Yesus Gembala yang Baik.

Senin, 29 Oktober 2012

Roti Tak Beragi - Mujizat Jesslyn K

ROTI TAK BERAGI
MUJIZAT JESSLYN K
ELSEN TAN
(LIGHT PUBLISHING)

1. Bayang-Bayang Kutuk 55 Tahun
“Ada apa dengan kamu, sehingga kamu mengucapkan kata sindiran ini di tanah Israel: Ayah-ayah
makan buah mentah dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu? Demi Aku yang hidup, demikianlah firman
Tuhan Allah , kamu tidak akan mengucapkan kata sindiran ini lagi di Israel.” (Yeh 18:2-3). Firman yang
Tuhan sampaikan di dalam ayat tersebut sungguh benar adanya. Jika Anda oerbag tertimpa kutuk yang
berlangsung turun temurun dalam keluarga Anda, saya mau sampaikan bahwa kutuk-kutuk itu akan
dipatahkan dan diputuskan ketika Anda menerima Tuhan Yesus dan hidup di dalamNya. Saya mengatakan
ini karena saya sudah mengalaminya sendiri.
Banyak orang mengatakan bahwa angka 13 adalah angka sial. Namun, sudah terbukti dalam kehidupan
saya bahwa dengan kasih dan kuasaNya, Tuhan Yesus selalu mendatangkan kebaikan bagi anak-anak
Allah. Tanggal 13 adalah tanggal kelahiran saya, tepatnya 13 Januari 1965. Saya lahir dari keluarga yang
tidak mengenal Tuhan Yesus. Sulung dari 4 anak laki-laki. Kota kelahiran saya, Tebing Tinggi, berjarak
kira-kira seratus km dari Kota Medan, Sumatra Utara.
Ada satu benda yang masih saya ingat dari masa kecil saya. Gilingan padi. Sesuai dengan namanya, ini
adalah alat untuk menggiling padi. Terdiri dari dua bagian, aitu bagian penggerus dan bagian alas. Bagian
penggerus berbentuk cekung di sebelah bawahnya dan pada salah satu sisi dibuat pegangan untuk memutar.
Di tengahnya ada lubang seperti lesung hingga tembus ke bawah sebagai tempat poros. Sedangkan bagian
alas berfungsi sebagai landasan bagi bagian penggerus. Bentuknya seperti kerucut dan beralur-alur ke
samping. Jika bagian penggerus diputar maka sekam padi yang ada di dalamnya akan terkelupas dan keluar
melalui alur-alur tersebut. Bentuk alat tersebut masih membekas dalam benak saya sering diajak ke rumah
kakek dan nenek selama bertahun-tahun. Ada sebuah gilingan padi di rumah kakek dan nenek.
Dalam mempertahankan hidup, masyarakat tradisional sangat tergantung pada alam dan peralatan yang
sangat sederhana. Mereka pun pada umumnya percaya pada aminisme dan menyembah aneka berhala.
Demikian juga dalam kehidupan kakek dan nenek saya. Kakek dan nenek hidup dari penggilingan padi.
Mereka pun memiliki sesembahan yang dipuja dengan maksud untuk mendapat order menggiling padi
sebanyak mungkin. Sembahyang di kelenteng adalah ritual yang tidak pernah dilupakan.
Pada saat berusia sekitar 5-6 tahun, saya sudah biasa mengingat bahwa rumah kaek itu sangat gelap.
Saya tidak suka suasananya. Masalahnya, rumah itu bukan hanya gelap karena kurang penerangan, tetapi
suasananya juga menyeramkan. Apalagi di waktu malam. Jika saya diajak ke sana dan menginap, saya
selalu berharap cepat pagi. Kalau bisa, saya ingin menolak jika diajak pergi ke sana. Namun, karena masih
kecil, saya tidak berdaya jika diajak mama ke sana. Saya tidak punya pilihan, harus ikut. Kecemasan selalu
melanda saya dari waktu ke waktu. Cemas dan takut diajak ke rumah kakek. Minggu berganti bulan. Bulan
berganti tahun. Tatkala saya sudah berusia 10 tahun, kakek dan nenek meninggal dalam waktu yang
berdekatan. Saya pun jarang diajak ke Tebing Tinggi lagi. Keluarga kami sudah tinggal di Medan. Saya
bertumbuh dewasa di kota markisa ini.
Saat saya berusia 19 tahun, saya dan adik saya merantau ke Jakarta. Setahun kemudian, ada berita
datang mengabarkan bahwa kakak tertua dari mama meninggal dunia. Usianya 55 tahun. Mama saya
memiliki 2 saudara perempuan dan 3 saudara laki-laki. Mama saya paling kecil. Kemudian, giliran kakak
kedua dari mama yang meninggal. Juga pada usia 55 tahun Nah, waktu itu mama sering bercerita kepada
saya tentang adanya kutukan dalam keluarganya, yaitu mereka tidak bisa hidup melewati usia 55 tahun.
Karena masih menyembah berhala seperti mereka, saya tidak memperdulikan hal itu. Walaupun ada
keanehan saat mereka meninggal dunia. Prosesnya cepat. Tanpa tanda-tanda atau gejala sebelumnya. Entah
penyakit apa yang menyerang mereka sehingga mengakibatkan mereka meninggal dunia. Itulah sebabnya,
mama saya selalu ketakutan. Saat itu usianya 48 tahun. Mama sangat cemas dan bertanya-tanya, ini
kutukan apa karena sangat mengerikan. Namun, ada akibat positifnya, yaitu mama sangat serius menjaga
kesehatannya. Mama berolahraga secara teratur, makan juga dijaga, dan sering cek darah.
Pada saat itu saya juga bingung, tidak menemukan jawaban mengapa dari usia 25 sampai 30 tahun, saya
bangkrut 3 kali. Pernah berhasil, tetapi kemudian bangkrut. Berhasil lagi tetapi bangkrut lagi. Ada-ada saja
penyebabnya. Pada suatu hari di tahun 1993, mama menyuruh saya segera menikah. Usia saya sudah 30
tahun. Dia bilang, kalau saya sudah menikah, dia mau tinggal bersama saya. Tidak lama kemudian,
datanglah musibah itu. Pada suatu pagi, mama senam Taichi seperti yang sudah sering dilakukannya.
Pulangnya, dia bilang merasa sangat lelah. Karena itu, dia berbaring di tempat tidur. Tiba-tiba , dia merasa
tidak bisa bergerak. Badannya kaku. Entah apa yang terjadi. Padahal , menurut hasil check up darah yang
dilakukannya baru-baru ini, hasilnya perfek. Semua aspek kesehatannya terlihat bagus. Tiak ada tandatanda
penyakit apapun. Kami heran dan panik atas kejadian ini. Mengapa badan mama sampai kejang dan
kaku begini, sampai tidak bisa keluar dari kamar ketika kami akan membawanya ke rumah sakit.
Akhirnya, kami terpaksa menjebol pintunya supaya bisa menggotongnya keluar dari kamar. Kami
membawanya ke Ruma Sakit Graha Medika. Setelah memeriksanya, dokter mengatakan mama terkena
stroke. Mama dimasukkan ke dalam ruang ICU. Setiap hari, ia membutuhkan obat-obatan seharga 2 juta
rupiah. Semua biaya pengobatan ditanggung oleh adik-adik saya. Saya tidak bisa ikut membiayai, karena
saat itu saya sedang bangkrut lagi.
Dua bulan berlalu. Pada suatu hari mama bertanya kepada saya, mengapa saya tidak mencari uang
untuk membiayai pengobatannya. Maka, saya berusaha untuk mendapatkan penghasilan dengan menempuh
berbagai cara. Saya rela melakukan apa saja untuk mendapatkan uang demi mama saya. Akhirnya, saya
berhasil memperoleh uang untuk membeli obat bagi mama. Saya mengirim uangnya kepada adik saya.
Setelah memakai obat yang dibeli dengan uang dari saya, tiba-tiba mama sembuh. Setelah keluar dari ICU,
mama bilang dia kapok, tidak mau sakit lagi karena sangat menderita. Ia mau menikmati hidup. Namun, itu
hanya berlangsung 3 hari, akhirnya mama meninggal dunia. Karena semua masih beragama Budha, jenazah
mamapun dikremasi dan abunya ditaruh di wihara.
Pada suatu hari saya pergi ke Medan bertemu sepupu dari pihak mama. Sejak kecil dia tinggal di Tebing
Tinggi. Saat itu, dia sudah bertobat. Dia pun sudah terima Tuhan Yesus. Orang tuanya juga. Dia
menjelaskan kepada saya mengapa para tante kami tidak bisa melewati usia 55 tahun. Dia berkata bahwa
hal itu karena nenek moyang kami semua dibayangi kutukan. Pada saat mereka meninggal, kutukan
tersebut belum dicabut. Jadi, kutukan tersebut pun jatuh kepada keturunannya. Pada saat itulah saya baru
tahu tentang adanya kutukan. Betul. Sejak kecil, saya telah merasa tidak ada damai sejahtera. Ada semacam
kuasa gelap yang membayangi keluarga kami. Itu sebabnya saya juga gagal dan bangkrut. Saudara papa
saya semua juga tidak ada yang berhasil. Keinginan mama untuk melihat saya menikah dan tinggal
bersama-sama saya tidak terpenhi. Saya baru menikah setahun kemudian, yaitu pada tanggal 29 April 1994.
2. Masa Terpuruk Telah Kualami
Orang-orang yang sat ini baru mengenal saya dan keluarga, mungkin tidak akan mengira jalan hidup
yang pernah saya lalui penuh dengan kerikil, batu dan lubang. Memang tidak sampai semelarat sebagian
warga bangsa yang kondisinya jauh di bawah garis kemiskinan. Namun , kami mengalami keadaan tidak
punya rumah. Makan seadanya Keluarga kami ini dibangun dalam keprihatinan. Pada saat-saat awal, ketika
baru menikah, uang di saku kami tinggal tiga juta rupiah. Sejumlah itulah uang yang kami miliki saat itu.
Jadi, kami harus mengirit-irit pengeluaran. Mungkin Anda ingat akan iklan televisi yang memperlihatkan
beberapa mahasiswa bersiasat makan semurah-murahnya. Salah satu di antara mereka melontarkan ide
makan di warung masakan Padang. Ya, seperti itulah kami selalu mencari makanan yang bisa dibagi
berdua. Seperti ke restoran Padang, minta nasi yang banyak dengan sayur seadanya. Kami tinggal di sebuah
rumah toko alias ruko. Tetapi, jangan mengira kami memiliki ruko itu. Kami hanya mengontrak kamar di
ruko itu. Hanya satu kamar di lantai atasnya. Lantai bawah adalah kantor sebuah perusahaan.
Ketika Aing, istri saya hamil pun ia tidak punya baju hamil sehingga terpaksa memakai baju saya. Kami
pun minta tolong mertua agar diizinkan tinggal di rumah mereka selama masa kehamilan Aing. Akhirnya
kami diizinkan pindah ke rumah mereka dengan perjanjian hanya sampai Aing melahirkan. Sejak tinggal di
sana , istri saya hampir tidak pernah keluar rumah selama masa mengandung 9 bulan. Ia hanya keluar
ketika pergi memeriksakan kehamilan ke dokter kandungan.
Sejak mama meninggal, saya bukan hanya tidak dibantu oleh sanak keluarga, bahkan juga dijauhi oleh
mereka. Saya merasa keadaan kami sangat terpuruk. Saat itu , saya masih menyembah berhala, rajin ke
tempat sembahyang dan bermeditasi untuk memperoleh jalan keluar dari keterpurukan. Saya sangat
frustasi. Setiap hari saya mengonsumsi obat tidur. Keadaan saya seperti orang yang mati tidak, hidup pun
tidak. Untunglah istri saya sangat pengertian dan mendukung saya. Ia menganjurkan untuk memulai usaha.
Saya mau mengikuti anjuran istri saya, tetapi tidak tahu harus darimana memulainya. Akhirnya kami
terpaksa menjual perhiasan istri saya untuk modal usaha. Saya merasa ada peluang untuk memulai usaha
sebagai importir.
Lalu, saya pergi ke Hong Kong untuk mencari barang-barang yang dapat diperdagangkan di Indonesia.
Istri saya sangat mendukung sehingga usaha impor barang itu memberi hasil yang cukup baik. Namun,
sampai tiba saatnya istri melahirkan, saya masih belum berhasil mengumpulkan uang yang cukup. Saya lalu
apply kartu kredit Citibank. Selain untuk biaya persalinan , juga untuk mengontrak rumah. Pada tanggal 27
Juli 1995, Jesslyn Katherine lahir dengan berat 4 kg. Ada sukacita karena lahirnya buah hati yang lucu.
Sesuai perjanjian semula, kami hanya tinggaldi rumah mertua selama masa kehamilan. Saya sangat
sedih karena keluarga tidak bisa membantu kami lebih jauh. Saya mencari dan mendapatkan rumah
kontrakan dengan harga kontrak 15 juta rupiah setahun. Uang yang tersisa tinggal 5 juta. Sehingga, kami
harus menjual cincin, tetapi itupun sampai tertipu. Ada teman mau pinjamkan uang sebesar 5 juta tetapi
minta bunga. Saya sangat sedih karena orang yang termasuk teman dekat itu pun minta bunga.
Istri saya dalah seorang Kristen yang tekun berdoa dengan penuh iman. Akhirnya, tibalah saatnya
Tuhan menjawab pergumulan keluarga kami dengan cara yang tidak kami duga sebelumnya. Pada saat
Jesslyn berusia 2 bulan, entah bagaimana tiba-tiba seseorang menelpon saya. Orang itu, Bapak Sudirman,
bertanya, “Pak Elsen Tan, bisakah bertemu saya di kantor?” “Bisa,” jawab saya. Lalu saya datang
menemuinya di kantornya. “Apakah merk Kenko milik Anda?” Saya bilang, “Ya,” karena saya sudah
daftarkan hak patennya pada tahun 1994. Ternyata dia mau membeli merk tersebut dari saya. Wah, saya
pikir bisa mendapat 10 juta rupiah. Saat itu, saya sangat girang karena mengira akan mendapat uang
“sebanyak itu”. Untunglah, saya tidak menyebutkan angka yang ada di benak saya itu. Mengapa? Ternyata,
dia menyodorkan selembar cek dalam amplop yang saya tidak tahu berapa nilainya. Ternyata, setelah saya
buka, saya membaca angka yang jumlahnya berkali-kali lipat daripada yang ada dalam pikiran saya itu.
Kejadian ini membuat saya menangis dalam hati. Tuhan telah menjawab iman dan doa istri saya. Tetapi,
saya masih belum mengerti. Saya mengira ini adalah berkat dari berhala. Sehingga saya semakin gila
bermeditasi dan menyembah berhala-berhala saya itu.
Uang yang saya peroleh tersebut saya pakai sebagai modal untuk memulai usaha lagi. Istri saya juga
melakukan usaha perdagangan bekerjasama dengan sebuah perusahaan oli selama tahun 1994-1995. Saya
sendiri berdagang barang-barang elektronik, join dengan seorang teman dari Surabaya yang sangat baik dan
mendukung saya. Usaha ini mendatangkan hasil yang lumayan besar sehingga kami bisa membeli rumah
pada tahun 1997. Kami membeli rumah pertama kami ini di Taman Grisenda yang berlokasi di sebelah
Pantai Indah Kapuk. Rumah itu ditahbiskan oleh seorang bikkhu. Saya membuat meja sembahyang di
rumah. Selanjutnya, setiap hari, pagi, siap, dan malam saya selalu bersembahyang. Saya menyalakan dupa
yang besar yang bisa menyala selama seminggu. Tidak lupa, saya juga membakar uang kertas. Itu adalah
cara mengucap syukur kepada berhala menurut kepercayaan saya saat itu. Setiap kali saya akan berangkat
ke luar negeri, saya selalu memikirkan siapa yang harus mencolok hio dan menyuguhkan minuman untuk
berhala-berhala saya. Akhirnya, saya minta pembantu yang melakukannya.
Namun, saya semakin gila sembahyang begitu terus. Tahun 1997, saya ke Gunung Kawi untuk
memperlancar bisnis. Pernah juga mendatangani sebuah pemujaan di Sukabumi. Saya masih ingat, disiram
air berpaku dan air kembang 12 macam ketika masuk ke rumah pemujaan itu. Tujuannya supaya bisa
menerima “berkat” yang lebih banyak. Tetapi, bukannya menerima berkat, setiap tahun saya selalu
kehilangan mobil. Terkena berbagai masalah. Apa yang saya peroleh selalu bermasalah. Hati tidak pernah
tenang selalu dibayangi rasa khawatir.
Saat itu, saya belum mengerti bahwa penyembahan berhala itu berbahaya dan akhirnya akan
menghancurkan penyembahnya. Berhala membuat penyembahnya menjadi lemah. Penyembahan berhala
memberi pijakan bagi kuasa kegelapan untuk menipu penyembahnya. Sesungguhnya, itulah yang membuat
kami semakin terpuruk. Istri saya tidak mau sembahyang seperti saya. Walaupun mau membantu, ia tidak
pernah mau sembahyang. Ia selalu minta izin ke gereja, sebuah permintaan yang tidak pernah saya
kabulkan pada masa-masa itu.
3. Suara Tuhan yang Pertama Kali Kudengar
Ketika kami masih tinggal di Taman Grisenda, istri saya beriman untuk punya rumah lebih besar. Saya
merasa tidak mampu, tetapi istri saya percaya dan berdoa kepada Tuhan dengan penuh iman. Lalu, pada
tahun 1999, banyak rumah dilelang. Istri saya pun coba-coba mengambil nomor dan mengisi formulir
untuk mengikuti lelang. Barangkali saja nomornya keluar, nothing to loose. Ternyata, beberapa waktu
kemudian, kami mendapat kabar bahwa kami mendapat kesempatan memiliki 2 kapling di Pantai Indah
Kapuk. Maka, kami pun membelinya. Untuk membangun rumah di atas kapling itu, kami tidka mempunyai
dananya. Namun, istri saya tetap berdoa dengan yakin kepada Tuhan sampai akhirnya imannya itu
terwujud. Sementara itu, saya masih sembahyang kepada berhala-berhala yang ada di dalam rumah. Sampai
saat itu, saya masih belum mengizinkan istri saya yang berniat ke gereja. Namun, kemudian ada teman saya
yang sering mengajak anak saya ke gereja. Akhirnya istri saya pun ingin ikut bersama mereka ke gereja.
Karena itu, istri meminta saya mengantar mereka ke gereja. Saya tidak mau. Ia terus membujuk. Akhirnya,
sayapun bersedia mengantar. Hanya mengantar. Saya tidak mau ikut masuk ke dalam gereja.
Kebetulan, di sana ada tukang sop buntut yang enak. Jadi, sementara mereka kebaktian di gereja, saya
menunggu di luar sambil menikmati sop buntut. Di rumah, saya melihat istri saya sering membaca sebuah
buku, yang ternyata adalah Alkitab. Saya juga teringat waktu kecil pernah diajak seorang tante ke sekolah
minggu. Di sana, semua meminta sesuatu kepada satu nama, yaitu Yesus. Maka, suatu ketika saya bukabuka
Alkitab isri saya yang ada di kamar. Dan, mata saya tertuju kepada ayat Mzamur 29:3-5, yang
berbunyi demikian : “Suara Tuhan di atas air, Allah yang mulia mengguntur, Tuhan di atas air yang besar.
Suara Tuhan penuh kekuatan, suarat Tuhan penuh semarak. Suara Tuhan mematahkan pohon aras, bahkan
Tuhan menumbangkan pohon aras Libanon.” Saya tidak mengerti apa makna ayat tersebut. Namun, saya
merasa takjub kepada Tuhan yang disebutkan di ayat tersebut. Malam harinya setelah saya membaca ayat
itu, saya bermimpi pergi ke suatu tempat. Sampailah saya di lautan yang sangat luas. Tiba-tiba saya
mendengar ada suara berkata, “Ini suaraKu. Jika Aku berkata kepada ombak ini diamlah, maka terjadilah
demikian. Jika Aku berkata kepada gunung ini pindah, maka terjadilah. Ini suaraKu, apapun yang Aku
katakan, akan terjadi dan terlaksana.”
Saya menceritakan hal ini kepada istri saya. Ia mengatakan bahwa itu adalah suara Tuhan yang Maha
Kuasa. Itulah pertama kalinya saya mendengar suara Tuhan. Hari Minggu berikutnya, saya kembali
mengantar istri saya ke gereja. Ketika tiba di gereja, seorang teman istri saya memperkenalkan saya kepada
gembala sidang yang kebetulan lewat. “Masuk dong,” gembala sidang itu mengajak saya. Karena sungkan
kepadanya, sayapun ikut masuk. Pada langkah pertama saya menginjak ruang ibadah, saya mengalami
suatu kejadian dan perasaan yang aneh. Seperti ada aliran listrik yang menyengat sekujur tubuh saya, dari
kepala sampai kaki. Lalu, sayapun mengikuti ibadah itu tanpa mengerti maknanya. Saya memilih tempat
duduk di deretan paling belakang supaya bisa cepat kabur kalau saya tidak senang. Saya tidak memahami
apapun sepanjang ibadah berlangsung. Hanya saya merasa bulu roma saya berdiri tatkala pujian
penyembahan. Luar biasa rasanya.
Setela ibadah selesai, pendeta tadi menghampiri saya dan bertanya,”Bagaimana?” Saya hanya
tersenyum tanpa berkata apa-apa. Namun, di rumah saya kepikiran terus. Sepertinya ada suatu perubahan di
dalam diri saya. Saya pun ingin tahu lebih dalam lagi. Akhirnya, saya selalu mengantar keluarga ke gereja
dan mengikuti ibadah setiap hari Minggu. Salah satu hal lain yang membuat saya suka ke gereja ini adalah
di depan gereja ada yang menjual kue-kue pasar. Saya yang pada dasarnya suka makan, jadi suka dan betah
juga datang ke gereja ini.
4. Banyak Pengalaman Ajaib Bersama Tuhanku
Sebagaimana lazimnya, dari hari Kenaikan Yesus sampai hari Pentakosta, gereja mengadakan doa puasa
10 hari. Demikian juga pada tahun 1999. Saat itu, gembala sidang mengajak kami ikut serta. Supaya kami
mengalami mujizat, kata beliau. Saya belum mengerti apa itu mujizat. Namun, saya memenuhi ajakan
gembala sidang kami. Itulah pertama kalinya saya mengikuti rentetan persekutuan doa yang berlangsung
selama 10 malam berturut-turut. Pada malam pertama, saya datang dan bergabung dengan jemaat yang
sudah siap memuji dan menyembah Tuhan. Syaa melihat banyak orang menangis. Hampir semuanya.
Menangis di hadapan Tuhan. Lalu, saya menutup mata dan mengikuti doa-doa yang dipanjatkan. Saya
belajar berdoa syafaat bersama seluruh jemaat. Suasananya begitu khusuk sehingga saya merasa seolaholah
roh saya keluar dari tubuh saya. Sepertinya saya dapat melihat tubuh saya sendiri yang sedang berdoa.
Wah, bagaimana ini, kalau roh saya tidak kembali ke tubuh, saya bagaimana? Tiba-tiba , bapak gembala
sidang menumpangkan tangannya ke atas kepala saya. Ada sesuatu yang sangat panas saya rasakan
mengalir turun ke tubuh saya.
Begitu pula pada hari kedua sampai hari terakhir, hal-hal seperti itu berlangsung terus. Seumur hidup
saya tidak pernah mengalami hal yang dahsyat seperti ini. Hal ini memacu saya untuk mempelajari Firman
Tuhan lebih mendalam. Semakin saya baca Alkitab, semakin saya mengerti. Saya menangis. Lebih kurang
enam bulan kemudian, istri saya mengajak untuk dibaptis. Ia mengisi formulir pelajaran Alkitab untuk
dibaptis. Saya bertanya kepada gembala sidang, berapa pelajaran Alkitab yang harus kami ikuti sebelum
dibaptis. Satu tahun, jawabnya. Karena merasa belum siap dan belum layak untuk dibaptis, saya berharap
pelajarannya berlangsung selama mungkin. Kalau bisa 20 tahun saja, kata saya kepada gembala sidang.
Semakin lama semakin baik. Namun, hanya berselang satu bulan, saya sudah mendapat surat
pemberitahuan bahwa sudah saatnya dibaptis.
Walaupun sudah mendapat mimpi mendengar suara Tuhan dan pengalaman selama doa puasa 10 hari
itu, saya masih belum bisa meninggalkan kebiasaan lama. Saya pun masih menyembah berhala-berhala
saya. Sembahyang tak putus-putus dari pagi, siang, sore dan malam. Saya beragumentasi dengan istri saya.
Bagaimana mungkin saya bisa dibaptis ,sedangkan saya kadang-kadang masih curang dalam berbisnis.
Dan, berbagai alasan lainnya saya lontarkan. Namun, istri saya tetap bersikeras agar kami segera dibaptis.
Kakak-kakanya juga mendukung, dan mau datang ikut menyaksikan walaupun mereka berdomisili di
Bandung. Lalu, saya berkata kepada istri saya, bahwa dalam keyakinan lama saya ada cara yang namanya
“pua pue”. Saya biasa memakai cara itu untuk mengetahui kehendak dewa. Jadi, kini dalam Kristen, saya
minta tanda dari Tuhan jika memang Tuhan berkenan saya dibaptis saat itu. Tanda yang saya minta adalah
begini. Dari rumah kami ke Grogol, ada 5 persimpangan berlampu lalu lintas. Itulah jalur yang kami lalui
kalau ke gereja.
Nah, saya katakan jika Tuhan berkenan saya dibaptis saat itu, maka tidak ada satupun lampu merah
yang akan menghentikan perjalanan kami ketika kami melewatinya hari Minggu ini. Jika lampu hijau yang
menyala berturut-turut tanpa satupun lampu merah, itu berarti Tuhan setuju. Selain itu, saya memberi
sebuah syarat, yaitu saya sendiri yang akan menyetir mobilnya, tidak boleh supir atau orang lain. Jangan
sampai mereka, termasuk istri saya, merekayasa atau mengatur kecepatan mobil sehingga terhindar dari
lampu merah. Saya ingin benar-benar yakin apa kehendak Tuhan. Nah, ketika berangkat ke gereja pada hari
Minggu itu, saya yang mengendarai mobil. Dari rumah di Tamah Grisenda, dekat Pantai Indah Kapuk,
kami menuju persimpangan berlampu lalu lintas pertama, yaitu di Muara Karang. Dari jauh, saya lihat yang
menyala adalah lampu hijau. Saya hitung-hitung, jika saya mempertahankan kecepatan sekarang, maka
lampu yang menyala akan tetap lampu hijau ketika kami melewatinya. Karena itu, saya pelankan laju
kendaraan menjadi 20 km per jam saja. Dan berharap segera berganti lampu merah. Ternyata, lampu hijau
terus menyala, tak kunjung berganti lampu merah. Setelah mobil kami melewatinya, barulah berganti
lampu merah menyala. Biak, saya anggap ini kebetulan belaka.
Persimpangan kedua yang berlampu lalu lintas ada di dekat Megamall Pluit. Kali ini, saya lihat lampu
yang menyala berwarna merah. Maka, saya tancap gas secepat mungkin agar masih sempat berhenti ketika
lampu merah masih menyala. Namun, apa daya kita jika Tuhan sudah berkehendak, maka menyalalah
lampu hijau saat kami mendekati persimpangan itu. Begitulah seterusnya, pada tiga persimpangan
selanjutnya selalu lampu hijau yang menyala tatkala kami melewatinya. Saya angkat tangan, menyerah.
Saya diyakinkan bahwa Tuhan berkenan kami dibaptis saat itu. Maka, saya dan istripun dibaptis saat itu.
Setelah dibaptis, badan terasa ringan dan melayang-layang. Gembala sidang, yang mengetahui bahwa saya
punya banyak berhala di rumah, meminta berhala-hala tersebut dibuang. Saya menjawab bahwa saya akan
buang sendiri.
Ketika pulang ke rumah, kami tiba-tiba merasa asing dengan rumah kami sendiri yang penuh dengan
berhala-hala. Saya berkata kepada behala-berhala tersebut,” Sori bos, sekarang saya sudah menjadi anak
Tuhan, saya harus membuang kalian.” Namun, tiba-tiba berhala yang berada di lantai atas, muncul “isinya”.
Saya minta istri saya naik ke atas. Namun, istri saya tidak melihat apa-apa. Akhirnya, saya minta seorang
teman saya mengembalikan berhala tersebut ke seubah tempat ibadah agama tertentu. Setelah itu, ada
kejadian aneh yang menimpa istri saya. Setiap malam, ia bermimpi melihat ular. Hal itu berlangsung terus
selama seminggu. Ia sampai stress, sulit makan, sakit dan timbul garis hitam di bawah matanya. Ketika
saya menceritakan hal ini kepada gembala sidang, kamipun didoakan. Bapak gembala sidang mengatakan
bahwa saya masih menyimpan sesuatu yang menjadi pijakan roh jahat untuk mengganggu kami. Setelah
dicar-cari, istri saya menemukan di dalam tas saya ada sebuah bungkusan yang saya bawa dari Gunung
Kawi. Kampun berdoa dan membuang bungkusan tersebut. Akhirnya, mulai malam itu, istri saya bisa tidur
dengan nyenyak. Setelah itu, kami berdua mulai sungguh-sungguh hidup dalam Tuhan. Siang malam
berdoa dan terus bertekun belajar Firman Tuhan di gereja. Tidak pernah kami absen dari kegiatan gereja,
kecuali ketika sedang ke luar negeri. Kalau ada di Jakarta, walaupun ada business appointment, saya selalu
menyudahi tatkala sudah waktunya ke gereja. “Belajar baik-baik, karena waktu saya tinggal sedikit,”
demikian pesan gembala sidang setiap kali kami bertemu.
Dalam tahun pertama setelah baptisan, kami mengalami mujizat dan berkat yang tidak kami duga. Pada
tahun 2001 itu, kami mendapat hadiah dari undian Tahapan BCA. Bertepatan dengan hari ulang tahun istri
saya, pihak BCA menelepon saya. Petugas dari BCA itu menyampaikan bahwa kami memenangkan mobil
Suzuki Baleno. Padahal, saldo di rekening BCA kami saat itu hanya sekitar 2 juta rupiah! Kemudian , saya
memberitahu istri saya. Namun, ia tidak bersukacita. “Kalau mobil itu dijual dan uangnya diberikan kepada
gereja, maka saya baru akan senang,” tuturnya. Jadi, kamipun menjual mobil tersebut dan
mempersembahkan uangnya ke gereja. Pada tahun 2002, lagi-lagi kami mendengar hadiah dari BCA. Kali
ini, kami mendapat sepeda motor, Compo DVD, dan televisi. Barang-barang tersebut pun kami berikan
kepada orang lain yang memerlukannya. Kami hanya menyimpan satu buah Compo DVD. Kejutan
berikutnya dari BCA, kami alami setahun berikutnya. Pada tahun 2003, tidak tanggung-tanggung, kami
mendapat mobil BMW. Sebagai ungkapan rasa syukur, mobil tersebut kami jual juga. Uang hasil penjualan
mobil BMW tersebut kami persembahkan kepada Tuhan melalui beberapa gereja.
5. Mukjizat Jesslyn K Cakes
Kemarin, saya baru pulang dari Perancis. Bukan sekedar melancong. Saya datang sebagai pengusaha
importir barang-barang elektronik dengan tujuan menemui rekanan bisnis di negeri yang sebenarnya
bernama Republique Francaise ini. Ya, kami baru pulang dari sana kemarin. Namun, hari ini Aing, isri
saya, sudah mulai dengan kebiasaannya yang merepotkan saya. Bikin kue. Bikin roti. Dengan hal-hal yang
dipelajarinya selama di Perancis, Aing mendapat inspirasi dan mulai berkreasi dengan membuat macammacam
roti dan kue vairasi baru.
Bukan hanya kali ini. Setiap kali Aing mengikuti perjalanan bisnis saya ke negara-negara lain, Aing
selalu mengambil kesempatan untuk mengamati cake, pastry dan cookies yang ada di setiap negara itu dan
mempelajari proses pembuatannya. Di Jepang, Taiwan, Belgia, Malaysia, atau Amerika, Aing selalu
memperdalam keahliannya dalam membuat roti. Begitulah. Tidak seperti wanita lain yang biasanya
mencari model fashion, tetapi dia malah memborong cake, pastry, dan cookies dari berbagai toko di sana.
Sehingga, kamar hotel kami pun penuh dengan cake, pastry dan cookies tersebut.
Berkreasi dengan tepung dan aneka bahan adonan memang sudah menjadi kegemarannya sejak masih
belia. Ia bikin kue dan roti. Tapi bagi saya, ia bikin ulah. Setiap kali ia “beraksi” maka seisi rumah akan
dipenuhi dengan berbagai macam cake, pastry, dan cookies. Sehingga, rumah kediaman kami sepertinya
berubah menjadi pabrik. Karena ia seorang perfeksionis dan selalu menomorsatukan kualitas, maka ia
selalu menghasilkan cake, pastry dan cookies yang terbaik. Ingredients atau bahan-bahan yang dipakaina
selalu yang berkualitas tinggi. Setiap variasi cake, pastry, dan cookies yang baru diciptakannya itu lantai
dibagi-bagikannya kepada famili dan teman-temannya untuk dicicipi. Alhasil,, karena memang lezat dan
cocok, maka merekapun ingin membeli dan memesannya lebih banyak. Saking banyaknya roti dan kue
yang dibuatnya untuk memenuhi semua pesanan itu, sehingga rumah kami pun berfungsi seperti pabrik.
Akhirnya karena diberkati, kami dapat membangun rumah baru dan menyediakan ruangan khusus untuk
bikin cake, pastry dan cookies.
Namun, baru satu tahun berselang, sudah lagi sampai ke ruang tamu dan kamar. Setiap kali saya pulang
kerja, harus melewati roti-roti yang memenuhi seisi rumah. Saya harus melangkah hati-hati mengarungi
lautan roti di rumah. Selain itu, saya diminta mencoba setiap variasi roti tersebut sampai terkenyangkenyang.
Karena kualitas, rasa, dan sentuhan seni yang bagus, pesanan pun semakin bertambah lagi.
Sehingga pada tahun 2002, Aing punya niat membuka tokol. Wah, apa lagi nih, pikir saya. Saya sayang
kepadanya, dan saya khawatir dia kelelahan sehingga sakit nantinya. Karena dia bersikeras , sayapun
menuruti kemauannya. Namun, sebenarnya hati saya tidak mendukung 100 persen, paling-paling 30 persen
saja. Saya sengaja mencarikan sebuah toko di Pantai Indah Kapuk di lokasi yang saya pikir tidak tepat.
Maksud saya adalah supaya usahanya tidak laku dan tidak berkembang.
Sementara itu, orang tua saya juga melarang. Hampir semua kerabat dekat juga tidak setuju. “Jangan
bikin malu. Elsen kan pengusaha, masak istrinya jadi tukang kue. Apakah Elsen tidak bisa mencukpi
keuangan keluarga?” Kira-kira begitu pendapat mereka. Namun, Aing membawa hal ini dalam doa. Dia
percaya Tuhan menyertainya dan akan memampukannya untuk berhasil. Maka, tanpa dukungan dari saya,
Aingpun mengerjakan segala sesuatunya sendirian. Membeli bahan baku. Mendekor toko. Dan segala
persiapan lain. Setiap hari saya melihat dia menangis karena tidak ada yang mau membantunya. Dia bekerja
keras dengan tekad yang besar. Lalu, seminggu sebelum toko dibuka secara resmi, Aing membuat roti dan
cake sebanyak 9.000 potong dan menyumbangkannya ke gereja.
“Rancangan orang rajin semata mendatangkan kelimpahan” (Amsal 21:5). Inilah rahasia yang
membedakan sebuah rencana akan berhasil atau gagal. Kuncinya jelas terletak pada orangnya, apakah ia
rajin atau malas. Orang rajin adalah jaminan kelimpahan. Sedangkan orang malas hanya sampai pada punya
mimpi saja. Orang rajin suka berimajinasi , memikirkan, dan merealisasikannya. Orang malas suka
melamun, membual, dan menunda-nunda saja. Orang rajin itu mengoperasionalkan imannya dengan
berupaya secara konsisten dan disiplin untuk melaksanakan setiap hal yang telah didoakan dan
direncanakannya. Ora et labora. Berdoa sungguh-sungguh dan bekerja sungguh-sungguh. Maka, Iapun akan
sungguh-sungguh berhasil!
15 Agustus 2003, tiba waktunya hari pembukaan toko. Kami membukanya dengan sebuah kebaktian
syukur. Pendeta pun mendoakan toko yang kami beri nama Jesslyn K Cakes, sama dengan nama putri
sulung kami. Banyak kerabat dan tamu yang datang. Pada hari pertama itu, penjualanpun laris sekali. Lalu,
kami memberikan omzet penjualan hari itu ke gereja sebagai persembahan buah sulung bagi Tuhan.
Ternyata, roti buatan Aing ini memang sangat diminati konsumen. Walaupun tanpa promosi besar, pembeli
datang dari mana-mana termasuk dari luar kota. Bogor, Tangerang, Bekasi, Bandung, Semarang, Surabaya.
Membludaknya jumlah pembeli itu sungguh di luar perkiraan kami yang hanya mempersiapkan untuk
kedatangan 20 pembeli. Namun, ternyata pembeli yang datang bisa mencapai 400 orang per hari.
Sifat perfeksionis Aing membuatnya stress sendiri. Dia berusaha memuaskan pelanggan sebanyak itu
dengan kualitas yang tetap terjaga. Ada juga upaya merekrut karyawan. Namun ada kendala besar dalam
pelatihan karena mereka tidak dapat memahami sebagaimana yang diinginkan oleh Aing. Karena belum
pernah melihat roti-roti luar negeri dan merasakannya secara langsung, maka persepsi para karyawan itu
pun tidak sama dengan yang ada di benak Aing. Hal ini membuat mereka sulit menyerap apa yang
diajarkan oleh Aing. Namun, bagi Aing, tidak ada kesulitan yang dapat menghalanginya. Ia maju terus
walaupun harus pontang-panting. Bagaimana pun , selama tiga bulan toko berjalan, membumbungnya
omzet tak tertahankan. Sebagai orang bisnis, tentu saja saya mulai tergiur dengan hasil uang yang begitu
banyak. Maka saya pun mulai turut andil dalam bisnis ini. Terutama dalam hal manajemen, perancangan
sistem, dan pengembangan Standard Operational Procedure (SOP).
Melihat kemajuan dari hari ke hari, saya pun berminat mengembangkannya ke mall. Saya mengajukan
proposal ke 5 mall besar di Jakarta. Namun apa mau dikata, semua mall menolak kami. Mereka hanya mau
menerima brand terkemuka, terutama yang dari luar negeri. Saya merasa frustasi, letih dan tak berdaya.
Namun, Aing tetap begitu kuat imannya bahwa Tuhan menyertai kami. Dia percaya bahwa Tuhan sedang
membawa kami dalam suatu proses, yang dia percayai akan indah pada waktunya walaupun saat ini rasanya
berat. Kami selalu berdoa. Ketika toko dibuka pada pagi hari. Begitu juga ketika toko tutup pada malam
harinya. Setiap hari kami tekn berdoa. Tidak tahu bagaimana, tiba-tiba ada orang marketing dari sebuah
mall besar di Karawaci mendatangi kami. Mereka menawarkan untuk bekerjasama. Bayangkan, mereka
bisa terpikir untuk datang mencari kami yang begitu jauh dari lokasi mall tersebut. Jarak Karawaci ke
Pantai Indah Kapuk, jika dihitung dengan waktu perjalanan, jaraknya kira-kira 1 jam. Saya dan Aing
percaya ini adalah jawaban atas doa-doa kami. Namun, kami segera menyadari bahwa mall ini sepi
pengunjung. Pada saat kerusuhan Mei 1998, mall ini dijarah oleh para perusuh. Dampaknya masih terasa
sampai pada tahun 2003 ini dan belum ada tanda-tanda akan berkembang kembali. Kami bersandar kepada
Tuhan an tetap bersyukur kepadaNya.
Jika dulu Tuhan mampu melakukan keajaiban dan mujizat, hari ini Tuhan pasti juga mampu. Jika hari
ini kami bisa melihat bagaimana mujijat Tuhan turun memberkati dan membuat usaha ini berhasil, saya
yakin ke depan nanti pun Tuhan akan tetap menyertai kami. Apa yang perlu kami lakukan adalah terus
melangkah. Stay close to God, and keep it going. Keputusan yang akan kami ambil ini kelihatannya tidak
masuk akal. Kami melangkah hanya dengan hati percaya bahwa jika Tuhan bisa bikin laku di PIK,
mengapa tidak di Karawaci? Dengan iman, kami membuka cabang pertama Jesslyn K Cakes di mall ini.
Tak lama berselang , sontak mall yang sepi ini menjadi ramai! Entah darimana pengunjungnya, setiap hari
ramai sekali. Sungguh ajaib Tuhan itu. Kemudian kami dihubungi oleh seorang yang punya tempat di
Darmawangsa Square. Ia mengajak bekerjjasama untuk membuka outlet Jesslyn K Cakes di sana. Lokasi
ini juga sepi pengunjung. Setelah beberapa pertemuan, kami menyepakati untuk membuka outlet ke3
Jesslyn K Cakes di sana. Kembali mujizat terjadi. Sentra perniagaan tersebut juga tiba-tiba menjadi ramai
pengunjung. Terima kasih Tuhan, Engkau sangat baik kepada kami. Rasa syukur di hati kami meluap-luap.
Semua kejadian itu menambah kepercayaan kami bahwa Tuhan menyertai usaha yang dirintis oleh Aing
dengan ketekunan dan tekadnya yang kuat. Usaha yang dimulai dari rumah dan toko jelek telah
berkembang dan terus meningkat omzetnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar