orang-orang yang dekat dengan kita ( yang kita hormati, kagumi dan percayai), kita sakit sekali. Orang tua juga bisa terluka oleh anaknya. Misalnya : waktu sang anak sudah berhasil, dia lupakan orang tuanya seperti cerita si Malin Kundang. Luka juga bisa didapat dari guru, pemimpin , saudara seiman dan lain-lain. Kita sering bawa luka hati dan tidak pernah bereskan. Kita anggap sepi. Kita anggap perasaan saja (tidak pernah dianggap serius). Ini membawa dampak buruk buat kita pribadi dan lingkungan kita.

Akibat luka hati yang tidak pernah dibereskan :

1.       Membuat gambar diri kita yang buruk
Misal : kelakuan yang tidak dikehendaki atau masalah ekonomi. Yang lahir perempuan harapkan laki-laki. Akibatnya tertolak. Dia merasa tidak berarti (gambar diri buruk). Dia mencari cara supaya orang melihat dirinya berharga. Dia cari berbagai cara untuk dapat kasih dan penerimaan (dia akan sedot perhatian). Ada remaja yang orang tuanya bercerai. Papa dan mamanya masing-masing mau menikah lagi dan pasang mereka tidak mau menerima remaja tersebut. Akhirnya sang remaja dititip ke nenek, kakek, paman dan bibinya secara berpindah-pindah. Banyak anak terluka karena orang tua bercerai dan tidak dikehendaki papa dan mamanya. Saat komsel, ia minta supaya PKS nya memperhatikan dia dan dia akan merasa PKS tidak sayang lagi kalau perhatikan anggota yang lain.

2.       Mempengaruhi reaksi / respon orang tersebut terhadap orang lain / keadaan / situasi sekelilingnya
Misal : ada seorang wanita yang tidak bisa tidur kalau lampunya padam. Waktu ikut retreat dia tidak mau lampu dimatikan. Begitu lampu dimatikan dia terbangun dan tiba-tiba dia akan menjerit. Sehingga teman-teman sekamarnya yang tidak bisa tidur kalau lampunya menyala terpaksa mengalah. Akhirnya dia bercerita. Rupanya dulu, ada perampok yang masuk ke rumahnya lewat jendela bawa celurit. Pada waktu dia mau teriak, celuritnya dibabatkan ke tubuhnya sehingga ususnya keluar. Ia bahkan sempat memasukkan kembali ususnya ke dalam tubuhnya. Cicinya yang mau telepon, dibabat tangannya sehingga putus. Untung akhirnya papanya bangun dan perampok tersebut keluar. Dia trauma luar biasa.
Ada juga selama pacaran diperlakukan manis, tetapi setelah semuanya didapat maka berlaku habis manis sepah dibuang. Sang cewe sakit hati sehingga tiap pria dianggap sama saja walau yang sakiti hatinya satu orang pria saja. Atau ada orang yang percaya teman mainnya yang Kristen dalam melakukan bisnis. Ia percayakan uangnya dan ternyata dilarikan. Lalu dia bilang semua orang Kristen penipu.

3.       Mempengaruhi pertumbuhan rohani orang tersebut
Saat kita percaya maka diselamatkan tapi tidak otomatis luka-lukanya sembuh. Orang yang terluka bereaksi seperti orang yang terluka. Dia tidak ingin disakiti kedua kalinya (tidak ingin dikecewakan lagi). Orang yang terluka akan keraskan hatinya. Orang yang jadi keras sulit menerima kebenaran dan tidak berespon terhadap Tuhan. Walau Tuhan sayang dia dan tidak pernah ingkar janji. Orang yang terluka ciri-cirnya mudah tersinggung, sensitif, gampang marah, tidak stabil, sebentar adem lalu meledak, tidak pernah lihat diri sendiri, pikiran negatif, suka berontak / tidak mau diatur karena tidak mau dilukai. Orang seperti ini susah berhubungan dengan orang lain. Kalau pendapatnya dianggap tidak baik tersinggung. Padahal kita butuh orang lain untuk dengar dan tegur kita. Sehingga jangan kita menjadi orang Kristen bertahun-tahun pergi ke gereja, tetapi orangnya sama saja dari dulu, seharusnya tumbuh sehingga serupa dengan Kristus.

4.       Memberi kesempatan / tempat berpijak buat iblis
Orang terluka dan tidak pernah dibereskan akan memberikan tempat buat iblis bekerja dalam hidupnya. Iblis punya tujuan ingin hancurkan hidup kita dan kalu tidak ia akam membuat kita sebagai orang Kristen yang biasa / kerdil. Iblis punya kesempatan bekerja dalam diri orang tersebut bila tidak diselesaikan. Senjata iblis adalah perasaan tertolak. Maka mulailah ia bangun rumah , benteng buat iblis. Ada luka yang semakin lama semakin dalam dikorek iblis. Contoh (sebagian ilustrasi, buka kejadian sebenarnya) : GI Susan ke pasar seminggu sekali dan akan simpan bahan makanan di kulkas. Saat belanja di pasar yang ada di pikiran adalah bahan-bahan yang akan dibeli sehingga tidak perhatikan keadaan di sekeliling. Kebetulan ada seorang jemaat yang berpapasan muka dan menyapa selamat pagi tapi karena sedang memikirkan bahan yang akan dibeli, senyuman dan sapaan jemaat tidak dibalas. Sang jemaat kemudian menganggap GI Susan sombong. Lalu jemaat tersebut ketemu dengan jemaat lain dan saling menguatkan hal tersebut. Selanjutnya sesampainya di rumah, jemaat tersebut lapor ke suaminya , sehingga tambah lagi gosipnya karena terluka. Akhirnya tidak mau datang ke gereja dan bilang bahwa memangnya gereja hanya ada 1 (karena kecewa). Saat tim besuk datang, bilangnya tidak ada masalah. Waktu diajak datang ke gereja jawabnya bohong. Akhirnya datang karena tidak enak dibesuk. Pas kebetulan GI Susan kotbah :jangan jauhkan diri dari pertemuan ibadah. Jangan B3 (bolak balik bolos). Jemaat tersebut pikir se mu-nya sindir dia, sehingga dia keraskan hati. Waktu mau salaman kebetulan ada hal yang mendadak harus ditangani se mu (GI Susan) sehingga tidak keburu salaman (ketinggalan disalamin). Jadi ada kepahitan. Lalu sang jemaat tidak ke gereja dan mulai fitnah. Senjata tertolak tidak dibereskan, kalau ditanya se mu kenapa tidak ke gereja, tidak dibalas sehingga masalah nya tidak beres. Iblis telah menyebarkan benih. Gosip dan masuk ke dosa lain (keraskan hati, kepahitan). Di mana ada kepahitan, hal ini akan menular. Bila ada banyak orang seperti ini, gereja tidak bertumbuh.

Iblis menanamkan kuku sehingga kita terus terluka supaya iblis terus bekerja memporak porandakan gereja. Jangan bilang, saya tidak terluka (bilangnya orang cepat lupa sehingga tidak perlu disembuhkan). Jangan sampai tertipu oleh perasaan kita sendiri (padahal kalau ingat, hati mulai panas).

Langkah pemulihan (dari luka hati / bebas dari cengekeraman iblis) :

1.       Akui bahwa kita terluka dan perlu disembuhkan atau dipulihkan (Amsal 27:9, Amsal 18:14).
Ada orang yang tidak mau mengaku terluka, malu karena nanti dibilang rohaninya tidak dewasa. Orang terluka tidak menunjukkan kedewasaan. Yang tunjukkan kedewasaan,kemauan untuk pulih. Setiap orang sering terluka. Yang bedakan, cepat tidak bereskan luka tersebut. Jangan beri kesempatan buat iblis. Iblis mau kita tidak sembuh dan cari pertolongan. Di dunia ini tidak ada orang yang kebal terhadap luka batin. Yang sering terjadi orang yang tidak tahu dia sakit atau tahu sakit namun remehkan sakitnya. Seperti wanita yang perutnya sakit  dibiarkan lalu hanya dikasih balsem saja. Lalu ke tukang urut. Tapi tambah sakit, waktu diantar ke rumah sakit ternyata kena kanker rahim stadium 4 (sakit tapi remehkan). Kita perlu sembuhkan luka lama. Ada orang yang jatuh terluka. Lalu dipakai betadin tapi tambah sakit walau lukanya sudah bersih. Waktu dibawa ke dokter , kulitnya dibuka , disikat sampai keluar darah merah segar. Setelah itu baru sembuh.

2.       Datang dan letakkan beban kepada salib Kristus (Yesaya 53:2-5)
Yesus memikul semua kesalahan manusia. Dia mau turun jadi manusia. Waktu Yesus lahir, Yesus tahu kemiskinan. Sejak kecil Yesus diancam bahaya maut, diremehkan karena orang miskin.  Yesus tahu artinya dicacimaki / difitnah. Yesus kemudian alami penyaliban bukan karena Dia yang bersalah. Tetapi penyakit / kesengsaraan kita yang dipikulnya. Kalam mau pulih kita datang ke salib Yesus. Kekuatan kita terbatas, ada yang coba bertahan, tapi kemudian stress, depresi dan meledak. Malah ada  hamba Tuhan yang gila. Jangan tanggung lagi, letakkan beban kita kepada salib Kristus.

3.       Lepaskan pengampunan (Kolose 3:13)
Pengampunan bukan perasaan. Kalau perasaan, kita terluka kita tidak mau ampuni. Malah kalau bisa balas lebih jahat. Pengampunan adalah masalah keputusan (memilih untuk mengampuni). Saat ampuni, Yesus ada di dalam, kasihNya penuh. Setelah mengampuni kasih mengalir keluar. Ada papa yang tinggalkan anak dan istrinya sehingga sang anak sakit hati. Akhirnya setelah sesi Hati Bapa dan Pemulihan, sang anak bisa ampuni. Lalu dia minta ampun ke papanya. Pengampunan bukan untuk orang lain. Orang yang terima manfaat pengampunan adalah orang yang disakiti. Kalu tidak ampuni, seperti pegang duri. Makin dipegang makin sakit sehingga kita menderita. Kadang-kadang kita baru mengampuni kalau orang lain berubah. Pengampunan tidak diberi sebagai syarat. Karena kalau Tuhan seperti itu (pakai syarat), kita celaka.
GI Susan juga pernah diampuni oleh orang yang ditegurnya saat camp. GI Susan tidak mengetahui ada orang yang sakit hati selama 9 tahun, orang tersebut menyimpannya sampai mendengar sesi ini. Kalau kita tidak ampuni, Bapa di surga juga tidak ampuni doa kita. Seperti perumpamaan orang yang berhutang 60 juta dinar tapi dihapuskan sang raja tapi orang yang berhutang hanya 100 dinar kepadanya dimasukkan ke penjara. Hutang kita ke Tuhan banyak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar